Profil instastories

SABDA CINTA PELANGI SENJA

   Oleh :Nurwahidah 

                                 SABDA CINTA PELANGi SENJA

 

     "Cinta adalah sebuah keyakinan yang harus digenggam kuat jika telah hadir menyapa hati, namun jika cinta merindu dan belum menemukan tambatannya,  maka ia akan diikatkan di mana? " Kepada Sang pemilik cintalah kembaliNya. "

     Matahari mulai condong ke barat dan hampir terbenam, warnanya yang jingga merona begitu elok,  memanjakan mata bagi insan yang pelulisnya Yang Maha Agung.  Hati yang merindu pun tidak lupa melantunkan dzikir-dzikir petang yang menentramkan hati.

     Firda mengusap mata yang mulai basah dengan ujung jilbabnya,  meskipun matanya masih saja belum terpuaskan memandang eloknya matahari jingga merona yang hampir tenggelam,  setidaknya itu bisa sedikit mengurangi keresahan hatinya.  Jingga merona yang hampir tenggelam!  sama persis dengan dirinya, berada di ujung senja! dan hampir tenggelam!  sehingga mama bersikeras menjodohkannya dengan seorang duda kaya.  Pengusaha duren, "duda keren" begitu mama menyebutnya.

     "Aku juga ingin sama seperti perempuan lain, menikah, berumah tangga dan punya anak!"

Firda berusaha meluruskan pandangan dan kekhawatiran mama tentang putri sulungnya yang sampai usia tiga puluh sembilan tahun belum juga menikah. 

     "lalu kenapa kamu menolak, Surya? dia laki-laki mapan dan tepat mendampingi kamu, nak! "

Suara mama serak.

     "Firda tidak cinta sama dia, ma."

Firda menundukan kepala dengan lemah,

     "Cinta? kamu masih memikirkan cinta? ingat Firda usia kamu sudah tiga puluh sembilan tahun, apa kamu tidak malu dipanggil perawan tua!?"

Suara mama yang semula lunak berubah keras, dan ucapan mama ini benar-benar melukai hati Firda. Namun meskipun begitu dia tetap berusaha untuk tetap sopan dan menghormati mama. 

     "Ma, pernikahan bukanlah sebuah kompromi, tetapi pernikahan adalah komitmen seumur hidup."

Mata Firda kembali berkaca-kaca, hatinya gerimis. 

     "Tapi sampai kapan kamu, seperti ini, nak? adik kamu sudah menikah dan sudah punya anak,  sementara kamu masih sendiri seperti ini. "

 

Firda tidak kuasa menatap wajah mama.  Gadis itu menyibak gorden jendela kamarnya sehingga rona jingga pelangi senja itu semakin nampak olehnya.  Firda sangatlah mengerti kekhawatiran mama tentang dirinya. Sebagai seorang ibu tentu mama menginginkan anak perempuannya bahagia dan segera menemukan jodohnya.

     Kekhawatiran mama adalah kekhawatiran Firda juga. Hidup sendiri dan ditemani sepi itu sangat menyakitkan, terapi bukan berarti dia harus sembarang menerima laki-laki yang mau menikah dengannya. Tiba-tiba wajah Surya melintas di pelupuk matanya.  Laki-laki tinggi dan berkumis tipis sering datang ke rumah berusaha mendekatinya dan nekat melamar Firda. 

     Tidak ada yang kurang pada diri laki-laki itu, Surya cukup gagah dan kaya, seorang pengusaha. Namun hati Firda tidak tersentuh sedikit pun dengan segala yang Surya miliki.

     "Jodoh, rezeki, maut, itu semua di luar kendali kita sebagai manusia, bukankah Allah sudah mengatur semuanya,  iya kan, ma?"

Mama terdiam mendengar kata-kata Firda.  Firda pun mencoba tegar,  dia mendekati mama yang sejak tadi ada dalam kamarnya.  Gadis dewasa,  matang dan berfrofesi sebagai dosen itu menggapai tangan mama dan menggenggamnya kuat,  sekuat dia berusaha menghadapi kenyataan hidupnya yang kini masih melajang. Mama tiba-tiba memeluk Fitda erat sekali dan menangis sesenggukan.

