Profil instastories

SATAR STORI : Hari Pertama bersama 9 Cowok Tampan ~ part 1

Aku berlari-lari di pinggir jalan sambil terus melihat jam di pergelangan tangan kiriku. Hari ini adalah hari pertama masuk sekolah. Dan seharusnya aku sudah berada di lingkungan berlebel SMA SATAR itu. Naasnya aku tadi telat bangun karena semalam dipaksa ayah untuk menemaninya menonton pertandingan bola. Sudah tahu putrinya tidak bisa tidur kemalaman ini malah sengaja mengusiliku. Memberiku seblak yang pedasnya luar biasa. Bagaimana aku bisa tidur saat disogok dengan makanan kesukaan ku itu. Alhasil aku bangun kesiangan. Padahal ini hari pertama ku sebagai murid SMA. Di tambah aku harus berlari karena angkot yang biasa kunaiki sudah berangkat. Sementara uang saku ku tidak cukup untuk memesan ojek. Selain suka usil, ayahku itu memang sangat perhitungan dalam memberiku uang saku. Sungguh tega sekali pada anak satu-satunya ini.

“Kenapa kamu terlambat? Kamu tahu kan sekarang ini sudah jam berapa?” aku melihat jam yang memang sudah menunjukkan pukul setengah delapan lebih.

“Ban motor saya tadi bocor di tengah jalan kak.” Jawabku memberi alasan sembari menunduk tanpa berani menatap kakak kelas yang sepertinya anak OSIS yang bertugas mengorientasi murid baru. Tapi aku meliriknya sebentar. Tampan. 

“Kenapa bisa bocor?”

Ya pasti bisa lah. Aneh sekali pertanyaannya.

“Gak tahu kak. Kayaknya ketusuk paku deh.”

“Dari mana kamu bisa yakin kalau ban motor kamu ketusuk paku?”

Ini kakak kelas apaan deh. Nanya mulu kayak lagi sensus penduduk aja. Nanya segitu detilnya. Tidak bisa apa dikasih ijin masuk saja. Sudah tahu murid baru sudah pada baris di tengah lapangan. Lhah kalau aku tidak segera ke sana bisa ketinggalam informasi kan. Mungkin tuh kakak kelas menyadari kalau perhatianku tidak berada padanya serta aku yang mengabaikan pertanyaannya. Tiba-tiba saja dia membentakku. Aku kaget setengah mati sampai terlonjak ke belakang. Dia bisa marah juga. Padahal sebelumnya dia bertanya dengan nada baik-baik. Serem ih tiba-tiba matanya menatapku tajam. Tampan-tampan tapi galak. 

“I...i...itu kan tukang tambalnya yang bilang kak. Udah ya kak ijinin saya buat masuk. Itu murid baru sudah baris semua lhoh.” Ucapku mencoba merayunya agar aku diijinkan masuk.

“Tidak bisa. Kamu sudah sangat terlambat. Kamu harus di hukum biar tidak mengulangi kesalahan.”

“Saya akan lakukan hukuman apa pun, tapi plis kak ijinkan saya ikut barisan. Setelah itu kakak boleh hukum saya. Kalau kakak takut saya kabur kakak bisa awasi di dekat saya baris.” Bujukku sekali lagi.

“Raka!”

Seseorang dengan sedikit berlari menghampiri kami. Rupanya memanggil kakak kelas dihadapanku ini. Dari seragamnya aku sudah bisa menebak pasti dia juga termasuk dalam kepanitian MOS. Wajahnya  cantik. Maksudku tampan. Dia seorang cowok yang memiliki wajah cantik dengan kulitnya yang putih namun masih kalah putih dengan kulit kak Raka yang hampir pucat saking putihnya. 

“Ada apa sih yan?”

“Maneh teh ngapain ngehadang siswi baru? Tuh sambutan udah dimulai. Maneh mau dimarahin sama ketua OSIS?” terdengar decak malas dari mulut Raka. 

