Profil instastories

Seduh Manja Aroma Cokelat Hangat

Seduh Manja Aroma Cokelat Hangat

By : Widia Purnamasari

 

            Pagi ini, kuluangkan waktuku untuk duduk santai menikmati secangkir cokelat hangat di kursi halaman depan rumahku. Wangi basah rerumputan dan semerbak bunga melati menemani syahdu. Mataku seolah dimanjakan dengan kupu-kupu yang hinggap menghisap nektar bunga-bunga taman. Sementara sinar matahari masih malu untuk menyengat kota sepagi ini. Damai sekali.

Klotaaaakkk—

Suara barang jatuh tak jauh dari posisiku berada, spontan aku menoleh.

“Astaga, Hea ! Hati-hati, dong !” pekikku dan segera berlari menuju Hea yang terjerembab menyenggol tong

Setelah membopongnya menuju kursi di halaman depan rumah, aku ikut duduk di depannya.

“Kau tak apa? Apa yang sakit?” tanyaku cemas

Terus terang saja, adikku ini pengidap kanker leukimia. Aku takut kalau dia kenapa-kenapa. 28 Desember kemarin dia sempat kemoterapi untuk yang ke sekian kalinya.

“Nggak apa-apa, kak” jawabnya

“Kamu mau apa? Biar kakak ambilin sini”

Hea menggeleng, “Tadinya, aku hanya ingin bermain ke luar”

Aku menatap  ke arah sosok adikku. Kulit yang pucat pasi, wajah yang lemah, postur tubuh yang ringkih bahkan rambut yang ia pakai bukan rambutnya asli. Ya, rambutnya habis karena pengaruh zat-zat kimia selama kemoterapi.

“Sejak Hea selalu menghabiskan waktu untuk kemo, Hea jadi kehilangan banyak waktu untuk bermain sama teman-teman” katanya

Kupandang matanya yang menerawang kosong seolah tak ada semangat untuk hidup.

“Hei...—

“Kak, kapan Hea sembuh?” tanyanya memutus ucapanku

“Kau pasti sembuh. Asal kau yakin, tak menyerah dan selalu berdoa pada Yang Kuasa, sayang” jawabku

Sejujurnya akupun ragu dengan jawaban yang kuberi pada Hea. Aku belum pernah tahu ada orang yang selamat dari penyakit kanker leukimia itu. Tapi, bagaimanapun aku tidak boleh terlihat lemah di depan Hea. Nanti dia bisa sedih dan patah semangat.

“Hea lihat deh kuncup bunga lily hujan yang itu..” kataku

“Kenapa memangnya, kak?”

“Kuncupnya berwarna ungu seperti lebam dan seperti tidak mungkin akan mekar”

Hea membelalakkan matanya dan membuka lebar-lebar mulutnya,

“Ahh, iya. Kayak layu” ucapnya

Aku terkekeh lalu menyeduh cokelat hangatku. Sejenak aku menatap ke arah Hea.

“Tapi, bunga soka di sebelahnya sangat cantik dengan warna merah yang menggoda, kan?” lanjutku

Hea mengangguk.

“Lily hujan yang kecil tampak tak berdaya dengan kuncup bunganya yang memiliki ciri khas ungu lebam semacam itu disanding dengan bunga soka merah yang tumbuh besar dan lebat. Tampak tidak imbang” jelasku

“Benar” angguk Hea dengan mantap

“Tapi lily hujannya masih tetap hidup dan berusaha mekar” sambungku

Aku tersenyum memandang Hea.

“Iya. Bunga yang ditakdirkan memiliki bentuk yang kecil dan mungil dengan ciri khas warnanya yang lebam, tak menyebabkannya kehilangan kecantikannya. Ia tetap cantik dengan caranya sendiri. Tetap wangi dengan harumnya sendiri menghiasi taman kita” kataku

“Apa Hea tak ingin seperti itu? Tetap berusaha bersemi sekuat tenaga Hea. Demi mama, papa dan kakak” sambungku dengan nada yang bergetar

Dadaku mulai sesak. Aku ingin menangi tapi Hea tidak boleh tahu air mataku. Aku tersenyum kecut.

“Kakak...tapi Hea tak punya hal spesial seperti itu...” sela Hea

“Kata siapa? Hea kan spesial buat kakak. Nggak akan ada yang bisa gantiin Hea di dunia ini. Yang punya senyum seperti Hea. Yang semacam Hea lah pokoknya. Hea satu-satunya dan selamanya akan satu-satunya” kataku

“Hea yang semangat, ya. Nggak boleh menyerah” lanjutku

Hea terdiam, tak menjawab kata-kataku. Matanya terpaku pada keindahan bunga-bunga di taman.

“Iya, kak. Hea janji, Hea nggak akan menyerah. Hea tetap semangat dan tetap berdoa biar diberi keajaiban. Kalaupun umur Hea tidak panjang lagi, setidaknya Hea sudah menjalani kehidupan Hea dengan baik dan semangat semampu Hea” kata Hea dengan nada bicara yang datar, tapi senyum mengambang di bibirnya

“Kakak, mama sama papa tak usah khawatir” sambungnya

Aku tersenyum haru. Hea gadis yang masih berumur 10 tahun ini sudah sebijak ini menghadapi hidupnya yang harus melawan kanker leukimia. Padahal seharusnya, ia bisa bermain dengan ceria bersama teman-temannya dan menuntut ilmu dengan tenang di sekolah.

Tiba-tiba aku teringat sesuatu,

“Sekolah Hea bagaimana?” tanyaku

“Baik kak. Kemarin ada tugas, tapi sudah Hea kerjakan” katanya sambil tersenyum cerah

“Bagus, dong. Pintar adik kakak. Besok pagi kamu bangun pagi, ya. Kakak mau ajak kamu jalan-jalan ke Taman Kota cari udara segar” kataku tersenyum

“Benar tuh, kak?” tanyanya yang kujawab dengan anggukanku

“Yeaaayy ! Asyik” pekiknya dengan semangat

Ya Tuhan, senang sekali bisa melihat tawa Hea lagi. Aku tahu ini tidak akan selamanya. Semoga Kau masih memberikan harapan padaku bersama dengan adikku ini.

 

Krian, 17 Januari 2019

Enjoyed this article? Stay informed by joining our newsletter!

Comments

You must be logged in to post a comment.