Profil instastories

Sebelum Dipinang

Sebelum Dipinang
Oleh: Rafifa Fatikhatul Khusna

 

Warna putih menjadi dasar rumah itu. Tak terlalu mewah namun terasa istimewa bagi seorang Bintari Rasmana. Baginya momen ini adalah anugrah yang paling indah. Namun ada rasa tak rela saat Bintari melihat sosok bak malaikat itu selalu terharu saat melihatnya. Wajahnya sangat sayu dengan keriput yang mendominasi. Tubuhnya rapuh lalu rambutnya memutih dengan kerudung yang menutup auratnya. Jika saja ia tak pernah dewasa dan tak akan pernah menikah, mungkin kini Bintari akan tertawa bersama dengan sang Ibu. Tetapi bukan berarti Bintari benci dengan pernikahan. Hanya saja ia tak siap jika harus berjauhan dengan Ibundanya.

 

Para tamu berdatangan, menunggu acara Ijab Kobul yang sakral. Di depan Penghulu ada sosok calon suaminya. Namanya Rudy Handhoko. Anak Pak Lurah yang mempunyai wajah tampan. Sifatnya juga baik hingga Bintari luluh padanya. Namun yang dibenci Bintari hanya satu, mengapa setelah pernikahan mereka harus tinggal di Jakarta? Kota yang jauh dari sosok malaikat itu. Bintari pernah menolak untuk tinggal di Jakarta, namun karena pekerjaan yang mengharuskan Rudy tinggal di Jakarta dan akhirnya Bintari setuju. Walaupun dengan semua rasa bersalahnya pada sang Ibunda.


"Saya nikah dan kawinnya Bintari Rasmana binti Alm. Bapak Darto dengan maskawin tersebut, tunai!"

Rudy mengucap Ijab dengan sangat lugas. Keringat dingin sudah membasahi kening dan dahinya. Bintari tahu setiap pasangan yang melakukan Ijab Kobul pasti merasakan gugup dan takut. Bahkan Bintari sudah meremas tangannya sedari tadi. Kerudung putih yang senada dengan kebayanya pun sesekali ia tarik ke belakang karena bergeser tidak menentu.

Kini Bintari resmi menjadi isti Rudy. Sekarang ia telah memiliki keluarganya sendiri. Namun lagi dan lagi, sosok malaikatnya datang dengan derai air mata. Jangan menangis bu... Bintari berbisik dengan pelan. Tetapi sayang, saat air matanya jatuh ia tidak bisa untuk tidak memeluk sang Ibu. Mengucapkan kata maaf berulang kali hingga akhirnya Bintari mengucap terima kasih yang teramat mendalam kepada sang Ibu.

Saat Bintari sungkem. Sang Ibunda hanya menangis tanpa suara. Ia tahu tak seharusnya ia menangis di saat anaknya telah mendapat keluarganya sendiri. Namun bagaimana lagi, Bintari adalah anak satu-satunya. Bintari adalah wanita periang yang mampu membuatnya merasa tidak sendiri. Setelah kepergian Darto sang Ayah Bintari. Kini anaknya akan jauh darinya. Ia tak akan berani datang ke Jakarta sendiri. Kota Yogyakarta dan Jakarta itu jauh. Bahkan sangat jauh untuk tubuhnya yang sudah merenta.

"Bu. Tari ngapunten yo. Tari banyak salah, terus Tari ndak bisa beri apa-apa. Ibu nderek Jakarta aja yo?"

"Ibu ndak bisa to Ri. Tanah Alm. Bapak yo kudu di urus. Nanti siapa yang kasih pupuk buat tanaman?"

Bintari hanya diam. Ibunya pasti akan menolak. Besok Bintari harus pergi dari Yogyakarta. Untuk saat ini saja air mata masih membasahi wajah keriput sang Ibu. Terharu, rasa khawatir bahkan tidak rela. Dan waktu yang sangat sedikit ini Bintari gunakan untuk terus bergelanyut manja di samping sang Ibunda. Untuk terakhir kalinya. Karena entah kapan ia akan mengunjungi sang Ibunda.

Bahkan kini saat malam tiba. Bintari hanya memandang wajah Ibundanya yang tengah merapikan kamar. Berkali-kali Bintari menahan tangisnya yang hendak pecah karena melihat sang Ibu yang tak henti membersihkan gubuk mereka. Gubuk? Iya, Bintari hanya gadis miskin. Namun entah bagaimana anak Lurah itu bisa sangat mencintai Bintari. Nasipnya memang seperti dongeng-dongeng bahkan ia bak Putri yang mendapat Durian runtuh.

