Profil instastories

Hidup itu bergerak..

“PINDAH ALAM” PART 2

 

Selama perjalanan mereka tampak diam membisu. Tak banyak percakapan di antara mereka, hanya sesekali deni menghela nafas seperti menahan diri dari rasa lelah. Pada awal mendaki memang denilah yang paling menyepelekan situasi, banyak bercanda dan berkelakar kalo naik gunung itu perkara mudah. Namun justru karena hal itu malah menjadi kebalikan atas apa yang kita pikirkan sebelumnya. Alangkah baiknya kita selalu berpikir positif, jangan mengambil sesuatu kecuali foto, dan sebelum mendaki kita berdoa agar diberi kelancaran selama perjalanan, dijauhkan pula dari gangguan yang tak kasat mata. Kalo dari awal niat kita baik insyaallah akan dipermudah selama waktu kita disana. itu hanya tips sederhana bila  ingin mendaki, gak ada salahnya membentengi diri dari hal-hal tak terduga yang tidak diinginkan..

Langkah gontai ketiganya sembari menyusuri jalan setapak tampak membuahkan hasil. 100 meter dari jarak pandang yang tak begitu jauh dan diselimuti kabut tipis terlihat pos 5. Pos 5, pondok mata air, berada di ketinggian 2795 mdpl. Pos 5 ini merupakan salah satu tempat favorit pendaki untuk bermalam. Di pos ini terdapat sumber air musiman yang ada saat musim hujan, terdapat shelter yang bisa digunakan untuk bermalam para pendaki. Mereka gak berniat bermalam waktu itu, singgah untuk beristirahat sejenak. Masih cukup banyak waktu untuk mencapai puncak sebelum matahari tenggelam. Rencana awal ingin sampai puncak tepat jam 12 siang harus sedikit tersendat karena deni yang meminta beristirahat di pos 5. Mereka mencari posisi nyaman untuk beristirahat, merebahkan badan dan meregangkan otot punggung yang terasa kaku karena membawa beban berat. Sembari menghisap rokok mereka duduk santai di pinggir shelter pos 5 itu.

“kok sepi yak?” ucap timor.

Waktu itu tak ada seorangpun pendaki yang lewat atau sekedar beristirahat disana.

“udah pada muncak kali mor” jawab imam sambil merebahkan badan di atas tas carriernya.

Imam baru menyadari ternyata pohon pinus banyak tumbuh disana. Tingginya pohon dan lengkungan rantingnya semakin membuat suasana kian mencekam. Padahal saat itu masih jam 10 pagi, rimbunnya pepohonan membuat remang selama perjalanan dari pos 2. Saat imam asyik melihat pepohonan pinus yang rindang, matanya terfokus pada patahan pinus yang melengkung mirip seperti gerbang yang terbentuk alami. Matanya berputar menyapu ke segala arah seolah mencari sulur ranting pinus lainnya apakah sama bentuknya. Namun ia tak mendapati itu, yang lain tampak biasa saja. Keanehan terasa saat angin semilir yang menyejukkan seakan membawa imam berjalan perlahan melewati pohon pinus yang aneh itu. Sementara deni dan timor asyik tertidur di pos 5 dan tak menyadari imam berlalu dari tempatnya duduk.

Imam terus melangkahkan kaki menerobos semak yang kian lebat, baru beberapa langkah ia melihat sebuah warung kecil berbilik bambu dan beratapkan rumput ilalang.

“kok ada warung ya?” tatapnya keheranan.

Ia terus saja berjalan, namun terkesiap karena semak belukar yang lebat tadi berubah menjadi jalan perkampungan. Jalan yang lumayan mulus hanya dihiasi kerikil-kerikil kecil dan rumput-rumput liar tapi nampak jelas sering dilalui orang karena struktur tanahnya sudah menyerupai jalanan umum meski hanya jalan setapak. Imam menghentikan langkahnya di sebuah warung kelontong di pinggir jalan tepat di area pintu masuk perkampungan itu, bisa di bilang warung itu paling pojok.

“bu, ada rokok?” tanya imam.

