Profil instastories

Salah Rasa 2

Usai berlatih basket, Arka mendekat kearahku dan segera meminum air mineral yang berada disebelahku. Wajah cerianya selalu menjadi target tatapanku. Kurasa bahagia itu sederhana. Cukup dapat berada disisinya. 

"Kau tahu Ge? 3 hari lagi akan ada pertandingan basket melawan SMA Garuda 2. Jadi, akhir-akhir ini aku harus banyak berlatih" kisahnya. Aku hanya menyimak dengan seksama. Meski jauh dari kenyataannya, aku tak begitu suka tentang segala sesuatu bertema olah raga.

"Kau bersedia selalu menemaniku Ge?"

Aku segera mengangguk tanpa ragu. Tak peduli dengan Fisca yang memiliki posisi lebih penting dariku.

"Pasti. Tapi jika kau menang nanti?" selidikku bercanda. Ia tertawa kecil kemudian menarik bahuku agar mudah direngkuhnya, "aku akan selalu menemanimu." Lirihnya pelan.

Aku terdiam sejenak, "selalu?" Tanyaku mengulang kalimatnya.

Ia tak mengangguk. Juga tidak menggeleng. Melainkan mengeratkan rengkuhannya padaku "kau sahabatku." Bisiknya meyakinkan.

Kupejam mataku erat. Merasakan kepedihan yang kembali menguat. Mengapa hanya kalimat itu?! Apa ia tak punya kata lain selain sahabat tuk menggambarkan posisiku? Padahal aku telah menjadikannya alasan disetiap rasaku!

Aku mendorong dada bidangnya agar menjauh dariku. Namun ia malah menguatkan rengkuhannya padaku.

"Lepas Arka! Kau bau!!" makiku atas perlakuannya.

Setelahnya ia tertawa lepas. Tak peduli dengan bibir manyun yang kubuat-buat.

"Suatu saat, bauku ini yang akan kau rindu!" ujarnya disela-sela tawa. Aku hanya mendegus sebal. Menjelaskan padanya dalam diam, bahkan tanpa bau keringatnya itu, aku memang selalu sibuk dengan rindu!

 

==❣==

Dimeja makan pagi ini cukup sepi. Hanya ada aku dan bunda. Sudah dua hari ini Kak Febi menginap di rumah kos milik temannya. Sedang Ayah, masih mengurus proyeknya di Bandung. Ayahku memang jarang sekali pulang. Bahkan dapat dikata tidak pernah selain terdapat hari besar atau perayaan di rumah. Tapi kami sudah menganggapnya hal lumrah.

Dua buah roti dengan selai kacang coklat diatasnya segera kulahap. Kemudian berganti dengan segelas susu di sebelah kanannya. Hingga sebelum berangkat aku menyempatkan izin pada bunda untuk telat pulang sekolah nanti.

"Ada acara apa Ge?"

"Gak ada kok bun. Cuma mau nemenin Arka latihan. Pulangnya gak sore-sore banget kok." mohonku pada bunda.

"Arka lagi?" tanya bunda membuatku terdiam. Benar, soal Arka bunda memang tak suka. Sejak bunda tahu jika Arka memilih Fisca. Namun sejauh manapun bunda tak suka, beliau tak pernah keras melarangku dekat dengannya.

"Ya sudah. Tapi setelah selesai latihan, kau harus cepat pulang! Jangan memaksa batinmu terlalu dalam.." izin bunda akhirnya setelah berfikir cukup lama.

Aku berterimakasih pada bunda. Sebenarnya hanya untuk nasehat diawal kalimatnya.

Hingga teriakan Fiona mengakhiri acara sarapanku pagi ini. Sengaja aku meminta jemput Fiona karna aku malas tuk sekedar berangkat sendiri. Lagipula aku akan diantar pulang Arka...

==❣==

Dua pria didepanku kini tengah disibukkan  dengan ponselnya. Satu lagi disebelahnya yang juga sedang sibuk bercanda dengan Fiona. Namanya Reza, prianya sejak setahun silam. Dan sejak itu juga, kami akrab dengan Kiki dan Denis, sahabat Reza.

