Profil instastories

Gadis dengan bakat tidur dari siang hingga siang. Memiliki kesempatan menulis ketika hati sedang dalam mode normal.

Sebenarnya hanya kamu


Kedipan mata seolah menjadi ibarat paling umum untuk waktu yang berlalu begitu cepat. Dan aku setuju dengan itu. Sudah hampir dua tahun dan aku sadar aku menyesal. Namun bukan itu inti masalahnya karena aku tak bisa menyalahkan hatiku sendiri atau hati orang lain. Tak ada yang bisa disalahkan dalam kasus ini ternyata namun begitu perih jika tanpa tersangka.

Aku akan bercerita. Tentang penyesalanku yang memang harus kujadikan pelajaran. Mari berkenalan, namaku Rian. Lahir di Aceh duapuluhenam tahun yang lalu. Kini aku bekerja sebagai fotografer yang juga aktif sebagai anak band. Aku bisa manggung dari satu kota ke kota lain. Namun percayalah, aku tidak seterkenal itu. Oh, maaf. Sejujurnya ini bukan tentang latar belakangku namun lebih ke bagaimana percintaanku.

Namanya Lusiana, aku memanggilnya Ana. Pacarku saat ini. Sebelum aku bertemu dengan Ana ada satu gadis yang jujur masih aku suka hingga saat ini. Namanya Dita, dia adalah gadis yang aku sakiti.

"Mangga atau jambu?" tanya Dita sembari menunjukan dua buah itu padaku. Senyumnya mengembang takjub dengan kumpulan buah didepannya. Seolah dia berada disurga asal membawa dompet penuh uang.

"Aku mau jambu." jawabku.

"Oke, aku beli mangga."

"Kok gitu?"

"Kalo kamu beli jambu, aku beli mangga. Nanti aku minta jambu kamu."

Dita. Yah, nama itu. Kami berpacaran hampir dua tahun dan percayalah selama itu aku hanya dua kali mentraktirnya makan dan baru dua kali pula memberikan kado. Yah, dihari jadi kami. Dita seorang yang mandiri. Dia kuliah sambil kerja disebuah toko bunga dan menghasilkan uangnya sendiri dari kerja keras.

Dita bukan hanya seorang gadis mandiri. Harus ku akui dia benar benar dewasa. Aku melihatnya, bagaimana gadis itu menanggapi sebuah masalah dan bagaimana gadis itu selalu berusana terlihat tegar apapun yang tengah dia rasakan.

"Mau es krim vanila atau coklat?" tanyaku satu waktu.

"Stroberi." jawab Dita masih fokus dengan laptop didepannya.

"Maaf, tuan putri. Es krim sroberi tidak ada dalam daftar pilihan." ucapku seolah olah adalah pelayan setia sang putri dalam dongeng.

Dita mengangkat wajahnya. Menunjukan wajah imut dengan mata bulat. Jika dia ada di anime Jepang mata itu pasti bercahaya dan bunga bungaan akan muncul disekelilingnya.

"Oke. Es krim stroberi." aku menyerah. Menatapnya lebih lama hanya akan membuatku semakin jatuh hati.

Hubunganku dengan Dita berjalan cukup lama. Dia masih kuliah ketika aku di wisuda dan percayalah, dia satu satunya gadis yang mengjadiri wisudaku, satu satunya keluarga dan satu satunya manusia yang ada untuk memberiku ucapan selamat. Dita yang asli Bali menggunakan kebaya Bali dengan rambut disanggul kecil dan selendang biru berpadu warna baju yang cukup indah. Dita membawa satu tangkai bunga. Aku tegaskan, hanya satu tangkai anyelir merah.

"Satu tangkai anyelir merah." ucapku meraih bunga yang dia ulurkan.

"Dari aku." jawab Dita.

"Aku tau. Tapi kurang tau maknanya."

"Aku bakal kasih tau, jadi kamu harus bersyukur punya pacar tukang bunga." ucap Dita. Aku hanya tertawa.

Hari itu aku menikmati hari bersama Dita. Tidak bisa dengan Papa, Mama atau keluarga lainnya. Mereka di Aceh sana untukku yang di Jakarta. Aku tidak memaksa Papa dan Mama ku untuk datang karena ongkos pesawat lumayan mahal. Tapi aku tidak keberatan.

