Profil instastories
Ira
Ira

Sebuah permainan hati

 

 

 

 

Aku detik bukan menit mau pun jam, aku hanya lah seorang gadis yang diberi nama oleh kedua orang tuaku, entahlah apa yang mendasari ayah bundaku menamakan ku demikian, waktu kecil teman teman ku sering mengejekku karna namaku terdengar aneh, namun kata ayah namaku unik dan tentu saja memiliki arti yang begitu luar biasa bagi ayah dan bunda, umurku 19 tahun aku sudah menempuh bangku perkuliahan. ok mungkin itu saja sepintas tentang aku dan keluargaku. sekarang biar ku ceritakan tentang dia yang selalu membuatku bahagia namun bersamaan dengan itu dia juga menciptakan luka yang begitu besar untuk ku. 

Ku percayakan dia untuk memiliki hatiku seutuhnya, tak peduli seberapa sering dia menyakitiku dengan begitu sangat besar, sejujurnya ada rasa lelah yang hinggap di hatiku saat dia mengecewakan ku, aku bodoh seharusnya aku bisa berhenti untuk mencintainya, seharusnya aku bisa pergi meninggalkannya dan berharap esok akan datang seorang yang menggenggam erat tangan ku dengan ketulusan yang ia miliki, ia akan tetap bersama ku, tidak akan pernah menyakitiku seperti ayah ku yang tak pernah menyakitiku, aku hanya ingin seperti itu, sesederhana itu.

Dia azka seorang yang ku percaya tak akan menyakitiku setelah ayahku,sebelumnya aku tak pernah menduga akan mencintai seseorang sejauh ini, tak pernah ku duga sebelumya ternyata terlalu mencintai azka akan menciptakan luka yang mendalam untuk ku. 

 “ Kamu janji kan nggk bakalan nyakitin aku?

“ Iyah aku janji kamu harus percaya sama aku”

Itu percakapan ku dengan azka tiga bulan yang lalu, ku percayakan semuanya ucapan azka, nyatanya seiring berjalannya waktu azka berubah, mungkin itu sekedar perasaanku, namun aku benar - benar yakin azka telah berubah.

Bodohnya aku tetap menerima azka, aku berpura pura kalau aku tidak mengetahui semuanya, azka bersamaku namun hatinya bersama orang lain. rasanya aku tidak ingin berada di posisi ini, berpura pura tidak tahu namun awalnya aku mengetahui semuanya, aku melihat semuanya, azka menjalin hubungan dengan orang lain padahal ia sedang menyandang status sebagai kekasihku.

Aku hanya bisa diam, aku seakan di permainkan oleh hati dan perasaanku sendiri, seharusnya  aku harus bertindak, aku harus menegaskan kepada diriku sendiri bahwa aku harus melepaskan azka, membiarkannya pergi, aku ingin melakukan semua itu namun nyatanya aku tak sanggup, aku tak bisa, hati dan perasaanku tidak bisa ku kendalikan lagi, logika ku seakan lebih kuat dari hatiku.

Sekarang aku mulai percaya akan kata ini.” Bahwa hati manusia bisa saja berubah seiring berjalannya waktu” aku mempercayai itu, semuanya memang benar adanya, kamu harus siap untuk terluka akan hal itu, itu hal yang manusiawi, sakit memang namun kamu harus bisa menerimanya.

*****

 “ Ya allah cerah bangat hari ini secerah cinta ku pada dia” 

Detik memutar bola mata malas melihat kelakuan karin, detik mengedarkan matanya di sekeliling taman, dan tak segaja mata nya menangkap seseorang yang ia kenal. Ada rasa sesak yang hinggap di lubung hati detik saat menyaksikan semua itu, di sana azka bersama seorang gadis, mereka terlihat bahagia, senyum cerah tercetak jelas diwajah mereka, tak banyak yang detik lakukan, air matanya meluruh begitu saja, perasaan sakit muncul begitu saja, mulutnya seakan kaku untuk mengeluarkan sepatah kata pun, matanya menatap lurus ke arah dua orang itu, detik tersenyum pedih, sekali lagi ia harus menguatkan dirinya sendiri.

Karin yang sejak tadi melihat gelagat aneh sahabatnya, langsung ikut merasakan sakit, karin memegang erat pundak detik, ia menyampaikan dalam tatapan matanya bahwa semuanya akan baik baik saja.

“ Ada gue di sini lo nggk boleh ngerasain ini sendirian maafin gue udah paksa lo jalan sama gue kalau gue tahu ini bakalan terjadi gue nggk bakalan datang ke sini” air mata yang sedari tadi di tahan karin keluar begitu saja.

Lagi lagi detik tersenyum untuk terlihat baik baik saja.” Gue nggk apa apa kok”

Karin makin terisak ia memeluk detik erat bahkan sangat erat, ia bukan lah seorang detik yang bisa terlihat baik baik saja ketika menyaksikan semuanya.

Dalam dekapan karin diam diam detik menangis, benteng pertahanannya runtuh begitu saja, kedua sahabat itu menangis mengeluarkan isakan yang begitu memilukan.

