Profil instastories

Perhatikan 3 Hal Ini Sebelum Menikah, Karena Menikah Bukan Perlombaan

Bagi yang belum menikah, bayangan tentang pernikahan itu seringkali sesuatu yang indah-indah. Bener nggak, sih? 

Dulu ketika saya masih kuliah, saya ingat ada buku yang berjudul "Kupinang Engkau dengan Hamdalah" karya Mohammad Fauzil Adhim. Buku tersebut sangat booming di kalangan kami, mahasiswa muslim.

Bersamaan dengan itu juga muncul kesadaran generasi muda Islam untuk tidak berlama-lama dalam pacaran. Menikah lebih baik untuk mengurangi madhorot. 

Saya termasuk salah satu pembaca buku tersebut. Tentu saja di dalam hati saya mengamini isi bukunya. Karena saya sendiri bukan penganut pacaran sebelum menikah.

Saya suka yang pasti-pasti, padahal pacaran itu tidak pasti. Tidak pasti menikah, maksudnya. Maklumlah, saya anak teknik, jadi ilmunya kebanyakan yang pasti-pasti saja. #kidding

Tetapi satu yang menarik perhatian saya di dalam buku tersebut, penulis memang menyarankan menyegerakan menikah. Tetapi beliau juga menyatakan bahwa segera itu berbeda dengan terburu-buru.

Kurang lebih penulis menganalogikan segera dan buru-buru itu dengan menaiki sepeda motor saat di tikungan. Kalau segera itu kamu saat naik motor di tikungan akan sedikit mengurangi kecepatan, sehingga insya Allah kamu akan selamat sampai tujuan. Sedangkan terburu-buru itu kamu ketika sampai tikungan langsung bablas saja dengan kecepatan penuh.

Yah, kamu bisa jadi selamat, tetapi bisa juga celaka dan tak pernah sampai ke tujuan. Dan saya setuju dengan pendapat itu.

Menyegerakan menikah, karena menikah itu ibadah,  karena menikah itu sunnah, dan karena ada keberkahan dalam pernikahan. Tetapi bukan berarti harus terburu-buru menikah.

Misalnya karena teman-temanmu sudah menikah semua, karena umurmu sudah beranjak dewasa, atau karena tuntutan orang tua dan lingkungan yang terus menanyakan, "Kapan nikah?" Tidak harus terburu-buru juga kalau alasanmu karena tuntutan dari luar dirimu.

Karena sebenarnya menikah itu tidak selalu manis. Ketika kamu sudah masuk ke sebuah bahtera bernama pernikahan, jangan pernah berpikir untuk keluar, sebelum memperjuangkannya. Karena perkara halal yang dibenci Allah itu perceraian.

Jika ada badai melanda, kamu dengan partnermu harus bekerja sama bagaimana agar badai itu tidak menggoyahkan bahteramu. Jika tiba-tiba salah satu dari kalian terhempas ke lautan, yang lainnya harus bisa mengulurkan tangan memberikan bantuan.

Jika ada ikan hiu yang tiba-tiba datang menyeruduk bahteramu, lantas menjadikannya bocor, lagi-lagi kamu harus bisa menutupi kebocoran itu agar kalian bisa selamat.

Lalu ketika kamu merasa sudah melajukan bahtera dengan demikian kilat, namun tiba-tiba ada bahtera lain yang melaju melampaui bahteramu, bisa jadi Tuhan memintamu dan pasanganmu untuk beristirahat sejenak dan mengevaluasi diri. Setelah itu akhirnya kamu bisa mengejar ketinggalan-ketinggalan kalian.

Ya, memang tidak selalu mudah berproses di dalam pernikahan. Perbedaan latar belakang kadang bisa menjadi masalah di antara kalian jika tak ada komunikasi yang memadai.

Kadang ada perselisihan yang sebenarnya tidak prinsip, tetapi bisa menjadi besar, jika salah satu tak ada yang mengalah. 

Tetapi karena pernikahan itu bukan perlombaan, kamu kadang tidak perlu melihat pasangan-pasangan di sebelahmu. Cukup tutup mata dan bersyukur sambil mengucapkan, "Inilah yang terbaik yang diberikan Tuhan kepadaku." Bahkan ketika kamu belum mendapatkan pasangan sekalipun, tetap syukuri takdir Tuhan.

Dan karena menikah memang bukan perlombaan, ada baiknya kamu memperhatikan 3 hal ini sebelum memasuki jenjang pernikahan.

1. Niat Baik Karena Allah

Hadis yang diriwayatkan oleh Umar bin Khottob sudah cukup jelas, yang menerangkan tentang "Semua amal perbuatan tergantung niatnya."

Jadi, coba pikirkan lagi, apa niatmu dalam pernikahan? Karena Allah? Atau karena lingkungan yang memaksamu? Namun jangan khawatir, jikapun sudah terlanjur, di tengah perjalanan kita tetap bisa meluruskan niat itu. Semoga Allah selalu membimbing kita.

2. Restu Orang Tua

Yah, meskipun kamu punya niat baik untuk menikah, tetapi tanpa restu orang tua, apalah artinya kan?  "Ridho Allah terletak pada ridho orang tua."

Kamu juga ingat hadis populer itu kan? Bukan hanya menghafalnya, tetapi paham maknanya juga, kan? Bahkan jika akhirnya kamu harus menunda pernikahanmu, sebaiknya dapatkan restu dari orang tua terlebih dahulu.

Dengan memperbanyak do'a juga, semoga Allah memberi yang terbaik untukmu.

3. Ilmu yang Memadai

Karena menikah bukan hanya tentang cinta. Kamu harus tahu apa hak dan kewajibanmu, baik sebagai istri maupun suami. Atau bahkan sebagai anak dan menantu. Dan nanti sebagai orang tua.

Pengetahuan itu tentunya harus diketahui dengan belajar. Jangan lelah belajar, meskipun sudah berpengalaman sekalipun.  Menikah itu mitsaqon gholidzon atau perjanjian yang kuat, maka ketika cinta hilang di antara pasangan sekalipun, di antara kalian tetap ada tanggung jawab.

Karena menikah itu bukan perjanjian yang main-main.  Tulisan ini sebagiannya curhat, karena kebetulan saat ini saya sedang mengamati sebuah fenomena pernikahan. Kalau tidak segera dituliskan, bahaya. Bisa jadi jerawat, yang bawaannya ingin dipencet-pencet saja.

Jika ada yang bisa diambil pelajaran, semoga saya diampuni jika ada salahnya.  Wallahu a'lam.

Enjoyed this article? Stay informed by joining our newsletter!

Comments

You must be logged in to post a comment.