Profil instastories

SEANDAINYA

"Hidup ini pilihan, sedih atau bahagia tentu semua orang memilih bahagia, apapun itu kita yang memutuskan dan yang menyebabkan semua terjadi, hidup ini mudah tapi terkadang diri sendiri yang membuatnya rumit jika ingin selalu bahagia jalani sedihmu dengan senyuman, itu menurutku."


Begitu isi deary yang di tulis Sunja liyan mahendra,
Biasa di panggil Lia seorang gadis cantik yang bertubuh ramping berkulit putih dan berambut panjang ia sering mengikat rambutnya,

Lia anak bungsu dari dua bersaudara kakaknya Ardi bumi mahendra telah menempuh pendidikan universitas di london

"semua terdapat sentuhan alam ciptaan tuhan
Seperti Bunda ku, Maya Lintang Mahendra dan Ayah Alam Mahendra" jelas Lia

"Trus Mahendra?" tanya Nita

"Mahendra adalah Marga dari Ayah, jadi kata Ayah, Lintang dan Alam tak sengaja bertemu sehingga menghasilkan Bumi dan sunja ya, bukan senja"

"Oh, jadi gitu, terus-terus!" kata Nita suruh Lia melanjutkan.

"Iya, dan katanya Ayahku baru sadar ketika mengucapkan janji pernikahan," jelas Lia

"Bisa gitu ya" Kata Nita heran.

"Namanya juga jodoh, makannya aku sama mas ardi di beri nama itu deh" kata Lia sambil mengambil gelas di atas meja

"Dan kamu tau? Kenapa aku di namakan sunja alias senja?" Lia

" kenapa?"

"Karna waktu aku lahir waktu senja indah terbentuk,"

"Sore dong?"

"Iya lah masa pagi," "Eh ya, kenapa kamu tiba-tiba tanya nama aku?"

"Iya masa, kita sahabatan aku ga tau nama lengkap kamu sih, kamu aja tau namaku" jawab Nitaa

mereka sering sekali bersama ketika orang tuanya pergi bekerja mengurus perusahaan perusahaan besar yang di miliki.

Sebenarnya Lia ingin mempunyai Adik, agar bisa menemaninya, namun rahim ibunya di angkat sebab kecelakaan ketika mengandung calon Adiknya.

 

Tak Seperti halnya gadis seusia Lia yang sering main menghabiskan waktu bersama teman-teman pergi ke Mall, shoping, namun tidak untuk Lia, ia lebih menyukai hal-hal yg sederhana jauh dari kemewahan yang orang tuanya miliki.

 

"Kebahagiaan bisa di rasakan dengan cara apapun jika sederhana bisa membuat bahagia kenapa tidak, dari pada kemewahan namun tak bisa merasakan murninya kebahagiaan," kata yg terlontar dari mulut Lia, menurutnya hal itulah yang membuatnya bisa kuat dan bertahan sampai sekarang.

 

Karena itu Lia di sukai banyak teman karana keloyalannya dan tak pilih teman.

 

Walaupun orang tuanya seorang pengusaha besar Lia tak pernah membicarakan hal itu, Lia ingin mempunyai teman yang menerimanya dengan baik bukan karna kekayaan orang tuanya.


.....

"Hai Lia, ayo.. cepat berangkat nanti kita telat!," seru Enita dari luar gerbang rumah terlihat menaiki sepeda kesayangannya.

Enita alias Nita adalah teman kecil Lia tak jauh dari rumahnya di daerah Jakarta.

"Sebentar"seru Lia yg saat itu sedang sarapan bersama Ayah dan Bundanya.

"Ayah Bunda, Lia berangkat dulu, Nita sudah menunggu di depan" dengan tergesa-gesa sambil memakai balutan cardigan abu-abu.

"Habiskan sarapanmu, suruh Nita ikut sarapan bareng! "kata Ayahnya.

"Tidak yah, ini sudah kesiangan" Lia yg segera pamit cium tangan Ayah dan Bundanya.

"Hati-hati!,"kata Ibunya yg sedang membereskan dapur .

"Iya," seru Lia sambil berlari mengambil sepeda putih di garasi.

Sebenarnya Ayah Lia bekerja di kantor mengendarai mobil searah jalan sekolah Lia, namun Lia menolak, ia memilih untuk naik sepeda yg ia beri nama putih karna memang sepedanya berwarna putih.

Setiap hari Lia dan Nita memakai sepeda, karna jarak rumah dengan sekolahanya tak terlalu jauh, kepanasan dan kehujanan tak masalah itu adalah kebahagiaan tersendiri.

Di setiap mereka bersepeda tak lepas dari canda tawa dan terjatuh itu hal biasa.

Mereka mengayuh sepeda dengan cepat karena jam menunjukkan pukul 07:50 wib.

Sesampinya di depan gerbang sekolah
"Nita ayo cepet, bentar lagi bel!," kata Lia.

