Profil instastories

Sebuah pembuktian

Sebuah pembuktian

 

Bel pulang sekolah telah berbunyi lima menit yang lalu, kini Caca tengah sibuk membereskan buku-bukunya yang berserakan di atas meja untuk di masukkan kedalam tasnya. Gadis yang bernama lengkap, Cahaya Aulyta itu hanyalah seorang gadis sederhana yang memiliki sejuta mimpi dan angan-angan yang terpendam.

Hari ini sepulang sekolah Caca telah memiliki janji dengan sahabatnya, Kaina Nandita, untuk pergi ke Gramedia hanya sekedar membeli novel kesukaannya. Caca memang sangat suka membaca novel, baginya novel lah yang membuat hidupnya berasa lebih berwarna, karena dengan membaca novel ia seperti merasakan apa yang terjadi dalam cerita novel tersebut walaupun itu tidaklah nyata, namun terdapat banyak pengajaran yang terkandung didalamnya.

Caca dan Kaina telah sampai di salah satu toko buku di Gramedia, Lampung. Caca segera berjalan menuju rak buku yang dimana terdapat deretan novel-novel yang telah tersusun rapi. Caca melihatnya dengan mata berbinar, ingin rasanya ia membeli semua novel itu, tetapi untuk saat ini ia hanya sanggup membeli satu novel saja tidak lebih. Setelah mereka menemukan dan membayar novel-novel yang dibeli, mereka menyempatkan diri untuk mengisi perut mereka yang sudah keroncongan sejak tadi. Sudah sekitar dua jam mereka berada di Gramedia itu, akhirnya mereka memutuskan untuk pulang.

Caca pulang diantarkan oleh Kaina, setibanya di depan rumahnya, ia turun dari mobil Kaina. Caca melihat Papanya tengah berada di depan rumahnya seperti sedang membakar sesuatu. Caca menghampiri dan menyalami papanya. Caca merasa penasaran, ia melihat apa yang sedang Papanya bakar itu. Dan betapa terkejutnya ia saat mengetahui bahwa yang sedang Papanya bakar itu adalah novel-novel kesayangannya. Novel-novel yang selama ini membuat harinya terasa berwarna, novel-novel yang menemaninya setiap malam, novel-novel yang telah mengubah hari-harinya. Bahkan Caca rela menabung seluruh uang sakunya setiap hari, ia rela tidak makan saat jam istirahat untuk setiap harinya disekolah, hanya untuk membeli satu buah novel. Bayangkan! bagaimana Caca rela melakukan semua itu hanya untuk satu buah novel setiap bulannya, Satu buah. Bayangkan! betapa sedihnya dia saat mengetahui novel-novelnya telah menjadi abu dan Semua yang telah ia lakukan selama ini hanya tinggal kenangan.

Perlahan air matanya menetes membasahi pipinya tanpa permisi tak kuasa menahan kesedihan yang ia rasakan saat ini. Dadanya terasa sesak mencoba menahan isakkan nya agar tidak keluar, Caca berusaha mengumpulkan keberanian untuk bertanya mengapa papanya membakar novel-novel kesayangannya itu.

     "Kenapa papa hiks bakar novel-novel Caca hiks hiks," Hanya kalimat itu yang dapat terucap dari bibirnya, kalimat yang sangat lirih dengan isakkan kesedihan yang dirasakan.

     "INI YANG MEMBUAT NILAI-NILAI KAMU TURUN!!"

     "INI YANG MEMBUAT KAMU SELALU TIDUR TENGAH MALAM!!"

     "DAN INI YANG SUDAH MEMBUAT KAMU LUPA AKAN SEGALANYA!!!"

     "APA YANG KAMU DAPATKAN DENGAN MEMBACA BUKU-BUKU TAK BERGUNA INI!!

     "APA? TIDAK ADA!!!"

     "BUKU-BUKU INI HANYA MEMBAWA PENGARUH BURUK BUAT KAMU!!

     "DAN HANYA DENGAN CARA INI, KAMU BISA SADAR AKAN HAL ITU!!"

Air mata Caca semakin mengalir deras mendengar kalimat demi kalimat dari mulut papanya yang terkesan dingin dan membentak. Ingin rasanya ia membantah ucapan papanya yang mengatakan bahwa semua novel-novelnya ini tak berguna. Tetapi mulut nya seakan keluh untuk mengungkapkan itu semua, hanyalah isakkan yang dapat keluar dari mulutnya. Cukup! Sudah cukup ia melihat novel-novel yang telah menjadi abu itu, ia tak sanggup lagi sekarang. Caca berlari masuk kedalam rumah dengan keadaan yang sulit dijelaskan, ia meninggalkan papanya begitu saja tanpa mengucapkan sepatah katapun.

      "Maafkan Papa, Cahaya,"
Kalimat terakhir yang sempat ia dengar dari mulut papanya saat setelah ia pergi dari hadapan papanya, kalimat yang terdengar lirih dan penuh ketulusan.

Saat ini Caca sedang mengurung dirinya dalam kamar mencoba menenangkan dirinya sendiri. Caca tau memang papanya tidak suka jika ia terlalu sibuk dengan novel-novelnya, tetapi ia juga tidak menyangka bahwa Papanya sampai tega membakar semua novel-novelnya itu. Caca mengeluarkan sebuah novel dari tasnya, novel yang baru saja di belinya, sekarang hanya itulah novel satu-satunya yang ia punya. Caca menenggelamkan wajahnya pada bantal menahan isakkan-isakkan yang terus saja keluar, sejak tadi air matanya pun tak henti-hentinya menetes, walaupun matanya sudah sembab tetapi air matanya terus saja mengalir seakan enggan untuk berhenti.

