Profil instastories

PERNIKAHAN BERLADANG PAHALA

CERPEN  NURWAHIDAH 

 

PERNIKAHAN BERLADANG PAHALA

 Aku memandangi wajah suamiku dengan penuh harapan seraya bermunajat "Tuhan,  jika ini memang adalah hadiah untukku, maka berikanlah aku kesabaran dalam menjalaninya." Rintihan batin yang tidak terdengar oleh siapapun, kecuali yang Maha kuasa.

      "Ada apa, Sis ...?"

Tiba-tiba suara mas Edy mengagetkan dan membuat lamunanku buyar. 

      "Tidak ada apa-apa, mas, aku hanya  ..."

Kalimatku menggantung, memandangi wajah mas Edy yang terlihat begitu tenang yang baru saja tertidur pulas tampa menyadarinya kalau aku  di sampingnya dengan hati  penuh warna. Warna yang tidak bisa kulukis dengan kata-kata sebait pun untuk menggambarkan rona hatiku saat ini yang baru saja menerima uang belanja suamiku saat selesai melaksanakan kewajibanku sebagai istri, yaitu membuatnya tidur tenang setelah malam menjadi selimut  ...

     " Kamu kenapa,  Sis.. .?"

Mas Edy mengulang pertanyaannya sekali lagi membuatku tertegun memandangi uang yang masih dalam genggamanku.  Hatiku meringis,  mataku terasa basah dan panas oleh air mata yang cuma berdiam di kelopaknya tidak mau keluar untuk menjaga hati suami yang telah dijunjung tinggi sebagai imam dalam rumah tangga yang sudah setahun berjalan.

      "Mas, aku....  "

Kalimatku kembali mengggantung, tidak kuasa melanjutkannya, padahal sebenarnya aku ingin mengatakan sesuatu kepada suamiku, sesuatu yang selamah ini mengganjal dihati,  namun semua buyar dan hanya menoreh angan-angan hampa.

      "Apa uang itu tidak cukup, Sis?"

"Cukup,  Mas."

Segera kujawab pertanyaannya untuk tidak membuatnya bertanya-tanya lagi. Mas Edy tersenyum kemudian menarik tanganku untuk tidur kembali disampingnya.

Tuhan ... Sampai kapan perasaan seperti ini mengganjal dihatiku, aku ingin protes kepada suamiku untuk semua ini,  tapi sejak kecil kedua orang tuaku mendidikku untuk menjadi perempuan yang shaleh dan menurut ibu istri yang shaleh itu gampang masuk syurga.

Ya,  aku memang penurut sampai aku mau saja dijodohkan dan dikawinkan dengan mas Edy walaupun aku sudah mencintai orang lain, dan cinta itu masih tetap ada untuk dia, kekasih hatiku sebelum menikah,  mas Edy tidak tahu akan hal ini karena penghormatan dan pelayananku sebagai seorang istri nyaris sempurna, hanya saja uang yang selalu kuterima dari suamiku setiap selesai malam mendekap kami berdua dalam dinginnya itu membuat cintaku padanya sulit sekali tumbuh, bahkan seakan racun yang mematikan tunas-tunas cinta untuknya. 

Aku mengurut dada, salahkah aku...? Hal yang  sudah berlangsung sekian lama sejak awal kami menikah sampai usia pernikahan memasuki satu tahun, mungkin juga ini penyebab utama aku belum juga hamil.  Hamil ...? Suamiku tidak pernah sekalipun menanyakan hal itu atau menyinggung soal keinginannya untuk punya anak,  dia seperti menikmati saja pernikahan kami yang menurutku begitu hambar. 

"lho, kamu belum juga tidur,  Sis? "

Mas Edy memperhatikanku penuh keheranan sambil menyalakan lampu kamar hingga nampak terang, sontak pandanganku tertuju ke dinding kamar dimana jam dinding tergantung, pukul 12 malam aku belum juga bisa memejamkan mata, selalu saja uang pemberian suamiku yang masih dalam genggaman seperti obat anti tidur membuatku sulit terpejam. 

      "Aku teringat ibu, mas, "

"kamu kan,  baru saja menjenguknya kemarin ... Rindu lagi? "

Mas Edy memperhatikanku lebih dalam hingga mata kami saling beradu, perpaduan mata yang tidak bisa saling menyelami, penyatuan hati yang tidak bisa saling memahami, walaupun dinikmati bersama-sama untuk mereguk pahala dari Pernikahan ini, bukankah pernikahan itu adalah ladang pahala? Bagaimana tidak,  setiap sentuhannya adalah Pahala, alasan inilah yang membuatku bungkam untuk tidak protes terhadap apa yang dilakukannya padaku.  "mencoba ikhlas. "jawabku pada ibu kemarin saat aku menjenguknya. 

      "Iya,  mas, kemarin aku memang menjenguk ibu, tapi aku kepikiran ibu yang sedang sakit. 

