Profil instastories

Suka kopi, musik rock, dan kamu.

Purnama Seelok Senja

 

Dia selalu menyuruhku memberi kata-kata penyemangat atau yang kau tau sebagai motivasi. Dia kutemui pertama kali ketika menduduki sekolah menengah atas. Bermula ketika perempuan lugu nan pendiam memberanikan dirinya bertanya padaku mengenai jadwal organisasi. Saat itu, posisiku sebagai koordinator PMR kelas X. Dia bilang, saat itu di matanya aku merupakan sosok yang dingin, namun aktif bersosialisasi. 

Sekarang dia sedikit terlihat lebih rapuh. Bukankah kau ingat ketika aku dan dia mulai menjadi kawan mengadu rasa? Sepulang sekolah, pada senja bersama mega bertebaran di angkasa, aku dan dia terduduk di pos kamling sembari melahap nasi bungkus yang kami beli siang tadi. Tidak lupa dua plastik es teh ukuran jumbo menuntaskan rasa dahaga. 

"Suatu saat, ketika sepedaku sudah berubah jadi mobil, sepatu mengangaku beregenerasi menjadi high heels, aku akan tetap makan di sini," ujarku padanya. Dia mengangguk menanggapi. Kemudian bibirnya menyeringai memamerkan gigi yang mirip drakula.

Kemudian dia kembali bercerita tentang perjalanan hidupnya. Siapa sangka, perempuan pendiam di sampingku menyimpan beribu luka dalam dada. Mengoyak jiwa, menciptakan anak sungai di pelupuk mata. Katanya, dia amat rindu almarhum bapaknya. Bapak yang membuat hidupnya jauh lebih berharga sebelum beristirahat di surga. Meski kau juga tahu, semburat jingga nampak memesona sore itu. Aku membiarkan dia tergugu yang larut dalam kenangannya. 

Suatu siang tiba-tiba dia bertanya padaku, "Bagaimana cara menghilangkan rasa benci?" Oh, sial! Umpatku dalam hati. Lagi-lagi dia menanyakan hal yang tidak bisa aku jawab. Kau tau kan, jika aku juga membenci ayahku sendiri. Atau sahabat penghianat yang lebih memilih impiannya dan meremehkan impianku. 

Atau pada suatu pagi, kudapati dia tengah menelungkupkan wajahnya sembari terisak. Membuat jiplakan air mata di lengan seragamnya. Aku bertanya-tanya, kiranya apa yang membuat perempuan lugu itu menangis? Dua tiga orang mengerumuninya, bertanya ada apa gerangan. Bodoh! Untuk apa orang menangis ditanya ini itu? Bukannya membantu, justru membuatnya semakin larut dalam sedihnya.

Lagi-lagi tanpa diminta, dia bercerita sendiri mengenai pagi itu. Dia bilang dia benci kakak iparnya, dan ingin menghapus rasa bencinya. Tidak perlu dia menjelaskan secara rinci, aku paham mengenai api yang menjalar dalam dadanya. Sebab aku pernah berkunjung ke rumahnya dan mendapati kakak iparnya. 

"Apa kakakmu membantu uang belanja?", tanyaku penasaran.

"Engga." 

Kulanjutkan pertanyaan berikutnya, "Lalu untuk beras?"

"Pake uang mamaku." 

Dahiku mengkerut. Mencoba menelaah jawabannya atas pertanyaanku. Artinya, ibunyalah tulang punggung keluarga besar dia. Ada kakak dan kakak iparnya beserta anak laki-laki yang masih balita, pamannya dan dia. Belum lagi untuk tagihan SPP yang mulai menunggak. Beruntung, dia merupakan perempuan sederhana dan tidak banyak menuntut. 

Kau juga tentu ingat, hari-hari basah di bulan Desember awal. Saat itu kami sedang mengadakan Ulangan Akhir Semester. Dia menceracau entah pada siapa, sebab ujung rok hijau toscanya basah terkena hujan. Aku paham kau lelah menerobos hujan bersama sepedamu di jalan padat nan pengap. Namun tidakkah kau lihat aku? Aku yang sedari tadi memperhatikanmu memonyongkan bibir dengan seragam yang hampir semua basah. Menunggu suhu tubuhku lambat laun membantu mengeringkannya. Sebab ketika di tengah perjalanan, aku malas berhenti sekadar mengenakan jas hujan.

