Profil instastories

Pria itu kalah Penting dari Sahabat

"Kau baik-baik saja?" tanya Biru pada Nily yang tengah duduk termenung. 

 

Nily sedang dalam masa patah hati yang bahkan tampak terlihat baik-baik saja. Biru yang menemaninya sempat berpikir Nily memang tidak dalam masa terluka seperti kebanyakan cewek yang diputuskan tanpa alasan. 

 

"Hm...." jawab Nily memandang langit yang mulai merubah warnanya. 

 

"Apa kau patah hati?" tanya Biru hati-hati. 

 

Nily memandang Biru sekilas. "Cewek mana yang tak akan patah hati setelah diputuskan secara sepihak dan tanpa alasan yang diterimanya!" ucap Nilu menggebu-gebu. 

 

"Oh, okey. Nily memang patah hati," bisik batin Biru.

 

"Kenapa kau tak minta penjelasan darinya?" Biru masih tetap tak bisa diam, setelah melihat ekspresi Nily yang kembali seperti semula baik-baik saja. 

 

"Kau tak mencintainya?" tanya Biru lagi memandang Nily yang duduk di sampingnya. 

 

Nily menatap mata Biru dengan tajam, lalu kembali menatap ke depan dengan dengusan. 

 

"Ck, jika kau mencintainya seharusnya kau minta alasan padanya, bukan berada di sini seperti orang dungu. Jika kau mencintainya, seharusnya kau patah hati, bukan berdiam diri disini mangajak ku membisu," ucap Biru panjang lebar. 

 

Nily tetap diam. Biru memang tak salah mengatakan hal itu, tapi bukan berarti ia mengetahui semuanya Biru berhak menghakiminya. Hanya saja, setiap orang berbeda-beda merasakan patah hatinya. 

 

"Aku bukan si pengekang atau si pemaksa yang siap hanya mencintai sendiri. Jika ia memang tak mencintai ku, sudah waktunya aku melepaskan. Meski seharusnya aku mendengar akhirnya hubungan kami yang mungkin alasannya sangat klise," ucap Nily sendu menatap langit yang perlahan mulai menggelap, meninggalkan senja yang entah berentah akan kemana. 

 

Biru masih tak paham dengan jalan pikir sahabat satu-satunya. Meski sudah hampir satu dekade bersama, soal cinta yang Nily rasakan selalu membuat Biru masih tak mengerti ada apa dengan hati dan logika Nily. 

 

"Kau tahu Biru? Aku masih bertanya-tanya, apakah manusia harus saling mencintai satu sama lain untuk mempertahankan hidup?" tanya Nily memandang sekilas Biru yang memperhatikannya sejak tadi. 

 

"Iya, apa kau tak bosan hidup dengan seseorang tanpa cinta?" Biru bertanya balik. 

 

Nily diam, masih memandang lekat langit dengan tamburan bintang yang menawan. 

 

"Kenapa bosan ada dalam kata cinta? Bukankah ketika kau memutuskan mencintai seseorang, kau sudah menerima segala bentuk apapun pujanggamu?" kali ini Biru diam. 

 

Nily memang benar. Kenapa dalam setiap pasangan ada kata jenuh? Biru juga masih tak mengerti soal perasaan manusia, yang Biru tau cinta itu membawa semua warna yang belum dicicipinya sama sekali.

 

Hening, mereka dua saling diam memandang satu tujuan yang sama dengan pikiran yang entah berkelana kemana. 

 

"Biru, jika kau berada diposisi ku sekarang. Apa yang terjadi padamu?"

 

"Tentu saja aku sudah menangis dihadapanmu dan mengetahui semua alasan laki-laki bodoh yang kau cintai itu," kesel Biru yang membeludak.

 

"Hahaha... Yang patah hati itu aku, tapi sejak dari tadi yang merasa tak terima itu kau!" seru Nily merasa lucu melihat tingkah Biru diluar kendalinya. 

 

Biru memeluk Nily dari samping dengan dagunya di bahu Nily dan bibirnya yang mengerucut. "Tentu saja, sahabat mana yang tak terima melihat sahabatnya sendiri di patahkan hatinya. Emangnya dia pikir lahir darimana? Dari batu? Seenak jidatnya nyakitin kaum sejenis Ibunya!" cerocos Biru.

 

"Iya-iya, dia emang cowok kurang ajar," Aku Nily pada akhirnya. 

 

"Lain kali Nil, sejelek atau seganteng apapun cowok yang dekat sama kau harus seleksi dulu sama aku. Aku udah hapal duluan muka-muka buaya diluar sana kayak mana! Betebar semua jenisnya." peringat Biru yang tak ingin Nily merasakan berulang kali sakit hati. 

 

Gini-gini Biru mantan mak comblang saat duduk dibangku SMA dan semuanya pada langgeng, Nily jadi saksi bisu gimana rempongnya Biru didatangin para jomblo ngenes. 

 

Nily menggangguk setuju. "Yuk masuk,  spesial hari ini Biru masakin buat Nily nasi goreng pedes kesukaan princess Nily." Biru bangkit dari duduknya dan mengulurkan tangannya mangajak Nily untuk berdiri. 

 

Nily tertawa, Biru memang selalu bisa membuatnya merasa lebih baik walaupun di awal Biru akan selalu berbicara tanpa perasaan. Tapi, Nily terbiasa dan sangat membutuhkan Biru berada disampingnya sebagai sahabat. 

 

"Dan kali ini bintang-bintang cantik itu saksi dari segala kuatnya Nily Rahaisa ngadepin patah hatinya tanpa nangis kayak Biru!" seru Biru menggandeng Nily masuk meninggalkan rooftop.

 

Dan, Biru Cahya adalah sahabat yang tak akan pernah Nily temukan lagi di dunia ini. 

Enjoyed this article? Stay informed by joining our newsletter!

Comments

You must be logged in to post a comment.

Stori terkait
Jul 8, 2020, 1:15 PM - Annisa mahmudah
Jul 6, 2020, 10:20 PM - Chocho_Yucho
Jul 3, 2020, 6:34 PM - Tjahjono widarmanto
Jul 3, 2020, 6:26 PM - Nnaga
Jul 3, 2020, 1:07 PM - Kristina Dai Laba
Jul 2, 2020, 2:25 PM - Mei Elisabet Sibarani