     "Mama hanya ingin kamu bahagia,  nak"

     "Firda juga ingin bahagia seperti keinginan mama,  tapi bukan dengan cara menerima lamaran Surya yang belum kita ketahui pasti, apakah dia benar-benar seorang duda atau justru pria beristri. "

Mama langsung melepaskan pelukannya,  kemudian menyeka air matanya dengan kasar.

     "Tidak!  mama sudah merasakan penderitaan di tinggal oleh papa kamu yang kawin dengan perempuan lain, hingga mama membesarkan kalian seorang diri. "

Mata mama yang dari tadi redup berubah liar,  seperti ketakutan membayangkan putri kesayangannya menikah dengan seorang pria beristri.  Cukuplah penderitaan itu dia rasakan seorang diri, tidak perlu anak-anaknya ikut merasakan apa yang pernah dirasakannya.

      Itulah yang menyebabkan Firda tumbuh menjadi gadis yang kuat,  mandiri dan pekerja keras, tidak mau tergantung kepada laki-laki,  hingga sampai kini tidak ada srorang pun yang bisa menyentuh hatinya. 

Mama sangat membenci perempuan pelakor, siapapun dia, dan mama tidak ingin anak gadisnya mendapat kutukan dari istri yang telah di rebut suaminya.  Hati Firda jadi sangat terluka melihat mama sekarang seperti berhadapan dengan buah simalakama.  Firda mencoba bersikap bijak,  dengan merangkul mama sembari membentuk segaris senyum yang nyaris dia paksakan.

     ""Ma,  aku akan menikah, tapi bukan dengan Surya ...  mama jangan khawatir, aku hanya butuh do'a dari mama,  aku juga ingin menyempurnakan agamaku dan termasuk dalam golongan Nabi."

Hati Firda terkoyak,  ketegaran yang selamah ini dimilikinya ambruk seketika melihat keinginan mama yang begitu besar, ingin melihatnya segera menikah.  Jauh dalam lubuk hatinya Firda juga ingin sama seperti perempuan lain.  Firda juga ingin punya cinta!  tetapi sampai kini dia belum menemukannya. 

Cinta...  ya cinta,  dulu Firda memang punya teman dekat,  tetapi sekadar teman tapi mesra dan itu pun sudah sangat lama. Sejak duduk di bangku SMA dan setelah itu tidak ada lagi,  Firda hanya sibuk kuliah dan belajar kemudian menjadi dosen dan sibuk memberikan mata kuliah,  selebihnya dia tidak punya waktu memikirkan yang lain.  Tetapi itulah cinta,  Firda tidak mengerti,  sekian tahun melajang belum pernah benar-benar merasakan jatuh cinta yang menurut orang sangat mengasyikkan. Seperti pelangi di sore hari,  seperti debur ombak yang menyanyikan kerinduan para kelana yang mengarungi samudra,  berani membelah ganasnya lautan,  berani berlayar di tengah badai yang menderah,  bahkan berani mengorbankan jiwa dan raga buat kekasih hati.  Sungguh Indah! 

     Tetapi bagaimana dengan kisah kejamnya kekasih? yang mengoyak,  mencabik-cabik,  menghancurkan dan menitipkan lara seumur hidup,  seperti mama yang  dinggal kawin oleh papa bersama perempuan lain, menelantarkan anak-anaknya dan tidak pernah menjenguk apalagi menafkahi mereka,  padahal usia adik dan Firda pada saat itu masih balita, tetapi mama adalah perempuan tegar dan kuat. Dia mampu menjadi nakhoda, membawa anak-anaknya berlayar seorang diri di tengah himpitan ekonomi yang sulit,  mama berhasil mendidik dan menyekolahkan anak-anaknya sampai sarjana hingga menjadi dosen. Firda sering menyebut mama sebagai perempuan terhebat!

     Kemalangan dalam bercinta itulah yang Firda takutkan.  Kepedihan dan penderitaan mama yang membesarkan anak-anaknya seorang diri  membuat Firda sulit jatuh cinta! tetapi bukan berarti dia tidak bisa mencintai.  Takut jatuh cinta bukan berarti dia tidak ingin menikah.  Firda hanya ingin memantapkan keyakinannya  bahwa semua ada waktunya dan akan terjadi tepat pada waktunya sesuai dengan ketetapan sang Pencipta, dan pada saat itu Firda akan mengucapkan selamat pagi dunia. 

