Profil instastories

Secret Admirer

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Halooo! Selamat malam! Sore! Siang! Pagi! Emmm, kapanpun kalian membaca cerita ini. Di sini aku ingin bercerita sedikit. Bukan sedikit, sih. Ya, lumayan banyak lah. Bercerita mengenai kisah cinta. Bukan kisah cinta juga sebenarnya karena belum sampai pada tahap ke sana. Pokoknya aku ingin bercerita, kalian dengar baik-baik, ya. Em, maksudnya baca baik-baik, jangan di-skip karena ini diangkat dari kisah nyata. Kisah yang dapat aku kategorikan sebagai cerita ngenes. Tidak ngenes juga hanya saja di sini terdapat suatu kejadian kasih tak sampai.

Jangan kalian pikir ini adalah cerita yang terjadi ke padaku. Tidak. Aku tidak pernah terlibat dalam hal menyukai seseorang sampai sesakit ini (tidak sakit juga sih sebenarnya karena seseorang yang memiliki cerita ini sedang membaca cerita ini sambil senyum-senyum. Iya, kan? Hayoo ngaku!)

Jadi, ini adalah kisah dari temanku yang aku saksikan sendiri bagaimana ia mengagumi seseorang dalam diam yang bertahan hingga tiga tahun lebih. Temanku ini seorang cewek. Aku mengenalnya sejak semester satu di bangku perkuliahan. Semester satu yang aku anggap adalah masa peralihan dari siswa menjadi mahasiswa. Semester satu yang aku anggap merupakan suatu seleksi alam yang berusaha untuk membuat kami memilih tetap tinggal atau pergi. Alhamdulillah, sampai sekarang aku masih tetap tinggal di kampus tercinta, namun dengan sekuat tenaga berusaha untuk kutinggalkan. Siapa coba yang mau jadi mahasiswa abadi? Tidak ada 'kan?

Oke, mari aku lanjutkan. Jadi, temanku ini bernama Mimid Prasasti (nama disamarkan. Bahaya kan kalau pakai nama asli. Takutnya nanti teman aku viral dan tidak ada yang mau bertanggungjawab. Aku sih ogah tanggungjawab). Awal aku bisa berteman baik dengan Mimid ini sebenarnya aku juga bingung bagaimana bisa berteman dengan dia. Sebenarnya bukan hanya dengan dia, tapi ada beberapa teman lain yang sama gila, gesrek, dan bobroknya dengan kami. Berteman dengan mereka ya karena sefrekuensi aja gitu. Kalian tahu frekuensi kan? Kata Fisika sih, frekuensi merupaka jumlah getaran yang dihasilkan setiap satu detik. Maka dari itu kita cocok dan akhirnya berteman deh sampai sekarang.

Oke. Kembali ke akang kendang. Jadi, Mimid ini menyukai seseorang kakak tingkat yang berbeda jurusan dengan kami. Siapa kah kakak tingkat itu? Penasaran? Mari lanjut baca!

Sejak melihat Dia pertama kali saat penyampaian pengenalan Transformer 8 di semester satu, Dia abang tingkat jurusan Statistika angkatan 15. Kami yang berada di Jurusan Fisika angkatan 17 menyimak dengan pasti apa yang disampaikan oleh abang tingkat yang menjadi pusat perhatian kami. Nama abang yang disukai Mimid ini adalah Kiky Ibra, yang merupakan nama samaran yang aku buat untuk menyembunyikan sebagian privasi, lagipula aku juga takut untuk menyebutkan nama asli. Siapa tahu aja kan abang ini tiba-tiba nyasar ke sini dan baca wattpad aku? Kan tidak ada yang tahu. Kasihan juga teman aku si Mimid kalau sampai abang tahu ada yang menyukai dia dalam diam. Malu tujuh turunan dan tujuh tanjakan, tuh?

Kata temanku yang bernama Mimid Prasasti, Dia itu ganteng, putih, hidungnya mancung sampai-sampai Lalat terpeleset jika hinggap di sana. Terlebih lagi Dia itu sholeh, salah satu BPH di LDM dan PUSDIMA, juga aktif di berbagai organisasi terutama BEM KM.

