Profil instastories

PERNIKAHANKU. BAG I

Karena rumah tangga tidaklah didasarkan pada apa yang disebut jaman sekarang "dasar cinta" melainkan dengan dasar yang paling tinggi dan mulia yaitu amanah Allah" (Buya Hamka).

 
Berusaha sekuat tenaga memahami kalimat itu walau dengan pedih  mempertimbangkan berbagai hal yang akan terjadi jika menolak perjodohan ini.
     "coba fikirkan baik-baik, nak Salsa dan Adel itu adalah kemanakanmu sendiri, anak dari kakak kandungmu sendiri"
Ayah masih terus merobohkan pendirianku.
     "Aku tahu, yah, tapi manamungkin aku bisa menggantikan posisi kak Nela dalam hal ini"
 dengan sigap aku membanting bantal kursi yang ada disampingku, sesaat aku bisa menguasai diri  dan menahan airmata agar tidak tumpah. Menikah dengan Fahri, laki-laki yang telah menjadi suami dati kak Nela dan dikaruniai dua orsng putri, bukanlah hal mudah bagiku untuk menerimahnya. Perkawinan dengan istilah turun ranjang.
 
Ingin rasanya aku beeteriak keseliruh dunia, bahwa aku sangat menyayangi kedua kemanakanku yang lahir dari rahim kakak kandungku, bukan hanya itu aku juga sangat menyayangi kak Nela.
Kak Nela adalah satu-satunya kakak bagiku dan telah menjadi kakak yang sempurna untukku. Semua diberikannya untukku, cinta, kasih sayang dan kak Nela juga yang membiayai kuliahku sampai selesai dan sekaligus menggantikan posisi ibu setelah ibu meninggal.
Dan kini ...? Setelah beliau tiada akula yang diharapkan ayah dan Fahri untuk menggantikannya menjadi ibu bagi Salsa dan Adel. Dua bidadari kecil itu sangat membutuhkan dosok seorang ibu, pengganti ibu mereka. Dan menurut ayah hanya aku yang pantas menjadi ibu bagi keduanya  bukan orang lain!
     Lalu bagaimana dengan Rehan? Cowok bermata teduh dengan segudang pesona yang dimilikinya, sudah terlanjur berjanji akan bersama selamahnya mengarungi kehidupan ini dalam sebuah rumah tangga suatu hari nanti.
     "Ayah sudah tahu kan kalau aku sudah ..." tak kuat rasanya melanjutkan kalimat itu, kubiarkan saja menggantung diujung lidah, takut melukai hati ayah.
     "Ayah tahu kalau kamu sudah mencintai orang lain"
Ayah sendiri yang melanjutkan kalimat itu, yang seaungguhnya tidak kuasa kukatakan padanya. Beliau beringsut dari tempat duduknya meninggalkan aku yang termangu sendiri dalam kebingingan, tak kuasa mengambil keputusan. Perang dingin dengan batin sendiri membuatku terkulai lemas. Kuremas ujung jari membayangkan dua bidadari kecil itu, Salsa dan Adel sering bergelut manja disisiku dan sudah terbiasai memanggilku dengan sebutan mama Nisa.
     "Mama Nisa, kapan sih, kita jalan-jalan?"
Suara sibungsu Adel yang masih berumur empat tahun itu merengek manja diiringi rengekan yang sama dari kakaknya Salsa  umur mereka hanya beresisih satu tahun. Mereka berdua persis putri kembar yang cantik, celotehnya mampu membuatku tertawa terpingkal-pingkal dan sangat menggemaskan.
     "Nanti sayang, mama Nisa sekarang lagi banyak urusan, tapi mama Nisa janji kalau ada waktu kita akan jalan-jalan"
    "Horeee ... Makasi ya mama Nisa"
