Profil instastories

Saat Terakhir ( ku lihat wajahmu)

Saat Terakhir ( ku lihat wajahmu)

Serasa terbebas dari dunia yang penuh dengan kepura-puraan layaknya panggung sandiwara, kini Reni, seorang gadis berusia 15 tahun yang selalu mengidam-idamkan kehidupan pesantren akhirnya bisa merasakannya. Ketenangan dalam pesantren yang sebelumnya tidak pernah ia rasakan dan keinginannya untuk menuntut ilmu di pondok pesantren kini bukanlah angan-angan lagi, karena telah menjadi kenyataan. Orangtuanya begitu bahagia saat Reni mengatakan pada mereka bahwa ia ingin melanjutkan pendidikannya di sekolah yang berada dibawah naungan pondok pesantren. Reni didaftarkan oleh ayahnya di pondok yang lokasinya masih berada di kota yang ia tempati. Tidak begitu jauh dari rumah, kira-kira 2 jam untuk perjalanan dari rumahnya jika menggunakan motor.

Lingkungan pesantren memang berbeda dengan tempat tinggal Reni. Tidak membutuhkan waktu lama bagi Reni untuk beradaptasi dan mendapatkan teman di pesantren tersebut.Di pesantren, Reni mendapatkan banyak teman yang bisa di ajaknya untuk belajar dan berdiskusi atau hanya sekedar teman ngobrol. Selain itu, Reni juga belajar banyak hal baru di pesantren tersebut, terutama tentang Islam. Di pesantren ia diajarkan untuk mandiri, menolong sesama dalam hal kebaikan, dan hal baik lainnya. Setelah beberapa bulan dipesantren orang tua Reni merasakan perubahan pada Reni, ia menjadi anak yang lebih baik dari sebelumnya. Seperti sekarang Reni lebih penurut dengan orang tuanya. Ayah dan Ibunya sangat bersyukur karena Reni terlihat senang tinggal di pesantren meski harus membuatnya jauh dari Ayah dan Ibunya. Ayah dan Ibu Reni tidak merasa khawatir atau takut, karena mereka telah mempercayakan anaknya pada tempat yang tepat. Di pesantren ada guru yang akan mengawasi dan mengajarkan ilmu agama pada Reni. Ayah dan Ibu Reni berharap Reni akan lebih baik, menjadi anak yang mandiri, dan sholihah. 

Suatu hari pada bulan ke empat Reni di pesantren, tiba-tiba dia merasa sangat rindu dengan Ibunya. Berhari-hari pikiran Reni hanya tertuju pada ibunya. Ia selalu teringat saat-saat bersama ibunya sebelum berangkat ke pesantren. Reni merasa sangat rindu dengan ibunya, bahkan setiap malam selepas kegiatan pesantren dia selalu melamun di tempat biasa dia berkumpul dengan teman-temannya. Selalu terlintas di pikirannya kalau sang Ibu akan pergi jauh meninggalkannya. Bahkan beberapa kali bayang ibunya yang terbungkus kain putih dan tidak lagi berdaya melintas dalam pikirannya. Entah apa yang membuat pikiran seperti itu muncul dalam pikirannya akhir-akhir ini.

Karena merasa sangat rindu dengan ibunya, Reni selalu meminta kepada Ayahnya untuk di bustelin (di jenguk) oleh ibunya di pesantren. Namun ada saja alasan dari sang Ayah kalau ibunya tidak bisa datang untuk membustelin nya di pesantren. Bahkan sampai satu bulan lebih permintaan Reni untuk di bustelin (di jenguk) oleh ibunya belum juga dipenuhi.  Perasaan Reni semakin tak karuan, ia khawatir dengan ibunya. Reni sangat ingin bertemu dengan sang Ibu. Rasa rindunya sudah tak mampu lagi ia tahan. Namun ia hanya mampu menangis dan berdoa agar Ibunya selalu dalam keadaan baik. Ayah Reni memang selalu memberi tahu Reni kalau ibunya baik-baik saja. Ayahnya tidak bisa membawa sang Ibu untuk membustelinya karena khawatir jika kondisi Ibunya akan drop jika menempuh perjalanan jauh dengan motor. Tapi Reni tetap saja mengkhawatirkan ibunya, mungkin ini yang dinamakan dengan ikatan bathin seorang anak dengan ibu. 