 “ Lepasin dia lo berhak buat bahagia” ujar karin melepaskan pelukannya pada detik.

“ Andaikan gue bisa rin udah gue lakuin dari dulu” 

“ Lo jangan bodoh dia udah sering nyakitin lo, lo harus mikirin juga hati lo”

Lagi lagi air mata itu meluruh tampa bisa detik cegah.

“ BILANG SAMA GUE RIN BILANG SAMA GUE GIMANA CARANYA?, GUE HARUS LAKUIN APA?, GUE LELAH RIN” detik menutup kedua matanya ia lelah sangat lelah.

Karin memeluk detik erat.  “ G.u.e .j.u.g.a le.l.a.h rin gue harus berpura pura kuat kaya gini hati gue sakit rin hati gue hancur, kenapa rin kenapa azka nggk bisa tulus sama gue? sedikit ajah rin dia lihat gue, gue udah coba buat ngertiin dia tapi apa yang gue dapat ?” 

         Detik berada di taman belakang kampus yang sangat jarang orang datangi, saat ini ia bersama azka, duduk bersampingan dengan kesunyian yang begitu mendominasi, tak ada yang berniat untuk memulai percakapan, saling diam dengan pikiran masing masing, dan dengan luka yang sulit di jabarkan. cukup lama mereka berdiam diri sampai akhirnya detik memulai semuanya, membicarakan yang perlu di bicarakan, memperjelas semua yang terjadi, detik harus menemukan titik terangnya, ia tidak bisa berdiam diri seperti ini dengan setumpuk luka yang selalu menghancurkannya.

“ Maaf aku udah maksain kamu buat ada di sisi aku, aku egois seharusnya aku sadar kalau aku harus melepaskan kamu, maafin aku” detik tersenyum di sisa kekuatan yang ia miliki.

Ada rasa sesak yang azka rasakan melihat senyuman dari detik, senyuman yang penuh luka, senyuman yang tak pernah ingin ia lihat, itu membuatnya sakit.

“ Aku tahu semuanya za tapi aku bodoh karna aku nggk pernah mau bertindak, aku terus aja yakinin diri aku sendiri bahwa kamu datang lagi untuk tetap stay sama aku tapi nyatanya aku salah besar ” Sudah cukup pada akhirnya air mata detik keluar begitu saja tampa bisa ia cegah lagi.

“ Aku nggk nangis kok ini cuman kelilipan” Detik berusaha tersenyum dan mengusap kasar air matanya.

Azka menggeggam tangan detik erat bahkan sangat erat, ia telah menyakiti wanita yang begitu tulus mencintainya, ia menyianyiakan wanita yang mempertahankannya walaupun ia menyakitinya, azka memeluk detik, diam diam menangis di pelukan wanita yang ia lukai.

“ Maaf aku udah banyak lukain kamu maafin aku seharusnya aku jujur sama kamu sehar__”

“ Udah aku nggk apa apa, Aku cuman mau memperjelas semuanya za, aku melepaskan kamu sekarang kamu boleh pergi aku udah relain semuanya” 

Azka menangis mendengar ungkapan detik, kenapa itu begitu menyakitkan, kenapa azka harus merasakan sakit?, ini yang ia mau bukan?, lalu kenapa sekarang begitu menyakitkan, kenapa begitu sesak melepaskan detik?

“ Aku pamit azka jangan sakit, oh yah aku bakalan kuliah lanjut di luar negri jadi aku harap kamu bakalan baik baik aja selalu bahagia sama dia za dan aku harap kamu jangan pernah menyakiti dia” detik tersenyum hambar.

Azka terdiam memandang kepergian detik yang semakin jauh, detik telah memutuskan untuk pergi, dan ia harus merasakan sakit, orang yang selama ini ia sakiti memutuskan untuk pergi meninggalkannya dan mungkin takan pernah kembali.Mengapa harus sesakit ini tuhan?

“Melepaskan mu tak semudah yang ku pikirkan, aku harus mengorbangkan semuanya untuk itu, suka tidak suka, mau tidak mau aku harus melakukannya, aku akan berusaha akan hal ini. biarkan saja toh nanti aku akan terbiasa akan hal ini, aku memang tidak bisa melupakan Mu namun aku harus bisa menjalani hidupku tampa kehadiranmu.”

“Selsai sudah perihal yang telah terjadi di antara kita, semuanya telah usai aku tidak akan menahan mu lagi, pergilah sejauh yang kau impikan, karna hari ini aku benar benar berada di fase jenuh dan lelahku.....”

Enjoyed this article? Stay informed by joining our newsletter!

Comments

You must be logged in to post a comment.

Stori terkait
Jul 8, 2020, 1:15 PM - Annisa mahmudah
Jul 6, 2020, 10:20 PM - Chocho_Yucho
Jul 3, 2020, 6:34 PM - Tjahjono widarmanto
Jul 3, 2020, 6:26 PM - Nnaga
Jul 3, 2020, 1:07 PM - Kristina Dai Laba
Jul 2, 2020, 2:25 PM - Mei Elisabet Sibarani