Profil instastories

I'm still write although you don't want to read it.

Rasa yang Tersakiti

Abellaza Ariva Anderson.

Gadis blasteran Indo-Spanyol yang selalu indentik dengan poni tebalnya, dengan sapaan akrab Bella itu selalu terlihat angkuh dan tak terbantahkan. Gadis itu bahkan dijauhi oleh kebanyakan murid di sekolahnya. Sifatnya yang angkuh bahkan membuat teman satu bangkunya pindah tempat. Dan hal itu berakhir pada Bella yang menjalani hari-harinya di sekolah sendirian dalam keramaian.

William’s Senior High School adalah tempat gadis itu bersekolah selama hampir dua tahun lamanya. Sekolah itu merupakan sekolah elit yang bertempat di kota Semarang, Jawa Barat.

“Abel!”

Hanya satu orang yang memanggilnya demikian. Orang itu adalah anak dari pemilik sekolah ini, Elbara  Naldito William adalah nama lengkapnya. Tak ada yang tak mengenal Bara di sini. Cowok itu seakan menjadi pusat dari jalannya seluruh kegiatan di tempat ini. ‘Bara yang segalanya’, hal itu yang selalu diidentikkan dengan Bara oleh kebanyakan dari semua.

“Terlalu pagi, kurasa.” celetuk Bella tajam. Mulutnya memang seperti itu, selalu tanpa filter.

“Seharusnya, aku berangkat lebih pagi. Untuk melihatmu, setidaknya.” 

Godaan receh seperti itu sudah biasa di dengar oleh telinga Bella dari Bara. Namun, tak ada yang lebih berarti dari pada hubungan yang terlibat diantara keduanya.

“Pemilik sekolah mah, bebas.”

"Sekolah ini milik Papa, bukan aku, Bel.ak

“Terserah,”

Bella beranjak dari sana. Ia melangkah menuju kantin. Bagaimana Bella tidak berkata sinis pada Bara, jika cowok itu mengabaikan peraturan sekolahnya sendiri. Cowok itu datang saat jam istirahat pertama, dan itupun dengan senyum slengean dan wajah tanpa dosa yang sering kali membuat Bella gemas ingin menjotosnya.

“Abel tungguin!” Bara berusaha mengejar Bella dengan langkah tegapnya. Cowok itu hanya dekat dengan Bella di sini. Karena memang, keduanya adalah sahabat dari sejak mereka lahir. Maksudnya dari zaman mereka kecil.

“Abel telinganya bermasalah ya?”

Sok imut banget, itu pikir Bella.

Bella menghentikan langkahnya, Bara pun mengikuti. “Bara! Berhenti bersikap seperti itu!” sentak Bella.

“Seperti apa, Bel?”

“Sok imut. Karena, hal itu tidak menambah kadar ketampananmu, juga kau tak mungkin menjadi se-hits Cameron Dallas dengan itu. Jadi jangan kebanyakan gaya.”

“Abel saja yang nggak peka. Pada indera penglihataannya, bayangan wajah Bara kurang direfleksikan oleh daya akomodasi pada kornea mata Bella.”

“Iya, anak ipa. Lupa.”

“Yaudah, ayo makan!” 

Bara menarik kursi untuk diduduki Bella. Ia kemudian memesan makanan untuk mereka berdua. Sedangkan sejak dari masuknya mereka ke kantin, pandangan mata tidak suka menyorot Bella dengan jelas. Namun gadis itu tidak peduli, sifat angkuhnya mengatakan jika mereka hanya iri, iri karena seorang Bella yang bukan siapa-siapa itu mampu dekat dengan anak keluarga Wikeluarg

“Ayo makan! Jangan lupa doa tapi.”

Bella melahap makanannya dengan minat. Sedangkan Bara memerhatikan gadis itu dari seberang kursinya. Baginya, Bella segalanya. Baginya, Bella itu tumpuan hidupnya. Gadis itu bahkan menjadi penyemangat hidup Bara selama ini.

“Abel!”

“Hm?”

“Terima kasih.” ujar Bara dengan senyum tulusnya.

“Untuk?” kerutan di kening Bella terlihat jelas. Namun sedetik kemudian ia maklum, jika Bara memang aneh.

“Untuk semuanya,”

“Semuanya apa. Nggak usah sok ambigu.”

“Hancurnya keluargaku, membuatku menyadari jika kamu masih di sini, di dekatku. Meski aku tak memiliki sebuah keluarga yang utuh. Setidaknya, aku berkesempatan memilikimu seutuhnya.”

Saat Bara berkata demikian, keramaian kantin kala itu seakan tak terdengar. Telinganya seakan hanya mengulang kalimat yang diucapkan Bara dengan raut muka yang serius. Ia pun menyadari ada gelenyar rasa berbeda saat Bara menatapnya lekat seperti itu.

“Lucu, tapi nggak pake banget.” Bella beranjak dari sana. Meski ia berujar dengan nada intimidasi dan tatapan mata menghunus tajam, namun tidak dengan hati Bella yang tak mampu melihat raut wajah sedih itu di mata Bara.