Mereka segera memarkirkan sepeda dan masuk ke kelas.

Dengan nafas ngos-ngosan Lia masuk kelas, tak lama gurunya datang dan mengabsen murid satu persatu.

Teman sebangkunya bernama Lena, berambut pendek dan banyak tingkah, menatap Lia tajam.

"kenapa Kamu, telat lagi?"

"nggak telat, hampir " jawab Lia sambil tersenyum kecil

"Sama aja " jawab Lena sambil tertawa karna ia bosan melihat Lia selalu terlambat masuk kelas.
...

Setelah bel istirahat bunyi.

"Lia, aku mau pinjam buku di Perpus mau ikut nggak?"ajak Lena

"Aku ikut"

"Lia" panggil Lena

"Apa?"

"Kenapa Kamu sering telat masuk kelas dan untung saja setiap kamu telat belum ada guru yang mengajar?"

"Kamu kan tau, aku naik sepeda wajar kalo telat" jawab Lia singkat

"Bukannya kamu pernah di anter Bokap?

"Kapan?" jawab Lia

Lena mendadak berhenti tepat di depan Lia dan menatap tajam, Lia yang bingung membalas tatapan serius, Lena yang tak kuat menahan tawa segera mengubah raut wajah mengejek sambil berkata.

"Si Aneh" ejek Lena berlari masuk ke dalam perpustakaan.

"awas kau" kata Lia mengejar Nita

Pengawas yang berada di dalam ruangan, mendengar ada keramaian langsung menegur Lia dan Lena yang sedang bercanda, karna mengganggu ketenangan.

"Ssssssssst diam!,"

Lia dan Lena pun langsung diam menutup mulut namun masih tertawa kecil.

"Kamu sih, jangan keras-keras harimaunya bangun! "kata Lena sambil tertawa kecil

"Sssssssst, mau penjem buku apa?" tanya Lia sambil menahan tawa.

"Fisika"

Lena segera mencari buku yang ingin ia pinjam.

Sekilas Lia melihat laki- laki misterius itu, tanpa berfikir atau merasa di amati dari jauh.
Lia hanya duduk santai di bangku membaca buku novel dan ia memutuskan untuk meminjamnya besok.

"Udah nih" kata Len berjalan mendekati Lia

Lia yang pada saat itu sedang asik membaca buku segera meletakkan kembali buku novel yg ia baca di tempat yang aman.

mereka kembali ke kelas dan melanjutkan pembelajaraan selanjutnya.

Sampai pembelajaran berakhir.

Lia segera menuju parkir sepeda.
terlihat Nita sudah menunggu di depan gerbang.

"Udah lama?," tanya Lia sambil menaiki sepeda

" Banget"jawab Nita dengan wajah datar

"Padahal keluar kelas barengan loh,"

Nita balas tersenyum lebar jahil
"Mendung, ayo pulang nanti kehujanan!",

"Eh.. Iya udah grimis"

Hujan semakin lebat, Nita dan Lia segera mencari tempat untuk berteduh.

Dari kejauhan tampak ada seorang pemuda memakai jaket hitam sambil mendengarkan earphon di telinganya sedang duduk kedinginan.

Pemuda itu mendekat dan duduk di dekat Lia dan Nita ikut berteduh.

Tak lama kemudian datang mobil mewah yanhg berhenti tepat di depan halte, dan seorang supir menjemput dengan membawa payung.

Lia yang melihatnya heran
"Bisa bisanya, dia kan bisa lari sendiri tanpa harus di jemput supirnya dengan payung," kata Lia sambil memandang mobil yang mulai berjalan menjauh.

"Mungkin dia takut basah kehujanan " kata Nita sambil memandang tetesan hujan.

"Selagi kita bisa melakukan sendiri kenapa harus menyusahkan orang lain, itu kan hal sepele" kata Lia

"Kamu bener Li, apalagi dia cowok," jawab Nita

Di sela-sela hujan Lia dan Nita bercerita tentang masa kecil mereka, bercanda dan tawa

Hujan mulai reda mereka memaksa untuk segera pulang karna sudah menjelang senja.

Dengan Rintikan hujan serta puncratan air dari jalan.

Dengan pakaian setengah basah, Lia merasa kedinginan sehingga membuat bibir dan tangannya terlihat biru, namun Lia menghiraukannya

Sesampainya di rumah Lia segera menaruh sepedanya, Badannya terasa gemeteran karena kedinginan rasanya seperti menusuk sampai ke tulang.

 

Lia langsung menuju kamar, berbaring di tempat tidurnya yang nyaman dan menyelimuti badan dengan selimut yang tebal.

 

Ketika jam makan malam Ayahnya Lia tak melihat suara atau batang hidung Lia yang biasa meramaikan suasana

 

"Liyan dimana Bun?" Tanya Ayah

 

"Sudah tidur yah, nggak tega kalo di bangunin" jawab Bunda


....

