Profil instastories

Salam kenal ^^ Ig : ananda_syafutri Twitter : ananda_syafutri

Romansa di SMA - Chapter 1

Namanya Yan, lahir di bulan Januari, tujuh belas tahun yang lalu. Cowok berbadan jangkung ini memiliki nama lengkap Yanuar, namun Ia lebih akrab disapa Yan. Saat ini, Yan masih kelas XI SMA dan menduduki jabatan sebagai ketua kelas sekaligus ketua OSIS di sekolah yang membuat Yan cukup terbilang populer di kalangan siswa-siswi.

 

Ditambah dengan kepintarannya dalam akademis serta didukung wajahnya yang masuk dalam kategori tampan seseantoro sekolah, mampu membuat cewek-cewek satu sekolah terkagum-kagum, bahkan ada sebagian dari cewek-cewek itu yang naksir Yan secara diam-diam maupun terang-terangan.

 

Kalo yang naksir secara diam-diam, kayaknya udah biasa deh ya. Nah, kalo yang naksir secara terang-terangan gimana tuh? Kayaknya di sekolah ini cuma Salsa deh yang seberani itu.

 

Cewek cantik, putih, tinggi semampai bak model, bersih, dan harum mewangi sepanjang hari itulah yang bernama Salsa. Setiap pembagian rapor, Ia selalu masuk dalam peringkat 15 besar.

 

Orangnya tergolong pintar sih, meskipun gak pintar-pintar amat. Selain itu, kelebihan yang membuat Ia ditaksir banyak cowok di sekolah ialah dia jago masak. Nih cewek emang nyaris perfect dan jadi idaman oleh sebagian cowok satu sekolahan, kecuali Yan. Padahal lumayan banyak sih cowok yang naksir dia, Hanya saja hatinya udah mentok banget sama Yan, jadi gak bisa diganggu gugat lagi.

 

Ngomong-ngomong soal Yan, kok bisa sih dia gak tertarik sama cewek yang bernama Salsa itu? Alasan utamanya adalah Yan udah terlanjur ilfeel. Kenapa bisa ilfeel? Karena Salsa tuh terlalu agresif dalam mendekati dan mencari perhatian Yan. Kemana Yan pergi, dia selalu mencari cara untuk bisa terus ada di dekat Yan. Semua itu Salsa lakukan atas nama cinta, dan hal tersebut sudah berlangsung sejak mereka kelas X SMA.

 

Yan yang udah jomblo sejak embrio, bukannya senang karena Salsa sebegitu besarnya menyukai dia, malah Ia merasa risih sekaligus ilfeel dengan sifat Salsa yang seperti itu. Tapi emang dasar Salsa bermuka tembok dan mungkin urat malunya udah pada putus, Dia dengan pedenya aja tetap berusaha merebut perhatian Yan meskipun udah berkali-kali ditolak. Apakah ini yang dinamakan dengan semangat yang membara dan pantang menyerah sebelum lelah? Entahlah.

 

Oh ya, ada satu cewek lagi nih yang selalu ada di dekat Yan, tapi Yan gak pernah merasa risih dan ilfeel. Kok bisa sih? Ya bisa lah, karena mereka berdua udah sahabatan sejak kecil.

 

Nama cewek itu cukup singkat, padat dan jelas, hanya terdiri dari tiga huruf, yakni; M.E.I. Ya, nama cewek itu adalah Mei. Tak seperti sahabatnya yang terbilang populer, Mei hanya tergolong sebagai murid biasa dengan kemampuan akademis yang juga biasa-biasa saja. Pokoknya Ia tak terkenal dan sangat bertolak belakang dengan Yan yang terbilang populer di sekolah.

 

Pagi itu, sekolah sudah cukup ramai. Yan dan Mei baru saja menginjakkan kaki mereka di koridor sekolah untuk menuju kelas mereka, XI Ipa-2. Mereka memang terbiasa pergi dan pulang sekolah bersama, karena selain sahabatan, rumah mereka tetanggan serta berdampingan dalam satu kompleks.