     "Sakit? Emangnya ibu sakit?"

Mata mas Edy membeliak lebar, samar khawatir terdengar dari nada suaranya.

"kenapa baru sekarang kamu bilang kalau ibu sakit?"  ya, sudah, besok kita jenguk ibu sama-sama." Dia menatapku dalam,  kemudian mematikan lampu kamar,  tidak lama kemudian dengkurannya pun terdengar mengusik kesunyian malam.

Mencoba ikhlas, seperti yang kukatakan pada ibu saat ibu menanyakan sesuatu perihal suamiku. Entahlah,  apa yang ada dipikiran ibu tentang pernikahanku yang tidak didasari cinta sebelumnya. Mungkinkah ibu tahu bahwa sampai saat ini aku terus berjuang agar cinta itu bisa hadir?

"pernikahan adalah komitmen seumur hidup." Aku selalu mengunci pertanyaan ibu dengan kata-kata itu agar ibu tidak khawatir apalagi sampai menyesal telah menjodohkanku dengan anak sahabatnya. Karena tidak ingin membuat ibu sedih, kuterima saja semua ini dengan ikhlas, toh aku tidak kekurangan apa-apa, walaupun aku harus berpikir keras jika ingin membantu ibu membayar pengobatannya. Kalau sudah seperti ini ingatanku kepada Fahri merasuk kuat kedalam jiwaku, menoreh semua kenangan indah yang pernah ada di antara kami. 

Fahri cowok ganteng berkacamata mines, namun memiliki sifat ples dalam soal perhatian, kasih sayang dan yang paling penting aku mencintainya. Fahrila yang dulu banyak mengajariku tentang bagaimana menghadapi hidup agar tidak mudah patah arang, mengajariku tentang nilai-nilai Kebaikan yang bermuara pada saling menghargai dan menjaga hati orang lain. 

Mencoba kembali memejamkan mata mengusir kenangan yang tentu saja tidak layak hadir difikiran apalagi dihati bagi perempuan yang telah bersuami dan mengaku beriman seperti diriku.  Hembusan nafas mas Edy terasa menyetuh pipi yang baru saja terbasuh dengan air wudhu, kemudian meraba pipi suamiku berusaha menghadirkan hati saat-saat seprrti ini, rasa ini perlu diikat dengan kuat, agar tetap istiqama.

Desir-desir halus tiba-tiba meraba dinding hati ini saat tangan mas Edy menangkap tanganku yang berhenti menyentuh pipinya.

"Sis,  sampai kapan semua ini bisa bertahan...? "

Pertanyaan suamiku menambah debar dan rasa kaget melihatnya berbicara dalam keadaan tertidur, kuraba wajah dan kupastikan dia benar -benar tertidur, berarti suamiku sedang mengigau! Hap! Ingatanku melayang kemasa dimana aku pernah mendengar bahwa orang yang mengigau jika ditanya maka dia akan menjawabnya jujur. Hati ini kian gelisah.

      "Bertahan bagaimana maksudnya, mas? "

      "Pernikahan kita."

Jawabannya sungguh mengagetkanku. Dengan sangat pelan dan hati-hati kulepaskan tanganku yang tiba-tba terasa dingin dari genggamannnya.  Mas Edy masih tetap tertidur pulas.

      "Memangnya ada apa dengan pernikahan kita?"

Rasa penasaran kian membuncah, hingga pertanyaan itu pun bermunculan dan jawabannya pun mengagetkaku dan mengiris batinku, rupanya suamiku pun punya kekasih saat menikah denganku, tapi dia berusaha ikhlas menerimaku dan sampai sekarang belajar mencintaiku sepenuh dadanya. Tuhan....! 

Gerimis di luar sana menambah rasa dinginya malam dan dia pun tertidur kian lelap dan terlihat begitu nyaman seperti baru saja melepaskan semua beban dalam hatinya. Sementara aku...? Memeluk bantal dan menggigitnya penuh luka. Rupanya dia pun melakukan pengorbanan yang besar untuk mempertahankan pernikahan kami, berarti akupun harus rela menerima uang belanja saat-saat malam menyelimuti kami berdua.

Memenjarakan rindu dalam jeruji-jeruji waktu sungguh menyakitkan! Rindu ketulusan, rindu akan cinta dan dicintai, tapi apa yang bisa kulakukan untuk mengakhiri semua ini.

"Lho,  Sis, kamu sepertinya tidak tidur semalam?"

"Apa perdulimu, mas? "

Seketika mata mas Edy membeliak lebar mendengar jawabanku pagi ini yang tidak seperti biasanya. Teringat ngigauannya Semalam seakan menimbulkan riak cemburu dihati. Cemburu?  Apakah aku benar-benar cemburu? Apakah aku punya hak untuk cemburu?  Ah, suatu pertanda baik biasanya rasa cemburu itu lahir karena cinta. 