Mentari pagi menyinari wajah Lia dengan mata sayu perlahan membuka melihat jam dinding.

 

segera mandi dan bersiap siap sekolah tak lupa balutan kardigan dan mengikat rambut panjangnya tanpa poni.

 

" Lia" panggil Ayah

 

"Iya yah," kata Lia sambil memakan sepotong roti di depannya.

 

"Hari ini kamu berangkat sekolah sama Ayah!"

 

"Aku berangkat sama Nita yah, lagi pula Lia udah terbiasa pakai sepeda"

 

"kamu itu jangan terlalu memaksakan diri, bunda kasian sama kamu, lihat lutut lecet-lecet, terus sekarang siku kamu, bunda khawatir" kata Bunda

 

Ayahnya kehabisan cara merayu Lia namun ia tak mau membuat anak kesayangannya ini tertekan.

 

"Bukannya Lia gak mau yah, tapi Lia pengen mandiri seperti yang Ayah bilang, hidup ini sepeti roda berputar dan kalau nanti di posisi bawah Lia terbiasa dengan keadaan," kata Lia dengan lembut agar tak menyinggung perasaan Ayahnya

 

Ayah mersa sangat beruntung mempunyai anak seperti Lia, ia selalu membuat suasana bahagia dan damai.

 

"Ayah sayang kamu nak," kata Ayah sambil mengelus rambut lia

 

"Lia juga,"jawab Lia memandang wajah Ayahnya.


Setelah selesai sarapan Lia mengambil sepedanya menunggu Nita di depan rumah, Lia tak mau jika Nita terus terusan telat karna lama menunggu dirinya.

Lia melihat ke jam tangan lalu melihat di sekitarnya sambil berkata"tumben belum datang"

Tiba-tiba Dari kejauhan terlihat Nita menggayuh sepeda dengan santainya
"Itu dia."

Nita mulai mendekat dan berhenti tepat di depan Lia.

" ayo!" seru Nita

"Iya" jawab Lia sambil menutup gerbang rumah lalu menaiki sepedanya.

Di perjalanan menuju sekolah
Lia tak sengaja melihat laki-laki misterius itu menaiki mobil mewah yang biasa mengantar jemputnya.

"Itu laki-laki di halte kemarinkan, Dia anak baru dari mana,?" tanya Lia

"Dia anak baru pindahan dari bandung" jelas Nita

"Kok, kamu tau?"

Nita hanya tersenyum, sebenarnya ia sudah mengenal laki-laki itu dari awal.

Sesampainya di sekolah

Lia dan Nita segera masuk kelas Mereka berjalan menuju kelas yang berada di lantai satu pojok bagian selatan.

 

Tanpa sadar ada Lena dari belakang perlahan mendekati Lia

 

"Tumben gak telat" ejek Lena

 

"Nggak lah, kayak kamu aja" jawab Lia

 

Lena melirik ke Lia berkata"Kamu kalee."

 

"Istirahat Nanti, temenin aku ke perpustakaan sekolah pinjem buku yang kemarin" kata Lia

 

"Ok"

 

Jam pembelajaran di mulai dengan pembelajaran yang Liyan sukai yaitu Fisika.

 

Seketika Lia melihat keluar pintu ada satu kejanggalan sekilas Lia melihat buku yang ia baca kemarin, sudah di tangan laki-laki misterius yang ia temui di halte bus, berjalan melewati pintu kelasnya.

 

Laki-laki itu berkulit putih, hidung mancung bertubuh tinggi agak kurus rambut sedikit kriting, dan sering sekali memakai jaket hitam yang tebal.

 

"Mungkin takut kulitnya menghitam karena matahari" begitu tanggapan Lia


Laki-laki itu di kelas 12 B sedangkan Lia di kelas A
Memang dia di kenal pendiam dan tak suka bergaul.
Mungkin karena anak baru masih beradaptasi sama lingkungan Jakarta.

Lia masih terbayang kenapa bukunya bisa di tangan misterius itu.

"Mungkin saja itu buku yang berbeda" orang lain tak akan tau tempat persembunyian bukunya kemarin karna Lia merasa tak ada yang mengawasinya ketika Lia menaruhnya di bawah tumpukan buku buku lama batin Lia.


.......

Bel istirahat berbunyi lima belas menit yang lalu, namun Lia masih di dalam kelas bersama teman temannya yang lain membicarakan hal yang lucu yang pernah mereka alami semasa di kelas 10.

 

Seketika Lia melihat jam tangan yang ia pakai
Lia langsung teringat, ingin meminjam buku yang ia baca kemarin.

 

Tanpa basa basi Lia segera menuju perpustakaan untuk meminjam buku tanpa mengajak Lena terlebih dulu.

 

Lia masuk ke dalam perpustakaan dan mencari bukunya yang ia sembunyikan di antara buku-buku lainnya.

 

Namun ketika Lia ingin mengambil buku itu, di hadapannya sudah ada laki-laki misterius yang selalu mengenakan jaket hitamnya dan menundukkan kepalanya, sedang berdiri memilih buku yang ingin di baca.