"Kenapa cuma bawa satu tangkai, Dita?" tanyaku ketika Dita duduk dikantin sembari melepas sanggul kecilnya membebaskan seluruh rambut tergerai dengan bebas.

"Kamu mau aku kasih satu buket bunga?" Dita bertanya balik.

"Bukan. Aku tau pasti ada maknanya. Aku cuma mau tau."

"Kamu lihat cewek bawa buket lily warna warni itu? Mau tau maknanya?" tanya Dita. Aku mengikuti arah pandangnya sebelum kembali menatap mata teduh Dita.

"Bunga lily punya banyak makna tergantung warnanya. Dan lily punya ratusan warna. Cewek itu pasti gak tau maknanya apa. Cuma merasa lily itu cantik dan cowoknya kasih seikat lily tanpa tau maknanya. Tapi aku yakin, sebenernya tuh cowok paham apa maknanya."

Aku hanya mengangguk. Kemudian meneguk es teh manis didepanku.

"Lily putih punya arti persahabatan, kemurnian, kesopanan, dan sumpati. Tapi lihat, Lily yang ada di bucket itu cenderung ke warna kuning dan orange. Kalo kita lebih deket, pasti lily putih cuma satu atau dua tangkai."

"Terus? Maknanya apa, Dita?" tanyaku gemas.

"Kebohongan dan kebencian."

Aku hampir tersedak.

"Biasa aja. Lily sering dipake untuk itu. Cantik tapi artinya tidak pernah sesuai dengan tampilannya."

"Lalu? Anyelir merah? Dan hanya satu tangkai?"

"Kagum dan persahabatan."

Aku mengangkat alis. Apa aku dimata Dita hanya bermakna seorang sahabat.

"Anyelir merah terang berarti cinta yang begitu dalam dan kasih sayang."

Hari itu aku mengerti makna pemberian Dita. Dan hari hari berikutnya. Dan hari hari kemudian ketika perlahan rasa sakit mulai tercipta.

Jujur. Aku tidak pernah berniat untuk menyakiti Dita. Aku tidak pernah mengerti bagaimana bisa aku melakukannya pada Dita dan menyesal kemudian hari. Anyelir yang Dita berikan hari itu tersimpan indah dalam foto yang aku ambil. Bersama sang pemberi berkebaya Bali dengan selendang biru indah menawan.

Kenapa Dita bisa aku sakiti? Pertanyaan itu tolong jejalkan pada otakku yang telah membeku.

Setelah penampilanku disalah satu universitas swasta, Ana, pacarku saat ini sudah menungguku di belakang panggung. Tangannya memegang sebotol air minerak dan menyodorkannya padaku. Hahahaaa, dalam situasi ini kadang aku ingin sekali bersyukur pada Tuhan untuk banyak hal, salah satunya adalah Ana.

"Capek banget pasti. Minum?!" Ana menyambutku.

"Kayaknya, sih, lebih capek kamu." ucapku.

"Tadi ada masalah di kantor. Capek banget aku. Fotografernya tiba tiba mengundurkan diri padahal minggu depan ada pemotretan."

Ana bekerja sebagai Wedding Organizer. Pekerjaannya cukup menguras tenaga apalagi untuk pasangan yang neko neko. Ana sering bercerita dan sungguh, caranya bercerita mengingatkanku pada Dita.

"Tadi ada yang rewel di toko bunga. Minta ini minta itu." ucap Dita sembari mengeluarkan satu gelas teh manis dari balik dapur.  Untukku.

Kalo Dita sudah mulai bercerita maka image yang selama ini tergambar pada dirinya yang cool akan meluntur sedikit. Dita cukup cerewet jika sudah mengenal.

"Minta Lily warna warni? Dengan dalil cantik?" tebakku.

"No, dude. Dia minta mawar doang, tambah kartu ucapan dan banyangkan, aku yang diminta mikir apa isi kartu ucapan. Katanya aku harus bisa."

"Bukannya emang harus bisa." aku berucap asal membuat mata tajam Dita menatap hendak membunuh, "ah, ya. Kenapa dia minta kamu buat kartu ucapan. Huh. Lucu. Aneh dia, ya."