Sejak saat itu lah, temanku yang bernama Mimid ini menyimpan rasa dalam diam padanya. Rasa yang dipendamnya sudah sangat lama. Terhitung sejak semester satu sampai sekarang. Oiya, sekarang kami menginjak semester tujuh. Semester yang sedang maraknya akan penyebaran virus yang bernama Conoha. Kasian sekali bukan temanku yang bernama Mimid, hingga sampai kapan perasaannya itu akan punah. Berharap saja, perasaannya cepat punah sama seperti harapan semua orang punahnya virus Conoha di muka bumi ini. Bantu Aamiin ya, guys! Aamiin.

Oiya, perlu kalian tahu. Si Mimid ini ada juga loh yang suka. Seorang akhi yang sering mangkal di mushola. Sebut saja namanya Buaya. Maaf, lagi-lagi aku menyamarkan namanya. Nah, si Buaya ini sebenarnya tahu kalau Mimid mengagumi bang Kiky dalam diam. Si Buaya ini baik, namun baiknya hanya ke Mimid. Si Buaya ini sering bantu Mimid dalam berbagai hal, terutama masalah perkuliahan.

Ibarat di dalam suatu cerita ada yang berperan sebagai second lead. Nah, si buaya inilah yang menjadi second lead-nya selalu ada untuk si cewek pemeran utama, namun selalu jadi sadboy karena pada akhirnya si cewek malah milih si cowok main lead.

Sama seperti Mimid yang lebih memilih cinta dalam diamnya daripada si Buaya. Saran aku buat si Buaya sih, lebih baik ditikung di sepertiga malam, berdiskusi dengan Allah. Hati kan tidak ada yang tahu, siapa tahu hati si Mimid terbalik jadi balik suka sama si Buaya. Jodoh tidak ada yang tahu. Mimid jangan marah ya baca ini.

Bentar. Aku mau ngakak dulu. Btw, kalau berbicara tentang Buaya ini aku bawaannya mau ketawa mulu, guys. Sebenarnya cerita antara si Buaya dan si Mimid ini panjang, hanya saja aku mempersingkat karena kan aku hanya ingin menceritakan tentang abang kendang—abang Kiky.

Singkat cerita, di masa virus pandemic—Conoha ini bang Kiky akan wisuda, guys. Senang tidak tuh? Iya pasti senang. Mungkin tidak bagi Mimid karena untuknya melihat bang Kiky setiap hari telah pupus. Jadi sebagai kenang-kenangan yang harus bang Kiky ingat bahwa ada seseorang yang menyukainya dalam diam selama ini, Mimid berinisiatif untuk memberikannya bingkisan berupa lukisan. Lukisan ini dia buat dengan penuh perasaan yang kemudian dipercikkan warna kebahagian ketika menggoreskannya (Maaf, lebay).

Asal kalian tahu saja, membuat lukisan ini untuk sampai ke tangan bang Kiky butuh usaha yang sangat ekstra. Saat di semester enam lukisan ini sudah jadi, hanya saja belum dikemas menjadi menarik. Jadi, aku dan Mimid berputar-putar dan berkeliling sampai ke sudut kota mendatangi setiap mall hanya untuk mencari bingkai lukisan yang akan diberikan kepada bang Kiky—sang pujaan hati. Ternyata, setelah berkeliling di berbagai mall kita tidak mendapatkan bingkai yang sesuai. Kalian tahu tidak aku dan Mimid dapat bingkai yang sesuai di mana? Kesel sih sebenarnya.

Aku dan Mimid menemukan bingkai tersebut di toko alat tulis sederhana yang terletak di pinggir jalan dekat kampus dan juga dekat kami nge-kost. Jauh-jauh nge-mall, ternyata yang dekat ada. Memang yah yang dekat kadang tidak terlihat, tapi malah melirik yang jauh di sana. Agak dendam sih aku kalau Mimid dan bang Kiky tidak berjodoh. Tapi, apa mau dikata, jodoh sudah ada yang mengatur.

Nah, pada saat semester enam ini yang seharusnya kami berkuliah dengan tatap muka langsung, terpaksa harus berubah sistem menjadi online. Tentu, hal ini disebabkan oleh virus bernama Conoha. Karena hal ini pula lah kami semua memutuskan pulang ke kampung halaman tercinta. Namun, hal ini juga lah yang membuat lukisan Mimid yang telah rapi dibingkai dan siap dilucurkan ke tujuan terpaksa harus berdebu ditinggal berbulan-bulan di dalam kost.