 

Lia kebingungan mencari bukunya,
"Kok, Nggak ada, aku menaruhnya di sini" batin Lia kebingungan sambil mencari buku di tumpukan rak-rak yang lain.

 

"Ini dia" kata Lia yang sudah menemukan bukunya dan segera kembali ke kelasnya.


Lia, meninggalkan perpustakaan sambil menatap anak baru itu.
"dia orang apa setan" gumam dalam hati Lia

Lena melihat Lia membawa buku masuk ke kelas.
"lho udah pinjem buku?" tanya Lena

"Iya, tadi aku gak sempet ngajak kamu, soalnya hampir bel masuk tadi" jawab Lia sungkan

"Iya gak papa"

.....
Bel pulang berbunyi 3menit yang lalu.

terlihat Nita yang sudah lebih dulu keluar kelasnya, menghampiri Lia yang masih berada di dalam kelas, menulis catatan yang di berikan gurunya Lia.

Lia yang melihat Nita menunggu di luar kelasnyapun ingin segera menghampiri.

"Lena, aku pulang duluan" kata Lia kepada Lena yg masih duduk di kelas

"Sama siapa? bareng aku aja Li, lagi pula rumah kita satu arah"

"Aku sama Nita aja Len, aku nanti ke toko dulu"

"Ya, terserah kamu lah" jawab Lena sambil berdiri dari tempat duduk.

Lena yang di jemput sopirnya melambaikan tangan pada Lia dan Nita yang terlihat di parkiran sepeda.

"Hati-hati" seru Lena
Lia membalas senyum Lia lebar.

Mereka pulang menaiki sepeda bersama dan bercanda di atas sepeda yang mereka naiki.

Tiba-tiba di tengah perjalanan Nita teringat ada janji dengan seseorang yang sangat penting.

"Lia, kamu pulang sendiri nggak papa kan?" tanya Nita sedikit sungkan karna meninggalkan Lia yang bersepeda sendiri.

"Nggak papa, santai aja emang mau kemana, hayo mau ketemu siapa?" tanya Lia dengan sedikit menggoda

"Ada deh" jawab Nita dengan tersenyum lebar

"Jangan lupa waktu ya!," kata Lia menggoda lagi

"Apa'an sih, cuma ketemu temen "

"Iya, iya"

Nita segera berbalik arah menuju tempat janjiannya dengan seseorang yang ia rahasiakan dari Lia

Dan sebenarnya Lia pun tak ingin tau siapa yang sedang dekat dengan Nita, menurutnya tak enak jika ikut campur urusan pribadi Nita.

Lia pun, pulang sendiri
ketika Lia sendiri ia lebih suka merenung dan memikirkan dirinya sendiri atau bernyanyi sambil menggayuh sepeda diantara pepohonan di pinggir jalan
Begitu Lia menikmatinya saat itu.

"Aku bersyukur karna tuhan memberiku tubuh ini, yang bisa aku gunakan untuk menikmati semua yang tuhan ciptakan untuk mereka mereka yang tak menyadari bahwa tuhan yang menjadikan ini sempurna" batin Lia.

Lia mengayuh sepedanya dengan santai, sesekali Lia menghela nafasnya, menghirup udara segar dan mencoba untuk mensyukuri apa pun yang terjadi hari ini.

Seketika Lia melihat toko di tepi jalan,
Lia teringat ingin membeli tisu dan keperluan lainnya.

Setelah semua yang dibutuhkan sudah di beli
Lia segera melanjutkan perjalanan pulang.

Tak jauh perjalanan dari toko itu, tak sengaja Lia melihat Nita yang yang sedang berbicara dengan laki-laki misterius itu lagi .

"Ada hubungan apa mereka?" batin Lia

Entah apa yang Mereka bicarakan yang pasti Lia tak ingin mengganggu.

Lia terus melanjutkan perjalanannya, dan tanpa Lia sadari laki laki itu pun terus menatapnya dengan tatapan kosong.

Entah apa yang difikirkan laki-laki itu.

Sesampainya di rumah, Lia segera mandi dan makan siang tersedia di meja makan yang sudah di siapkan ibunya sebelum berangkat ke kantor.

Setiap hari Lia, tak ada yang menyambutnya pulang dari sekolah.

Di saat kakaknya berada di rumah, dia lah yang menemani dan menjaga Lia
Sehingga membuatnya tak merasa bosan.

Tak banyak yang bisa di lakukan Lia saat sendiri di rumah, hanya nonton tv dan bermalas-malas terkadang ia merasa hidupnya monoton dan memilih keluar rumah mencari tempat yang cocok untuk sendiri.

Sore itu Lia memutuskan untuk keluar rumah mencari udara segar.

Hari mulai senja, Lia masih berada di antara pepohonan. menghabiskan waktu membaca buku novel yang ia pinjam tadi pagi
Duduk bersandar di bawah pohon.

