Profil instastories

Sebuah Titipan

 

 

I

Berbekal terpal dan keahlian tali-temali seadanya, Moa menambat bakal ranjangnya itu di dua pipa karatan yang terlihat paling kokoh di sekitar tempatnya ingin beristirahat. Tempat yang juga memiliki konsentrasi racun minim menurut alat ukur yang menyatu pada arlojinya. Tubuh belia Moa yang begitu saja terbaringmeregangkan ruas tulang belakanghingga samar terdengar bunyi-bunyian khas benda retak, tumpang tindih degan erangan Moa yang nampak lega.

 

Udara bercampur sisa hujan asam dan mesiu membuatnya harus menutup wajah ayunya dengan kain basah. Ia akan kebas jika tertidur tanpa dibegitukan. Sebungkus ransum berisi lima batang biskuit coklat tandas ia santap dalam sekejap sebelum menggelar kain di wajahnya. Kantuk adalah hasil formulasi apik antara rasa lelah dan kenyang. Usai sekian bulan menyusuri gorong-gorong gelap yang sesak oleh instalasi pipa-pipa dan turbin aneka ukuranmembuat Moa sedikit putus asa karena tak kunjung sampai ke tempat tujuannya. Semua itu tergambar jelas pada hela napas panjang Moa sebelum tidur.

 

Dalam tidurnya, yang kala itu cepat sekali sampai pada fase lelap, ia menggumamkan sup tomat hangat dan semangkuk kacang rempah sangraisesekali ia mengusap liur dan mencecap ruang kosong di sekitar mulutnya sambil menyeringai. Kadang, dengkuran lirihnya pun berubah menjadi dialog khas ruang makan di rumahnya. Entah itu olokan untuk ayahnya, rengekan manja untuk kakeknya, atau genderang perang untuk adik bungsunyayang jelas, ada banyak sekali kerinduan dalam sesi mengigau Moa saat itu.

 

Tepat di sampingnya, sebuah kendaraan roda tigamirip miniatur tank tanpa laras tembak, yang senantiasa menemani Moasekedar menjadi alat transportasi seadanya, sekaligus tempat bahan makanan dan printilan lain. Namun ada satu benda yang selalu mendapat perlakuan istimewa. Alasan mengapa Moa selama ini gentayangan dalam gorong-gorong yang berada di bawah markas militer yang sekaligus bisa menjadi medan perang sewaktu-waktu. Adalah sebuah titipan dalam bungkusan kain lusuh dari ayahnya, Morganseorang gerilyawan. Bungkusan itu terselip di kotak di bawah kemudi.

 

II

Puas melahap selai kacang porsi mini dan sejadi-jadinya menjilati telunjuk, Moa menangkap hal ganjil yang berlangsung dalam sekejap mata saja. Ia yakin jika juntaian liur antara telunjuk dan jari tengahnya tadi, bergoyang-goyang tersapu angin. Yang mana artinya, jalan keluar ada di depan sana. Dari titik itu, Moa mulai rutin mencelupkan jari telunjuk dan mengacungkannya di setiap tikungan, setiap ruas baru, setiap percabanganmemastikan agar dirinya berada pada jalan yang tepat.

 

Moa juga disadarkan jika orkestra tetesan air yang berada di kanan-kirinya makin riuh. Pertanda jika sumber air juga tak jauh dari tempatnya berada. Beberapa mur dan selongsong peluru yang berserakan, menari-nari di lantai yang terbuat dari berbidang-bidang besi, saat kendaraan Moa mendekat. Dengan penerangan seadanya, Moa mengemudi dengan hati-hati karena jarak pandangnya terbatas. Kadang, ada saja saat-saat di mana ia harus memperbaiki jalan atau bahkan memutari jalan karena terhalang puing.