     Seperti pagi ini Firda bangun lebih cepat  dan perasaan lebih bugar,  niat ke kampus akan segera dia wujudkan,  materi kuliah pun sudah dia siapkan untuk mahasiswanya yang tentu akan menyambutnya ramah. Dosen cantik!  Firda tersenyum dalam hati setiap mendengar pujian itu, meskipun sudut hatinya yang lain mencibirnya. Cantik tapi tidak laku-laku!

     Firda menghembuskan nafas, menggoyangkan kaki seperti sedang mengayuh sepeda dengan kecepatan penuh. Senam kaki yang biasa dilakukannya setiap pagi sebelum bangkit dari tempat tidur, dan itu biasanya lebih memberinya semangat, seperti semangatnya para mahasiswanya saat dia memberikan mata kuliah.  Apalagi materi yang dia ajarkan adalah materi psikologi,  maka dia harus rela jika ada di antara mahasiswanya yang mau konsultasi soal pribadinya.  Meskipun ada yang hanya sekedar iseng agar bisa ngobrol dengannya.

     "Bu, anu ... apa aku bisa konsultasi lagi?"

Celutuk Adi salasatu mahasiswa Firda yang sering tiba-tiba menghadangnya di koridor kampus, sekadar bertanya yang tidak jelas maksudnya. 

     "konsultasi apalagi sih, Di,?"

Adi cowok jangkung dan berambut ikal dengan mata teduh itu tersenyum samar.

     "Anu, bu.... "

Adi menggaruk kepalanya yang tidak gatal seperti sedang memikirkan sesuatu membuat Firda geleng-geleng kepala, kemudian melanjutkan langkahnya, tetapi cowok jangkung itu justru mengejar langkahnya dan menghadang langkah Firda, hingga langkah dosen cantik itu terhenti. Sekarang jarak antara Firda dan Adi hanya berjarak satu langkah di depannya. 

      Firda terkesima dan kaget luar biasa, baru kali ini Adi seberani itu padanya. Biasanya cowok itu hanya akan berkata-kata seadanya, kemudian garuk kepala lalu menghilang begitu saja.  Seperti kemarin saat di ruang kuliah Adi konsultasi tentang dirinya yang setiap kali bertemu cewek dadanya berdegup kencang, berkeringat dingin dan tidak bisa berkata banyak di depannya.  Firda tersenyum geli mendengar curhatan Adi dan dia hanya menjelaskan bahwa mungkin Adi sedang jatuh cinta. 

     Dan kini ... ? Adi menghadangnya lagi dengan tingkah yang aneh, lucu dan mengundang tawa. Sekilas Firda melihat perubahan wajah Adi yang sering nampak konyol,  tetapi kini sangat serius sehingga garis rahannya yang tegas semakin nampak jelas. 

"Begini,  bu,  apa bersedia saya ajak makan malam ini di restoran?"

Bibir Firda mengerucut satu centi, mendengar kata-kata cowok jangkung itu dan sering membuatnya jengah dan di anggapanya aneh itu mengundangnya makan malam di restoran.

     "makan malam? dalam rangka apa, Di? "

     "Pokoknya, ibu tenang aja, Adi tidak akan macam-macam, oke? jam tujuh malam nanti di restoran Nusantara!"

Adi Berseruh, tampa menunggu persetujuan Firda dan bergegas pergi,

     "Tapi Adi...! "

Suara Firda menggantung, tubuh Adi sudah lenyap seketika di depannya bagai di terbangkan angin secara tiba-tiba. Firda merasa ada yang aneh dengan anak itu, satu bulan terakhir ini cowok jangkung bermata teduh itu sering menghadang langkahnya dan bertanya hal-hal yang membuat Firda tertawa sendiri jika mengingatnya. 

     Firda menarik nafas kemudian membuangnya pelan-pelan, dia mengulas senyum kecil. Ada segarit resah yang hilang jika Adi muncul dengan wajah polosnya, setidaknya bisa sedikit mengurangi keresahan hatinya. 