Ini bukanlah adegan di film-film, di mana Bara mengejar Bella lalu terjadi perdebatan yang rumit. Ini bukanlah adegan film, di mana Bella akan menangis dan menghindar dari Bara berhari-hari. Tidak. Semuanya tidak se-transparan itu.

Nyatanya, Bella pergi, meninggalkan Bara yang masih bergeming di kantin dengan gemuruh rasa yang tak dapat dielak. Nyatanya, setelah sekian lama menabur benih-binih kasih sayang, Bara tetap tak dapat meraih hati Bella.

Ini bukan pertama kalinya, di mana Bara mengatakan hal serupa demikian pada Bella. Namun ini adalah pertama kalinya di mana Bella meninggalkannya setelah kalimat seperti itu  terucap. Ada satu hal yang tak dapat Bara mengerti dari Bella.

Bella selalu peduli pada Bara, Bella selalu dan akan selalu menemani dan membantu Bara bahkan jika itu dalam masalah tersulit sekalipun. Namun, Bara tak dapat mengerti tatapan Bella saat Bara menceritakan kesedihannya. Tatapan Bella kala itu tak dapat Bara tebak. Tatapannya bukanlah tatapan sendu, bukan pula tatapan sedih maupun prihatin. Tatapannya terlihat seperti menyorot pada pupil mata Bara dan menelisik dengan raut wajah yang tak dapat Bara artikan.

Begitu pun dengan Bella. Bella selalu mengerti Bara. Ia bahkan sudah paham dan mengerti sejak lama jika Bara menyukainya. Namun, terdapat satu hal yang tidak Bella ketahui yang seperti membuat dirinya terbentengi untuk memberi jalan Bara pada hatinya. Entahlah, hal mengenai perasaan terlalu rumit untuk dijabarkan sesederhana itu.

“Aku pasti berjuang, Bel. Kamu mungkin terlalu tak paham padaku, dan kamu mungkin terlalu takut untuk memulai hal yang terlihat asing,”

Nyatanya, Bara masih tetap. Ia masih tetap para rasa yang sama. Pada tempat dan tujuan yang sama. Juga pada titik yang sama. Titik di mana garis finish-nya tak pernah terlihat meski cara berlarinya begitu berambisi.

💔

'Bara hanya salah tempat. Ya, hanya itu.'

Di pikiran Bella, rasa suka Bara terhadapnya adalah sebuah kesalahan. Kesalahan manis yang membuat Bella menyadari jika dirinya tidak sendirian. Masih ada Bara di sana, di titik di mana Bella tak pernah menunjukkan wujud aslinya.

Karena semuanya terlalu ambigu untuk Bella mengerti. Gadis itu hanya mengikuti ke mana arus kehidupan akan membawanya.

“Abel!”

Di sana, di ujung pintu kelas mereka, Bara menatap Bella seraya berjalan mendekat. Cowok itu berusaha menguatkan hatinya, merapalkan setidaknya sedikit doa permohonan agar Bella tidak menjauh dari hidupnya.

“Apa?“

Nyatanya juga, Bella masih peduli. Gadis itu tak pernah bisa mengabaikan Bara secara serius. 

Keadaan benar-benar mempermainkan perasaan keduanya.

“Nanti pulang bareng ya?”

Bara mengesampingkan egonya untuk berjuang. Sejenak, ia tak ingin hubungannya dengan Bella merenggang.

“Terserah,”

Bara tersenyum penuh arti. Ternyata, dugaannya benar. Bella peduli padanya. Sangat.

💔

 

“Ini mau ke mana?” tanya Bella karena menyadari ketika Bara yang seharusnya belok kanan di perempatan jalan itu malah melaju lurus.

“Suatu tempat.”

“Nggak usah sok misterius. Shawn Mendes tak akan kau kalahkan rupanya dengan itu.”

Sesekali, Bara melihat Bella dengan ekor matanya. Ia tersenyum bangga, kala itu. Bella yang selalu membandingkan dirinya dengan orang western itu tidaklah pernah membuat rasa minder muncul pada BarBa

Di tengah keramaian jalanan kota, juga di bawah langit senja yang memukau, Bara berusaha melajukan mobilnya lebih cepat. Ia tak ingin malam tiba dengan cepat, setidaknya, tidak untuk saat ini.

Bara mulai memasukkan mobilnya pada jalanan sempit yang hanya terdapat pepohonan di sekitarnya, hal itu semakin menambah kernyitan di dahi Bella.

“Ini mau ke mana sih?!”

Bara tersenyum, melihat Bella sekilas kemudian beralih. “Ke tempat yang akan membuatmu berterima kasih padaku seumur hidupmu.”

“Nggak ada yang membuatku sangat senang selain menemui idolaku, Alex Large,"

“Ini spesial, Dear!”

Degupan itu muncul akhirnya. Degupan yang berusaha keras Bara munculkan pada Bella saat bersamanya. Degupan itu muncul saat ini, saat di mana kisah diantara mereka segera membentuk kilasan dalam ingatan.