 

Hari ini adalah awal semester genap mereka di kelas XI. Tak terasa, tinggal enam bulan lagi mereka menuju kelas XII.

 

"Hhhhh...." Yan tampak menghela napas berat saat mereka menuju ke kelas. Mei yang mendengarnya tampak terheran-heran.

 

"Kenapa lo?" Tanya Mei.

 

"Gak pa-pa," jawab Yan tampak tak bersemangat.

 

"Udah kayak cewek aja lo, ditanya 'kenapa' jawabnya 'gak pa-pa'," sindir Mei.

 

Yan langsung mendelik tak suka, merasa tak terima karena di mirip-miripin sama cewek.

 

"Kenapa sih?" Mei bertanya lagi.

 

"Hhh ... gue males banget ketemu Salsa. Pasti nih, begitu gue nyampe ke kelas, pasti dia langsung nyamperin gue. Tuh cewek apa gak capek ya begitu terus selama satu tahun setengah ini? Udah jelas-jelas ditolak, masih aja berusaha deketin gue." Yan mengeluarkan keluhan yang memenuhi pikirannya sejak tiba di sekolah tadi.

 

"Itu tandanya dia orang yang pantang menyerah. Cewek kayak Salsa itu langka banget loh, Yan. Lo yakin gak tertarik setelah ngeliat usaha dia selama ini?"

 

"Boro-boro tertarik, yang ada malah ilfeel gue." Yan langsung bergidik ngeri.

 

"Hahahah ... jangan sampai lo nyesal loh, Yan." Mei mengingatkan di sela-sela tawanya.

 

"Nyesal kenapa?" Tanya Yan bingung.

 

"Karena udah menyia-nyiakan Salsa. Soalnya nih ya, orang yang udah berjuang mati-matian, pasti ada rasa lelahnya juga kalo usahanya sama sekali gak dihargai. Kalo rasa lelah itu udah datang, dia bakal nyerah sama lo," jelas Mei.

 

"Bagus dong kalo dia nyerah, gue malah bersyukur. Bahkan gue selalu menunggu saat-saat dimana Salsa merasa capek mengejar gue. Jujur aja, gue risih banget sama 'keagresifannya' itu." Yan berujar dengan menggebu-gebu.

 

"Terserah lo deh, Yan." Mei yang sudah malas meladeni Yan akhirnya memilih diam.

 

Hingga tibalah mereka di kelas XI Ipa-2. Benar saja, tampaklah seorang siswi cantik sedang berdiri sambil bersandar di pintu kelas dengan kedua tangan memegang sebuah kotak bekal. Siswi itu tak lain tak bukan adalah Salsa. Saat melihat Yan sudah ada dihadapannya, senyum Salsa langsung merekah dan wajahnya langsung berubah cerah.

 

"Selamat pagi, Yan," sapa Salsa dengan tersenyum lebar.

 

Yan yang sudah menebak bahwa Salsa akan menunggunya pagi itu hanya berlalu melewati Salsa tanpa ekspresi. Mendapat sapaan seperti itu dari orang yang sama setiap harinya seperti sudah menjadi makanan sehari-hari bagi Yan.

 

Salsa yang terang-terangan dicuekin Yan, masih aja memasang senyum lebar dan menghampiri Yan yang sudah duduk di bangkunya. Emang dasar Salsa, udah dianggap bagai makhluk tak kasat mata begitu, tetap aja dia pantang menyerah.

 

"Yan, ini gue ada buatin nasi goreng buat lo." Salsa tersenyum sembari memberikan bekal yang Ia bawa-bawa daritadi.

 

"Gak perlu, gue udah sarapan," tolak Yan.

 

"Buat makan siang lo aja gimana, Yan." Salsa menyodorkan bekalnya lagi, namun tetap saja Yan tak ada niatan untuk mengambil bekal itu.

 

"Gak usah. Gue mau makan makanan kantin aja ntar."

 

"Kalo gitu, buat makan lo dirumah." Salsa tetap keukeuh.

 

"Gue rasa gak perlu juga. Gue lebih suka makan masakan nyokap gue," tolak Yan lagi.