“Dia terlambat. Jadi aku mau kasih hukuman ke dia.”

“Iya atuh aing teh juga setuju kalau maneh kasih hukuman ke dia.” Lhah, gimana sih kang Sunda, kirain dia mau belain aku. Udah senang juga gak jadi dihukum. 

“Tapi itukan bisa nanti atuh. Cepet gih maneh balik ke barisan. Biar siswi baru ini aing yang bawa ke barisan.” 

Akhirnya kak Raka menuruti kang Sunda yang belum aku tahu namanya ini setelah sebelumnya memberiku ancaman agar tidak kabur. Seusai upacara pembukaan selesai dia bakal mencariku untuk memberiku hukuman. Aku pura-pura mengangguk namun dalam hati tersenyum menang. Selintas akal licik untuk kabur saja. Tapi, 

“Jagain dia, Yan.”

Bakal tidak mulus rencana kaburku.

“Neng cantik teh saha namina?” ucap kang Sunda itu padaku. Sementara aku yang diajaknya bicara hanya menatap bingung karena tidak mengerti dengan perkataannya.

“Nama kamu siapa?” ulangnya. Gitu kek dari tadi. Ngomong Indonesia kan lebih enak.

“Lita kak.”

“Oh neng Lita, panggil saja aing, kang Bian. Aing teh sekretaris OSIS.” Jelasnya memperkenalkan diri. 

“Kamu teh kenapa milih sekolah ini?” tanyanya kembali menimbulkan kernyitan di dahiku. Bebas dari sensusan kak Raka tidak disangka ini malah lebih cerewet.

“Karena sekolah favorit.” Jawabku acuh. 

“Maneh pinter sia. Emang sekolah ini teh sekolah terfavorit. Aing juga masuk sekolah ini karena katanya di sini murid-muridnya bisa meraih juara. Kata ambu juga aing kudu sekolah di sini biar ketularan dapat juara.” Ceritanya dengan antusias padahal di depan ketua OSIS sedang ngasih sambutan. Untung barisanku berada di belakang. Jadi kemungkinan tidak akan terdengar keributannya dari depan. Aku tidak ingin kena marah lagi dan bertambah daftar hukumanku saja. 

“Terus kakak dapat juara berapa?” tanyaku tanpa berminat sebenarnya. 

Si Bian itu malah cengengesan dan perlahan menggeleng. Seketika aku langsung memasang tampang malas. Berusaha untuk kembali menyimak perkataan senior yang belakangan baru kutahu namanya adalah Leo dari siswi di sebelahku yang entah siapa namanya belum kukenal. Memang seharusnya tadi aku tanya nama dia lebih dulu baru tanya nama orang lain. Sekarang siswi itu sedang asik bergosip dengan beberapa siswi disebelahnya lagi membicarakan kak Leo yang ganteng dan keren abis. 

“Tapi aing teh pernah jadi juara.” Ucap kang Sunda. Nampaknya dia belum menyerah membuat obrolan denganku. Mau tidak mau aku menoleh padanya dan menunjukkan raut bertanya. Memberi kesempatan baginya untuk melanjutkan dongengannya. Mungkin sebentar lagi dia bisa mengantarkanku ke alam mimpi. 

“Juara makan kerupuk waktu acara peringatan kemerdekaan maksud lo, Yan?” tiba-tiba ada suara lain yang menimbrung. Dari arah belakangku muncul seorang cowok yang juga mengenakan almamater OSIS menghampiri Bian dengan senyum mengejek. 

“Maneh teh dateng-dateng langsung ngehina aing. Aing teh salah naon sama maneh, Ndi?” protes kang Sunda itu. Sementara yang dipanggil “Ndi” malah tertawa terbahak-bahak seolah tidak takut bakal ketahuan si ketua OSIS yang kabarnya galaknya minta ampun. Tapi kalau didengar lagi suara ketawa cowok itu merdu juga. Ditambah mukanya ganteng lagi. Sejak menginjakkan kaki di sekolah ini selalu cowok-cowok yang berwajah tampan yang kutemui. Kalau begini ceritanya aku tidak akan pernah menyesal bisa sekolah di sini. 