Sampai pada suatu hari di sekolah, Reni meminta kepada bapaknya untuk di jemput pulang, dia meminjam  ponsel milik temannya yang kebetulan anak kosan untuk menghubungi bapaknya.

“ Assalamu’alaikum ayah, nanti sore Reni pulang ya?” pesan Reni lewat sms.

“ Wa’alaikumussalam , iyaa Inshaa Allah nanti kalau Ayah tidak sibuk” balas ayahnya

“ Harus ya yah Reni kepengen pulang banget yahh”

“ Iyaa nanti ya”

Melihat jawaban dari Ayahnya yang belum pasti Reni pun berfikiran mau kabur dari pesantren kalau Ayahnya tidak bisa menjemput dia di pondok sore itu juga. Sepulang dari sekolah, Reni istirahat sebentar kemudian sholat ashar berjamaah dan kemudian berangkat al banat (sekolah madrasah sore). Saat pelajaran di kelas pun Reni tidak bisa tenang apalagi fokus, pikirannya di penuhi tentang ibunya, bagaimana kabar ibu, apakah ibu baik-baik saja saat ini, ibu sedang apa, berbagai pertanyaan terus melintas dipikiran Reni saat itu. dia sudah sangat merindukan ibunya, berharap sepulang dari madrasah nanti ada Ayahnya di depan pintu gerbang pondok untuk menjemputnya pulang ke rumah. 

Kringggggggg, Akhirnya bel pulang madrasah pun di bunyikan, Reni langsung bersiap-siap untuk pulang dan ketika selesai berdoa dia langsung bergegas keluar dari kelas dan menuju ke pintu gerbang peasantren berharap Ayahnya sudah sampai. Tapi Reni tidak lekas masuk kedalam begitu tahu kalau Ayahnya belum sampai di pesantren, ia tetap menunggu kedatangan Ayahnya. Namun nihil sampai setengah jam lebih ia menunggu, tidak ada tanda-tanda kedatangan sang Ayah. Berkali-kali ia mencoba menelfon Ayahnya, tapi tidak juga di angkat. Balasan dari Ayahnya pun tidak ada. Reni Berpikiran untuk kabur, namun itu sulit, karena masih banyak pengurus yang mengawasinya di depan. Reni hanya bisa menangis saat itu, tidak tahu apa yang harus di lakukannya lagi. Namun tidak lama kemudian dia melihat pakdhe nya yang kemudian menghampirinya 

“Reni langsung pulang yaa” Ujar pakde Reni

“I i i yaa pakde pulang langsung” ujar Reni gugup dan agak bingung karena sebelumnya pakdenya tidak pernah ke pesantren.

“iya sudah sekarang kamu beres-beres dulu, pakde mau langsung izin ke pengurus”

“iya pakde” ujar Reni kemudian langsung lari ke kamarnya untuk beres-beres baju yang mau diperlukannya.

Reni merasa sangat senang karena ada salah satu anggota keluarga yang menjempunya. Meski bukan Ayahnya. Karena sekarang baginya yang terpenting adalah dia bisa pulang dan bertemu ibunya.

Dalam perjalanan menuju ke rumah, Reni menulis beberapa harapannya pada secarik kertas.

>Ya Allah, semoga sampai dirumah nanti ibu menyambutku didepan rumah. nanti aku mau lari dan memeluk ibu. Setelah itu aku akan makan masakan ibu dengan ayah, adik, kakak, sama mbak.<

Sembari membayangkan, Reni menuliskan setiap harapan-harapannya itu dengan begitu senang dan semangat. 