       "Sis... Kamu tidak sedang marah, kan? "

Mas Edy mencoba memastikan bahwa aku baik-baik saja dengan mendekatiku dan meletakkan punggung tangannya didahiku  memeriksa apakah aku sakit atau tidak. 

      "Apakah aku punya hak untuk marah padamu? "

Suaraku mulai lunak dengan berusaha memperbaiki hati agar tetap pada posisi itiqama seratus derajat. 

      "Kalau begitu, kita sekarang berangkat ke rumah ibu. "

Mas Edy menggandeng tanganku menuju mobil yang sudah siap di halaman, dengan perasaan gerimis kuikuti langkahnya dan membiarkan dia  berlaku mesra dengan membukakan  pintu mobil dan tersenyum manis, wajah suamiku benar-benar fres, dia seperti baru saja memenangkan pertandingan yang menegangkan, sementara aku?  Seperti baru saja mengalami kekalahan dari sebuah kompetisi penting. Letih, lesuh dan gamang berhasil menguasai suasana batinku. 

     Mobil melaju pelan, sesekali mas Edy melirik kearahku kemudian bersiul ringan. 

      "Sudahlah, Sis,  kita akan segera sampai ke rumah ibu,  dan rindumu itu akan segera terobati, "

"iya, mas,"

Jawaban seadanya yang kuberikan  semakin membuatnya menyetir mobil dengan tenang sampai di rumah ibu. 

      Kudapati ibu terbaring di tempat tidur dengan kondisi yang kian lemah, matanya nanar memandang kearahku. 

"Kamu datang dengan siapa, nak? "

"Dengan mas Edy, bu,"

"kalau begitu mana dia?"

"Dia lagi bercengkrama dengan Suci, bu."

Jawabku sembari duduk di tepi pembaringan ibu. 

         "Suci memangnya belum berangkat sekolah? "

Ibu menanyakan adik perempuanku satu-satunya itu sambil terbatuk-batuk.

     "Ini hari minggu, bu"

Ibu terdiam baru menyadari kalau ternyata hari ini hari libur.  Itulah sebabnya mas Edy punya waktu menemaniku menjenguk ibu, kalau tidak hari libur, mana mungkin dia punya waktu untukku. Aku menarik nafas panjang menyadari semua itu.  Sudahlah...  yang penting sekarang aku di rumah ibu dan bisa menemani ibu ngobrol, walaupun aku tahu ibu tidak akan terlalu kesepian di rumah sebab ada Suci yang merawatnya, tetapi tetap saja batinku dilanda resah setiap waktu mengingat sakit ibu yang tidak kunjung sembuh.  

      "Lho kenapa kamu menangis,  nak? "

Pertanyaan ibu yang bernada khawatir membuatku segera menyeka air mata dan pura-pura kelilipan.

     "ibu tidak apa-apa, nak. "

"Tidak apa-apa gimana, bu,  kondisi ibu semakin lemah seharusnya ibu di bawah ke rumah sakit. "

Kupurhatikan wajah ibu penuh keharuan,  batinku menangis. Perempuan yang telah melahirkan aku, perempuan yang terus kuat, menjadikan bahunya sebagai sandaran jika aku sedih, yang terus memompah semangatku jika lemah dan sekarang ibu sedang sakit dan aku tidak bisa berbuat apa-apa untuk membawa ibu ke rumah sakit karena tidak punya cukup uang. Apa yang harus kulakukan!  Pikiranku mulai bekerja bagaimana caranya agar punya uang untuk membayar pengobatan ibu yang jumlahnya tidak sedikit,  dokter yang merawat menyarankan agar ibu di kemoterapi telah mengisyaratkan bahwa kemungkinan biayanya mencapai puluhan juta sekali kemo, duh! Tuhan .... Uang yang diberikan Mas Edy disetiap malam menyelimuti kami tidak akan cukup untuk membayar pengobatan ibu.

      "Ada apa,  Sis? "

Suara mas Edy mengagetkanku yang tiba-tiba di depan bilik ibu. 

"Ibu semakin lemas, mas"

"kita antar ibu ke rumah sakit sekarang, penyakit ibu tidak bisa dibiarkan, Suci sudah menceritakan penyakit ibu padaku tadi,."

"Tapi biayanya,, mas...? "

kalimatku menggantung seperti perasaanku yang tidak tahu tertumpuh dimana saat ini. 

"Aku yang akan membiayai pengobatan ibu. "

Mas Edy memapah ibu ke luar dan mengangkatnya ke dalam mobil, aku yang menyaksikan itu semua hanya mampu berdecak sedikit kagum kepada suamiku sendiri yang rela ikut kerepotan mengurus ibuku. Sampai di rumah sakit pun mas Edy yang mengurus semua  administrasinya, aku dan suci hanya menunggui ibu di periksa oleh dokter. 

"Sis,  bagaimana kalau kita pulang dulu ke rumah beristirahat,  kamu nampak sangat lelah. "

mas Edy menatapku sekilas, aku melihat sedikit kecemasan di wajahnya melihatku nampak sangat lelah yang memang dari semalam tidak bisa tidur karena kecewa dengan pemberian uangnya padaku.