“Baper amat sih, Yan.” Ujarnya mulai menghentikan aksi tawanya. “Gue tahu elo pasti malu kan dek punya sodara kayak Bian? Gue dukung seratus persen kalau elo mau nolak ngakuin dia sebagai sodara elo.” Lanjutnya lagi namun kali ini menghadap padaku. Seketika membuatku mengerutkan kening sembari menatapnya tidak habis pikir. Syok batin anak ayah ini. Maksudnya dia ngira aku sodaraan sama kang Sunda ini? Aku aja gak ngerti sama bahasa Sunda. 

“Jadi kalian bukan sodara?” ucapnya baru menyadari setelah melihat gelagatku yang tidak terima akan perkataan sok tahunya barusan. Setelahnya cowok itu kembali tertawa. “Pantes ya gue gak lihat muka nih cewek di foto keluarga elo.”

“Ari maneh juga teh naon ngaranan aing sodaraan sama Lita? Aneh sia.”

“Lhah, kalian dari tadi gue lihatin diujung sana asik ngobrol terus, ya gue kira kalian udah kenal.” Ujarnya sembari mengarahkan telunjuk tangannya ke arah di mana sebelumnya dia berada. 

Sekali lagi aku memutar bola mataku. Malas menanggapi percakapan dua kakak kelas itu. Aku sudah tidak peduli pada mereka. Apa yang ada di depan jauh lebih menarik. Membuatku menjadi semangat empat lima. Sudah bukan hal yang baru jika dalam perpeloncoan anak baru selalu diakhiri dengan mengumpulkan tanda tangan senior yang menjadi panitia. Namun hal yang baru dan terbilang tidak masuk akal serta baru sekali ini aku temui mungkin hanya terjadi di SMA SATAR. Kini aku semakin semangat untuk mengingat wajah dan nama para panitia MOS. Hadiah yang dijanjikan oleh salah satu panitia itu lho, sangat menggiurkan. 

Aku akan pastikan ayah tidak perlu lagi membelikanku laptop karena benda canggih yang sedang dipamerkan di depan sana itu akan aku rebut dari tangan kakak kelas bernama lengkap Kanjeng Mas Juanda Mahabrata. Dia yang menjanjikan kepada kami akan menghadiahkan laptop yang masih mengkilap baru itu untuk siapapun murid baru yang berhasil mendapatkan tanda tangan khusus dari seseorang yang masih dirahasiakan. Akan ada klu yang selalu diberikan selama masa orientasi. 

“Kak, nama kakak siapa?” tanyaku antusias menghentikan perdebatan diantara kak Bian dan cowok yang belum aku ketahui namanya. Lagian heran kenapa mereka masih saja berdebat. 

“Elo nanya gue dek?” ucapnya malah balik bertanya. Tidak lupa telunjuknya yang dia arahkan ke hidungnya untuk semakin meyakinkan pertanyaannya. 

“Ya iyalah kak. Emang nanya siapa lagi?” tanyaku lagi setengah malas. Kalau tidak ingat sama suaranya yang bagus sudah dari tadi aku mencak-mencak. 

“Oh, bener juga, kita kan belum kenalan tadi, kenalin gue Sandi, ketua grup paduan suara.” Ujarnya disertai tawa ringan. 

Wooaaah... Anak padus ternyata. Tidak heran suara tawanya bisa terdengar merdu seperti itu. 

“Oh iya, nama aku Lita kak.” Ucapku menyambut uluran tangan Sandi. Dapat aku rasakan tangannya yang halus. 