Kurang lebih 2 jam perjalanan, tibalah Reni dan pamannya di desanya. Namun jalan yang dilewati berbeda dari jalan yang biasa Reni lewati saat pulang dari pesantren dengan Ayahnya. Reni merasa heran dan bingung namun ia tidak berani menanyakan apapun pada pakdenya, jadi ia tetap diam. Sampai di mushola yang lokasinya tidak jauh dari rumah, Reni melihat banyak orang berkerumunan di  sekitar rumahnya. Reni merasa bingung dan bertanya-tanya dalam hatinya, ada acara apa, apa ada pengajian? Pantas saja Ayah tidak bisa datang.

Saat mendekati rumahnya, Reni melihat bendera kuning berada persis didepan rumahnya. Saat itu juga tubuh Reni langsung lemas, Ia bertanya-tanya, “siapa yang meninggal, semoga bukan salah satu keluargaku. Tapi kenapa bendera kuning itu ada didepan rumahku”. Kemudian Reni turun dari mobil. Semua mata melihat kearahnya, dan saat itu juga Ayahnya langsung merangkulnya.

“Yang sabar, Allah lebih sayang Ibumu, Ibu sudah tidak merasakan sakit lagi. Ibumu sudah tenang. Doakan saja Ibu. Kamu boleh menangis, tapi jangan meratapi. Biarkan Ibumu tenang disana ” Ucap Ayahnya. 

Mendengar ucapan sang Ayah, jantungnya terasa berhenti berdetak, bola matanya berkaca-kaca. Air mata mengalir membasahi pipinya. Dengan berat Reni melangkahkan kaki menuju pintu rumahnya. Tiba didepan pintu, ia melihat tubuh seseorang telah terbungkus rapi oleh kain putih. Ia langsung mendekat pada jenazah yang ada didalam rumahnya untuk memastikan bahwa itu jenazah sang ibu. Karena meski telah diberitahu oleh sang Ayah, sebenarnya Reni masih belum percaya dan merasa bahwa saat itu ia sedang berada dalam mimpi. Ia mencubit tangannya sendiri dengan keras dan ternyata sakit. Reni memberanikan diri untuk membuka kain yang menutupi jenazah yang berada dihadapannya. Belum sempat membuka, tangannya langsung lemas dan terjatuh. Ia tidak berani dan tidak siap melihat kenyataan kalau jenazah tersebut adalah jenazah sang ibu. Lalu sang Ayah membukakan kain tersebut agar Reni bisa melihat wajah sang Ibu meskipun hanya sebentar. Reni tidak bisa memeluk atau mencium sang ibu, karena ia tahu kalau saat itu jenazah sudah dimandikan dan harus segera disholatkan. Setelah melihat wajah sang ibu, Reni langsung masuk ke dalam kamar. Ia menangis sejadi-jadinya. Beberapa saat kemudian, budenya memanggil Reni untuk ikut menyolatkan jenazah ibunya. Setelah selesai disholati, jenazah sang ibu pun langsung dimakamkan.

Dan itulah saat terakhir kalinya Reni dapat melihat wajah wanita yang sangat dicintainya setelah lama tidak bertemu.Bahkan untuk memeluknya pun tak bisa. Harapannya seakan musnah. Hanya doa yang mampu mengantarkan rasa rindunya pada sang Ibu. 

 

“Selamat jalan Ibu. Tuhan lebih sayang Ibu. Tuhan ingin Ibu bahagia. Baik-baik disana Ibu. Aku sayang Ibu.”

Enjoyed this article? Stay informed by joining our newsletter!

Comments

You must be logged in to post a comment.

Stori terkait
Jul 8, 2020, 1:15 PM - Annisa mahmudah
Jul 6, 2020, 10:20 PM - Chocho_Yucho
Jul 3, 2020, 6:34 PM - Tjahjono widarmanto
Jul 3, 2020, 6:26 PM - Nnaga
Jul 3, 2020, 1:07 PM - Kristina Dai Laba
Jul 2, 2020, 2:25 PM - Mei Elisabet Sibarani