Sejenak Lia berhenti membaca, melihat sekitar, merasa ada yang mengawasi dan mengikutinya namun Lia tak melihat seorang pun di sana.

Lia mencoba untuk biasa saja, namun semakin ia mencoba untuk tenang seperti ada yang mengawasinya.

Lia yang mulai ketakutan, Lia pun memutuskan untuk segera pulang.

Di perjalanan pulang pun Lia masih merasa ada yang mengikuti
Lia mulai mengayuh sepeda dengan cepat.
"Seperti ingin berteriak saja."Batin Lia

Entah hanya perasaan Lia saja namun Lia saat itu benar-benar ketakutan.

Sesampainya di depan rumah Lia mulai tenang, walaupun pun pada saat itu orang tuanya belum pulang dari kantor.

Untuk menghilangkan ketakutannya Lia nonton tv duduk di sofa yang nyaman
Rasa takutnya mulai hilang di saat menonton tv.

Tiba-tiba ...

" Buku, buku...?" ucap Lia dengan bingung ia tak sadar bahwa buku novelnya tertinggal di bawah pohon yang ia tempati tadi karena begitu takutnya ia meninggalkan bukunya begitu saja.

"Nggak mungkin aku kembali ketempat malam-malam begini " ucap Lia

Lia terkejut kembali ketika
Tak lama, terdengar suara ketukan pintu

( tok...tok....tok)
Lia hanya terdiam ia kembali ketakutan.

"Lia" panggil Bunda

"Hah, bunda" kata Lia lega

"Ini buku kamu?" tanya Ayah sambil berjalan memegang buku novel Lia

"Lhoo, kok bisa ada di Ayah?" tanya Lia dengan bingung

"Ayah nemuin di depan pintu tadi " jawab Ayah sambil memberikan buku pada Lia.

"Heran, siapa yang mengantar bukunya kemari ?" dalam hatinya
Lia semakin takut fikirannya mulai kacau.

" kenapa?" tanya ibunya

"Gak papa Bun, ngantuk" jawab Lia

"Ya, udah tidur sana!"

" Selamat malam Bun" kata Lia berjalan menuju kamar.

"Malam"

Lia tak mau mengingat kejadian ini lagi. Lia segera menaruh buku itu ke rak buku yg paling atas dan tidur agar lebih mudah melupakan kejadian tersebut.

Terlihat jam alarm yang bergetar keras menjukkan pukul 07:30 WIB, Lia yang sadar bahwa hari ini Minggu, segera mengambil dan mematikan alarm dengan mata yang masih terpejam, kembali tidur dengan pulas

"Liaaaa" panggil Ibunya beberapa kali dari lantai dasar

Karna tak mendengar jawaban dari Lia, Ibunya bergegas menuju kamar Lia.

"Jam segini belum bangun" gumam Ibunya

Memang bunda selalu mengajarkan mandiri kepada Lia, ia ingin anak kesayangannya menjadi yang terbaik Agar terbiasa kelak.

Tok ..tok ..tok ..tok (suara ketukan pintu)
Ibunya langsung membuka pintu
Dan membangunkan Lia yang sepertinya tertidur pulas.

"Ayo, bangun cepet mandi terus sarapan !" kata Bunda sambil menarik selimut yang di pakai Lia

"Iya bun," jawab Lia dengan malas

"Bunda tunggu ya!" kata Bunda keluar dari kamar

Lia segera bangun dan langsung menuju kamar mandi.

Mencuci muka di depan wastafel kamar mandinya, ia merasa segar dan semangat hari ini.

Namun ada yang aneh ketika berkaca, melihat dan menyentuh bibir dan matanya
Mata merah dan bibir membiru.

"Kenapa aku?" batin Lia

Wajah cantiknya berubah pucat, namun ia tak merasakan sakit sedikitpun di badannya.
Malah ia merasa lebih semangat.

" Hah " kata Lia mengabaikan

Lia tak terlalu merasakan tubuhnya dan melanjutkan mandi di bedtub.

Setelah ia selesai dengan pakaiaanya ,Lia membuka pintu kamarnya menyusul ibu dan Ayahnya yang sedang sarapan.

"Eh, iya" kata Lia kembali masuk ke kamar menutup pintu, segera menghadap kaca melihat wajahnya lagi.

Lia mengambil lipgloss di laci dan sedikit menggoreskan ke bibirnya
Dan menggunakan softlens hitam.

 

"Naah, begini lebih baik" kata Lia sambil tersenyum di depan kaca

Mungkin dengan ini ia tak akan terlihat pucat lagi ataupun membuat Ayah dan Abunya khawatir.

 

Lia kembali membuka pintu kamarnya dan keluar untuk sarapan.

 

Lia duduk bersama Ayah dan Ibunya yg sudah lebih dulu menghabiskan sarapan.

