Profil instastories

ROHANTU

Seperti biasanya, aku pergi mengajar di salah satu sekolah yayasan. Mulai dari Taman Kanak-kanak sampai dengan Sekolah menengah atas. Kebetulan aku mengajar di sekolah dasar, kelas 4-A. Sebelumnya aku mengajar di kelas dua dan lima, khusus bahasa Inggris. Namun tahun ini dipindah dan menjadi guru wali kelas.

 

Saat turun dari angkutan umum menuju gerbang sekolah itu, sebenarnya ada semacam kejanggalan. Bangunannya tak berlantai dua. Masih tetap besar dan aku mengenali bangunan ini, tapi sayang sekali sepertinya ini bukan sekolah tempat mengajar. Namun, kuyakin punya ikatan dengan sekolah besar ini.

 

“Selamat pagi, Pak.”

 

Salamku direspons oleh satpam dengan anggukan kepalanya. Keningku mengerut. Menjawab salam hukumnya wajib di sekolah ini. Apa karena satpam baru, ia tak mengetahui hal sederhana seperti ini? Meskipun tidak tahu, setidaknya, ia menjawab salam dengan alasan kesopanan, bukan?

 

Tak mau memikirkan terlalu lama, aku melangkah memasuki halaman sekolah yang luas. Bendera setengah tiang tersaji di pandangan mata. Sekolah ini sunyi. Cuaca mendung, mungkin itu yang membuat banyak warga sekolah belum berdatangan.

 

“Ibuk!!”

Suara khas gadis kecil menyapa pendengaran, dan aku yakin mengenali suaranya. Mungkin suara Mili, salah satu siswi yang suka menggodaku dengan pujian berlebihannya. Dia memang sering menyambutku, dan mencium tangan gurunya ini sambil melontarkan kalimat yang terdengar ... gombal.

 

Ketika aku membalikkan badan, bukan Mili yang kutemui. Sosok itu ... aku sangat mengenalnya! Namun, bagaimana mungkin dia ada di sini? Bukankah sudah ada aku? Lagi pula, bukankah ini sudah tahun 2020? Apakah ini mimpi? Namun, kenapa rasanya nyata?

 

Kuberanikan bertanya padanya, “Anda ... memanggilku?”

 

Mungkin akan terasa gila jika menggunakan sapaan 'Anda' pada anak di depanku.

 

Dia mengangguk antusias.

 

“Ke-ke-kenapa?”

 

Yaa Khaliq! Bisa-bisanya aku tergagap. Sialnya, dia yang di depanku ini malah menyeringai.

 

“Karena Anda adalah saya. Halo, Ibu Himeka Mahirani ... apa kabar?”

 

Aku ingin bangun! Mimpi ini terasa sangat nyata.

 

Kuakui ... diri ini mulai takut. Bahkan ayat suci saja tak mampu kusuarakan bahkan di dalam hati.

 

“Teteh!” seruku tertahan.

 

“Dulu, ibu memanggil saya dengan ... ‘Anakku Sayang’, anak dan ibu memang mirip, kan?”

 

Yaa Malikul Kuddus! Sekarang aku baru ingat dia. Si jago dalam memanipulasi rupa.

 

“Kenapa kau datang, Popi?!”

 

Aku mundur selangkah, dia maju dua langkah. Hingga jarak kami hanya sebatas jengkal tangan, ia baru menjawab pertanyaanku.

 

“Aku rindu. Kesepian sejak ayahmu menguburku di belakang rumah lama kalian. Himeka, tidak kau lihat kalau kita ini mirip? Kita satu jiwa, Bu. Saya dan Anda adalah satu.”

 

Sapaan menyebalkan. Sebentar pakai 'Anda' dan 'saya', sekejap pakai ‘kau' dan ‘aku’ dan berganti lagi. Kadang memanggil namaku dan kadang 'Bu’.

 

“Jangan gila kau, Popi! Beraninya kau mengambil rupa masa kecilku untuk menakut-nakutiku! Aku tidak pernah takut lagi padamu dan kaummu!”

 

“Ibuku galak sekali. Popi takut. Dulu bahkan kita tidur dan mandi bersama. Kita juga jalan-jalan ke rumah teman-temanku. Aku menjagamu, Bu. Tapi ayahmu yang sok suci itu malah menguburku dan memagariku! Teganya dia memisahkan kita, Bu.”