 Melihatku tidak merespon mas Edy,  ibu memandangku dengan isyarat agar aku pulang dengan suamiku untuk beristirahat.

      "Pulanglah dulu, Kak,  nanti aku yang jaga ibu di rumah sakit. "

Suci ikut mendorongku untuk pulang ke rumah,  sehingga kaki ini pun melangkah mengikuti suamiku. 

       Entah mengapa aku merasa sangat berhutang banyak kepada suamiku setelah dia membayar pengobatan ibu di rumah sakit.  Bagaimana aku harus membayarnya ...?

Jantung ini berirama, menyeruak, gemerciknya seperti air mengalir yang menghayutkan suasana hati,  pelan-pelan,  meskipun bergetar takut dan malu itu datang menyapa, namun entah kekuatan apa yang bersemayam dalam diri ini sampai nekat berbuat seperti ini,  mengendap-endap naik ke atas ranjang,  kemudian mendekatinya pelan-pelan, dan  berani mendekatinya yang sementara tertidur pulas, sehingga mas Edy terbangun dengan mata terbelalak, setahun pernikahan kami berjalan aku tidak pernah berlaku seperti ini kepadanya. 

     "Sis,  apa yang kamu lakukan? "

Mata mas Edy penuh keheranan, walaupun dia berhasil menepisnya dengan senyum dan candaannya, 

"hm ... kamu kangen ya? "

Dia kemudian mencubit pipiku kemudian menarik lenganku 

    "Tapi kamu kan sedang lelah."

     "Aku ingin membayar utangku, mas. 

     "Utang apa? Dimana kamu berutang? "

Aku terdiam,  termangu antara takut dan sedih. Mas Edy menatapku curiga. mata teduhnya mengisyaratkan sejuta tanya, ada apa gerangan dengan diriku yang nampak sangat agresif,  yang sebelumnya tidak pernah terjadi, meskipun begitu mas Edy santai menanggapinya, tetap dia berlaku seperti biasa, seperti malam-malam sebelumnya. Sebelum dia mengeluarkan uang dari dompetnya aku menunduk malu dengan kata-kataku sendiri. 

"Apakah yang tadi cukup untuk membayar utangku, mas? "

"Maksud,  kamu? "

Mas Edy memicingkan matanya keheranan. 

     "Mas, tadi telah membayar pengobatan ibu, jadi aku merasa berutang padamu, "

     "Astagfirullah,  Siska! ibumu adalah ibuku juga, tega kamu mengatakan hal itu pada suamimu sendiri "

Melihat rona wajahnya yang nampak terluka dengan perkataanku hati ini kian luka, apakah mas Edy tidak peka dengan apa yang aku rasakan selamah ini? Perasaan tercabik-cabik manakala dia memberikan uang belanja padaku setelah malam mendekap kami berdua.

"Kenapa,  mas? Apa kamu marah dengan perkataanku? Sementara apa yang kamu lakukan padaku selamah ini itu sangat melukai batinku!"

kuremas bantal guling yang ada di depanku, air mataku tumpah, tak sanggup lagi aku menyembunyikan kekecewaan yang sudah setahun terpenjara di balik ego kepatuhan seorang istri yang harus selalu kujunjung tinggi. 

"Memangnya apa yang aku lakukan padamu,  Sis ...?"

"Setebal apa dinding hatimu,  mas,  sampai tidak bisa merasakan apa yang dirasakan istrimu sendiri. "

Wajah mas Edy kian menegang mendengar ucapanku yang mungkin diluar dugaannya. 

"Aku merasa bahwa aku adalah seorang istri yang harus menjual diri kepada suaminya sendiri agar mendapat uang belanja! "

Wajah mas Edy seketika memias, bibirnya bergetar hebat, aku melihat matanya mengeluarkan bola bening disudutnya yang teduh, tangan kekarnya seketika meraih kepalaku dan menyandarkan dibahunya,  tangisku pun kian pecah  dikeheningan malam. 

"Maafkan aku, sayang, aku tidak tahu cara terbaik dan waktu paling tepat memberi kamu uang,  kamu adalah istriku uangku adalah uangmu, "

Mas Edy terisak,  dalam dekapannya aku bisa merasakan penyesalan yang ada di sana, dan entah mengapa aku merasakan kehadiran cinta diantara kami perlahan-lahan menyentuh kemudian lekat bersama hilangnya kesalahpahaman itu. 

 

             # # #

 

     

 

 

 

 

   

 

 

 

 

      

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

                 

 

     

 

       

                      

     

 

 

 

CERPEN  NURWAHIDAH 

 

PERNIKAHAN BERLADANG PAHALA

 Aku memandangi wajah suamiku dengan penuh harapan seraya bermunajat "Tuhan,  jika ini memang adalah hadiah untukku, maka berikanlah aku kesabaran dalam menjalaninya." Rintihan batin yang tidak terdengar oleh siapapun, kecuali yang Maha kuasa.

