Profil instastories

Sayyidah Fauzira

6 tahun yang lalu.

Saat itu aku masih duduk di kelas 4 SDN terfavorit di jakarta. Banyak hal yang aku sukai di sana mulai dari lingkungan sekolah yang bersih, tempat yang nyaman, kantin yang menyajikan menu yang mengunggah selera, dan banyak teman-temanku di sana, karena saat itu aku menjadi primadona di sana. Namun perlahan semuanya berubah, ada hal yang menyebabkan aku dan keluargaku harus pindah ke Surabaya, menyebabkan aku harus pindah sekolah juga.

SDN 1 taruna jaya, sekolah baruku di sini, di Surabaya. Dan otomatis aku menjadi murid baru di sini. Banyak hal yang harus aku pelajari saat ini. Aku harus belajar beradaptasi di sekolah baruku, belajar beradaptasi dengan teman-teman baruku, juga aku harus belajar beradaptasi di lingkungan perumahan baruku. Ya, aku masih baru. Bukan, aku bukan baru lahir di bumi. Namun aku baru berpindah tempat dari jakarta menuju ke Surabaya. Dan di tempat baru inilah, kehidupan sederhana dan kemandirianku di mulai.

Jika dulunya aku sekolah di sekolah favorit, berbeda dengan yang sekarang. Jika dulunya pulang dan berangkat sekolah aku naik mobil dan diantar sang sopir, berbeda dengan yang sekarang. Sekarang aku serba mandiri, di mulai dari mandi sendiri, maksudnya jika dulu semua perlengkapan mandiku dan perlengkapan sekolahku di siapkan pembantu, sekarang aku harus mempersiapkannya sendiri. Aku harus berangkat sendiri, sudah tidak menggunakan mobil lagi, namun aku harus pulang, pergi naik angkot. Bahkan aku lebih sering jalan kaki, demi menghemat uang saku sekolahku. Jika dulu aku serba mewah, serba berlebih-lebihan, sekarang aku harus serba penghematan. Padahal letak sekolah dan rumahku lumayan jauh, sekitar 30 menit perjalanan kaki.

Hidup serba sederhana dan serba mandiriku di mulai ketika aku baru sampai di Surabaya. Pertengkaran keluarga besarlah yang menyebabkan aku dan kedua orang tuaku berada di sini. Di tempat yang sebelumnya aku dan kedua orang tuaku tak mengenali, tak ada sanak saudara di tempat ini. Hanya ada satu sahabat papa yang dengan senang hati membantu kami berada di sini. Hanya beliaulah satu-satunya orang yang dapat di mintai bantuan saat ini. Bukan karena papa atau mama tidak memiliki teman, banyak sebenarnya teman bisnis papa, ataupun teman arisan mama, namun setelah mendengar kabar kesusahan dari kedua orang tuaku semua teman-teman tak ada yang sedikitpun membantu hanya pak Dimaslah satu-satunya teman dari sekian banyak teman papa yang membantunya sampai berada di tempat ini.
Mulai dari mengurus perpindahanku dari jakarta ke Surabaya, mencarikan rumah baru untuk aku dan kedua orang tuaku, sampai mencarikan aku sekolah baru. Jasa beliau benar-benar berharga untuk keluargaku.

"Saffa suka nggak sama rumah baru nya? " tanya om Dimas kepadaku. Aku menggelengkan kepala, pertanda aku tak menyukainya. Bayangkan saja, jika dulunya rumahku sangatlah luas, maka rumah ini hanya seperempat dari rumahku yang dulu. Kotor, lusuh, banyak sarang laba-laba dimana-mana.

"Maaf ya Saffa Om nggak bisa nyariin rumah seperti rumahnya saffa dulu, " kata Om Dimas lusu. Bukannya tidak bisa, namun Om Dimas bukanlah orang yang  diliputi kekayaan. Uangnya tidak cukup untuk mengontrakkan aku dan kedua orang tuaku di rumah mewah.

"Nggak apa-apa Dimas. Kami sangat banyak terima kasih kepada kamu Dimas, sudah banyak uang yang kamu keluarkan untuk kami bertiga, nanti kalau aku ada pekerjaan dan punya uang lebih akan aku kembalikan uangnya" Ucap papaku merasa tak enak hati kepada Om dimas.

" Ini nggak ada apa-apanya sama uang yang kamu keluarkan untuk putriku dulu Fandy, aku tulus membantu kalian bertiga, dan Alhamdulillah aku bisa membalas budi kepada kalian" ungkapan Om Dimas begitu tulus. Dan setelah mengungkapkan itu Om Dimas beralih menatapku.

"Saffa mau nggak main sama putri, Om?"

