Profil instastories

Rembulan

Cinta, semua orang tahu cinta. Cinta adalah sayang. Cinta adalah suka. Cinta adalah rindu. Begitu banyak definisi cinta hingga membuat orang selalu mendambakannya. Seperti halnya aku yang selalu mendambakannya, menunggunya, dan mengharapkannya. Bagiku Cinta adalah 'kamu' yang mampu membuat hatiku terang, tenang, dan tentram. Siapakah 'kamu'? Entahlah aku masih menunggu dalam sendu. 

"Hey...!"

"Astagfirullah ... Sekar ... kamu mengagetkanku."

"Habisnya kamu bengong saja, lagi melamun apa hayooo..."

"Ah, tidak ngelamunin apa-apa kok."

"Hahaha ... aku tahu kamu Dinda ... kamu pasti sedang mikirin dosen ganteng itu kan?"

"Tidak Sekar, dia tidak mungkin mencintaiku."

"Hmmm ... ya sudahlah."

Cinta memang unik, bertemu saja aku bahagia. Melihat senyummu saja aku terkesima. Apalagi mampu memilikimu. Sudahlah Dinda ... dosen ganteng itu tidak mungkin jadi milikmu, dia banyak yang suka, mereka lebih cantik dari kamu, lebih kaya dari kamu, dan  lebih pandai dari kamu.

Berharap pada manusia memang menyakitkan. Bagai dihantam ribuan pedang. Kali ini aku pasrah, entah siapa yang akan menjadi pendamping hidupku, semoga saja dia adalah pilihan terbaik dari Tuhan untukku. Aku harus yakin seyakin-yakinnya bahwa Dia sedang mempersiapkan jodoh terbaik untuk hidupku.

Alhamdulillah ... nilai ujian semester kali dapat nilai A semua. Tidak sia-sia aku belajar menghabiskan berpuluh-puluh buku. Semoga kabar baik ini membuat kedua orang tuaku bahagia. Orang tuaku memang selalu berharap anaknya bisa berprestasi di berbagai bidang, termasuk nilai ujian dari mulai SD sampai kuliah selalu dipertanyakan. Jika nilaiku kecil atau di bawah standar, langsung dapat hukuman tidak diberi uang jajan. Sadis kan? Ah sudahlah mungkin itu cara mereka mendidikku, ya aku terima saja.

Ujian semester telah usai, itu tandanya libur panjang sudah di depan mata dan  bisa segera mudik. Aku adalah seorang mahasiswi kebidanan di salah satu kampus yang berada di Ciamis. Rumahku berada di Bandung, sedangkan di Ciamis aku tinggal di rumah kos yang berada di sekitar kampus tempat aku kuliah. 

Saatnya bersiap-siap untuk mudik ke Bandung, kupilah barang-barang yang akan di bawa pulang. Dari mulai pakaian, perlengkapan make up, perlengkapan mandi, dan laptop. Tidak lupa pula ku siapkan oleh-oleh untuk mamah papah, oleh-oleh yang aku bawa adalah tahu bulat khas Ciamis. Orang tuaku sangat menyukainya, begitupun dengan aku. Karena tahu bulat khas Ciamis rasanya gurih dan bertekstur lembut.

Singkat cerita, aku sudah berada di rumah yaitu di Bandung. Aku begitu semangat akan mengabarkan prestasi akademikku kepada kedua orang tuaku. 

"Mah, Pah ... aku punya kabar bahagia nih.(dengan sumringah aku bicara)

"Kabar bahagia apa? Ada yang mau melamarmu?" (Mamah memotong pembicaraan)

"Dengarkan dulu Mah, kan Dinda belum selesai bicara." (Dengan bijak papah bicara)

"Habisnya mamah udah tidak sabar pengen gendong cucu, Pah ... masa sampai saat ini Dinda belum punya pacar, kan sudah mau lulus kuliah, mamah juga sudah semakin tua, sudah sering sakit-sakitan. Bagaimana kalau mamah meninggal sebelum Dinda menikah? Kan mamah mau lihat Dinda punya pendamping hidup dulu."

