Protes Warga soal Wacana Konversi LPG 3 Kg ke Kompor Listrik

Trending 1 week ago 7
ARTICLE AD BOX

Pemerintah berencana untuk mengkonversi penggunaan kompor LPG 3 kg ke kompor listrik. Pemerintah berencana untuk mengkonversi penggunaan kompor LPG 3 kg ke kompor listrik. (iStockphoto/brizmaker).

Jakarta, Instastori Indonesia --

Pemerintah berencana untuk mengkonversi penggunaan kompor LPG 3 kg ke kompor listrik.

Plt Direktur Jenderal Ketenagalistrikan Kementerian ESDM Dadan Kusdiana mengatakan saat ini pemerintah sedang melakukan uji coba konversi gas LPG 3 kg ke kompor listrik.

Dadan mengatakan uji coba akan dilakukan di tiga kota, merupakan Denpasar, Solo, dan Sumatera. Uji coba akan dilakukan dengan kompor listrik dua tungku dengan kapasitas 1.000 watt.

Sayangnya, sebagian penduduk merasa keberatan dengan rencana konversi tersebut.

Finda (32) mengaku rencana pemerintah ini malah akan membebani masyarakatnya. Sebab, menurutnya, penggunaan kompor listrik cenderung lebih konsumtif ketimbang kompor LPG 3 kg.

Selain itu, kondisi yang mengharuskan PLN melakukan pemadaman listrik secara berkala juga mempersulit masyarakat saat memasak.

"Belum lagi kalau meninggal lampu, masaknya bagaimana?" kata wanita asal Surabaya itu.

"Kadang pemerintah itu nyuruh-nyuruh tapi enggak ngerti kalau rakyatnya tidak semua bisa dan aware," imbuhnya.

Setali tiga uang, Nay (31) asal Sidoarjo juga merasa keberatan dengan rencana kebijakan tersebut.

Menurutnya, kalau masyarakat diminta menggunakan kompor listrik, itu akan membikin konsumsi listrik atau tagihan semakin membengkak.

"Kalau pakai kompor listrik 'makan' watt besar, dan kalau meninggal lampu malah enggak efisien," katanya.

Ninuk (42) dan Maya (37) penduduk Parung, Bogor juga merasa keberatan karena biaya listrik niscaya akan membengkak dengan peralihan kompor tersebut.

"Biayanya akan sangat mahal, sumber tenaga listrik juga memadai, di sini sering meninggal lampu," kata mereka.

Begitu pula dengan Tari (30) yang menganggap rencana pemerintah ini hanya akan memberatkan kelas menengah ke bawah.

"Pusing, tarif listrik naik terus, kalau pakai kompor listrik tagihanku akan banyak," kata Tari, penduduk asal Surabaya.

Aam (31) asal Mojokerto menambahkan kebijakan ini kalau mau direalisasikan semestinya menyasar ke kelas menengah ke atas. Sebab, mereka niscaya bisa untuk membayar listrik lebih banyak.

"Bagi kalangan bawah ya keberatan mbak, apalagi sekarang banyak orang kena PHK karena pabrik-pabrik di sini tutup. Kalau lakukan kalangan ke atas tak masalah," katanya.

"Orang desa itu kalau listrik naik dikit aja niscaya sudah protes," imbuhnya.

Sebelumnya, Pemerintah bakal memberikan paket kompor listrik secara gratis kepada 300 ribu rumah tangga yang menjadi sasaran tahun ini.

Nantinya, rumah tangga penerima paket kompor listrik ini ialah yang terdaftar di Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS). Paket tersebut terdiri dari satu kompor listrik, satu instrumen masak dan satu Miniature Circuit Breaker (MCB) atau penambah daya spesifik untuk kompor listrik.

"Rencananya tahun ini 300 ribu (penerima). Jadi satu rumah itu dikasih satu paket, kompornya sendiri, instrumen masaknya sendiri, dayanya dinaikin," ujar Sekretaris Jenderal Kementerian ESDM Rida Mulyana saat ditemui usai rapat dengan Banggar DPR, Selasa (20/9).