Profil instastories

Racun Mertua

Prolog

"Iya aku melakukannya." Nada suaraku terdengar tak berintonasi.

 

Kuakui, aku salah. Harga diriku sudah tak ada lagi di matanya dan keluarganya. Semua keluarganya di beritahu. Dan, tentu saja siapa pun tahu nista itu. Ada yang mencemooh, ada yang menggelengkan kepala, bahkan cacian 'pelacur' terlontar dari mulut adik perempuannya.

 

Ya adiknya, adiknya yang aku pun turut andil menyisihkan gajiku untuk uang kuliahnya.

 

Dan tiba-tiba sekelebat bayangan lalu hadir, dimana aku menjadi penolong saat aku harus merelakan cincin pemberian ibuku untuk membayar pendaftaran kuliahnya. Sesak.

 

Ah, sudahlah.

 

Aku terima apapun hinaan itu.

 

Sebenarnya mereka hanya tidak pernah tahu bagaimana rumah tangga kami, bagaimana nada berdenting dalam biduk mahligai kami, mereka hanya menilai dari apa yang mereka dengar dan melihat satu sisi.

 

Aku tidak ambil pusing, yang penting anak-anak bersamaku.

 

Kupejamkan mata sejenak, kutarik nafas panjang.

 

Saat membuka mata, tanpa sengaja mataku bertemu dengan matanya.

 

Aku tahu, masih ada cinta disana untukku.

 

Mata yang pernah memandang mata ayahku sambil berjabat tangan dan dengan satu tarikan nafas dia menyebut namaku di iringi nama ayahku.

 

'Sah!'

 

Seorang lekaki dari pihaknya mengeluarkan suara.

 

Aku tersadar dari lamunan 8 tahun silam.

 

Kata 'sah' yang sama.

 

Namun dulu sah-nya kami sebagai suami istri.

 

Sedang sekarang, sah-nya kami bukan siapa-siapa lagi.

 

Ya Allah ...

 

Harum syurgaMu, sudah haram untukku.

 

Aku berharap, masih ada waktu untukku bertaubat

 

06 Juni 2016

 

16.56

 

Angka yang cantik saat talak itu jatuh untukku.

 

 

 

Enjoyed this article? Stay informed by joining our newsletter!

Comments

You must be logged in to post a comment.