"Kan? Dia marah. Terus pergi, dong. Masa bilang kalo aku nggak bisa kerja bener. Heh, mana bisa gitu?" logat Bali Dita yang kental membuatnya begitu lucu, sungguh. Ah, mengingatnya membuatku semaki rindu.

***

"Rian? Oy, Rian. Kamu ngelamun lagi." Ana melempar handuk. Dia merajuk.

"Yaudah, aku yang gantiin fotografernya."

"Heh? Serius? Kamu bisa?"

Singkat. Hari itu aku menemani Ana dengan pekerjannya. Atau aku membantunya bekerja atau ini juga bagian dari pekerjaanku. Ah, apapun sebutannya aku akan berterima kasih dengan sangat pada Ana. Karena karena hal ini aku bisa bertemu Dita. Iya, Dita. Mantan pacarku? Hahahahha. Sungguh, perih menyebutnya sebagai mantan.

Pada hari pemotretan, aku bertemu Dita. Dia masih sama cantiknya berbalut kaus putih dan celana hitam. Senyumnya mengembang dengan tampilan gigi rapi yang sungguh membuatku lupa tentang masa lalu itu.

Dita menatapku. Senyumnya menghilang sejenak kemudian merekah lagi. Dia beranjak. Pergi.

"Rian? Kita mulai, mempelai sudah siap." Ana memberi intruksi. Aku bersiap. Kamera dan semua peralatan sudah aku siapkan. Ana menggenggam lenganku. Sejenak aku mencari Dita, diamana dia dan apa yang sedang dia lakukan.

Selesai pemotretan Dita menemuiku. Kami ngobrol sembari aku membereskan tas kamera dan semua kawan kawannya. Ana berdiskusi singkat dengan mempelai.

"Aku denger kamu masih aktif jadi anak band." Dita bertanya. Aku hanya menoleh.

"Ternyata jadi fotografer juga." tambahnya.

Dita pergi. Meninggalkanku. Tunggu. Apa itu hanya percakapan ejekan? Atau dia pergi karena aku mengabaikan.

"Dit?"

Dia menoleh. Tanpa senyum. Mata tanpa binar. Biasa saja.

"Ngobrol bentar? Bisa?"

***

Kenapa Dita tidak tersenyum seperti dulu? Binar matanya pun berubah. Juga air wajah penuh tanda tanya itu. Bukan seperti Dita yang dulu. Ketika masih menjadi milikku.

"Aku seneng bisa ketemu kamu disini." kalimat pertama Dita. Lucu, dia yang memulai.

"Aku kangen kamu." kalimat itu muncul tanpa permisi. Tanpa awalan yang membuat raut Dita berubah.

"Aku harap itu bohongan."

Aku terdiam. Dita terdiam. Lama.

"Maaf."

"Sebuah kata yang harusnya kamu ucap sejak dulu, kan?"

Waktu seperti terjeda.

Satu detik.

Dua.

"Jika keberanian datang lebih cepat." aku membalas.

"Aku lihat kamu bahagia. Diatas panggung. Memegang kamera. Menggandeng seseorang. Senyummu sempurna."

Apa? Dita? Dia tau banyak.

"Kenapa cuma aku yang terjebak sementara dengan tenang kamu melangkah bahkan berlari."

"Dit?"

"Aku masih berharap, Rian. Anyelir merah dalam foto, aku masih menyimpannya. Namun sepertinya ini waktu untuk melenyapkannya."

Dita berdiri. Cepat. Namun aku lebih cepat menggenggam lengan kecil itu.

"Aku bahagia. Sungguh. Namun jika aku tau kamu terjebak aku akan kembali untuk membebaskanmu. Kamu selalu memilih bungkam." aku menatap manik itu. Dalam.

"Aku sudah terbebas. Mendengarmu meminta maaf sudah membuatku paham bukan hal baik aku terus mengharapkanmu."

Dia menjauh. Pergi. Menghilang dikeramaian kota. Meninggalkanku dengan sedikit sesal. Sedikit yang berubah menjadi banyak kala Ana berjalan mendekatiku. Aku meninggalkan Dita demi Ana. Apa itu yang selama ini aku lakukan. Aku menyakiti Dita demi Ana.

Enjoyed this article? Stay informed by joining our newsletter!

Comments

You must be logged in to post a comment.