 

“Papa melindungiku!” 

 

Dia tertawa sarkas. Terdengar mengerikan di telinga. Kemudian dia menangis, meraung dan menuding aku jahat dan tak menyayanginya. Aku semakin takut. Suasana di sana semakin sunyi dan gelap karena mendung. Kurasa sebentar lagi hujan.

 

“Peluk anakmu ini, Bu!” pintanya lembut, ada nada pilu terselip di sana. “Aku merindukan ibu. Peluk, Bu.”

 

Kakiku lebih cepat bekerja, mundur darinya lebih baik daripada dipeluk seorang momok.

 

Dia tertawa, mencoba menakuti. Sejujurnya memang aku ketakutan, tapi ayah selalu berpesan bahwa manusia jauh lebih kuat dari makhluk apa pun.

 

Sayup-sayup kudengar ada yang memanggil.

 

“Teh ... Teteh! Bangun, Nak!”

 

Gelagapan. Aku membuka mata. Ternyata kini, aku sedang berbaring di atas tempat tidur. Mimpi!

 

Aku memang yakin kalau itu hanya mimpi belaka, meski memang terasa seperti nyata.

 

“Keringetan gitu. Mimpi apa?”

 

Papa! Apa aku sedang di rumah ayahku?

 

“Popi,” jawabku.

 

Kulihat wajah ayah memerah. Matanya menyiratkan kebencian luar biasa. Ayah memang sempat terpukul atas hilangnya aku akibat Popi dulu. Ayah-lah yang mencariku hingga aku ditemukan di bawah kolong tempat tidurnya.

 

Beliau memelukku. “Mugkin, dia rindu.”

 

“Dia memang bilang gitu, Pa.”

 

“Akhirnya, aku bisa dipeluk ibu!”

 

Astaghfirullah!!!

 

Aku kembali terbangun. Dengan keringat bercucuran. Kali ini aku terbangun di tempat tidurku yang biasa. Di rumah bunda.

 

Mimpi di dalam mimpi. Aneh sekaligus menguras tenaga dan membuatku takut. Kulirik jam dinding, pukul tiga pagi.

 

Selalu jam segini. Sejujurnya sudah sepekan aku bermimpi hal serupa. Didatangi Popi. Malam biasanya dia hanya datang sekilas, tentu dengan wadahnya yang berwujud boneka perempuan cantik. Sementara malam ini adalah puncaknya.

 

Masih terngiang sampai sekarang ketika aku hampir gila karena 'gangguan itu'. Beliau selalu bersamaku dan senantiasa menguatkanku. Berkata bahwa sang Maha Esa adalah maha di atas maha, maha segala maha yang memiliki sembilan puluh sembilan sifat. Ah, rasanya aku ingin mengunjungi ayah sepulang dari sekolah nanti.

 

Aku pulang begitu sore karena ada acara di salah satu rumah rekan sesama pengajar. Kemacetan membuat perjalanan ke rumah ayah semakin sore, mendekati maghrib.

 

Katanya, rumah Karo yang sudah lama kosong itu banyak penunggunya. Setiap maghrib, dia akan menampakkan diri.

 

Di dalam angkutan kota, berharap akan ada ayah atau saudara sepupuku yang akan menjemput di depan gang. Tanah kosong pak Karo memang berjarak lumayan dekat dari depan gang.

 

Kediaman ayah memang di kota, ramai. Akan tetapi, anehnya, di sekitaran tanah pak Karo kerap sunyi. Akan ada keramaian jika sudah berada di rumah pak Jamal. Lima rumah dari rumah laki-laki yang mengadirkanku ke dunia ke kiri dan sebelas rumah dari tanah pak Karo ke kanan.

 

Tanah itu memang dari dulu sudah dikeramatkan. Dilarang melintas saat maghrib dan tengah malam. Orang bodoh mana yang mau melakukan hal itu kecuali orang gila dan mungkin ingin menguji nyali?

 

Apesnya, aku akan berada pada posisi itu. Orang gila yang bodoh tetapi bukan ingin menguji nyali. Turun dari angkot, aku berdoa sambil memejamkan mata. Tak seorangpun ada di gang. Sepi, karena azan maghrib sudah berkumandang beberapa saat lalu.

 

Yang ada di benakku adalah takut. Inilah ketidakyakinanku. Membaca doa, tapi aku tidak yakin pada doa itu sendiri. Dan, itulah kesalahan fatal seorang hamba.