"Sudah, sudah Mah, kasihan Dinda tuh mau bicara tidak jadi terus, kalau sudah waktunya, Dinda pasti menikah denga jodoh terbaiknya, ayo Dinda ceritakan sama mamah dan papah, kabar bahagia apa yang ingin kamu sampaikan?"

"Iya ah mamah ini jangan terlalu khawatir sama Dinda, tenang ... nanti kalau sudah lulus kuliah pasti nikah kok, meskipun sampai saat ini belum terlihat calon jodohnya hehehe. Kabar bahagia yang akan Dinda sampaikan itu adalah tentang nilai ujian semester Dinda, Alhamdulillah Pah, Mah, nilai ujian Dinda dapat nilai sempurna yaitu A semua."

"Masya Allah anak papah pandai sekali, selamat ya sayang, mau hadiah apa nih dari papah?"

"Ah, tidak usah Pah, aku tidak ingin hadiah apa-apa, dengan pencapaian nilai ujian sempurnapun aku sangat bahagia Pah."

"Selamat ya, ditunggu calon mantu buat mamah!" (Ujar mamah dengan wajah juteknya)

"Makasih Mah, Insya Allah kalau sudah waktunya, calon mantu mamah aku bawa ke sini."

Begitulah mamahku, ia memang mendesakku untuk segera menikah. Karena memang ia sering sakit-sakitan hingga merasa takut segera meninggalkanku seorang diri tanpa pendamping hidup. Ia pernah berkata, seandainya aku sudah menikah itu artinya sudah ada yang menyayangiku seperti sayangnya mamah terhadapku. Sedih memang, tapi gimana ya, jodoh memang tak bisa ditebak, entah siapa yang akan jadi jodohku. Si A, Si B , Si C atau mungkin orang yang saat ini belum aku kenal sama sekali. Itu rahasia Allah. Manusia hanya mampu berusaha dan berdoa saja. Masalah takdir, hanya Allah yang menentukan. Sabar ya mah, suatu saat akan ada calon mantu yang datang menjemput bidadarimu ke rumah. Aku sendiri memang memilih untuk tidak pacaran, hal itu yang membuat orang tuaku khawatir, karena kebanyakan orang punya pacar sedangkan aku tidak. Orang tuaku memang tidak begitu mengenal islam, bahwa sebetulnya dalam islam tidak diperbolehkan pacaran, jadi mereka selalu khawatir jika aku tidak punya pacar. Aku sering dipertanyakan terutama oleh mamah, apakah aku ini tidak laku? Atau tidak punya rasa terhadap laki-laki? karena sampai saat ini belum punya pacar. Sebenarnya ini bukan masalah laku atau tidak laku, apalagi sampai tidak punya rasa terhadap laki-laki, tapi ini masalah prinsip. Bagiku punya  pacar itu haya sebatas melampiaskan nafsu yang belum seharusnya, berkata sayang yang hanya meracuni hati, merindu yang hanya merusak jiwa, itu sungguh menyakitkan. Aku hanya ingin merindu, dan mencinta hanya kepada 'kamu' yang halal bagiku. Di sini aku selalu menunggumu wahai 'kamu'  yang masih menjadi rahasia Tuhan.

Cling..cling...(suara SMS masuk) 

"Wah, jangan-jangan itu jodohku."

"Ternyata..."

Coba kalian tebak SMS dari siapa? Mau tahu?

SMS itu dari sahabat karibku. Dia adalah Nayla, sahabat di kos-kossan, di organisasi, dan di segala cuaca. Isi SMSnya itu adalah...

"Dinda, ada yang mau ta'aruf nih sama kamu."

Masya Allah apakah itu calon jodohku? Tenang dulu tenang, aku balas dulu ya pemirsa.

"Siapa Nay? Dia kenal aku?"

"Kanda namanya, serasi kan namanya sama kamu, Dinda Kanda, ciee, cieee."

"Kanda? Sepertinya pernah tahu Nay."

"Iya kamu tahu, itu loh teman aku yang datang ke kampus kita waktu ngantar seragam organisasi buat aku."

"Baiklah, aku pikir-pikir dulu ya."

"Oke."