Setelahnya justru aku yang asik ngobrol dengan kak Sandi. Sementara kak Bian sudah pergi entah kemana. Yang kutahu hanya cowok itu berbisik ditelinga kak Sandi dan langsung pergi begitu saja bahkan tanpa mengucapkan basa-basi perpisahan padaku. Waktu berjalan begitu saja dan sama sekali tidak berasa bahwa kini sudah waktunya beristirahat. Kak Sandi ini dibalik muka kalemnya ternyata doyan ngobrol juga. Tapi tentu saja tidak cerewet seperti kang Bian. Obrolan kak Sandi lebih bermutu dan seru.

 

***

“Hey! Kamu yang tadi terlambat!”

Sontak aku menoleh ke belakang, merasa suara itu memanggilku. Seketika aku teringat pada ancaman kak Raka tadi. Terpaksa dengan langkah malas aku menghampiri cowok berkulit sedikit gelap yang dengan tegas menyuruhku mendekat lewat gerakan tangannya. Padahal aku sudah berniat ke kantin. Masih ingat saja sih mau ngasih aku hukuman. 

“Kamu yang tadi terlambat dan kena hadang Raka kan?”

“Bukan kak.” Jawabku sembari memberanikan diri melirik nametag dibaju seragam cowok itu. ABIMANA DARMANTYO, begitu yang tertulis di sana. Selanjutnya kulirik wajahnya yang mengerut bingung. Hanya sebentar karena setelahnya dia kembali memasang raut wajah tegasnya. 

“Jangan bohong!” ucapnya menuntut jawaban yang sejujur-jujurnya. 

“Iya kak.”

“Iya apa?”

“Iya, saya yang tadi terlambat.”

“Jadi kenapa tadi kamu bohong.”

Bibirku terkatup tidak bisa memberikan jawaban. Tadi aku hanya iseng mengelak. Siapa tahu dapat jakpot dan kakak kelas itu meloloskanku. Kemudian aku bisa pergi ke kantin. Mencoba setiap makanan yang ada dikantin sampai perutku kenyang. Tidak tahunya yang ada dihadapanku jauh lebih menyeramkan ketimbang kak Raka. Jangan-jangan orang ini lagi ketua OSISnya. Tadinya aku pikir ketua OSISnya si kak Leo-Leo itu, tapi ternyata dia wakilnya. Jadi aku belum ketemu sama ketuanya. 

“Kenapa diam?” ucap kak Abimana dengan suara yang ditekankan. Membuatku semakin takut saja. 

“Kakak jangan galak-galak dong, nanti pada takut semua lhoh.”

Aku mendongak menatap sosok yang barusan berbicara dengan berani menentang ucapan kak Abimana. Seorang cowok berwajah bulat dan ramah senyum itu mengerling padaku kemudian memberi hormat pada kak Abimana dengan sikap tubuh sempurna. Alamat. Ini mah benar dugaanku kalau kak Abimana ini ketua OSISnya. Bisa habis aku sama dia. Tadi sempat berbohong lagi. 

“Elo dicariin sama Ando, ini biar gue aja yang urus.” Ujarnya melanjutkan. Barulah aku tahu kalau cowok itu bagian dari OSIS juga. Gak jadi deh pembatalan hukumannya. 

“Kamu gak perlu takut gitu dek sama Abim, dia aslinya baik kok. Cuma emang mukanya kelihatannya tegas.” Ucapnya ditunjukkan padaku setelah kakak kelas yang ternyata panggilannya Abim itu pergi untuk memenuhi panggilan dari orang yang bernama Ando. 

Setelah memahami intruksinya, aku segera mengekori cowok bernametag Iman dalam diam. Kami berjalan melewati tengah lapangan dan berakhir di antara para senior yang terlihat tengah berkumpul di salah satu sudut lapangan. Sontak kehadiranku menjadi pusat perhatian mereka. Tanpa berani menatap wajah mereka aku berdiri sedikit ke belakang dibalik tubuh kekar sambil menundukkan kepala. 

“Wah, gak beres lho Man, bukannya tugas malah bawa cewek.” Suara entah milik siapa. 

“Anak baru lagi.” Timpal yang lain. 