Kedua bidadari kecil itu memelukku dan mencium kedua pipiku. Spontan aku merabahnya  ah, ternyata hari ini aku mengingat mereka lagi setelah berdebat sengit dengan ayahnya soal pernikahan turun ranjang yang sampai saat  ini belum juga kami sepakati, meski dengn alasan yang menurutku sangat klise dan naif. Salsa dan Adel hanya pantas punya ibu sambung yaitu aku, saudara kandug ibunya sendiri.
     Kasihan Salsa dan Adel jika harus punya ibu tiri orang lain, bagaimana nanti nasib mereka jika Fahri kelak menikah dengan perempuan yang tidak bisa menjadi sosok ibu bagi kedua anak itu. Itu yang menjadi kekhawatiran Fahri dan juga aku, karena jauh kedalam lubuk hatiku kekhawatiran itu selalu ada bahkan sering menyiksa batin ini. Seminggu sudah Salsa dan Adel tidak datang mengunjungiku, dua bidadari kecil itu tak menunjukkan wajah imutnya di rumah  atau sekedar menelpon, menyampaikan rasa rindu dan keinginan-keinginan mereka untuk selalu bersama, ebtah itu jalan-jalan atau dekedar minta ditemani nonton televisi. Namun  dua minggu sudah suara dan wajah mereka enggan menyapa sejak aku mengambil keputusan tegas dihadapan syah dan Fahri bahwa aku tidak bisa melaksanalan pernikahan turun ranjang ini  meski aku harus melukai hati ayah dan Fahti dan juga mungkin kedua anak yang belum mengerti apa-apa itu. Tetapi apa yang mesti kuperbuat, keputusan sudah diambil!
     "Ayah, kak Fahri, maafkan aku tidak bisa melaksanakan pernikahan turun ranjang ini"
Kugigit bibir kuat-kuat, dengan wajah tertunduk dan mata yang basah tak kuasa menahan tangis karena telah melukai hati orang yang penting dalam hidupku.
      "Salsa dan Adel sangat membutuhkan kamu, Nis"
Fahri membuka suara kemudian menatap ayah sekilas kemudian mengalihkan pandangannya kearahku  ayah trtlihat sangat tetpukul  namun tak bisa berbuat apa-apa dengan keputusanku , beliau menyerah sambil terbatuk-batuk meninggalkan kami berdua..
    "Salsa dan Adel itu adalah kemanakanku  anak dati kakak kandungku dan sudah seperti anakku, hal itu tidak akan terbantahkan oleh apapun, dan dia akan tetap menjadi anakku walaupun kak Fahri menikah dengan perempuan lain"
Kuangkat wajahku hingga wajah kami saling berhadapan, Fahri makin mendekat sehingga dengan jelaa aku bisa mencium bau wangi farfumnya yang khas.
    "Nisa, adakah yang lebih betharga dalam hidupmu saat ini selain Salsa dan Adel?"
Pertanyaan Fahri bagai pisau tajam menohok jantungku, sakit rasanya! Laki-laki gagah dan tampan itu sekarang tepat berdiri dihadapanku, dia kian berani menatapku lebih dalam, melihatku tergugup dan nyaris putus asa menghalau fikiran yang sempat merasuk jelas dalam memori, namun sesaat detik berikutnya aku menatap Fahri lebih dalam dengan maksud agar kakak iparku itu mengerti dan memahahami bahwa jauh kedalam lubuk hati ini Salsa dan Adel adalah segalanya bagiku, kebahagiaan mereka adalah kebahagiaanku dan aku tak akan pernah rela siapapun melukainya. Tetapi , memindahkan hati dan cintaku ke orang lain bukanlah hal mudah, apalagi cinta ini sudah terjalin lama dengan Rehan bahwa setelah s2nya selesai kami akan segera menikah. Dan sekarang pun aku masih dalam penantian, karena menurut Rehan tinggal setengah tahun lagi dia menyelesaikan studynya di negeri Sakura nan jauh di sana.
     "pertayaan bodoh!"
Sungutku sembari melipat kedua tangan di dada seolah menantang Fahri yang hanya berjarak satu langkah di depanku.