      "Ada apa, Sis ...?"

Tiba-tiba suara mas Edy mengagetkan dan membuat lamunanku buyar. 

      "Tidak ada apa-apa, mas, aku hanya  ..."

Kalimatku menggantung, memandangi wajah mas Edy yang terlihat begitu tenang yang baru saja tertidur pulas tampa menyadarinya kalau aku  di sampingnya dengan hati  penuh warna. Warna yang tidak bisa kulukis dengan kata-kata sebait pun untuk menggambarkan rona hatiku saat ini yang baru saja menerima uang belanja suamiku saat selesai melaksanakan kewajibanku sebagai istri, yaitu membuatnya tidur tenang setelah malam menjadi selimut  ...

     " Kamu kenapa,  Sis.. .?"

Mas Edy mengulang pertanyaannya sekali lagi membuatku tertegun memandangi uang yang masih dalam genggamanku.  Hatiku meringis,  mataku terasa basah dan panas oleh air mata yang cuma berdiam di kelopaknya tidak mau keluar untuk menjaga hati suami yang telah dijunjung tinggi sebagai imam dalam rumah tangga yang sudah setahun berjalan.

      "Mas, aku....  "

Kalimatku kembali mengggantung, tidak kuasa melanjutkannya, padahal sebenarnya aku ingin mengatakan sesuatu kepada suamiku, sesuatu yang selamah ini mengganjal dihati,  namun semua buyar dan hanya menoreh angan-angan hampa.

      "Apa uang itu tidak cukup, Sis?"

"Cukup,  Mas."

Segera kujawab pertanyaannya untuk tidak membuatnya bertanya-tanya lagi. Mas Edy tersenyum kemudian menarik tanganku untuk tidur kembali disampingnya.

Tuhan ... Sampai kapan perasaan seperti ini mengganjal dihatiku, aku ingin protes kepada suamiku untuk semua ini,  tapi sejak kecil kedua orang tuaku mendidikku untuk menjadi perempuan yang shaleh dan menurut ibu istri yang shaleh itu gampang masuk syurga.

Ya,  aku memang penurut sampai aku mau saja dijodohkan dan dikawinkan dengan mas Edy walaupun aku sudah mencintai orang lain, dan cinta itu masih tetap ada untuk dia, kekasih hatiku sebelum menikah,  mas Edy tidak tahu akan hal ini karena penghormatan dan pelayananku sebagai seorang istri nyaris sempurna, hanya saja uang yang selalu kuterima dari suamiku setiap selesai malam mendekap kami berdua dalam dinginnya itu membuat cintaku padanya sulit sekali tumbuh, bahkan seakan racun yang mematikan tunas-tunas cinta untuknya. 

Aku mengurut dada, salahkah aku...? Hal yang  sudah berlangsung sekian lama sejak awal kami menikah sampai usia pernikahan memasuki satu tahun, mungkin juga ini penyebab utama aku belum juga hamil.  Hamil ...? Suamiku tidak pernah sekalipun menanyakan hal itu atau menyinggung soal keinginannya untuk punya anak,  dia seperti menikmati saja pernikahan kami yang menurutku begitu hambar. 

"lho, kamu belum juga tidur,  Sis? "

Mas Edy memperhatikanku penuh keheranan sambil menyalakan lampu kamar hingga nampak terang, sontak pandanganku tertuju ke dinding kamar dimana jam dinding tergantung, pukul 12 malam aku belum juga bisa memejamkan mata, selalu saja uang pemberian suamiku yang masih dalam genggaman seperti obat anti tidur membuatku sulit terpejam. 

      "Aku teringat ibu, mas, "

"kamu kan,  baru saja menjenguknya kemarin ... Rindu lagi? "

Mas Edy memperhatikanku lebih dalam hingga mata kami saling beradu, perpaduan mata yang tidak bisa saling menyelami, penyatuan hati yang tidak bisa saling memahami, walaupun dinikmati bersama-sama untuk mereguk pahala dari Pernikahan ini, bukankah pernikahan itu adalah ladang pahala? Bagaimana tidak,  setiap sentuhannya adalah Pahala, alasan inilah yang membuatku bungkam untuk tidak protes terhadap apa yang dilakukannya padaku.  "mencoba ikhlas. "jawabku pada ibu kemarin saat aku menjenguknya. 

      "Iya,  mas, kemarin aku memang menjenguk ibu, tapi aku kepikiran ibu yang sedang sakit. 

     "Sakit? Emangnya ibu sakit?"

Mata mas Edy membeliak lebar, samar khawatir terdengar dari nada suaranya.

"kenapa baru sekarang kamu bilang kalau ibu sakit?"  ya, sudah, besok kita jenguk ibu sama-sama." Dia menatapku dalam,  kemudian mematikan lampu kamar,  tidak lama kemudian dengkurannya pun terdengar mengusik kesunyian malam.