“Emang elo udah putus bang sama Ratna?” tanya salah satu dari mereka. Namun kali ini suaranya cewek. 

“Enak aja kalau ngomong. Itu mulut kurang disekolahin ya? Sampai kapan pun gue gak bakal putus sama Ratna.”

“Terus siapa dia bang?”

“Jangan bilang...”

“Dia tadi terlambat, minta hukuman katanya.” Ujar kak Iman disertai kekehannya. 

Minta katanya? Yang ada mulut Iman yang perlu disekolahin. Dari tadi perutku sudah keroncongan malah seniornya pada bertele-tele. Bukannya langsung ditentukan hukumannya. Biar aku cepat selesai dan cepat makan. 

“Mau minta hukuman apa emang dek?”

Wajah kak Leo yang pertama kali aku lihat saat menegakkan kepala. Cowok itu juga yang memberi pertanyaan. Minta hukuman makan sih kak kalau boleh. Jawaban itu hanya bisa aku ucapkan di dalam hati. Sementara mulutku masih tertutup rapat. Enggan untuk mengeluarkan suara. Takut nanti salah berkata dan malah aku yang kena imbasnya. 

“Hukumannya jadi pacar kakak aja gimana dek?” lanjutnya mendapatkan sorakan dari kakak yang lain. Sejenak mataku melotot rasanya hampir lepas. 

“Jangan mau dek, kalau sama Leo kalau diajak jalan makannya pasti dipinggir jalan. Mendingan sama kakak. Kamu mau makan di restoran bintang lima manapun kakak sanggupin. Atau mau jalan-jalan ke luar negeri setiap minggu juga boleh.” Sahut si Kanjeng Mas Juanda Mahabrata yang kembali mendapat sorakan heboh dari yang lain. Sedangkan aku sudah speechless sejak godaan kak Leo. Ayah, Lita tuh cuma pengen makan. Perut Lita udah perih ayah. Gimana kalau Lita nanti pingsan?

“Udah di kasih hukuman belum nih anak?” tiba-tiba datang orangnya yang berjanji akan memberiku hukuman. Kemana saja lagian? Bukannya dari tadi datangnya. Kak Raka melirikku sebelum atensinya fokus pada cowok yang membawaku. Mereka berdua membicarakan masalah hukuman apa yang akan diberikan padaku. Sementara kak Leo dan kak Kanjeng masih saja berusaha menggodaku. Namun sama sekali tidak aku tanggapi. 

“Dek, bagi kontaknya dong!”

“Dek, kakak beliin HP terbaru tapi khusus buat hubungin kakak mau gak dek?”

“Diem deh, elo ngerecokin gue mulu.”

“Bilang aja elo sirik karena gak sekaya gue. Modal dong kalau mau deketin cewek.”

“Ngaca dong, elo aja dari lahir masih jomblo, sok ngajarin gue.”

“Dari pada elo mantan sana-sini, hutang ngedate-nya juga sana-sini.”

“Elo beneran ngajak ribut heh?”

“Ayok gue jabanin, elo pikir gue takut?”

Kepalaku menjadi pusing sendiri melihat pertengkaran mereka. Mana yang katanya mau ngasih hukuman belum juga angkat bicara. Jadi gak sih? Mending tadi aku makan dulu di kantin. Dua orang itu malah ikut menyoraki dua temannya yang sedang berantem untuk saling menghajar. Bukannya dilerai. Enggak tahu lagi deh dengan sikap abstrak mereka. Sampai akhirnya pertengkaran itu berakhir karena dihentikan oleh teriakan seseorang. Aku sendiri merinding mendengarnya. 

“Apa-apaan ini? Di mana letak wibawa kalian sebagai kakak kelas? Berantem dihadapan adik kelas apa menurut kalian baik?” ujar orang itu dengan nada tinggi. Membuat yang lain terpekur diam. 

“Dan ngapain kamu di sini? Bukannya ini waktu istirahat?” tandasnya kepadaku. “Kalau kamu gak ngisi perut sekarang jangan mengeluh nanti kalau tidak aja lagi jam istirahat.”