Tiga puluh meter lagi menuju tempat yang dimaksudkan Bara. Namun, ia menghentikan mobilnya perlahan kala mendapati sebuah mobil ferarri hitam menghadang jalannya.

“Tunggu di sini!” 

Bella melihat air muka Bara berubah serius. Bara turun dari mobilnya itu di susul dengan turunya seorang pria bersetelan jas dengan wajah yang mengenakan penutup.

Bela memandang dari dalam mobil dengan heran, ia bahkan dapat mendengar pembicaraan mereka berdua, kaca mobil yang terbuka itu semakin menambah kejelasan tentang apa yang didengarnya saat ini.

“Woaah.. Elbara. Kau begitu hebat.” kalimatnya terlihat memuji, namun tidak dengan sorot mata pria itu yang memandang meremehkan.

“Menyingkir!” ucap Bara tegas.

"Keep calm, Boy! I'm want her, not you."

"In your dream."

Setelah itu, Bara melayangkan pukulannya pada pria depannya itu. Bara memukulnya dengan bringas. Ia seakan menunjukkan semua kemarahannya dan ia tumpahkan hari ini dan pada pria itu. Tak membalas, pria itu hanya menangkis serangang bertubi dari Bara. Hingga saat mata Bella melotot kaget dan mulutnya mengeluarkan pekikan keras, kala di depannya, ia melihat sebuah pisau sudah menancap dengan jelas di perut kiri Bara.

Bella keluar dari mobil itu dan berteriak meminta tolong, namun tak ada siapaun di sana. Bella berusaha mendekat pada Bara. Namun cowok itu berberteria

“PERGI DARI SINI, BEL!”

Bella tak mengiddahkannya, ia tidak peduli pria di samping Bara yang sedang tersenyum menyeringai di balik penutup mukanya. Dan dengan tubuh yang bergemetar hebat, Bella berusaha mendekat pada Bara dan menjulurkan tangannya untuk menarik Bara dari sana. Namun sebelum itu terjadi. Pria misterius di samping Bara menarik tangan Bella dan membopongnya ke mobil milik pria itu.

“ABEL!” Bara berusaha menarik pisau itu dari perutnya. Ia kemudian merangkak untuk menyusul Bella di sana. Namun semua terlambat saat itu.

Saat pria itu kemudian melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, membawa Bella dengan perasaannya yang ikut terbawa. Dengan harapan dan tumpuan yang tak lagi menjadi penyandarnya. Dengan rasa sesak dan penyesalan yang tak akan pernah terterlupa.

Bara berteriak, menangis dan memukul, mengabaikan rasa sakit yang mulai menjalar di sekujur tubuhnya. Bahkan di saat di mana seharusnya Bara yang pergi, ia tak dapat membuat gadis itu mengetahui makam kedua orang tuanya.

Gadis yang hanya hidup sebatang kara itu tak memiliki nasib lain selain hal malang, hal yang selalu membuat dirinya tersenyum miris menanggapi sekitar. Dan hal itu juga yang membuat Bella menumbuhkan bentengnya dengan kuat. Benteng itu adalah ego dan sikap angkuh Bella yang tak terbantahkan. Yang membuat Bara tak dapat menembus benteng egonya.

Bara membenci ini. Ia membenci saat semua orang yang membencinya tidak mengincar dirinya, namun mengincar orang terdekatnya. Bara membenci hidupnya. Bara membenci apapun tentang keluarganya. Namun seperti apapun hinanya dunia ini, Bara tidak pernah membencinya, karena dunia hina inilah yang telah mempertemukan Bara dengan Bella.

Setidaknya, kilasan itu akan tersimpan dengan rapi.

Setidaknya, rasa itu masih utuh di hati.

Setidaknya, gemuruh itu terbalaskan.

Setidaknya, hujan petang itu membawanya ke tempat lain.

Setidaknya, mereka bisa kembali bertemu di lain alam.

Namun, tidak setidaknya, karena nyatanya, jantung Bara masih berdegup kala itu. Ia masih hidup.

Sesungguhnya, kisah hidup tentang penderitaan itu tidaklah pernah berarkhir, saat salah satu insan masih merasakan segelintir oksigen di dalamnya.

Nyatanya, dinamika rasa dan penjabaran hati tidaklah sesederhana yang terlihat.

 

💔

 

"Terkadang, takdir memang setega itu."

 

💔

 

End.

 

Enjoyed this article? Stay informed by joining our newsletter!

Comments

You must be logged in to post a comment.

Stori terkait
Jul 8, 2020, 1:15 PM - Annisa mahmudah
Jul 6, 2020, 10:20 PM - Chocho_Yucho
Jul 3, 2020, 6:34 PM - Tjahjono widarmanto
Jul 3, 2020, 6:26 PM - Nnaga
Jul 3, 2020, 1:07 PM - Kristina Dai Laba
Jul 2, 2020, 2:25 PM - Mei Elisabet Sibarani