Mencoba ikhlas, seperti yang kukatakan pada ibu saat ibu menanyakan sesuatu perihal suamiku. Entahlah,  apa yang ada dipikiran ibu tentang pernikahanku yang tidak didasari cinta sebelumnya. Mungkinkah ibu tahu bahwa sampai saat ini aku terus berjuang agar cinta itu bisa hadir?

"pernikahan adalah komitmen seumur hidup." Aku selalu mengunci pertanyaan ibu dengan kata-kata itu agar ibu tidak khawatir apalagi sampai menyesal telah menjodohkanku dengan anak sahabatnya. Karena tidak ingin membuat ibu sedih, kuterima saja semua ini dengan ikhlas, toh aku tidak kekurangan apa-apa, walaupun aku harus berpikir keras jika ingin membantu ibu membayar pengobatannya. Kalau sudah seperti ini ingatanku kepada Fahri merasuk kuat kedalam jiwaku, menoreh semua kenangan indah yang pernah ada di antara kami. 

Fahri cowok ganteng berkacamata mines, namun memiliki sifat ples dalam soal perhatian, kasih sayang dan yang paling penting aku mencintainya. Fahrila yang dulu banyak mengajariku tentang bagaimana menghadapi hidup agar tidak mudah patah arang, mengajariku tentang nilai-nilai Kebaikan yang bermuara pada saling menghargai dan menjaga hati orang lain. 

Mencoba kembali memejamkan mata mengusir kenangan yang tentu saja tidak layak hadir difikiran apalagi dihati bagi perempuan yang telah bersuami dan mengaku beriman seperti diriku.  Hembusan nafas mas Edy terasa menyetuh pipi yang baru saja terbasuh dengan air wudhu, kemudian meraba pipi suamiku berusaha menghadirkan hati saat-saat seprrti ini, rasa ini perlu diikat dengan kuat, agar tetap istiqama.

Desir-desir halus tiba-tiba meraba dinding hati ini saat tangan mas Edy menangkap tanganku yang berhenti menyentuh pipinya.

"Sis,  sampai kapan semua ini bisa bertahan...? "

Pertanyaan suamiku menambah debar dan rasa kaget melihatnya berbicara dalam keadaan tertidur, kuraba wajah dan kupastikan dia benar -benar tertidur, berarti suamiku sedang mengigau! Hap! Ingatanku melayang kemasa dimana aku pernah mendengar bahwa orang yang mengigau jika ditanya maka dia akan menjawabnya jujur. Hati ini kian gelisah.

      "Bertahan bagaimana maksudnya, mas? "

      "Pernikahan kita."

Jawabannya sungguh mengagetkanku. Dengan sangat pelan dan hati-hati kulepaskan tanganku yang tiba-tba terasa dingin dari genggamannnya.  Mas Edy masih tetap tertidur pulas.

      "Memangnya ada apa dengan pernikahan kita?"

Rasa penasaran kian membuncah, hingga pertanyaan itu pun bermunculan dan jawabannya pun mengagetkaku dan mengiris batinku, rupanya suamiku pun punya kekasih saat menikah denganku, tapi dia berusaha ikhlas menerimaku dan sampai sekarang belajar mencintaiku sepenuh dadanya. Tuhan....! 

Gerimis di luar sana menambah rasa dinginya malam dan dia pun tertidur kian lelap dan terlihat begitu nyaman seperti baru saja melepaskan semua beban dalam hatinya. Sementara aku...? Memeluk bantal dan menggigitnya penuh luka. Rupanya dia pun melakukan pengorbanan yang besar untuk mempertahankan pernikahan kami, berarti akupun harus rela menerima uang belanja saat-saat malam menyelimuti kami berdua.

Memenjarakan rindu dalam jeruji-jeruji waktu sungguh menyakitkan! Rindu ketulusan, rindu akan cinta dan dicintai, tapi apa yang bisa kulakukan untuk mengakhiri semua ini.

"Lho,  Sis, kamu sepertinya tidak tidur semalam?"

"Apa perdulimu, mas? "

Seketika mata mas Edy membeliak lebar mendengar jawabanku pagi ini yang tidak seperti biasanya. Teringat ngigauannya Semalam seakan menimbulkan riak cemburu dihati. Cemburu?  Apakah aku benar-benar cemburu? Apakah aku punya hak untuk cemburu?  Ah, suatu pertanda baik biasanya rasa cemburu itu lahir karena cinta. 

       "Sis... Kamu tidak sedang marah, kan? "

Mas Edy mencoba memastikan bahwa aku baik-baik saja dengan mendekatiku dan meletakkan punggung tangannya didahiku  memeriksa apakah aku sakit atau tidak. 

      "Apakah aku punya hak untuk marah padamu? "

Suaraku mulai lunak dengan berusaha memperbaiki hati agar tetap pada posisi itiqama seratus derajat. 