Kanda, lupa-lupa ingat yang mana orangnya. Tapi apa salahnya aku mencoba untuk mengenalnya. Aku pun bersedia mengikuti alurnya. Kata Nayla aku harus membuat biodata diri sejujur-jujurnya, begitupun dengan Kanda. Di dalam biodata juga harus diselipkan foto agar saling mengenal wajah kita. Biodata pun kami buat dan kami saling bertukar biodata. Aku menganalisis biodata Kanda, begitupun sebaliknya. Dari hasil analisis aku, visi dan misi hidup kami sama, masalah karakter insya Allah bisa menyesuaikan, masalah wajah dia cukup ganteng, dan yang spesial adalah dia seorang hafiz. Masya Allah sekali kan ... kalau dia seorang hafiz nanti aku bisa dituntun untuk menjadi seorang hafizah. Karena menjadi seorang hafizah adalah impianku. Tidak hanya tukar biodata yang kami lakukan, tapi kami sama-sama mencari tahu karakter kami berdua dari orang-orang terdekat kami, seperti teman, guru, ibu kos, dll. 

Singkat cerita, Kanda megutarakan keseriusannya padaku, ia ingin melangkah ke jenjang pernikahan. Jika aku setuju, pernikahan bisa dilaksanakan sesegera mungkin. Karena ia tidak mau meracuni hatinya lama-lama. Aku pun menyetujuinya, karena memang tidak ada alasan untuk menolaknya, menurutku dia adalah laki-laki yang baik. Aku yakin dia akan mampu menuntun hidupku, bergandengan menuju jalan yang diridhoi-Nya. 

***

"Mah, Pah ... Dinda mau bicara."

"Boleh,  silakan." (Jawab mamah)

"Sepertinya doa Mamah terkabul."

"Doa yang mana? Doa mamah kan banyak buat kamu."

"Doa mamah mau segera punya mantu."

"Alhamdulillah..."(Jawab Papah, sementara mamah masih bengong)

"ALHAMDULILLAH..."(Dengan penuh semangat)

"Tapi..."

"Tapi apa? Bukan orang kaya? Kerja apa? Namanya siapa?

"Tapi, aku belum lama mengenalnya, namanya Kanda, kerjanya guru honorer, memang bukan dari keluarga orang kaya, tapi itu tidak jadi masalah bagiku yang penting bagiku adalah dia mampu menuntunku ke jalan yang lebih baik serta selalu berusaha membahagiakanku, dia seorang hafiz mah, itu loh yang hafal Al Qur'an.

"Duh anak papah udah dewasa ... Masya Allah hafiz?"

"Iya Pah."

"Boleh tidak Mah, Pah, Dia main ke rumah?"

"Boleh donk ... kapan? Mamah udah tidak sabar lihat cowok yang kamu suka."

"Besok katanya mah."

"Oke siap, kita tunggu." (Pungkas papah)

Mentari pun mulai menghilang, datang sang rembulan menerangi malam, itu tandanya aku harus segera tidur untuk menunggu hari esok bertemu dengannya.

***

"Assalamu'alaikum."

"Wa'alaikumussalam, silakan masuk!"

"Terima kasih." (Dengan senyuman yang  begitu menawan."

"Silakan duduk, aku panggilkan mamah dan papah dulu ya."

"Iya silakan."

Aku bergegas memanggil mamah dan papah untuk segera ke ruang tamu menemui tamu spesial hari ini.

"Mah, Pah ... ada di mana?"

"Di ruang TV, kenapa?"

"Itu Kanda sudah datang, mau bertemu Mamah dan Papah."

"Wah, calon menantuku..."

Mamah begitu bahagia mendengar kedatangan Kanda, ia bergegas menuju ruang tamu sedangkan aku membawa snack beserta teh hangat untuk Kanda. Mamah dan Kanda berbincang-bincang ringan sembari menunggu papah yang tak kunjung datang ke ruang tamu. Ia masih menyelesaikan pekerjaannya yang ditunggu oleh bos di kantor. Namun, beberapa menit kemudian papah pun datang menghampiri kami bertiga.

"Mohon maaf nak, saya baru menyapa, tadi habis menyelesaikan tugas kantor terlebih dahulu, karena sudah ditunggu bos.

"Oh, iya tidak apa-apa Pak."

"Silakan diminum tehnya!"

"Iya Pak, terima kasih."

"Kata Dinda, kamu seorang hafiz ya? Boleh coba lantunkan surat Al-Mulk!"

