Profil instastories

PERJANJIAN LELUHUR DENGAN IBLIS

PART 1

Seorang gadis muda, menuruni jalan yang sedikit terjal. Tas ransel di bahunya terlihat cukup berat. Napasnya, mulai tersengal-sengal.

Dia mencoba berhenti di sebuah sendang yang terlihat bening. Terdapat pohon durian yang sangat rindang menaungi. Raut wajahnya tampak letih. Dia langsung meletakkan tas ranselnya di sebuah batu besar.  Perlahan dia mulai melepas sepatunya. Air yang bening dan segar, terlihat menyenangkan. Andini tertarik untuk membasuh wajah polosnya. Gadis itu, tak merasakan jika ada seseorang yang tengah mengawasinya.

“Alhamdulillah, segarnya air ini.”

Kemudian, dia bergegas meninggalkan tempat itu. Gadis yang bernama Andini Sindang pun berlalu. Langkah kakinya terlihat masih kuat berjalan. Hingga akhirnya dia sampai pada sebuah rumah.

Kedua bola matanya mengitari sekitar halaman dan teras depan. Masih sama seperti dulu. Saat dia tinggalkan sekitar tujuh tahun yang lalu.

“Assalamualaikum….”

Suasana hening. Begitu juga sekitar rumah. Hanya ada beberapa rumah tetangga yang berjarak tak terlalu dekat. Sawah yang terlihat hijau mengapit rumah itu.

“Assalamualaikum….”

Kembali Andini, mengucap salam. Namun, tetap tak ada  jawaban. Gadis itu kemudian berjalan menuju pintu yang terbuat dari kayu.

Kriiiiieeet!

Bunyi pintu berderit. Kemudian, dia kembali mendorongnya lebih lebar. Rumah ini terlihat sepi. Akhirnya dia putuskan masuk. Perlahan dia menjejakkan kakinya di ubin tanah liat.

“Bude….”

Hening tak ada jawaban. Dia langsung menaruh tas ransel di kursi bambu. Andini berjalan perlahan menuju ruang belakang. Dapurnya sangat luas. Dapur dengan sebutan pawon itu, masih mengeluarkan asap dari pembakaran kayu.

Andini mencoba membuka pintu belakang. Dia tampak kesulitan untuk membuka gerendel kayu yang terselip di bagian samping. Kemudian, gadis itu mengurungkan niatnya. Dia berjalan ke ruang depan.

Namun, tatapan matanya menangkap sebuah bayangan yang melintas tak jauh darinya. Bergegas dia berlari ke luar rumah mengejar. Namun, bayangan itu menghilang.

“Nduuuk!”

Teriakan Bude dari jauh terdengar jelas. Andini langsung berlari menghampirinya. Gadis itu langsung menyambar rinjing yang terbuat dari bambu.

“Lah dalah…kok endak ngomong kalo mau ke sini,” cetus Bude senang.

“Iya Bude. Kebetulan kuliah libur. Trus sama Bapak saya disuruh menemani Bude,” jawab Andini.

Kemudian mereka berjalan beriringan. Bude langsung membawa tas Andini di kamar depan, bersebelahan dengan kamarnya.

“Kalo mandi, air e nimba yo, Nduk.”

“Siap, Bude,” sahut Andini.

***

Setelah mereka makan malam, Bude mengantar Andini tidur. Dia menyelimuti tubuh gadis manis itu.

“Wes tidur seng nyenyak yo!”

Andini mengangguk dengan tersenyum. Bude pun pergi menuju kamarnya. Suasana malam di desa ini, sungguh berbeda dari rumahnya. Terdengar suara jangkrik yang terus mengerik.

Hawa dingin langsung terasa. Andini menarik selimut yang berada di ujung kakinya. Lampu lima watt itu, tampak remang di penglihatannya.

Matanya mulai terasa berat. Gadis itu pun mulai tertidur dengan nyenyak. Andini terbangun dengan gelagapan. Dirinya merasakan sentuhan dingin meraba sekujur tubuhnya.

Gadis itu mulai tak tenang. Setiap di tempat baru, dia akan sulit untuk bisa tidur dengan lelap. Kemudian, Andini mencoba membalikkan tubuhnya menghadap pintu, yang hanya tertutupi oleh selembar tirai kain.