      "Kalau begitu, kita sekarang berangkat ke rumah ibu. "

Mas Edy menggandeng tanganku menuju mobil yang sudah siap di halaman, dengan perasaan gerimis kuikuti langkahnya dan membiarkan dia  berlaku mesra dengan membukakan  pintu mobil dan tersenyum manis, wajah suamiku benar-benar fres, dia seperti baru saja memenangkan pertandingan yang menegangkan, sementara aku?  Seperti baru saja mengalami kekalahan dari sebuah kompetisi penting. Letih, lesuh dan gamang berhasil menguasai suasana batinku. 

     Mobil melaju pelan, sesekali mas Edy melirik kearahku kemudian bersiul ringan. 

      "Sudahlah, Sis,  kita akan segera sampai ke rumah ibu,  dan rindumu itu akan segera terobati, "

"iya, mas,"

Jawaban seadanya yang kuberikan  semakin membuatnya menyetir mobil dengan tenang sampai di rumah ibu. 

      Kudapati ibu terbaring di tempat tidur dengan kondisi yang kian lemah, matanya nanar memandang kearahku. 

"Kamu datang dengan siapa, nak? "

"Dengan mas Edy, bu,"

"kalau begitu mana dia?"

"Dia lagi bercengkrama dengan Suci, bu."

Jawabku sembari duduk di tepi pembaringan ibu. 

         "Suci memangnya belum berangkat sekolah? "

Ibu menanyakan adik perempuanku satu-satunya itu sambil terbatuk-batuk.

     "Ini hari minggu, bu"

Ibu terdiam baru menyadari kalau ternyata hari ini hari libur.  Itulah sebabnya mas Edy punya waktu menemaniku menjenguk ibu, kalau tidak hari libur, mana mungkin dia punya waktu untukku. Aku menarik nafas panjang menyadari semua itu.  Sudahlah...  yang penting sekarang aku di rumah ibu dan bisa menemani ibu ngobrol, walaupun aku tahu ibu tidak akan terlalu kesepian di rumah sebab ada Suci yang merawatnya, tetapi tetap saja batinku dilanda resah setiap waktu mengingat sakit ibu yang tidak kunjung sembuh.  

      "Lho kenapa kamu menangis,  nak? "

Pertanyaan ibu yang bernada khawatir membuatku segera menyeka air mata dan pura-pura kelilipan.

     "ibu tidak apa-apa, nak. "

"Tidak apa-apa gimana, bu,  kondisi ibu semakin lemah seharusnya ibu di bawah ke rumah sakit. "

Kupurhatikan wajah ibu penuh keharuan,  batinku menangis. Perempuan yang telah melahirkan aku, perempuan yang terus kuat, menjadikan bahunya sebagai sandaran jika aku sedih, yang terus memompah semangatku jika lemah dan sekarang ibu sedang sakit dan aku tidak bisa berbuat apa-apa untuk membawa ibu ke rumah sakit karena tidak punya cukup uang. Apa yang harus kulakukan!  Pikiranku mulai bekerja bagaimana caranya agar punya uang untuk membayar pengobatan ibu yang jumlahnya tidak sedikit,  dokter yang merawat menyarankan agar ibu di kemoterapi telah mengisyaratkan bahwa kemungkinan biayanya mencapai puluhan juta sekali kemo, duh! Tuhan .... Uang yang diberikan Mas Edy disetiap malam menyelimuti kami tidak akan cukup untuk membayar pengobatan ibu.

      "Ada apa,  Sis? "

Suara mas Edy mengagetkanku yang tiba-tiba di depan bilik ibu. 

"Ibu semakin lemas, mas"

"kita antar ibu ke rumah sakit sekarang, penyakit ibu tidak bisa dibiarkan, Suci sudah menceritakan penyakit ibu padaku tadi,."

"Tapi biayanya,, mas...? "

kalimatku menggantung seperti perasaanku yang tidak tahu tertumpuh dimana saat ini. 

"Aku yang akan membiayai pengobatan ibu. "

Mas Edy memapah ibu ke luar dan mengangkatnya ke dalam mobil, aku yang menyaksikan itu semua hanya mampu berdecak sedikit kagum kepada suamiku sendiri yang rela ikut kerepotan mengurus ibuku. Sampai di rumah sakit pun mas Edy yang mengurus semua  administrasinya, aku dan suci hanya menunggui ibu di periksa oleh dokter. 

"Sis,  bagaimana kalau kita pulang dulu ke rumah beristirahat,  kamu nampak sangat lelah. "

mas Edy menatapku sekilas, aku melihat sedikit kecemasan di wajahnya melihatku nampak sangat lelah yang memang dari semalam tidak bisa tidur karena kecewa dengan pemberian uangnya padaku.

 Melihatku tidak merespon mas Edy,  ibu memandangku dengan isyarat agar aku pulang dengan suamiku untuk beristirahat.