Setelah beberapa bulan kemudian, tibalah yang namanya adaptasi kebiasaan baru (New Normal). Dengan adanya new normal ini, kami memutuskan untuk kembali ke kampus, namun tidak untuk berkuliah karena pada masa new normal ini kami sedang berada di musim ujian akhir semester, mengurus KKN, dan mengurus PKL. Ujian Akhir Semester dan pelaksaan KKN tetap diadakan secara online. Sedih sih sebenarnya karena KKN harus online. Maaf, numpang curhat sebentar.

Nah, dari sini lah Mimid berencana untuk memberikan lukisan yang ia buat untuk bang Kiky. Karena bang Kiky dan aku satu kampung halaman, jadi aku mengusulkan diri untuk memberikannya secara langsung dengan catatan bang Kiky memang sedang berada di kampungnya. Namun, ternyata, bang Kiky sedang tidak berada di Kampung. Bang Kiky ternyata masih berada di Kota untuk menunggu pelaksanaan wisudanya.

Bagaimana kami bisa tahu bahwa bang Kiky masih berada di Kota? Jadi, begini ceritanya. Selain Mimid aku punya dua teman yang satu kost dengan aku. Dia adalah Suila dan Surici. Sebenarnya Mimid ini berbeda kost dengan kami, hanya saja dia lebih sering berada di kost kami dibandingkan dengan kostnya sendiri. Perlu kalian tahu, Mimid hanya pulang ke kostnya ketika ingin mandi dan berganti pakaian, selebihnya ia menghabiskan sisa hidupnya, eh, maksudnya sisa harinya berada di kost kami.

Jadi, teman aku yang bernama Suila ini memang selalu malu-maluin, kami sudah biasa. Dia juga hyperaktif, dan pernah dekat dengan Ikan Mujair dan seorang Abi di kampungnya (Maaf, ya Suila). Nah, jadilah tumbal untuk menghubungi bang Kiky adalah Suila karena hanya dia yang sepertinya tidak mengenal malu. Dengan bermodalkan smarphone dan akun instagram, akhirnya terjalin lah komunikasi. Sedangkan tingkah si Mimid sudah seperti cacing yang terkena sekop ketika Suila menghubungi bang Kiky via intagram. Tubuh Mimid panas dingin, guys. Gemetar pula. Belum apa-apa sudah demam panggung aja.

Sedangkan aku, Suila, dan Surici hanya bisa heboh dan tertawa. Apalagi bang Kiky setuju untuk bertemu esok hari di area Kampus.

Singkat cerita, Mimid memberikan kami uang untuk membeli bungkus kado dan paper bag. Pada malam harinya aku dan Suila akhirnya keluar membeli segala keperluan untuk membungkus lukisan si Mimid yang kan diberikan kepada bang Kiky.

Jangan harap bahwa si Mimid yang membungkus dan memberikan secara langsung kepada bang Kiky. Tidak. Si Mimid lebih memilih pulang kampung bersama Surici dan mereka berdua hanya menunggu perkembangan dari aku dan Suila.

Jadi, tibalah esok hari, tepatnya jam 10 pagi di tengah rintik-rintik hujan melanda. Aku ingat banget bagian ini, aku dan Suila mengendarai motor. Aku yang menyetir dan Suila yang berada di belakang dengan memegang paper bag berisi lukisan si Mimid tadi. Kami berdua bertransformasi menjadi kurir dadakan, guys. Kurang apalagi coba kami sebagai sahabat?

Jadi, karena aku orangnya kalem hahaha, aku menyuruh Suila untuk memberikan lukisan si Mimid itu kepada bang Kiky sendiri aja dan aku menunggu di motor. Awalnya, Suila menolak. Namun, setelah sampai di lokasi tujuan. Jeng...Jeng...Jeng..!

Di sana sudah ada bang Kiky yang duduk sambil menatap layar ponselnya. Awalnya Dia tidak menyadari keberadaan kami, namun setelah Suila memanggilnya akhirnya bang Kiky bangkit berdiri dengan senyum lebarnya.