 

"Lihat deh yah, anak Ayah cantik banget mau kemana sih?"kata Ibunya menggoda Lia

 

Ayah tersenyum melihat Lia yang terlihat segar dan semangat

 

" pagi-pagi mau kemana hem?" tanya Ayah ikut menggoda

 

"Iiih, Lia kan mau terlihat cantik, masak nggak boleh" jawab Lia malu

 

"Jarang-jarang loh kamu," kata Ibunya

 

" biarin lah mah, Lia kan udah dewasa."jawab Ayah

 

"Iya, Bunda tau anak Bunda udah dewasa sekarang "kata Bunda sambil mengelus rambut Lia yg saat itu sedang memakan sepotong roti di sampingnya.

 

Lia tak berkata apapun hanya tersenyum lebar

 

" Ayah sama Bunda mau ke kantor, Bunda udah siapin makannya di dapur,
Nanti Bunda pulang agak malem, Lia baik-baik di rumah ya!." kata Ibunya

 

"Iya Bunda" jawab Lia yg masih memakan rotinya.

 

"Ayah berangkat, kata Ayah sambil mencium kening Lia yg masih duduk di meja makan.

 

Lia segera meletakkan roti dan melihat ke jendela memastikan bahwa Ayah dan ibunya sudah berangkat.

 

Setelah mobilnya tak terlihat lagi,Lia langsung melepas softlens yang ia pakai dan menghapus lipglossnya.

 

Lia tak menyukai hal-hal yang seperti ini, Lia lebih suka terlihat natural dan sepertinya lebih percaya diri jika ia tak usah memakainya.

 

Lia melihat sekeliling ruang, masih ada piring kotor di dapur yg belum sempat bunda cuci.

 

"itung-itung mengisi waktu bosan" kata Lia

 

Setelah dapur bersih
Lia mengambil gelas ia merasa haus ingin minuman dingin di dalam kulkas.

 

Tak berfikir pajang Lia meminum air dingin satu gelas penuh di habiskannya.

 

"Hah, ngapain lagi ya?" kata lia bingung
Lia sangat bosan jika di rumah sendiri, hanya menghabiskan waktu di depan tv

 

Karena merasa bosan Lia keluar rumah untuk mencari udara segar dengan sepeda kesayangannya.

 

Melalui jalan jalan yang sepi dengan pepohonan yang hijau, jauh dari keramaian kendaraan di jalan

 

Seperti biasa Lia bernyanyi, menutup mata sambil menggayuh sepeda dengan perlahan.

 

"Biarkan hatiku terus tersenyum" batin Lia

 

Meski sendiri Lia tak merasa kesepian, ia menikmati suasana pada saat itu.

 

Seketika Lia berhenti di tempat kemarin,

 

Ternyata tempat itu sudah di pasang tempat duduk dari kayu yang di tata rapi, dan bunga-bunga yang sepertinya baru di tanam, karna masih ada bekas galian tanah.

 

Lia tersenyum melihatnya.

 

"Di tempat sepi seperti ini, masih ada yang mengunjunginginya selain aku," kata Lia sambil melihat sekeliling yg tampak bersih dan indah.

 

Dan Lia tak merasa takut seperti kemarin

 

Sehingga merasa nyaman untuk membaca bukunya.


Di pagi yang begitu indah dengan langit biru bersih, dan matahari tersenyum lebar angin yang berhembus dingin membelai rambut panjangnya
Semakin membuatnya betah berlama lama.

sesekali Lia menarik nafasnya dan menghembuskan, membuang apapun yang membuatnya sedih

Lia lebih suka mengatakan kesedihannya pada semesta atau pun pada dirinya sendiri dari pada kepada teman atau orang tuanya.

" Aku tak akan membagi kesedihan pada siapapun selagi aku mampu untuk bertahan aku tak akan membuat orang lain merasakannya" kata Lia dengan mata terpejam

 

"Aku tak akan melupakan kalimat ini " batin Lia
Lia berjanji pada dirinya sendiri

 

Siang itu ketika Lia membungkuk ingin mengambil buku yang jatuh, Lia merasa badannya lemas
" Mungkin karna lapar" batin Lia

 

Lia tak melanjutkan membaca bukunya, ia memutuskan untuk pulang saja makan siang di rumah.

 

Di perjalanan pulang nya, Lia sekilas berpapasan dengan pria misterius anak baru itu yg memakai jaket hitam dan topi tidak dengan earphond seperti biasanya, namun kali ini ia tak di antar dengan mobil mewahnya melainkan menaiki sepeda.

 

"Lho, Apa rumahnya di sekitar sini?"batin Lia
.

 

..
Lia duduk di sofa mengambil remot tv di sampingnya sembari mengistirahatkan kaki yang lelah nggayuh sepeda.

 

Karena keasikan nonton tv, Lia tertidur pulas di sofa

 

Tok..tok..tok
memanggil namanya beberapa kali

 

Lia terkejut mendengarnya, dan segera bangun membukakan pintu dengan mata yang masih ngantuk

 

"Bangun!" kata Nita

 

"Ada apa?" jawab Lia malas

 

"Kamu pasti bosen kan?"