     "Kaulah yang bodoh! Mengeyampingkan perasaan kedua anak kakakmu sendiri, apakah itu bukan sebuah kebodohan?"
Kata-kata Fahri kian menohok uluh hatiku. Kakak ipar yang dulu begitu kusegani dan kuhormati memaksaku menampikkan hal itu, hingga dengan berani aku menunjuk kearah dadanya.
    "Kak Fahri, jangan sekali lagi mengatakan bahwa aku mengabaikan anak-anak itu  Salsa dan Adel itu adalah anakku walaupun bukan aku yang melahirkan mereka."
Semakin geram aku menatap matanya yang bak elang siap memangsa anak ayam di depannya. Aku sangat menyayangi kedua anak itu  dan Fahri tahu betul itu! Tapi dengan entengnya Fahri menuduhku mengabaikan mereka. Padahal kalau bukan karena pertimbangan perasaan kedua anak itu pastila aku sudah menyusul Rehan ke Jepang karena tak tahan dengan situasi dan kondisi seperti ini.
    "Kalau tidak mau disebut mengabaikan mereka terus aku harus menyebutnya apa?"
Fahri kian berani, dengan senyum sinisnya yang tersungging dibibirnya, dia semakin berani dan berani, seingatku kakak iparku ini belum pernah mengataiku dengan perkataan yang menyinggung apalagi menyakiti.
     "Aku tidak ingin nenjadi ibu tiri mereka, tetapi aku ingin mereka tetap menjadi anak-anakku yang tersayang."
Bibir ini terbata-bata mengeluarkan kalimat yang sungguh menyakitkan itu.
     "Nisa, aku tidak memintamu untuk menjadi ibu tiri mereka, aku memintamu untuk menjadi ibu mereka yang sesungguhnya."
Suara Fahri mulai lunak melihatku mulai terisak. Aku melemah....
    "Menikahlah denganku, Nisa, aku tidak minta apa-apa selain kasih sayang Salsa dan Adel, mereka masih terlalu kecil untuk memahami ini semua"
Semakin aku melemah dan membiarkan Fahri menggenggam tanganku dan menyapu butiran bening yang bergulir di pipi. Sejenak aku mempehatikan sosok laki-laki yang sudah sejak lama menjadi kakak iparku dan telah menjadi ayah bagi dua kemanakanku. Aku tidak merasakan perasaan apapun padanya, kecuali perasaan seorang adik terhadap kakaknya  dan perasaaan ini tak  pernah berubah sampai kak Nela meninggal.
     "Tapi ...?"
Kalimatku menggantung dan dia dengan sigap langsung menyerobotnya.
    "Apakah sedikitpun kamu tidak mau mengorbankan perasaanmu untuk Salsa dan Adel?"
Lagi-lagi Fahri menyudutkanku dengan melibatkan kedua anak itu.
    "Tapi kak Fahri tahu kan  kalau aku sudah mencintai orang kain?"
Sejenak Fahri terdiam laki-laki yang masih nampak gagah dengan baju kemeja kotak-kotak yang lengannya dilipat sampai disiku, menatapku kembali sekilas kemudian menarik nafas berat dan meletakkan kedua tangannya dibahuku.
    "Aku juga mencintaimu, Nisa."
Setelah mengatakan itu dia pun melangkah pergi dan tak menoleh lagi. Hingga dua minggu terakhir ini tak pernah menampakkan batang hidungnya dan kedua anaknya pun tak pernah dibawahnya datang berkunjung ke rumah, atau menelpon menanyakan kabar kakek mereka.
Perasaan khawatir mulai muncul dihati  apakah Fahri mulai mengambil jarak? dan sengaja melarang anak-anaknya menemui aku dan ayah? Perasaan kecewa itu pasti sangat menyakitkan hati Fahri, aku bisa nemahami itu semua, tapi kalau Salsa dan Adel dijauhkan dariku itu akan membuatku nelangsa dan mati menahan rindu! Rasanya tidak adil jika melibatkan kedua anak itu.
 