Munculah seorang ibu memakai jarik dan baju kebaya dari balik pintu.

“iya, ada mas” jawab ibu itu.

Selesai bertransaksi imam menyalakan rokok dan duduk sebentar di kursi kayu yang ada di depan warung itu. Melihat sekeliling semua tampak normal, namun ada satu keganjilan penduduk yang hilir mudik di jalan tampak terdiam membisu tanpa sepatah kata. Dan aktifitas yang mereka lakukan berulang kali dan hanya itu-itu saja tanpa ada perubahan. Imam hanya bengong, berulang kali mengucek mata memastikan apakah ia mimpi atau tidak. Mencoba mencubit pipinya dan ternyata benar terjadi, ia bingung ada dimana saat itu.

“bu? Jalur mau ke pos 5 lewat mana ya?” tanya imam tergesa.

Tadinya ibu itu tak menggubris pertanyaan imam. Ia duduk terdiam sambil menata ubi rebus di atas meja dan lagi-lagi imam mendapati hal yang sama persis yaitu kegiatan berulang dan tak berubah.

“bu, maaf jalur mau ke pos 5 lewat mana ya?” imam memberanikan diri bertanya yang kedua kalinya meski diliputi rasa takut.

“disana….” jawab ibu itu dengan muka datar. Tangannya menunjuk kearah selatan warung itu sedangkan imam merasa ia datang dari arah utara.

Imam menghela nafas panjang, ia tampak lelah. Padahal waktu itu jam masih menunjukkan pukul 10.15 menjelang siang. Ia yang tampak kebingungan berjalan ke arah selatan mengikuti jalan setapak di pinggiran kampung itu. Sudah hampir setengah jam imam hanya berputar-putar dan kembali ketempat itu lagi. Ia kembali lagi berjalan ke arah selatan mengikuti jalan setapak itu dan gak tau berapa kali ia berputar-putar di tempat yang sama.

“aku dimana ini ya Allah?” saking bingungnya imam gak tau harus berbuat apa.

Tiba-tiba dari arah belakang seorang bapak menepuk pundak imam. Sontak imam terkejut dengan kemunculan bapak itu.

“masnya mau kemana?” tanya bapak itu pada imam.

“saya cari jalur mau ke pos 5 pak, tadi saya bareng 2 orang teman saya lagi istirahat di pos 5” jawab imam.

“gini aja masnya ikut saya aja dulu, hari udah mulai gelap. Masnya nginap di rumah saya aja” bapak itu meminta imam menginap dirumahnya karena hari mulai beranjak malam.

Imam berulang kali melihat jam di tangannya, waktu yang cepat berlalu membuat keanehan semakin kentara. Saat imam berputar-putar mencari jalan keluar ia merasa waktu itu masih jam 11 an dan cuaca cukup cerah seingat imam. Namun tiba-tiba cuaca meremang menjadi senja hanya dalam hitungan menit, karena ia merasa hanya berbincang sebentar dengan bapak itu..

Sementara itu deni dan timor bingung mencari dimana keberadaan imam. Sebentar mereka tertidur saat terbangun tak mendapati imam disana.

“den, imam kemana yak?” tanya timor kebingungan.

“bukannya tadi dia duduk disini mor?” ujar deni.

“pipis kali yak?” timor menduga-duga, tatapannya menyapu ke segala arah siapa tau imam ada dibalik pohon. Tapi tetap nihil…

Sekitar setengah jam mereka menunggu imam namun tak kunjung menampakkan batang hidungnya.

“imaaaaaaam…….maaaam” teriak timor memecah kesunyian hutan pinus itu.

“mor, kita sambil jalan aja gimana biar gak kesorean sapa tau ada pendaki yang papasan sama imam” ajak deni.

Dengan pertimbangan yang lumayan lama, karena hari semakin siang akhirnya mereka meneruskan pendakian hingga pos 7. Bila di pos 7, imam masih belum ditemukan mereka memutuskan untuk turun ke basecamp dan menunggu imam di bawah…..

 

To be continue….

Enjoyed this article? Stay informed by joining our newsletter!

Comments

You must be logged in to post a comment.