"Mau, mau. "Kataku antusias.
Setelah itu aku di ajak Om Dimas pergi ke rumahnya. Sedangkan Mama dan Papa?  Mereka sibuk membersihkan rumah kontrakan baru untuk kami bertiga, dan menata beberapa pakaian kami. Tak banyak  memang pakaian yang kami bawa. Karena kami pergi meninggalkan jakarta tanpa membawa fasilitas apapun. Bahkan uang sepeserpun  kami tak membawanya.

Selama perjalanan jakarta-Surabaya Om Dimaslah yang menyiapakan kebutuhan kami. Setelah pertengkaran keluarga besar. Papa memutuskan menelfon Om Dimas untuk mencari solusi, sebelum semua fasilitas papa disita keluarga besar kami.
Dan dari sinilah Om Dimas menyusul kami bertiga, mengusulkan untuk membawa kami ke bandung, tempat pak Dimas dan keluarganya tinggal.

"Assalamu'alaikum Difa? Lihat nih, ayah punya temen main untuk Difa," Teriak om Dimas dari luar rumah memanggil putrinya yang mungkin berada di dalam rumah.

Mengenai rumah Om Dimas, rumah ini sebelas dua belas dengan rumah kontrakan yang baru saja Om Dimas carikan untuk aku, papa, dan mamaku. Bedanya rumah ini bukan rumah kontrakan, ini rumah yang om Dimas bangun untuk keluarga kecilnya.

"Ayah...... "Teriak seseorang dari dalam

"mana temen Difa? " tanyanya kepada Om Dimas, setelah sampai dalam pelukan om Dimas.

"Lepas dulu dong.. Ini di samping ayah" Difa melepaskan pelukannya dari om Dimas.

"Hai.. Namaku Difa. Nama kamu siapa? " tanyanya kepadaku, sambil menjabat tanganku
"Saffa, " jawabku sembari membalas jabatan tangan Difa

Mengenai Difa ini. Om Dimas telah menceritakan banyak kepadaku tentang Difa putrinya. Katanya puntrinya ingin mempunyai sahabat, tapi menurutnya semua teman sekelasnya tak cocok untuk dijadikam sahabat. Entah karena alasan apa. Yang jelas Difa, putri dari om Dimas tidak mau bersahabat dengan temen sekelasnya. Om Dimas juga mengatakan aku boleh kapan saja main ke rumahnya. Kebetulan jarak rumahku dan rumah om Dimas tidak terlalu jauh, hanya memakan kurang lebih 5 menit perjalanan kaki. Bukan hanya itu, Om Dimas bercerita tentang sekolah baruku nanti. Aku didaftarkam om Dimas disekolah SDN 1 taruna jaya tempat putrinya juga menimba ilmu. Supaya aku mudah pulang pergi bersama putrinya. Dan lebih dekat dengan putrinya.

Difa, putri om Dimas. Tak banyak penilaianku tentangnya. Menurutku Difa manis, cantik, dan kelihatan lebih mandiri dari pada aku. Mungkin karena sudah terbiasa diajarkan mandiri oleh om Dimas sejak kecil. Berbeda dengan diriku.

"Saffa masuk ke dalam yuk. Aku punya banyak berbie" Difa menggandengku masuk kedalam rumahnya, mengajakku memainkan mainan boneka kecil yang cantik, berbie.

Setelah aku dan Difa berada didalam ruang tamu. Difa masuk lagi kedalam, meninggalkanku untuk mengambil beberapa mainannya. Tak lama kemudian Difa datang membawa 2 pasang berbie dan beberapa pakaian.

"Ini pakaiannya Difa yang buat sendiri? " tanyaku kepada Difa setelah melihat beberapa pakaian berbienya.

"Iya, buat berdua sama ibu, bagus nggak padahal ini buatnya sama baju-baju aku yang sudah tak terpakai"
Aku menganggukkan kepala, mereka sungguh kreatif menurutku.

"Ini untuk Saffa, ini untuk Difa" Difa memberikan 1pasang berbie untukku dan 1pasang lagi untuknya. Aku tersenyum, bahagia? Mungkin ini awal bahagia sederhanaku setelah di liputi kesedihan, kesedihan karena telah diberikan banyak cobaan untuk meninggalkan kota kelahiranku dan bahagia setelah aku bertemu Difa.

 

 

Bersambung... 

Enjoyed this article? Stay informed by joining our newsletter!

Comments

You must be logged in to post a comment.

Stori terkait
Jul 8, 2020, 1:15 PM - Annisa mahmudah
Jul 6, 2020, 10:20 PM - Chocho_Yucho
Jul 3, 2020, 6:34 PM - Tjahjono widarmanto
Jul 3, 2020, 6:26 PM - Nnaga
Jul 3, 2020, 1:07 PM - Kristina Dai Laba
Jul 2, 2020, 2:25 PM - Mei Elisabet Sibarani