     Firda mulai resah, jam tujuh malam Adi mengundangnya makan di restoran Nusantara, jika dia tidak datang Adi pasti akan sangat kecewa, Firda bisa melihat kesungguhan Adi dari wajahnya. Tapi dia khan tidak berjanji untuk datang? lagi-lagi Firda menimbang, apakah akan di penuhinya undangan makan malam itu atau di abaikannya begitu saja.

     Akhirnya Firda memutuskan untuk pergi memenuhi undangan Adi,  setelah sempat mondar-mandir di dalam kamar, sesekali dia menatap jam dinding penuh gelisah.  Sampai di restoran Firda tidak langsung menampakkan diri, dia berdiri di sudut memperhatikan Adi yang sedang menunggunya. Firda terkesima melihat meja yang di pesan Adi sangat romantis, ditata sangat apik dan dihiasi lilin.  Dengan perasaan kaget Firda melangkah mendekati meja yang di pesan Adi,  suasana restoran nampak lengang,  musik klasik mengalun lembut.

       "Assalamualaikum,"

Ucapan salam Firda membuat Adi kaget,

     "waalaikummussalam. "

Adi berdiri menyambut Firda dengan gugup, cowok jangkung itu nampak sangat rapi dengan kemeja polos berwarna biru malam yang kharismatik. Firda hampir tidak percaya dengan penampilan Adi yang keren dan dewasa. 

     "Silahkan duduk. "

Adi melanjutkan kalimatnya sambil menarik kursi dari meja untuk Firda, tidak lama kemudian dua porsi makanan khas nasi goreng ayam sambal pedas kesukaan Firda datang di antar pelayan,  minuman jus lemon pun tidak luput dari pesanan Adi, semua siap tersaji.

     Hm...  Firda sudah sangat ngiler melihat nasi goreng ayam sambal pedas panas-panas di depannya. Dia sudah tidak sabar untuk segera menyantapnya, perutnya memang sudah minta diisi makan malam, dia merasa tidak perlu lagi bertanya dari mana Adi tahu makanan kesukaannya.  Dengan konyolnya pikiran Adi pun ngelantur, ternyata dosen cantik ini pun kalau lapar sama dengan gadis biasa. Adi tersenyum dalam hati.

     "Aduh, maaf Adi,  aku memang sudah sangat lapar."

Firda menghabiskan nasi goreng ayam sambal pedasnya dengan lahap,  setelah itu menyeruput perlahan-lapahan jus lemon di depannya.

     "Justru aku suka cara ibu makan, tambah cantik! "

Adi nyerocos membuat Firda merasa risih.  Firda melap bibirnya dengan tissu kemudian menatap Adi sekilas.

     "Aku sudah memenuhi undangan makan malammu,  jadi aku sudah boleh pulang, khan?  trimakasih Adi kamu sudah mentraktir aku,"

Melihat gelagat Firda yang hendak bangkit dari tempat duduknya, Adi mencegahnya dan mempersilahkannya duduk kembali dengan sopan.  Dosen cantik itu pun duduk kembali. 

"Begini,  bu, ada sesuatu yang ingin kubicarakan dengan ibu. "

Adi mulai gugup, keningnya berkerut, cowok jangkung itu seperti sedang berfikir keras.

     "Bicarala Adi,  aku akan dengarkan."

Dengan melipat santai kedua tangannya di atas meja, Firda memasang pendengarannya dengan baik,  berharap mahasiswanya itu segera mengatakan apa yang hendak dikatakannya.  Namun,  semua buyar,  Adi hanya cengar-cengir dan kehilangan kepercayaan diri hingga membiarkan Firda meninggalkan restoran dengan perasaan gundah. 

     Beberapa hari kemudian Adi kembali menghadang langkah Firda,

"bu,  apa ibu sudah punya pacar?"

Firda membekalakkan matanya, lancang sekali anak ini, bertanya soal pribadi.

     "kalau belum punya, kenapa?  mau pacaran dengan ibu? "

Firda sedikit kesal membuat Adi cengar-cengir.

     "Adi usia kamu sekarang berapa? "

     "Dua puluh tahun,  bu"

     "usia ibu sekarang hampir empat puluh tahun, aku ini pantasnya jadi ibu kamu,  bukan pacar! "

     Ditatapnya Adi dengan serius, sehingga keduanya saling menatap, menyelami perasaan masing-masing, namun sesaat karena cowok jangkung itu berani menarik tangan Firda ke sisi kampus agar tidak tetlihat oleh mahasiswa lain. 