Di sini yang paling aku ingat, bang Kiky senyum lebar banget dan Dia gak berhenti senyum. Kalau saja si Mimid melihat pasti sudah meleleh tuh anak. Nah, di sinilah terjadinya serah terima berlangsung. Suila juga sempat mengambil dokumentasi bahwa bang Kiky telah menerima lukisannya. Senang kan kamu, Mimid!

Perlu kalian tahu, Mimid tidak ingin bang Kiky tahu kalau lukisan itu dari dia. Di sini, bang Kiky penasaran banget siapa orang yang telah memberikan dia hadiah. Sebenarnya mulut kami gatal ingin memberitahu, namun dengan rasa kasihan yang dimiliki sahabat, kami lebih memilih merahasiakannya. Awalnya bang Kiky memaksa untuk memberitahukan siapa orangnya, namun Suila lebih memilih untuk menjawab, "rahasia."

Perlu bang Kiky tahu, sebenarnya jika abang jeli pasti abang tahu siapa yang memberikannya. Di belakang bingkai foto, tepatnya di penyanggah bingkai tersebut ada nama si pengirim yang ditulis dalam bentuk tulisan arab. Di sini aku berdoa, semoga abang menemukan tulisan nama itu.

Jadi, guys. Setelah beberapa jam kemudian, akhirnya bang Kiky memposting lukisan Mimid melalui ig story. Senang banget tuh jadi si Mimid dan pastinya lega. Hanya saja yang membuat kecewa yaitu abang Kiky tidak tahu siapa pengagum rahasianya selama ini.

Kini, tiba waktunya, ketika aku tidak sengaja membuka ig story. Di sana terlihat bang Kiky yang merepost ig story seorang cewek yang bersama dengannya. Cantik dan mungil.

Tentu, aku langsung meneruskan ig story tersebut ke grup kami di instagram. Mimid langsung potekguys. Mimid bahkan gak mau membuka ig story itu. Katanya "Cukup aku lihat dari sini saja." Hahaha. Maaf, aku ngakak dulu.

Aneh aja sih, setiap bang Kiky buat ig story, si Mimid tidak pernah mau lihat. Aneh sih ini anak.

Dan sekarang, si Mimid ini lagi berusaha untuk move-on. Doakan, ya. Katanya dia mau cari yang lain saja. Mimid tidak mau lagi mengharapkan bang Kiky. Bikin sakit hati, katanya.

Atau mungkin Mimid sama Buaya saja?

Oke, guys. Sekian dulu. Maaf, di cerita kali ini tidak ada dialog. Mungkin, kalau Mimid berjodoh dengan bang Kiky dan berakhir di pelaminan, kemungkinan kecil aku akan membuat kisah Mimid menjadi novel.

Akan kuceritakan dalam bentuk dialog dengan menyertakan konflik. Adanya orang ketiga, keempat, kelima, dan seterusnya....

Karena sebenarnya, terjadi banyak konflik di sini yang tidak bisa aku jabarkan. Ini juga merupakan kisah nyata yang pertama aku tulis. Maaf, jika bahasanya kurang tertata dan rapi.

Dan Terimakasih untuk si narasumber Mimid telah berbagi ceritanya. Jodoh tidak ada yang tahu, yang perlu kita lakukan hanya perlu memperbaiki diri dengan niat yang tulus karena Allah Ta'ala. Karena pengalaman aku membaca, jodoh adalah cerminan diri. Jika jodoh kita tidak mencerminkan diri kita di dunia, barangkali jodoh cerminan diri kita berada di akhirat kelak.

Namun, di sini aku berharap. Meskipun aku tidak baik, tapi aku berdoa dan berharap akan menemukan seseorang yang bisa membawa aku kepada kebaikan, dan bisa berjodoh denganku baik di dunia dan di akhirat. Aamiin. Doakan ya, guys!

Dan...

Semoga kita selalu dalam kebaikan dan lindungan Allah Ta'ala. Aamiin.

Semoga jodoh kita tidak nyasar, ya. Semoga juga jodoh kita tidak sedang menjaga jodoh orang lain.

 

Enjoyed this article? Stay informed by joining our newsletter!

Comments

You must be logged in to post a comment.