Ah ya, mungkin aku lupa menceritakannya padamu bagian ini. Kau tahu prinsipku kan, jika kebaikan seseorang harus selalu diingat, sementara kebaikanku anggap saja angin lalu? Hemm.. namun aku ingin kau tahu, bahwa pada hari itu aku serasa seperti pahlawan super penyelamat dunia. Hari dimana ketua kelas menghampiriku. Bertanya apakah aku mau menerima bantuan dari seorang dokter yang praktek tak jauh dari sekolah. Egoku secepat kilat menjawab "Ya". Namun sesuatu seperti malaikat berbisik lembut, menyadarkan betapa serakahnya jika kuambil bantuan itu. 

Mataku menyapu sekitar kemudian berhenti tepat di bangku perempuan lugu nan sederhana itu. Kukatakan pada ketua kelas, bagaimana jika dia saja yang menerima bantuannya. Ketua mengangguk setuju, kemudian berlalu menuju ruang BK. 

Waktu bergulir sekian menit. Dipanggilnya dia untuk mengurus bantuan oleh guru BK favorit kami. Singkat cerita, bantuan diterima dan dia menghembuskan nafas lega. Kulihat semringah menghias di wajahnya. Sebab telah meringankan beban ibunya melunasi tagihan SPP. Aku juga sama sumringahnya mengingat dapat membantunya  laksana pahlawan kesiangan. Tak mengapa, lagipula aku mendapat bantuan berupa BSM kan PIP. 

*** 

Perempuan lugu nan sederhana itu masih saja seperti dulu. Menjadikan temu obat penghapus rindu, juga sebagai ajang mengadu rasa. Dia nampak lelah akan pekerjaannya ditambah makian dari bosnya, membuat dia terus menyuruhku menyemangati bak motivator di TV-TV. 

"Apa kau menikmati pekerjaanmu?" Tanyaku seolah pada diriku sendiri.

"Engga," singkatnya.

"Lalu apa yang membuatmu bertahan?"

"Sebab aku punya tujuan."

Aku mulai geram. 

"Kau sendiri tahu jawabannya. Mengapa menyuruhku seperti Kak Mery Riana?"

Dia diam, tak bergeming.

Seketika aku memutar memori masa lalu, saat-saat aku dan dia merasa dihinggapi beban begitu berat semasa SMA. 

Dulu, kami sering berandai betapa nikmatnya memiliki motor sendiri. Tidak perlu memforsir tenaga mengayuh sepeda. Tidak bau akibat keringat mengucur deras membanjiri seragam pertama— kemudian diangin-anginkan untuk dipakai di hari kedua. 

Aku hampir menganga tak percaya akan ceritanya mengenai pernikahan ibu dan almarhum ayahnya. Siri. Hingga lagi-lagi dia menyuruhku menemani konsultasi dengan guru BK. Dia bilang, dia ingin punya akta kelahiran. 

"Mba! Sudah muncul, sudah muncul." Seru anak laki-laki kakaknya membuat kenangan itu berhamburan dan lenyap di udara. 

Aku bergegas dari kamarnya menuju teras. Kupandangi bola bundar berwarna jingga menerangi angkasa, sesekali menoleh pada dia. 

"Kakakku telah banyak berubah." Seolah menjelaskan padaku. 

"Apa kau memaafkannya?"

Sejenak dia memejamkan mata, menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya.  Menoleh ke arahku kemudian tersenyum tulus. 

Oh iya, kau belum mengenalkan bukan? Dia kupanggil Purnama. 

 

Diary, 17 November 2019.

Enjoyed this article? Stay informed by joining our newsletter!

Comments

You must be logged in to post a comment.

Stori terkait
Jul 8, 2020, 1:15 PM - Annisa mahmudah
Jul 6, 2020, 10:20 PM - Chocho_Yucho
Jul 3, 2020, 6:34 PM - Tjahjono widarmanto
Jul 3, 2020, 6:26 PM - Nnaga
Jul 3, 2020, 1:07 PM - Kristina Dai Laba
Jul 2, 2020, 2:25 PM - Mei Elisabet Sibarani