 

"Heemm"

 

"Kita keluar yuk!"

 

"Males ah"

 

"Ayo lah, mumpung cucanya bagus nih.!" ajak Nita, yang terus saja merengek agar Lia ikut dengannya

 

Karna Nita terus merengek mengajaknya keluar dan ia bosan juga jika di rumah Lia pun mau mengikuti kemauan Nita.

 

"Kita mau kemana?" tanya Lia

 

"Ikut aja!"

 

Dengan santai mereka menggayuh sepeda ke tempat yang ingin di tunjukkan Nita

 

"Aku punya kejutan buat kamu".

 

Lia hanya membalas senyum, ia juga tak mengatakan bahwa ia sudah mendatangi tempat itu, Lia ingin tau apa yang akan di katakan Nita nanti

 

Dengan raut muka yang datar Lia berjalan di belakang nita.

 

"Nah, baguskan?" tanya nita melihat sekeliling

 

"Iya bagus" jawab Lia dengan wajah datar

 

"Kamu gak suka ya?"tanya Nita yang heran karna Lia tak melihatkan kesenangannya.

 

" Aku suka, kamu yang buat?" kata Lia memuji

 

Nita balas mengangguk
" Aku tau, kalo kamu paling gak suka kalau bermalas malas atau nonton tv di rumah, makannya kalo lagi bosan kamu bisa kesini, paling nggak baca buku atau main disini"

 

"Kamu tau tempat ini dari mana?" tanya Lia

 

Lia melihat raut wajah Nita sedikit bingung untuk menjawabnya.

 

"Ya aku tau, pokonya kamu bakal betah kalo di sini , jauh dari keramaian jalan udaranya seger, banyak bunga, dan hanya ada aku dan kamu " kata Nita dengan semangat

 

"Iya aku tau" mungkin kata itu yg akan di ucapkan Lia jika mau.

 

" kayaknya kita perlu nambahain bunganya, di sebelah situ" kata Lia sambil menunjuk

 

"Eeemt, iya boleh tuh"

 

Mereka duduk di kursi bercanda, tertawa yang sering mereka lakukan.

 

"Setiap aku ketemu kamu, yang ada aku sakit perut terus " kata Lia sambil tertawa

 

"Setiap aku ketemu kamu, yang ada aku nangis terus ,karna saking tak bisa menahan tawa" kata Nita

 

"Sudah lah, kita pulang aku lelah mendengar lawakanmu" kata Lia

 

Sore itu Mereka pulang
Sampai di rumah Lia mandi dan makan setelahnya.

 

Lia tak sengaja melihat dari rumah lantai dua, terlihat Nita tak langsung pulang, ia sedang berbincang dengan seseorang di pinggir jalan entah siapa terlihat samar-samar karna tertutup ranting pohon.

 

"Sama siapa dia?,entahlah" batin Lia sambil menutup cendela, karna matahari mulai tenggelam.

 

Setelah Lia selesai memakai kaos dan celana pendeknya, Lia makan malam sendiri

 

Selanjutnya Lia mengambil buku untuk belajar di sofa sambil menunggu orang tuanya pulang.

 

Tok.. tok.. tok...(suara ketukan pintu)
Lia tak mendengar, sudah tertidur lelap tanpa mengunci pintu.

 

Perlahan pintu terbuka dan dua orang parubaya masuk rumah tanpa sepengetahuan Lia

 

" lho, tidur di sini?" kata Ayah terkejut melihat lia tertidur dengan buku-bukunya

 

"Mungkin lama nungguin kita yah," sambung Ibunya

 

Tiba-tiba Lia terbangun

 

"Ayah, udah pulang?" kata Lia sambil mengusap mata

 

"Sudah malam, pindah ke kamar!,di sini dingin" perintah Ayah

 

"Iya, Ayah duluan aja ke kamar, Lia mau beresin buku dulu "

 

"Sudah, Bunda aja yang beresin" kata Bunda sambil mengunci pintu

 

Lia segera menuju kamar, dan langsung terbaring di ranjangnya dengan pulasnya.

 

******
Pagi-pagi sekali Lia terbangun mendengar ponselnya berbunyi ternyata pesan dari Nita bahwa ia tak masuk kelas hari ini.

 

Lia pun segera bersiap siap, Lia ingin berangkat lebih awal ke kelas.

 

Dengan sepeda putihnya Lia menggayuh, sambil menikmati mentari pagi yang bersinar cerah

 

Lia berjalan menuju kelas dengan semangat senyum di bibirnya,

 

Siapa yang tak terpukau dengan senyuman yang menawan dan wajah cantiknya..

 

Banyak di antara teman sekelasnya yang mencoba mendekati Lia dengan berbagai cara, namun Lia tak menganggapnya serius, dari dulu Lia tak menyukai hal yang menurutnya konyol seperti itu.