 

Dengusan angin yang membimbing air liurnya kini tak lagi sekedar lirih. Moa tak perlu sampai menginjak pedal rem dan memejamkan mata sembari mengacungkan telunjuk berliur untuk merasakan angin yang tipis. Bahkan, rambut kemerahannya yang lepek, berhambur oleh hembusan angin yang cukup kuat. Sungging senyum tipis terbentuk pada wajah Moa. Meski ia terbakar oleh semangat, kendaraan lambatnya tak akan menanggapi respon tubuh Moa yang ingin cepat sampaidengan tiba-tiba bisa berakselerasi layaknya jet tempur. Hasrat Moa tertahan.

 

Berkas cahaya, yang mulai dari titik kecil seukuran pantat kunang-kunanglambat laun membesar, membentuk setengah lingkaran. Semburat cahaya itu mulai membuat mata Moa kelabakan dan membuatnya harus menjadikan lengan kurusnya sebagai perisai di atas dahi. Sekian lama terkurung dalam gelap, sensitifitas matanya terhadap cahaya akan segera mendapat ujian akhir. Tabir cahaya itu tersingkap begitu saja saat mata Moa memicing. Serta merta hamparan bintang mendapati sepasang pupil yang mulai kembali membesar itu. Malam yang menyilaukan bagi Moa.

 

III

Instruksi dari ayahnya adalah membuka bebat kain lusuh itu dan mengambil amplop berwarna merah, jika sudah tiba di ujung gorong-gorong. Yang muncul dalam benak Moa saat mulai menelanjangi bungkusan itu adalah; mengapa harus ketika sudah tiba di ujung gorong-gorong?

 

Amplop merah itu kontras. Terhuyung jatuh sebelum Moa tuntas mengatur caranya memegang bungkusan. Disarangkan pelbagai dokumen itu ke atas patahan dahan. Moa mulai membuka surat dalam amplop merah itu. Hanya ada dua alenia di sana :

 

Moa, bawa berkas dalam map biru ke Pos Karantina. Jangan takut, negoisasi berhasil. Di sana ada banyak anak yang selamat. Tak ada yang jadi pemenang dalam perang kali ini. Saat kau membaca surat ini, apa yang menanti kalian adalah kampung halaman yang porak poranda. Setumpuk sampah militermaaf.

 

Mereka bukan lagi sandera. Ajari mereka berrmimpi lagibuat negeri impianmu menjadi nyata. Jangan mendendam. Kakek memintamu menggantikan tempatnya.

 

 Hidup Ibu Presiden yang baru!

 

Morgan

 

Sambil menyeka ujung matanya yang berair. Moa beringsut menuju pohon trembesi. Kembali, membuat ranjang tidur dari terpal. Kemudian merogoh kantung bajunya sebelum benar-benar berbaring. Lenguhannya kian lirih nan panjang, di genggaman Moa kini ada potret keluarga kecilnya. Mulai lusuh karena tersimpan dengan cara dilipat enam kali sebelum masuk dalam sebuah kotak kecil. Kali ini ia tak menghela napas panjang sebelum tidur. Ia tersenyum penuh kebanggaan.

 

“Apanya yang Ibu Presiden, dasar ayah payah ....”

 

Sebelum mata Moa benar-benar mengatup, ia menangkap tiga bintang jatuh dalam kelebat. Meski merasa seperti dibodohi pada awalnya, Moa mengerti ... dan dalam mimpinya kali ini ia berdialog layaknya pemimpin negara. Gestur yang akan sesekali menggebrak meja dan menuding-nuding banyak arah. Dalam gumamannya, ia sedang berpidatopidato yang sudah ia latih bertahun-tahun, di bilik kecil beraroma stroberinya di rumah. Titipan dari ayahnya, tak lain adalah kunci dari mimpinya selama ini.

 

Enjoyed this article? Stay informed by joining our newsletter!

Comments

You must be logged in to post a comment.

Stori terkait
Jul 8, 2020, 1:15 PM - Annisa mahmudah
Jul 6, 2020, 10:20 PM - Chocho_Yucho
Jul 3, 2020, 6:34 PM - Tjahjono widarmanto
Jul 3, 2020, 6:26 PM - Nnaga
Jul 3, 2020, 1:07 PM - Kristina Dai Laba
Jul 2, 2020, 2:25 PM - Mei Elisabet Sibarani