"Alhamdulillah Pak, saya coba dengan senang hati."

"Silakan dimulai!"

"Bismillahirrahmanirrahim, tabārakallażī biyadihil-mulku wa huwa 'alā kulli syai`ing qadīr ... shodaqollohul'azhim"

"Masya Allah bacan Al Qur'anmu bagus."

"Terima kasih Pak."

"Oh, iya sudah lama kenal Dinda.?" (Tanya papah)

"Sebenarnya begini Pak, Bu. Saya tahu Dinda sekitar 1 tahun lalu, tapi itu hanya sekadar tahu saja, karena saat itu aku pernah bertemu dengan Dinda, saat aku mengantarkan seragam organisasi ke temannya Dinda, nah saat itu tumbuhlah rasa suka terhadap Dinda, namun aku pendam karena aku belum siap untuk menikah, nah sekarang aku siap untuk menikah maka dari itu aku memberanikan diri untuk berkenalan dengan Dinda, hingga kalau diizinkan oleh Bapak dan Ibu aku ingin melamar Dinda untuk menjadi istriku, apakah Bapak dan Ibu menyetujui?"

"Berarti kalian belum saling mengenal satu sama lain?"

"Iya belum, kami hanya sebatas mengenal dari biodata yang sama-sama kita buat, serta dari cerita teman-teman kami, tapi insya Allah saya dan Dinda siap menerima risiko apapun, karena bagi kami menikah adalah cara kami mengenal satu sama lain, bukan hanya mengenal tapi memahami seluruh baik dan buruknya kami. Aku akan menerima semua kekurangan dan kelebihan Dinda beserta keluarga."

"Jika disetujui, kapan rencana untuk melamar Dinda bersama keluargamu?"

"Insya Allah sesegera mungkin, nanti dimusyawarahkan kembali Pak, Bu."

"Gimana Dinda, kamu bersedia menikah dengan Kanda?" (Tanya papah)

"Hehee ... Insya Allah bersedia Pah." (Tersipu malu)

"Alhamdulillah..." 

"Bagaimana Mah, setuju jika Kanda dan Dinda menikah."

"Setuju donk..." 

Setelah pertemuan saat itu benih-benih cintapun semakin memuncak, tampaknya lantunan ayat Al-Quran yang dibacakan Kanda membuat jantungku bergetar, membuat aku semakin terkesima olehnya. 

Waktu pun semakin cepat menyapa, Kanda beserta keluarganya datang ke rumah untuk melamarku, dalam acara lamaran tersebut kami membicarakan tanggal peenikahan, tempat resepsi, dan adat pernikahan. Sedangkan persiapan-persiapan lainnya diserahkan kepada kami berdua. Mulai dari persiapan pendaftaran ke KUA, tamu undangan, resepsi pernikahan, dll. 

 

Detik demi detik telah berlalu, sang ijab telah merindu. Tibalah saatnya yang kutunggu, menerima janji sucimu. 

"Saya terima nikah dan kawinnya Dinda binti Dermawan dengan mas kawin seperangkat alat sholat beserta emas 15 gram dibayar tunai."

"Syah..."

Bergetar jiwaku mendengar janji suci yang ia lontarkan, semoga bisa menjadi tameng untuk keluarga kita. Syukur ku ucapkan atas indahnya nikmat yang Allah berikan, jodoh yang tidak disangka-sangka ternyata dia adalah orang yang terbaik untukku, orang yang menjadi penyempurna hidupku, dia adalah REMBULAN yang mampu menerangi gelapnya hatiku, yang mampu menjadi penerang jiwaku, dan mampu menjadi penerang hidupku. I Love So Much My Moon.

Enjoyed this article? Stay informed by joining our newsletter!

Comments

You must be logged in to post a comment.

Stori terkait
Jul 8, 2020, 1:15 PM - Annisa mahmudah
Jul 6, 2020, 10:20 PM - Chocho_Yucho
Jul 3, 2020, 6:34 PM - Tjahjono widarmanto
Jul 3, 2020, 6:26 PM - Nnaga
Jul 3, 2020, 1:07 PM - Kristina Dai Laba
Jul 2, 2020, 2:25 PM - Mei Elisabet Sibarani