Antara tidur dan sadar, dia melihat seperti ada seseorang tengah menatapnya dari ujung tirai yang tersingkap. Tiba-tiba, angin berhembus sangat kencang. Tirai itu, tersibak cukup lebar. Andini sangat jelas  melihat sebuah bayangan. Sesaat dia ingin turun dari ranjang, mengikuti bayangan itu. Namun, tubuhnya terasa berat dan kaku. Gadis itu merasa tak bisa bergerak. Seperti tindihan.

Aaaaaahhh! Aaaaaaaaahhh! Aaaaaaaaahhh!

Seketika Andini berteriak. Kemudian, terbangun. Dia langsung mengerjap kedua matanya. Seolah semua yang baru saja dia alami adalah mimpi. Gadis itu, mengambil ponsel yang dia letakkan di bawah bantal. Terlihat jam sebelas malam.

“Gila! Desa ini sepi sekali,” desisnya.

Kemudian, dia turun dan beranjak keluar kamar. Kakinya melangkah berjalan ke kamar mandi. Tiba-tiba, perutnya terasa mulas yang tak bisa dia tahan lagi. Kamar mandi ini sangat sederhana. Biliknya terbuat dari batu bata yang belum dilulur semen. Bagian pintu terbuat dari bambu yang di geser buka tutup.

Dengan malas, gadis itu mulai mengerek timba. Awalnya, kerekan ini terasa ringan. Namun, lama-lama timba semakin berat saat dia tarik ke atas. Andini mulai kebingungan. Sedangkan, perutnya semakin mulas. Akhirnya, bergegas dia  masuk ke kamar mandi.

Tak lama berada dalam kamar mandi, terdengar duara kerekan timba.

Kreeekk! Kreeekk! Byuuuur!

Kreeekk! Kreeekk! Byuuuur!

Kreeekk! Kreeekk! Byuuuur!

Andini sempat melongo. Sepertinya ada seseorang yang sedang menimba.

“Bude! Bude!” teriaknya.

Pandangan matanya beralih pada air di bak mandi yang semakin penuh. Dengan gerakan cepat, dia segera membersihkan diri. Namun, dia merasakan seseorang tengah mengawasinya. Sudut ekor mata Andini menangkap bayangan dari balik pintu bambu.

Seketika, bulu kuduknya berdiri. Aroma wangi melati langsung melesak masuk ke hidungnya.

“Siapa? Bude ya?”

Hening. Tak ada jawaban.

“Busyeeet! Apa-apan nih ….”

Gerutu Andini pelan.

Andini mencoba untuk tenang. Sesekali dia menghirup napas dalam, dan menghembuskannya perlahan.

Aaaaahhh!

Dengan langkah berani, dia keluar. Kedua bola matanya, mengitari seluruh ruang belakang, dari sumur sampai ke dapur. Sepi dan hening. Tak ada seorang pun.

"Siapa yang tadi menimba?" ujarnya lirih.

Tiba-tiba, bulu kuduknya berdiri. Membuatnya bergidik. Gadis itu, berjalan pelan. Kemudian, berhenti tepat di depan kamar Bude Sri. Perlahan tangannya menyibak tirai kain itu.  Dia melihat wanita itu, tertidur pulas. Andini berbalik arah hendak menuju ke kamar. Kali ini, dia kembali melihat bayangan itu ke arah ruang depan. Kemudian, menghilang.

Andini terlihat celingukan, tanpa dia pernah sadari siapakah bayangan itu?

"Bayangan siapa tadi?" lirih.

***

Dia mencoba untuk merebahkan tubuhnya yang terasa penat. Mencoba untuk bisa tidur dengan nyenyak.

Satu jam berlalu. Dua jam kemudian.

Samar, terdengar suara tapak kaki kuda kian mendekat. Kemudian, berhenti.

“Sindaaaang….”

Tubuh Andini menggeliat pelan.

“Sindaaaang….” Suara itu terdengar menggema lembut.

Andini langsung terbangun. Tatapan matanya nanar karena mengantuk. Panggilan itu terdengar asing.

Rasa penasaran, membuat dia mencari asal suara itu. Dengan berjalan mengendap, dia menuju ruang tamu. Andini mencari celah lubang. Dia mulai memicingkan matanya.

Braaaaakkk!

Sontak dia terkejut, manakala pintu yang berada di sebelahnya terbuka lebar. Andini langsung menahan napasnya. Dia merapatkan tubuhnya ke dinding. Mulut dan hidungnya dia bekap, dengan kedua telapak tangannya sendiri. Angin semakin berembus kencang.