Tentang Kiki, adalah pria yang selalu menangguhkan rindunya pada kekasihnya yang jauh. Dan Denis, adalah pria humoris yang selalu bertahan dengan nasib jomblonya! Rasanya cinta dihati Denis sudah diperuntuk game-game yang ia punya. Sesekali aku mencoba tuk mencegah aksi mereka berdua yang terus berkutat dengan ponselnya. Jujur saja aku merasa terabaikan.

Namun seperti sudah lumrah, Kiki akan terus beralasan masih ingin bercanda dengan Fifi. Dan Denis dengan game sialannya itu! Untuk Fiona dan Reza, bila sudah seperti ini, mana mungkin dapat diganggu gugat?!

Aku terus mengaduk es jeruk dihadapanku tanpa maksud pasti. Mungkin sekedar menunggu bel berbunyi.

BRAK! "Yaah.." suara gebrakan meja disusul teriakan itu sontak menghentikan lamunanku. Begitu juga dengan seisi kantin disekitar kami. Mereka segera menatap sumber kegaduhan. Dan itu adalah Denis!

"Sialan! Padahal dah ronde ke 4. Mau next level. Pake acara kalah lagi!!" gerutu Denis melanjutkan kekesalannya. Tak peduli dengan tatapan tajam orang-orang disekitarnya.

"Huh, ganggu orang aja! Gatau orang lagi pacaran apa?!" solot Kiki menyadarkan Denis

"Kamu Ki, bisanya cuma pacaran sama hp mulu. Cari tuh.. yang nyata!" canda Denis yang langsung disambut kepalan hangat di kepala Denis. Tawa kami kompak buncah.

"Lah, kan bener? LDR tuh pacaran ma hp. Tiap hari senyum-senyum ngobrol gak jelas juga sama hp!" Lanjut Denis, mereka memang tak pernah berhenti jika sudah perang hinaan. Yah, tak kurang seperti aku dan Fiona.

"Udahlah, gak usah ribut. Yang paling jelas cuma aku sama Reza. Ya gak Za?" Kini Fiona mulai mengambil jalan tengah dengan membanggakan dirinya. Sudah menjadi kebiasaan pokoknya. Prianya mengangguk dengan senyum menyetujui.

"Ah, kalo kalian mah gak seru! Gak bisa kenal yang namanya rindu." Kiki dengan pemvelaan untuknya.

Aku? Seperti biasa, aku hanyalah tokoh pendengar untuk semua topik seperti ini. Mereka tak kurang dari 2 kali setiap harinya membahas hal-hal serupa.

"Kenapa ngebahas ini terus? Ganti topiklah.." keluhku akhirnya. Namun sepertinya, hal itu tak disambut baik. Lebih-lebih Fiona!

"Huu.. sensi mulu! Bilang aja kalau kamu gak punya topik bahasan."

Belum sempat membalas, Reza lebih dulu mendahului, "mangkanya Ge, jangan suka berharap ke yang belum pasti!"

"Bukan belum pasti. Tapi emang gak pernah pasti!" Pengujaran terakhir dari Kiki memecahkan tawa mereka. Namun sesekali, Denis membelaku. Mungkin karna ia merasa senasib cukup sama denganku.

Beginilah suasana kantin sekolah di jam istirahat. Gaduh!"

==❣==

Bersambung...

Enjoyed this article? Stay informed by joining our newsletter!

Comments

You must be logged in to post a comment.

Stori terkait
Jul 8, 2020, 1:15 PM - Annisa mahmudah
Jul 6, 2020, 10:20 PM - Chocho_Yucho
Jul 3, 2020, 6:34 PM - Tjahjono widarmanto
Jul 3, 2020, 6:26 PM - Nnaga
Jul 3, 2020, 1:07 PM - Kristina Dai Laba
Jul 2, 2020, 2:25 PM - Mei Elisabet Sibarani