 

Terlepas dari senyumannya Lia sempat terkejut, tersadar dari terkejutnya ia reflek mendorong orang itu dengan sedikit bertenaga
namun percuma saja

 

"Hai Liyan"

 

Ya, dia Carin, teman sekelasnya yang bisa di bilang sedikit gendut, bukan sedikit lagi

 

Dia adalah orang yang paling bisa bikin ketawa lepas dari lawakan lawakannya dan satu yg paling menyebalkan dia lah yang induk dari rumpi di kelas

 

"Lepasin Carin!" yang pada saat itu memeluk Lia dari belakang
Namun Lia tak mempermasalahkannya

 

"Loe tau? apa loe cuma pura-pura nggak tau? " tanya Carin sambil melepas pelukannya

 

"Apa, ada yang salah?" tanya Lia sambil melihat pakiannya

 

" Bukan itu, tapi loe lihat Dani di ujung sana!"

 

Lia melihat 5 detik ke arah dani yg saat itu menatapnya dan memalingkan kembali tatapannya ke arah Carin.

 

"Ya, dia liatin loe sekarang ?" dengan polos

 

" Bukan, tapi loe Liyan
gue lihat-lihat, dani perhatiin loe terus kayaknya dia suka sama..." carin tidak melanjutkan

 

"Siapa, gue ? Nggak lah
Jawab Lia dengan wajah datar

 

"Emang susah ya, kalo bicara sama orang yang nggak peka gini" sepertinya Carin mulai kesal menjelaskannya karna bukan hanya kali ini saja terjadi.

 

"Udah lah, kita masuk kelas"ajak Lia


eh, ngomong-ngomong, Nita kemana tumben nggak bareng?"

"Dia izin, nggak masuk"

Dani pun tak memalingkan pandangannya sampai Lia masuk ke dalam kelas
....

Pembelajaran telah di mulai 2 jam yang lalu dan waktunya istirahat

 

Lena, Carin, Latif, Windi, Kori, masih berada di satu tempat meja yang sama dengan Lia.
Entah apa yang di bicarakan yang pasti jika berkepanjangan mungkin orang lain bisa menjadi pembicaraan mereka, alias ngrumpi.

 

"Kemarin Dani main basket, Cool banget" tiba-tiba Carin membicarakannya.

 

"Dia ganteng banget tau, siapa coba yang nggak mau sama cowok, baik cool dan seganteng Dani" kata Kori

 

"Kalo tau dia dulu seganteng ini, dari kelas 10 gue pacarin" jawab Carin nglantur

 

"Gue setuju, kenapa Dulu, dia nggak setampan sekarang ini" sambung Latif

 

"Eh, iya kayaknya Dani suka sama Lia deh"
Kata Carin

 

Kena deh gue, batin Lia

 

"Tadi gue liat Dani natap Lia terus, kayaknya itu bukan tatapan kosong gitu"kata Carin

 

Lia hanya diam, Lia tau jika ia menanggapinya pasti tak ada ujungnya pembicaraan ini.

 

"Beneran Li?" tanya Latif

 

Lia hanya diam

 

"Gimana Li?" tanya Lena

 

"Gak gimana-gimana" jawab Lia dengan nada rendah

 

"Masak sih loe, sama sekali gak simpati sedikit aja sama Dani" tanya Windi

 

"Harus ya?" jawab Lia dengan senyum paksa

 

"Lihat aja nanti" kata Lena menggoda Lia

 

"Udah lah, nggak ke katin nih?" ajak Lia

 

"yuk, keburu bel masuk kelas!"kata Carin

 

"Bilang aja keburu laper" sambung Windi

 

"Tau aja loe."

 

Merekapun ke katin dan masih saja membicarakan hal yang sebenarnya tak penting untuk di bicarakan.

 

Ketika Lia asik makan dan bercanda dengan teman-temannya.

 

Lagi-lagi dari kejauhan Dani menatapnya
itu membuat Carin dan yang lainnya angkat berbicara lagi.

 

Sebenarnya Lia risih, bukan karena Dani memandangnya tapi karena jadi pembicaraan saat itu.

 

Sesekali Dani memperhatikan Lia yang mengunyah makanannya, terlihat manis di mata Dani entah itu hanya perasaannya saja atau memang Lia manis.

Bersambung....

Enjoyed this article? Stay informed by joining our newsletter!

Comments

You must be logged in to post a comment.

Stori terkait
Jul 8, 2020, 1:15 PM - Annisa mahmudah
Jul 6, 2020, 10:20 PM - Chocho_Yucho
Jul 3, 2020, 6:34 PM - Tjahjono widarmanto
Jul 3, 2020, 6:26 PM - Nnaga
Jul 3, 2020, 1:07 PM - Kristina Dai Laba
Jul 2, 2020, 2:25 PM - Mei Elisabet Sibarani