Kata-katanya membuatku sudah ingin menangis. Kalau tidak ada istirahat lagi bagaimana aku mengisi perutku? Salahkan kak Kanjeng dan Kak Leyo yang berantem. Salahkan kak Raka dan kak Iman yang kelamaan diskusi. Salahkan kak Bian yang tidak tanggung jawab mengurusku. Salahkan kak Ando yang malah manggil kak Abim. Atau aku harus nyalahin diri sendiri kenapa sampai terlambat? Kalau begitu itu salah ayah yang membuatku terjaga sampai subuh. 

“Sorry An, gue sela. Soal kehadiran Lita di sini karena dia tadi terlambat dan gue mau kasih hukuman.” Ucap kak Raka.

“Udah hukumannya?” kak Raka menyengir lantas menggeleng diikuti helaan nafas dari kakak galak tadi. 

“Kamu cari namanya Lano dan kamu bantuin dia!” titahnya kemudian padaku. 

Lano? Siapa lagi itu? Aku mana kenal. Namun dengan pasrah aku pergi dari sana untuk mulai mencari orang bernama Lano itu setelah perintah kedua yang tidak bisa dibantah terdengar. Bahkan sebelum aku bisa bertanya lebih spesifik tentang identitas diri milik Lano itu. 

Sebelum aku beranjak pergi dari sana kak Leo masih sempat-sempatnya melontarkan godaannya untuk yang terakhir kali. Kembali tidak kutanggapi. Lebih penting untuk mencari orang yang kakak kelas tadi maksudkan. Omong-omong aku belum tahu nama kakak galak tadi. Kelihatannya semua kakak kelas tunduk padanya. Mungkinkah dia sebenarnya ketua OSIS? Persis seperti yang anak-anak lain gosip kan tadi kalau ketua OSISnya galak. Gara-gara kelamaan dihadang kak Raka tadi jadi aku melewatkan sambutan ketua OSIS. Setelah berbaris juga aku tidak bisa melihat semua senior sebab barisanku yang berada paling belakang. Nasib punya badan yang mungil. Kalau tidak salah nama ketua OSISnya Radrika Ando Septian. 

Eh? Kayak pernah dengar nama Ando? Siapa ya? Heh, itu kan tadi yang katanya nyariin kak Abim. Jadi kesimpulannya memang benar semua gara-gara ketua OSIS galak itu. Kalau bukan karena dia manggil kak Abim aku tidak akan dibawa kak Iman dan bertemu kakak kelas tukang modus itu. Mereka juga tidak akan terlibat perkelahian sehingga membuat marah ketua OSIS dan akibatnya aku diberi hukuman yang berat ini. 

Tapi mendingan aku ke kantin dulu. Sambil nanti tanya-tanya ke orang tentang Lano. Sekaligus aku bisa ngisi perut. Dari pada nanti keburu lemas. Aku tidak mau jika sampai pingsan. Nanti digotong-gotong ke UKS dan dilihatin banyak orang. Malu. Lebih dari itu nanti disangka hanya cari perhatian. Parahnya malah dikatai cewek lemah. Walau orangtuaku memanjakanku namun aku bukanlah cewek yang lemah. Belum tahu kan kalau sewaktu SD aku pernah jadi atlit lari? Bahkan sering juara. Meski belum sempat merebut juara satu aku sudah berhenti. 

 

***

Enjoyed this article? Stay informed by joining our newsletter!

Comments

You must be logged in to post a comment.

Stori terkait
Jul 8, 2020, 1:15 PM - Annisa mahmudah
Jul 6, 2020, 10:20 PM - Chocho_Yucho
Jul 3, 2020, 6:34 PM - Tjahjono widarmanto
Jul 3, 2020, 6:26 PM - Nnaga
Jul 3, 2020, 1:07 PM - Kristina Dai Laba
Jul 2, 2020, 2:25 PM - Mei Elisabet Sibarani