      "Pulanglah dulu, Kak,  nanti aku yang jaga ibu di rumah sakit. "

Suci ikut mendorongku untuk pulang ke rumah,  sehingga kaki ini pun melangkah mengikuti suamiku. 

       Entah mengapa aku merasa sangat berhutang banyak kepada suamiku setelah dia membayar pengobatan ibu di rumah sakit.  Bagaimana aku harus membayarnya ...?

Jantung ini berirama, menyeruak, gemerciknya seperti air mengalir yang menghayutkan suasana hati,  pelan-pelan,  meskipun bergetar takut dan malu itu datang menyapa, namun entah kekuatan apa yang bersemayam dalam diri ini sampai nekat berbuat seperti ini,  mengendap-endap naik ke atas ranjang,  kemudian mendekatinya pelan-pelan, dan  berani mendekatinya yang sementara tertidur pulas, sehingga mas Edy terbangun dengan mata terbelalak, setahun pernikahan kami berjalan aku tidak pernah berlaku seperti ini kepadanya. 

     "Sis,  apa yang kamu lakukan? "

Mata mas Edy penuh keheranan, walaupun dia berhasil menepisnya dengan senyum dan candaannya, 

"hm ... kamu kangen ya? "

Dia kemudian mencubit pipiku kemudian menarik lenganku 

    "Tapi kamu kan sedang lelah."

     "Aku ingin membayar utangku, mas. 

     "Utang apa? Dimana kamu berutang? "

Aku terdiam,  termangu antara takut dan sedih. Mas Edy menatapku curiga. mata teduhnya mengisyaratkan sejuta tanya, ada apa gerangan dengan diriku yang nampak sangat agresif,  yang sebelumnya tidak pernah terjadi, meskipun begitu mas Edy santai menanggapinya, tetap dia berlaku seperti biasa, seperti malam-malam sebelumnya. Sebelum dia mengeluarkan uang dari dompetnya aku menunduk malu dengan kata-kataku sendiri. 

"Apakah yang tadi cukup untuk membayar utangku, mas? "

"Maksud,  kamu? "

Mas Edy memicingkan matanya keheranan. 

     "Mas, tadi telah membayar pengobatan ibu, jadi aku merasa berutang padamu, "

     "Astagfirullah,  Siska! ibumu adalah ibuku juga, tega kamu mengatakan hal itu pada suamimu sendiri "

Melihat rona wajahnya yang nampak terluka dengan perkataanku hati ini kian luka, apakah mas Edy tidak peka dengan apa yang aku rasakan selamah ini? Perasaan tercabik-cabik manakala dia memberikan uang belanja padaku setelah malam mendekap kami berdua.

"Kenapa,  mas? Apa kamu marah dengan perkataanku? Sementara apa yang kamu lakukan padaku selamah ini itu sangat melukai batinku!"

kuremas bantal guling yang ada di depanku, air mataku tumpah, tak sanggup lagi aku menyembunyikan kekecewaan yang sudah setahun terpenjara di balik ego kepatuhan seorang istri yang harus selalu kujunjung tinggi. 

"Memangnya apa yang aku lakukan padamu,  Sis ...?"

"Setebal apa dinding hatimu,  mas,  sampai tidak bisa merasakan apa yang dirasakan istrimu sendiri. "

Wajah mas Edy kian menegang mendengar ucapanku yang mungkin diluar dugaannya. 

"Aku merasa bahwa aku adalah seorang istri yang harus menjual diri kepada suaminya sendiri agar mendapat uang belanja! "

Wajah mas Edy seketika memias, bibirnya bergetar hebat, aku melihat matanya mengeluarkan bola bening disudutnya yang teduh, tangan kekarnya seketika meraih kepalaku dan menyandarkan dibahunya,  tangisku pun kian pecah  dikeheningan malam. 

"Maafkan aku, sayang, aku tidak tahu cara terbaik dan waktu paling tepat memberi kamu uang,  kamu adalah istriku uangku adalah uangmu, "

Mas Edy terisak,  dalam dekapannya aku bisa merasakan penyesalan yang ada di sana, dan entah mengapa aku merasakan kehadiran cinta diantara kami perlahan-lahan menyentuh kemudian lekat bersama hilangnya kesalahpahaman itu. 

 

             # # #

 

     

 

 

 

 

   

 

 

 

 

      

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

                 

 

     

 

       

                      

     

 

 

 

Enjoyed this article? Stay informed by joining our newsletter!

Comments

You must be logged in to post a comment.

Stori terkait
Jul 8, 2020, 1:15 PM - Annisa mahmudah
Jul 6, 2020, 10:20 PM - Chocho_Yucho
Jul 3, 2020, 6:34 PM - Tjahjono widarmanto
Jul 3, 2020, 6:26 PM - Nnaga
Jul 3, 2020, 1:07 PM - Kristina Dai Laba
Jul 2, 2020, 2:25 PM - Mei Elisabet Sibarani