Dengan mencoba menghalau perasaan  tidak tenang di hati, kaki ini terus melangkah mondar-mandir ke ruang tengah, ingin menjumpai mereka, tapi ...? Entahlah kekhawatiranitu datang lagi handpone yang sejak tadi dalam genggaman tiba-yiba berdering, di layar muncul sebuah nama yang tidak asing lagi hagiku, tapi menjadi momok yang menakutkan jika hatus membicarakannya lagi.
"Fahri ...?"
Aku bergumam lirih. Kuangkat telpon dengan debar dada tak karuan  kekhawatiran itu tak bisa kusembunyikan tentang Salsa dan Adel.
    "Apa? Salsa dan Adel masuk rumah sakit?"
Tampa kata apapun Fahri langsung mematikan telponnya.     
    "Halo ... Halo...!"
Suara disebrang sana sudah hilang tak berbekas. Dengan sigap aku mengambil.motot dan segera menuju.rumah sakit menemui Salsa dan Adel. Cukup lama aku mencari ruangan di mana kedua anak itu dirawat sampai kutemukan mereka di ruangan dimana mereka dirawat. Hatiku meradang melihat keduanya berbaring di ruangan yang sama dengan infus dan bantuan oksigen yang menempel ke tubuhnya.
    "Mereka terkena demam berdarah,"
Seorang suster memberikan keterangan .
    "Apa? Demam berdarah?" 
Aku balik bertanya dengan mata terbelalak karena keheranan, suster itu mengangguk kemudian melangkah keluar ruangan setelah mengganti botol infus Salsa. Kuamati kedua wajah anak itu yang pucat pasih, mreka berdua belum mengerti apa-apa.
    "Kenapa mereka bisa terkena penyakit demam berdarah?"
Mataku tajam kearah Fahri, dia terdiam membiarkan aku dalam tangisku sambil mengelus kepala  Adel.
    "Pasti kamu tidak mengurus mereka, kalau kamu tidak bisa mengurusnya, berikan mereka kepadaku, biarkan mereka tinggal bersamaku di rumah kakeknya."
Fahri masih terdiam, namun sesaat karena detik berikutnya, dia menjawabku.
    "Mereka berdua adalah anakkku, jadi hanya aku yang berhak terhadap mereka,"
     "jadi kak Fahri merasa berhak penuh terhadap mrreka sehingga melarangnya untuk brrtemu denganku!" tandasku.
     "Aku tidak melarang, mereka sendiri yang tidak mau bertemu denganmu." Fahri bergumam.
     "Tidak mungkin!"
Mataku mulai panas.
     "Kenapa tidak mungkin! Kamu sudah menolak mereka menjadi ibunya,"
kali ini kata-kata Fahri benar-benar melukai batinku hingga berdarah dan berdarah. Sekuat tenaga aku menahan amarah dan sakit hati agar tidak meledak, hingga menimbulkan kegaduhan di rumah sakit.
     "Dasar egois'
Gerahamku saling menindih.
     "kamu yang egois!"
Fahri menjawab tak kalah sengit.
Suasana rumah sakit berubah hening, mencoba menahan amarah, dan Fahri pun melakukan hal yang sama, dia memandang wajah kedua anaknya yang tertidur. Tidak lama kemudian aku nelihat jari-jari mungil Adel bergerak-gerak dan dia membuka matanya perlahan-lahan buru-buru aku menyapanya dengan senyum.
     "kamu sudah bangun sayang?"
Adel menatapku kosong, kemudian mengalihkan pandangan kearah ayahnya.
    "Ayah, haus,"
    ,"kamu mau minum, sayang?"
Adel bekedip beberapa kali, secepatnya aku mengambil segelas air aqua dan mencoba meminumkannya melalui pipet, bibir mungil Adel menyeruputnya perlahan, matanya kosong kearahku menambah pedih batinku. Duh! Betapa berdosanya diriku! Aku menggenggam erat tangannya, anak itu menampakkan reaksi yang tak terduga saat sebutir air mataku jatuh mengenai punggung tangannya.