"Bu, Nabi Muhammad Saw berusia dua puluh lima tahun dan bunda khadija empat puluh tahun ketika dua manusia pilihan itu menikah."

Irama jantung Firda mulai berdegup kencang mendengar penuturan Adi yang rasanya tidak sampai masuk di akal sehatnya. 

"Mereka manusia pilihan,  sedangkan,  kamu ....?"                                                                       

"Manusia biasa,  bu."       

Jawaban Adi memaksa Firda melepaskan tawa lepas yang tidak mampu ditahannya hingga memaksa bahunya terguncang.

Kesunyian hati dan kesenyapan perasaan yang kadang datang mengepakkan sayapnya di dalam hati berubah seketika jika berhapan dengan Adi,  bahkan tawa lepas itu menggema tidak ada amarah di dalamnya.

     "Sungguh,  bu,  aku sangat simpatik sama ibu sejak pertamakali bertemu di kampus ini, dan sejak saat itu aku menaruh harapan besar bahwa suatu hari nanti aku bisa berdekatan dengan ibu."

Adi memperlihatkan wajah yang lebih serius.

     "Maksud aku begini,  bu.... "

Kalimat Adi menggantung, seperti menyembunyikan sesuatu, Adi kembali menggaruk kepalanya yang tidak gatal kemudian melanjutkan kalimatnya.

     "Aku ingin mentraktir lagi makan malam di restoran yang sama dan jam yang sama. "

"Aku tidak ada waktu, "

"ples,  bu, Adi mohon sebentar malam. "

Firda bergumam lirih, kemudian melanjutkan langkah.  "Ada-ada saja. "

     Permintaan Adi membuat Firda kian bingung, apa maunya anak itu.  Apakah Adi jatuh cinta padanya? Bagaimana kalau Adi benar-benar jatuh cinta? Sebelum memutuskan menemui Adi di restoran itu dia mempertimbangkan segala hal yang bisa saja terjadi.

      Seperti biasa meja yang di pesan Adi sangat romantis, musik klasik mengalun merdu,  pelayan pun segera mengantarkan makanan yang di pesan bersama jus untuk melengkapi makan malam itu. Adi nampak gelisah,  sebentar-sebentar cowok jangkung itu menoleh ke kanan dan ke kiri  seperti sedang mencari seseorang.

     "Kamu kenapa,  Di? "

Firda menatap Adi penuh curiga.

     "Maaf,  bu, aku ke toilet dulu.:

Adi pun berlalu, menginggalkan Firda dengan setumpuk makanan yang tersaji di meja. Sebegitu canggungkah Adi menyatakan perasaannya kepada perempuan?  Suara hati Firda menggema,  dia seperti menikmati permainan Adi yang hendak mengusik ketenangan telaga  hatinya yang lama kosong di belenggu sepi.

     Firda mulai gelisah,  Adi belum juga ke luar dari toilet, dia mulai jengah dengan penantiannnya hingga tiba-tiba sebuah sebuah suara menyadarkannya. Mata indahnya sedikit terbuka lebar,  jatungnya berpacuh lebih cepat saat menyadari bahwa laki-laki yang kini duduk di kursi yang di tinggalkan Adi itu adalah seseorang yang selamah ini  begitu gigih berjuang, menawarkan berjuta mimpi tentang indahnya pernikahan. Mengajaknya merasakan rindu yang bergelora saat cinta itu beranjak sesaat,  menyugukan air dari telaga cinta yang bisa menghilangkan rasa haus yang selamah ini menderahnya.

     "Surya...?"

     "Firda....?"

Rasa kaget dan kecewa seketika menindihnya, dia geram,  namun sesaat. Dengan sudut matanya di perhatikannya wajah Surya yang nampak sangat fres,  kemeja kotak-kotak yang anggung menambah kegagahan Surya yang tidak bisa di sembunyikannya lewat segaris senyum yang diberikan untuk Firda sebelum mengucapkan salam. 