     Pagi ini setelah menyiapkan sarapan untuk Papanya, Caca langsung berangkat ke sekolah. Caca hanya tinggal berdua dengan Papanya, Ibunya telah meninggal dua tahun lalu. Maka dari itu, Caca lah yang berkewajiban menyiapkan sarapan untuk Papanya. Walaupun Caca masih kecewa dengan Papanya, ia tidak akan meninggalkan kewajibannya itu. Hanya saja, sekarang Caca belum siap untuk bertemu Papanya.

Sudah satu minggu ini sikap Caca berubah. Caca yang biasanya ceria, ramah dan humoris, sekarang menjadi pendiam, cuek dan dingin. Kaina menyadari perubahan yang terjadi pada diri Caca dan Kaina pun tau apa penyebab sikap Caca berubah. Karena saat kejadian itu terjadi Kaina belum pergi dari jalanan depan rumah Caca, sehingga dia melihat kejadian itu dari awal sampai akhir. Caca seperti kehilangan separuh jiwanya, hari-harinya kini terasa sangat membosankan, satu hari saja terasa seperti satu minggu, terasa sangat lama. Terdengar lebay memang, tapi itulah yang Caca rasakan setelah novel-novelnya pergi. Tetapi setelah mendengar masukan demi masukan dari sahabatnya 'Kaina' kini ia mencoba bangkit kembali dan ingin membuktikan pada Papanya bahwa pemikiran Papanya tentang novel selama ini telah salah.

Malam ini Caca tengah di sibukkan dengan ponselnya, matanya tak sengaja menangkap sebuah info perlombaan karya tulis online di salah satu sosial medianya. Caca membacanya dengan penasaran dan tiba-tiba Caca teringat akan keinginannya untuk membuktikan pada Papanya bahwa yang ia lakukan selama ini tentang hobinya membaca novel tidaklah sia-sia. Dan mulai dari situ Caca mencoba keluar dari zona nyaman nya, ia terus mencari-cari informasi lomba karya tulis yang dapat ia ikuti dari berbagai sumber. Dengan modal pengetahuan yang ia dapatkan dari berbagai karya tulis terkenal yang telah ia baca, Caca mencoba menuangkan ide-idenya kedalam sebuah tulisan yang menarik untuk dibaca. Caca mengikuti lomba menulis puisi dan karyanya itu telah masuk nominasi 15 puisi terbaik. Walaupun puisinya tidak menjadi juara, Caca tetap senang karena itu adalah lomba pertama yang ia ikuti, dan menurutnya itu merupakan langkah awal yang bagus.

Setiap hari Caca terus disibukkan dengan kegiatan menulisnya, dia semakin semangat karena Kaina selalu mendukungnya. Bagaimana dengan Papanya? Caca tidak memberitahu Papanya akan hal itu, rencananya ia baru akan memberitahu Papanya ketika ia sudah sukses dan dikenal dengan berbagai karyanya. Sedangkan sekarang ia belum menjadi apa-apa dan perjalanannya pun baru saja di mulai. Meski selama ini Caca telah mengikuti berbagai perlombaan menulis dan sudah beberapa kali mendapatkan juara pertama di ajang perlombaan itu, tetapi menurutnya itu belum cukup untuk membuktikan kepada Papanya.

Sudah sekitar satu tahun Caca menekuni kegiatan menulisnya itu dan hasilnya pun tidak sia-sia. Semua karya-karyanya seperti puisi, cerpen dan novel semuanya sudah tidak dapat diragukan lagi. Bahkan sekarang Caca telah menjadi penulis profesional di usianya yang masih muda, berbagai karyanya telah dibukukan dan diterbitkan. Nama 'Cahaya Aulyta' juga telah dikenal banyak orang berkat karyanya itu. Dan Caca rasa inilah waktu yang tepat, inilah saatnya untuk Caca membuktikan pada Papanya bahwa semua yang ia lakukan dulu bukanlah ketersia-siaan belaka.

Saat ini ia telah mengumpulkan keberanian untuk memberitahu Papanya. Tapi, ternyata Papanya sudah tahu terlebih dahulu dari berita-berita yang Papanya dengar. Papanya mengatakan berbagai penyesalan yang telah dilakukan dulu padanya dan Papanya pun begitu bangga dengan apa yang telah Caca raih sekarang. Caca sangat senang sekarang, ia dapat membuktikan pada Papanya dan yang terpenting ia telah membuat bangga Papanya. Bahkan bukan hanya itu kehidupannya pun sekarang berubah drastis, karena memang banyak manfaat yang Caca dapatkan dari karya-karya tulisnya itu. Dan Caca pun akan terus berkarya menghasilkan karya-karya terbaiknya, karena itu telah menjadi hobinya sekarang dan seterusnya.

Enjoyed this article? Stay informed by joining our newsletter!

Comments
Zidnyhidayat - Apr 20, 2020, 1:17 PM - Add Reply

Baguss

You must be logged in to post a comment.

You must be logged in to post a comment.

Stori terkait
Jul 8, 2020, 1:15 PM - Annisa mahmudah
Jul 6, 2020, 10:20 PM - Chocho_Yucho
Jul 3, 2020, 6:34 PM - Tjahjono widarmanto
Jul 3, 2020, 6:26 PM - Nnaga
Jul 3, 2020, 1:07 PM - Kristina Dai Laba
Jul 2, 2020, 2:25 PM - Mei Elisabet Sibarani