Profil instastories

Pergilah

Pergilah

 

"Sini aku bantu bawa" seseorang berusaha menyamai langkahnya disampingku, mengulurkan tangan.

"Ngga papa, Mas" aku menolak, karena masih merasa kuat dengan menjinjing tas kamera, hardus berisi perlengkapan dan juga banner diatasnya.

"Udah, sini" direbutnya kardus ditanganku. 

Langkahnya dipercepat setelah berhasil merebut kardus itu, "Makasih Mas Bagus!" teriakku.

Dia mengangkat tangan kananya dan menunjukkan jempolnya tanpa menoleh.   Kupercepat langkah kakiku menyusulnya menuju ruang UKM jurnalistik. Berada dilantai dua dan ruangan paling ujung, membuat nafasku semakin terengah-engah. Kuambrukkan badan di sudut ruangan, mencari kesejukan kipas angin yang sudah dinikmati oleh anggota yang lain. 

"Guys, nih aku udah nyiapin minuman buat kalian" seru pria yang tadi membawakan kardusku. Di letakkannya minuman dingin yang ia buat ditengah-tengah ruangan. Semua yang ada diruangan menunjukkan senyum lebarnya berdecak kagum.

"Ketupat kita baik banget yah, jadi makin cinta deh" rayu Salsa dengan wajah yang di imut-imutkan. Dia hanya tersenyum dan menuangkan minuman digelasnya. 

"Oke, kita evaluasi dulu dari acara dua hari ini, oke" sebagai ketua panitia acara orientasi bagi anak baru, dia sangat berhasil dalam merangkul semua panitia.

***

Kenangan itu muncul lagi, untuk pertama kalinya aku merasa ada sesuatu yang berbeda di hatiku. Dia yang berhasil membuat detak jantungku lebih cepat, bahkan hingga kini pun sama. Satu tahun sudah berlalu. 

Dia datang, dan kini duduk di depanku dengan senyuman gigi gingsulnya.

"Bel, gimana berita soal UKT?" sambil terus mengaduk cappucino nya.

"em, udah beres sih, tinggal disusun aja tulisannya"

"Bagus deh, nanti malem jadi ya?" Aku hampir tersedak oleh jus tomatku.

"Masa nanti malem sih? redaksi juga masih kasih waktu sampai akhir bulan. Ini kan masih pertengahan." jawabku protes.

“lagi ngga ada tugas kan? tunjukkin ke aku dulu" Aku hanya manyun.

          Beginilah hubungan kami, dia sering sekali memintaku untuk menulis berita kemudian ditunjukkan kepadanya. Hanya sekedar masukan apabila dia rasa kurang mendalam dan butuh data tambahan, pengalamanya dua tahun lebih awal masuk UKM dariku sudah tak perlu diragukan. Dia sangat membantu perkembanganku dalam menulis.  Meski sudah satu semester mengundurkan diri keluar, ia masih menajlin hubungan baik dengan semua anggota UKM jurnalistik.

"Bel, kamu ngga tertekan dengan aku yang selalu begini, kan?" tiba-tiba dia serius.

"Ngga sama sekali, bahkan dengan arahan yang Mas berikan itu sangat membantu" Dia tersenyum tanpa berkomentar, senyum  pemilik gigi gingsul itu sangat manis.

"Bela" panggilnya lirih, seperti ada yang ingin dikatakan. 

"Ya" tapi dia hanya diam untuk beberapa saat. Pandanganya malah dialihkan ke arah lain. 

"Emmm, cappucinoku hari ini kok rasanya beda" raut wajahnya menunjukkan kalau itu hanya pembahasan yang dialihkan. Sepertinya ada sesuatu yang ingin dikatakan.

"Masa sih, kok habis gitu?" godaku.

"Kurang manis”

"Tapi karena ada Bela didepanku jadi rasanya manis" lanjutnya sambil meminum capuccino itu dengan menatapku. 

"Alahh, bohong. Coba sini aku yang minum" kurebut gelas capuccinonya. Tapi sudah sangat ringan. Kosong. 

"Kok dihabisin sih?" Kesalku

"Kan aku udah bilang, jadi manis kalau sambil liat kamu"

"Pasaran banget gombalannya" kesal.

***

Handphoneku berdering, pesan chat dari pemilik gigi gingsul, Mas Bagus.