Seiring dengan pintu yang terbuka lebar. Tiba-tiba, seorang putri sangat cantik sudah berdiri di hadapannya. Perempuan itu mengenakan kemben berwarna hijau dengan jarik putih. Di kepalanya terdapat mahkota yang berkilauan.

“Kowe kudu melok aku, Nduk! (kamu harus ikut aku, nak!)” ucapnya lirih. Namun suara itu seolah tembus sampai ke relung hatinya.

Andini hanya bisa berdiri kaku. Terdiam. Matanya melotot dengan bibir bergetar. Saat jemari tangan perempuan itu ingin meraih Andini, sesosok bayangan menghalanginya.

Dia meraih tubuh Andini dari tempat itu, dan membawanya pergi. Gadis manis itu langsung pingsan. Dia tak pernah tau apa yang sedang terjadi?

Saat sadar, Andini mendapati tubuhnya sedang tertidur di atas batu besar. Raut wajahnya kebingungan. Dia mencoba untuk turun. Kemudian, dia mendengar suara gemericik air. Seperti air terjun.

Tiba-tiba, tatapan matanya melihat seseorang.

“S-siapa kamu?” tanya Andini dengan suara yang bergetar.

Dia melihat seorang lelaki. Berpakaian hitam dengan rambut panjang yang diikat ke belakang. Namun, lelaki itu hanya diam tak memberi jawaban.

Kedua bola matanya berpendar. Dia seperti berada di sebuah tempat yang sangat asing. Seolah, tempat ini tak pernah dia datangi.

Kemudian, Andini berteriak keras.

“Bude!”

Dia mulai merasakan ketakutan. Andini baru menyadari jika dirinya berada jauh di sebuah tempat yang sangat asing.

“Tolooooong! Tolooooooong ...” teriaknya menggema.

Lelaki itu tampak kesal. Dia berjalan mendekati Andini. Gadis itu, semakin ketakutan. Dia mundur beberapa langkah. Saat dirinya hendak berlari,  lelaki tamppan berambut panjang itu sudah mencekal lengannya.

“Aaaahhh! Lepaskan!” Andini meronta.

Gadis itu, berusaha melepas cengkraman lelaki yang berada di hadapannya. Melihat Andini ketakutan, akhirnya cekalan tangan pada lengan gadis itu, dia lepaskan.

Tubuh Andini terjatuh. Seketika, kedua bola matanya melihat bahwa kini dia sedang berada di sisi jurang yang curam. Andini langsung beringsut mundur. Seandainya, lelaki itu tak menahannya, mungkin dia sudah terjun ke jurang itu.

Raut wajah Andini terlihat masih ketakutan. Dia berusaha mencari apapun yang bisa dia gunakan sebagai senjata. Kemudian, tangannya meraih batu.

“Hei! Kenapa kau menculikku?” tanya Andini.

Lelaki itu, meninggalkan Andini, menjauh.

“Heeei! Kau tuli apa bisu sih?” teriak Andini kesal.

Kemudian, gadis itu menangis. Tubuhnya berguncang hebat. Dia meratapi dirinya, kesalahan apa yang telah diperbuatnya.

Lelaki itu melempar sebuah bambu yang disumbat kedua ujungnya dengan daun kelapa. 

“Nih, kau minum!” ujar lelaki itu.

Andini melengos. Dia tak mau menerima kebaikan lelaki itu.

“Aku ingin pulang!” sentak Andini.

Tatapan mata mereka saling beradu. Deru bergemuruh dalam hatinya. Kesal, geram, dan takut menjadi satu. Andini akhirnya luruh dan mencoba berdamai dengan hatinya. 

“Pak e! Bu e! Cari aku ya! Bude, cari Andini juga!” isaknya.

Lelaki itu hanya menatap Andini. Dia diam seribu bahasa tanpa ada keinginan untuk menjelaskan apa yang telah terjadi.

***

 

 

 

 

 

Enjoyed this article? Stay informed by joining our newsletter!

Comments

You must be logged in to post a comment.

Stori terkait
Jul 8, 2020, 1:15 PM - Annisa mahmudah
Jul 6, 2020, 10:20 PM - Chocho_Yucho
Jul 3, 2020, 6:34 PM - Tjahjono widarmanto
Jul 3, 2020, 6:26 PM - Nnaga
Jul 3, 2020, 1:07 PM - Kristina Dai Laba
Jul 2, 2020, 2:25 PM - Mei Elisabet Sibarani