 

Menghela napas saat sudah kubuka mata. Merutuki diri sendiri tatkala kulihat anak perempuan cantik yang kukenal wajahnya berjalan ke arahku dari lawan arah, dia mirip denganku. Sesungguhnya aku telah menghina Tuhanku dengan berprasangka buruk pada-Nya. Kini, aku ditampar dengan pengabulan doa.

 

Aku berdoa semoga ada anggota keluarga atau seseorang yang kukenali untuk mengantarku selamat sampai rumah.

 

"Ayo, Teh! Opy sengaja jemput biar kita sama-sama ke rumah!" kata anak perempuan usia tujuh tahun tersebut padaku. Dia berhenti tepat di tanah kosong.

 

Ragu-ragu aku berjalan, walau ada perasaan merinding. Khawatir mengapa dia malah berhenti di sana, lagi pula mengapa dia tidak pergi mengaji? Biasanya setiap Maghrib anak-anak pergi ke Masjid untuk mengaji, kan?

 

Sepertinya Opy adalah orang yang paling percaya bahwa makhluk paling hina itu tak mungkin dapat menyakiti manusia yang pemberani.

 

Meski demikian, pertanyaan itu kubiarkan mengambang, sebaliknya bersyukur karena adanya Opy. Kuucap salam padanya, kebiasaan sesama muslim jika bertemu. Lantas, ia menjawab salamku.

 

Ketakutan di diri ini sirna. Karena, tak mungkin makhluk lain dapat menjawab salam, 'kan?

 

Kami berjalan dalam diam. Dia berada di belakangku.

 

"Ibu harum," katanya padaku.

 

Aku tak suka, dan memilih diam tak menanggapi. Semua tahu kalau aku tidak mungkin memakai parfum. Lalu, kenapa dia jadi memanggil ibu dan bukan teteh seperti tadi? Namanya! Ah namanya pun seperti ... ah tidak! Hanya perasaanku saja.

 

"Lagi mens ya?" tanyanya lagi.

 

Apa bau darahku tercium? Jangan-jangan memang tembus. Terlebih dia ada di belakang, pasti bisa tahu. Apa jelas terlihat, padahal aku pakai rok warna gelap? Tunggu!

 

Aku tertawa pelan, canggung. Langkah kaki juga kupercepat.

 

"Hati-hati loh, tadi banyak tuh yang mau nyerbu. Tapi, gak apa-apa, ada Opy yang jagain Ibu."

 

Aku tidak bodoh untuk memahami kalimat itu. Tubuhku menegang. Bulu kudukku serempak berdiri. Aku curiga! Dadaku berdegup kencang, bertanya-tanya dalam hati. Namun, belum sempat aku mengambil langkah cepat, dia sudah ada di depanku. Senyumnya mengembang, membuat tubuhku semakin gemetaran. 

 

"Opy bukan hantu kok. Ngapain Teteh takut?" 

 

Aku harap, ini hanya mimpi, dan jika ini mimpi, aku ingin segera terbangun. Karena kini, aku digandeng oleh dua orang Opy. Seperti yang sudah-sudah, bukankah aku hanya bermimpi? Namun, mengapa ini terasa begitu nyata?

 

“Ayo, Bu! Ikut aku!” katanya dengan suara keras dan tangannya pun mencengkeramku kuat sekali, sangat sakit. Setelah itu, aku tak ingat apa pun lagi, tak sadarkan diri, mungkin.

 

Akan tetapi setelah itu, tak ada lagi yang berbicara kepadaku. Ayahku, ibuku, tak pernah menyahut atau menanggapi jika aku bicara. Mereka malah selalu memandangi fotoku dan menangis. Padahal aku bersama mereka. Kadang aku di rumah ayah, kadang juga di rumah ibu.

Enjoyed this article? Stay informed by joining our newsletter!

Comments

You must be logged in to post a comment.

Stori terkait
Jul 8, 2020, 1:15 PM - Annisa mahmudah
Jul 6, 2020, 10:20 PM - Chocho_Yucho
Jul 3, 2020, 6:34 PM - Tjahjono widarmanto
Jul 3, 2020, 6:26 PM - Nnaga
Jul 3, 2020, 1:07 PM - Kristina Dai Laba
Jul 2, 2020, 2:25 PM - Mei Elisabet Sibarani