 

"Buat kucing lo aja gimana?" Salsa yang tampak kesal dan hampir menyerah karena masakannya ditolak terus, masih saja tak kehabisan akal. Saking sukanya pada Yan, Ia bahkan tahu kalo cowok itu melihara kucing di rumah, yang diberi nama Febri.

 

Teman-teman sekelas mereka yang diam-diam mencuri dengar percakapan dua orang yang tak pernah bersatu itu sedikit syok saat Salsa meminta Yan untuk memberikan hasil masakannya pada kucing. Emang absurd banget pemikiran Salsa, gak bisa ditebak.

 

"Kucing gue gak suka nasi goreng." Tampaknya Yan juga tak kehabisan akal untuk tetap menolak Salsa.

 

"Kalo gitu buat.... " Salsa tampak berpikir. Sepertinya, kali ini Ia sudah kehabisan akal. Terlihat saat Ia menekukkan wajahnya dan kembali ke tempat duduknya. Ia menyerah. Menyerah untuk pagi ini saja. Dengan wajah masam, Ia membuka bekalnya dan memakannya sendiri.

 

"Gue gak akan pernah nyerah buat menangin hati lo, Yan," tekad Salsa dengan suara pelan pada dirinya sendiri.

 

"Yah ... malah dimakan sendiri. Andaikan lo terima tadi, gue mau kok makan nasi goreng itu. Masakannya Salsa kan enak banget, gue pernah icip dikit waktu lomba Agustus-an tahun kemarin," keluh Mei pelan sambil melihat Salsa yang tampak menikmati makanannya.

 

Yan yang mendengar keluhan Mei yang sudah berdiri di samping mejanya, langsung saja menyela, "ogah gue nerima pemberian dia. Kalo lo mau, lo aja sana minta sendiri."

 

"Kan lo yang dikasih, gak mungkin dong gue minta. Malu-maluin," protes Mei tak terima dengan saran Yan.

 

"Nah, itu lo tau. Malu-maluin, kan?" Ejek Yan.

 

Mei yang diejek sahabatnya itu hanya mengerucutkan bibirnya sebal.

 

"Kalo lo bukan anak tunggal, pasti dia bakal bikin alasan buat ngasih nasi goreng itu ke kakak atau adik lo. Sayangnya, lo anak tunggal dan gue benar-benar gak kepikiran kalo Salsa bakal minta lo ngasih hasil masakannya itu ke kucing lo. Absurd banget, kok dia gak kepikiran sih buat nyuruh lo ngasih nasi goreng itu ke gue aja? Kan kita sahabatan, apa dia gak ingat sama gue ya?" Mei masih saja mengeluh.

 

"Ya mana gue tau. Lo gak kasat mata kali," jawab Yan asal.

 

"Lo pikir gue hantu?" Tanya Mei mencoba memastikan.

 

Yan hanya mengedikkan bahunya, enggan menjawab.

 

Mei tampak memutar bola matanya malas, "Tau ah. Males gue ngomong sama lo, bikin emosi jiwa." Mei langsung berlalu dari hadapan Yan untuk kembali ke tempat duduknya dan bergabung bersama teman-temannya yang lain.

 

Yan yang melihat Mei kesal hanya tersenyum samar. Mereka berdua memang kerap berselisih, namun hal itu tak membuat persahabatan mereka retak. Sebentar saja, pasti mereka akan berbaikan kembali seperti tak pernah ada perselisihan sebelumnya.

 

Yan melihat ke bangku kosong di sebelahnya. Teman sebangkunya belum datang, padahal sebentar lagi bel akan berbunyi. Saat akan mengalihkan pandangan, tak sengaja matanya melihat ke arah Salsa yang masih menikmati makanannya yang tinggal tersisa sedikit. Hanya sebentar, setelah itu Yan langsung mengalihkan pandangannya ke arah papan tulis dan lagi-lagi Ia menghela napas dengan berat.

***

Wattpad : asyafutri

KBM App : ananda_syafutri

Enjoyed this article? Stay informed by joining our newsletter!

Comments

You must be logged in to post a comment.