     "Assalamualaikum. "

"Waalaikummussalam. "

Dijawabnya salam itu dengan gugup.  "Apa maksud Adi dengan semua ini? "

Firda bergumam lirih, mata cantiknya sesaat mencari-cari Adi agar segera muncul.

     "Mencari Adi ya? aku suruh dia ke bengkel mengantar mobil untuk ganti olie. "

Surya menjelaskan santai, mengusir keresahan Firda.

     "Adi...?  maksudnya....?"

Surya memperbaiki posisi duduknya.

     "Begini,  sebenarnya Adi itu anakku Satu-satunya."

Pengakuan Surya menambah lara hatinya tentang sebuah kepercayaan yang baru saja hendak di raihnya, sehingga gerahannya saling menindih menahan gejolak emosi yang hendak meluap, untuk membuat dirinya tenang, dia berdiri hendak bangkit dari tempat duduknya, namun Surya berhasil mencegahnya.

     "Tunggu dulu,  Firda,"

"Jadi kamu memperalat anak sendiri untuk mencapai tujuan?"

  "Tidak,  Firda, kamu jangan salah faham! Aku juga tidak tahu kalau dosen yang sangat dia puja itu adalah kamu,  sungguh! "

"Jadi...? "

"Adi ingin sekali melihat ayahnya bahagia,  dia ingin aku segera menikah,  Adi sendiri yang punya inisiatif untuk menjodohkan aku dengan dosennya yang katanya sangat baik dan cantik dan aku pun setuju-setuju saja, tampa aku tahu kalau dosen yang telah menarik hati anakku itu adalah kamu Firda. "

Sekeika Firda dibalut kejut, sesaat dia tidak bisa berkata apa-apa.  Sikap Adi padanya yang di anggapanya sebagai keanehan itu ternyata diam-diam mengaguminya, tetapi bukan untuk dijadikannya sebagai pasangan, tetapi untuk ayahnya.  Lalu bagaimana dengan hati Firda sekarang?  Di susur hatinya yang paling jauh,  kedamaian itu tercipta manakala Adi datang menyapanya, walaupun sapaan itu hanya sekadar keisengan belaka. Sungguh!  Firda merasakan sesuatu yang lain.

"Firda,  aku benar-benar mencintaimu,  aku ingin bersamamu sampai akhir hidupku. "

Hati Firda yang mengeras bagai batu seperti ditetesi air dan menjelma sebuah kelunakan yang sulit dimengerti dirinya sendiri. Dalam kesenyapan jiwanya berkelebat wajah Surya yang memelas minta dikasihani,  wajah Adi yang polos dan tulus, terutama wajah mama yang sudah sekian lama ingin melihatnya segera menikah.  Hati Firda gerimis, betapa berdosanya dirinya jika keinginan mereka itu dia tolak hanya karena keegoisannya. 

     "Allah maha membolak-balikkan hati, sekarang aku bersedia menikah denganmu."

Di sudut restoran Adi menaikkan kedua jempolnya ke arah ayahnya dengan senyuman bahagia.

                                                                        

 

 

 

 

 

 

 

 

 

              

               

    

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

                 

            

            

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

                                                                                   I

 

 

 

 

 

 

 

 

     

     

Enjoyed this article? Stay informed by joining our newsletter!

Comments
Marista Putri Ayuningtyas - Mar 13, 2020, 12:29 AM - Add Reply

Ceritanya bagus kak 👍
Halo kak, saling follow sama baca cerita yuk :) https://www.instastori.com/penantian-di-bawah-derasnya-hujan-217

You must be logged in to post a comment.
Nurwahidah - Mar 14, 2020, 6:45 AM - Add Reply

Ok sayang

You must be logged in to post a comment.
Nurwahidah - Mar 14, 2020, 6:45 AM - Add Reply

Ok sayang

You must be logged in to post a comment.

You must be logged in to post a comment.

Stori terkait
Jul 8, 2020, 1:15 PM - Annisa mahmudah
Jul 6, 2020, 10:20 PM - Chocho_Yucho
Jul 3, 2020, 6:34 PM - Tjahjono widarmanto
Jul 3, 2020, 6:26 PM - Nnaga
Jul 3, 2020, 1:07 PM - Kristina Dai Laba
Jul 2, 2020, 2:25 PM - Mei Elisabet Sibarani