"Duduk sini ndhok." ucap sang Ibunda.

 

"Opo tho Bu?"

 

Tangan keriput itu mengusap wajahnya pilu. Tanpa permisi sentuhan hangat menangkup bahu Bintari. Tekadnya untuk tidak menangis di hadapan sang Ibunda hancur sudah. Tangisnya pecah bahkan sang Ibu juga sesenggukan dengan tangan yang mengelus kepala Bintari. Bintari sadar mungkin ini akan menjadi momen terindah sebelum ia pindah keluarga. Tanpa Ibundanya.

 

"Ndhok. Kamu kan udah berkeluarga. Ojo buat suamimu gelo. Opo maneng kamu membantah suamimu. Ojo dilakukan perbuatan iku."

 

"Nopo Ibu nderek Tari aja yo. Nanti di Jakarta Tari bisa jaga Ibu, tho? Mas Rudy juga ndak opo-opo, tho Bu."

 

Ibunya hanya menggeleng pilu. Ia tidak mau tentu saja. Ia tidak mau merepotkan anak dan menantunya, apalagi jika mereka sudah memiliki anak nanti. Yang ada mereka hanya akan mengurus tubuhnya yang sudah renta itu.

 

"Gini aja ndhok. Kamu tidur sama Ibu yo? Biar Ibu ndak kangen besok."

 

Tanpa pikir panjang Bintari mengangguk. Mungkin hanya ini yang bisa Bintari lakukan ketika ia memang tidak memiliki hal berharga yang pantas ia berikan kepada malaikatnya. Bukankah sang Malaikat harus mendapat hadiah yang lebih bersinar dari malaikat itu? Dan Ibundanya pantas mendapatkan Bulan jika Bintari sanggup menggapainya.

 

"Bu. Tari kangen di dongengin sama Ibu tentang Malin Kundang." ucap Tari setelah tangisnya reda.

 

"Lho? Minta di dongengin aja sama Mbah Google mu."

 

"Ndak mau! Tari maunya Ibu yang mendongeng." rengeknya manja.

 

"Masih koyo bocah wae."

 

"Ayolah Bu."

 

Akhirnya sang Ibu bercerita tentang Malin Kundang. Bintari tahu seluruh cerita Malin Kundang, namun momen ini mengingatkannya tentang masa kecilnya yang tak luput dari kasih sayang seorang Ibu. Walaupun ia tak pernah mendapat kasih sayang dari Ayahnya. Di saat semuanya membanggakan bagaimana sosok Ayah mereka, Bintari menanggapinya dengan memuji sang Ibu yang bisa menjadi sosok Ayah. Bahkan sampai sekarang, di saat sang Ibu selalu direndahkan karena mereka dari kalangan rendah Bintari selalu membela bahkan gadis itu berani mengertak lawannya.

 

"Lho udah tidur tho?" ucap sang Ibu saat Bintari sudah terlihat terlelap.

 

"Jaga kesehatanmu yo ndhok. Ojo ngerasa dirimu paling rendah koyo Ibumu. Ati-ati nang Jakarta. Ojo kelalen karo Ibumu yo?

 

Mungkin menurut beberapa orang kebahagian seorang ibu adalah mereka yang mendapat uang atau sebuah prestasi yang menjulang. Namun untuk seorang Ibu yang orang-orang anggap sebagai 'Ibu Kasta rendah' sebuah pernikahan adalah momen terindah. Apalagi untuk sekedar tidur bersama, setelah bertahun-tahun sang Ibu tak merakan hangatnya tubuh buah hatinya.

 

Enjoyed this article? Stay informed by joining our newsletter!

Comments

You must be logged in to post a comment.

Stori terkait
Jul 8, 2020, 1:15 PM - Annisa mahmudah
Jul 6, 2020, 10:20 PM - Chocho_Yucho
Jul 3, 2020, 6:34 PM - Tjahjono widarmanto
Jul 3, 2020, 6:26 PM - Nnaga
Jul 3, 2020, 1:07 PM - Kristina Dai Laba
Jul 2, 2020, 2:25 PM - Mei Elisabet Sibarani