     "Air mata mama Nisa untuk siapa?"
Jantungku bagai ditikam sembilu, sakit rasanya. Dengan gemetar menahan sakit, tangan ini kian kuat menggenggam tangan munginya. Pertanyaan yang keluar dari bibir bocah perempuan yang baru berumur lima tahun, tapi bagai halilintar yang menyambar dan memporak-porandakan segalah yang ada di hati. Cinta, pengorbanan, kesetiaan dan semua yang menghiasinya.
    " mama Nisa sayang sekali sama Adel," 
 Tak kuat aku melanjutkan kalimat langsung saja kutelungkupkan wajahku keatas tubuh mungilnya yang terbaring lemah. Ruangan yang di rancang khusus bagi anak-anak yang sakit, dengan nuansa ceria dan gambar kartun menarik yang mengundang senyum, semua tertata apik, bau khas rumah sakit tidak tercium di ruangan ini. Bola mata jecil Salsa juga ikut berkedip karena terbagun dari tidur pulasnya.
     "Ayah, minum haus,"
Mendengar itu secrpatnya Fahri bergegas mengambil air dan meminumkannya, sesaat kemudian pandangannya menyapu ruangan rumah sakit kemudian singgah di wajahku. Hati ini terasa kikuk tapi tetap mencoba tenang dengan melangkah kesisi pembaringan Salsa setelah Adel kondisinya tenang. Kini aku duduk bersisian dengan Fahri.
     "Mauka mama Nisa menjadi mama aku dan Adel?"
Mendengar pertanyaan Salsa perasaanku sebagai seorang tante yang memiliki perasaan kasih sayang yang begitu dalam seperti sedang diuji kebenarannya. Kupaksa bibirku tersenyum dan menampakkan wajah cerah mendengar pertanyaan yang sungguh di luar dugaaan, sebelum menjawab pertanyaan Salsa aku menguatkan hati, menangkap pergelangan tangan Fahri yang hendak bangkit dari tempat duduk untuk menhidar dari jawabanku. Laki-laki dua anak itu terduduk kembali dengan wajah penuh tanya seakan-akan bertanya apa maksudku melarangnya.
     "Salsa sayang  mulai hari ini dan seterusnya kita akan selalu bersama-sama, ada ayah  ada mama Nisa dan Adel, kita berempat akan menjadi keluarga yang bahagia."
     " Jangan  membuat mereka semakin terluka dengan omong kosongmu!"
Fahri geram, mata elangnya membuatku sedikit kecut.
     "Kak Fahri, ini bukan omong kosong, tapi aku ingin benar-benar kita bersama."
Entah dari mana keberanian itu berasal, hingga aku berani mengabaikan perasaan cintaku pada Rehan dengan menerima pernikahan turun ranjang ini.
     "Tidak, Nisa! Penikahan adalah komitmen seumur hidup, jangan melakukan kesalahan dengan bersediah menikah denganku karena kasihan pada kami."
      "Ini bukan kasihan, tapi ini adalah keputusan penting dalam hidupku."
Aku menatap Fahri lebih dalam dan Fahri pun demikian. Kami berdua mengeluarkan isi hati yang mengganjal dada, Salsa dan Adel tersrnyum, seketika wajah mereka berbinar cerah.
 
                    # # #
1578808782506440-0.png
 
 

Enjoyed this article? Stay informed by joining our newsletter!

Comments

You must be logged in to post a comment.

Stori terkait
Jul 8, 2020, 1:15 PM - Annisa mahmudah
Jul 6, 2020, 10:20 PM - Chocho_Yucho
Jul 3, 2020, 6:34 PM - Tjahjono widarmanto
Jul 3, 2020, 6:26 PM - Nnaga
Jul 3, 2020, 1:07 PM - Kristina Dai Laba
Jul 2, 2020, 2:25 PM - Mei Elisabet Sibarani