From Mas Gingsul: “Ke perpus yuh"

Bela : "Oke, habis makul ya"

From Mas Gingsul: "Semangatttt maniszzz”

***

Sosoknya sudah duduk di deretan kursi panjang dengan sebuah buku ditangannya

" Baca apa?" sapaku. 

"Bagus nih, Hujan karyanya Tere Liye"

"Tentang apa?"

"Baca aja" kurebut novelnya, tapi dia menahannya.

"Besok aja, yuh ikut"

"Kemana?"

           Dia hanya berjalan dan mengisyaratkan aku untuk mengikutinya. Dia tak pernah menggandengku dan selalu begitu. 

            Berkendara sekitar setengah jam, kita sampai disebuah tempat bukit. Pemandangannya sangat indah, hijau dan sejuk udaranya. Dia memang pandai memilih tempat, tahu kalau aku paling tidak suka dikeramaian. Disini sepi dan hening.

            Dia terus melangkah dan akhirnya mengambil posisi duduk diatas rumput hijau. Aku mengikutinya, "bentar" dia mengeluarkan sebuah plastik hitam dari tasnya. Dibentangkan diatas rumput disampingnya, "sudah, sini" dia menunjuk kearah palasik tersebut. Plastik ini digunakan sebagai alas dudukku. 

             Beberapa menit kami hanya memandang hamparan perkotaan dan hijaunya pepohonan dari atas bukit ini. Kulirik dia, tampak begitu tenang wajahnya sedikit senyum. Merasa sedang diperhatikan, aku menengok kearahnya. Benar saja, pandangannya masih menangkap wajahku. "Jangan liat seperti itu" sepertinya pipiku memerah saat itu. 

"Biarin dong" bukannya memalingkan pandangan, tangannya malah di tangkupkan dan menyanggah dagunya, posisi duduknyapun menyamping.

Menutupi kegugupanku, aku pun mengikuti gayanya.

"Sudah puas menatap wajah manisku ini?" 

             Dia menggeleng. Matanya menatapku begitu dalam, semakin kulihat ada sebuah perasaan yang begitu sedih yang ia salurkan dari tatapan itu, matanya berkaca-kaca kemudian.

"Ada apa?" suaraku berusaha setenang mungkin.

Duduknya di tegapkan, dan mengambil nafas panjang.

“Bel, jika aku pergi, kamu masih mau ngga nerusin hubungan ini?”

“Pergi kemana?”

"Kamu inget kakekku yang dua bulan lalu meninggal?” 

"Yang di Ambon itu kan? Kenapa?"

"Sebenarnya sudah sebulan lalu nenek menghubungiku" kepalanya ditundukkan. 

"Dia....Dia memintaku untuk menemaninya disana" seketika otakku seakan berhenti bekerja, nafaspun rasanya begitu sesak. Aku hanya diam, menahan mata yang sudah terasa begitu sangat panas.

"Menurutmu bagaimana?" dia memulai pembicaraan lagi.

"Emmmm, bukankah Mas pernah cerita, kalau Mas cucu kesayangannya. Pergilah dan temani nenek" berat sekali mengatakan kata-kata itu.

"Kamu bener, Bel”

"Selesaiin sekripsi secepatnya, dan pegila. Pasti nenek sangat kesepian hidup seorang diri" aku berusaha memahami keadaan ini. 

"Tapi..."

        Perkataannya berhenti dibenamkan wajahnya kedalam dekapan lututnya. Aku mengusap bahunya. Mencoba memahami apa yang sednag ia pikirkan. Sebenarnya apa yang membuat keputusannya berat begitu berat?

"Tapi bagaimana dengan kamu Bel? dengan kita?” suaranya sedikit samar, tapi aku cukup jelas mendengarnya. 

          Bagaimana mungkin aku menjadi alasan untuk seorang cucu berbakti kepada neneknya? Ini tidak benar! Aku harus bagaimana? Berat juga untuk menanggapi perkataan dia. 

“Kenapa Mas malah bertahan dengan seseorang yang belum pasti? Nenek Mas yang sudah pasti membutuhkanmu disisinya saat ini.”

"Apa maksudmu kamu belum pasti?” tatapannya tajam penuh pertanyaan, mengintrogasi ku.

“Apa maksusdmu selama ini kita tidak serius? kau anggap aku pacaran hanya untuk gaya seperti anak sekolah? Setahun ini apa artinya bagimu, Bela? aku sungguh serius dengan hubungan kita. Aku berani deketin kamu bukan untuk mempermainkan perasaanmu." Dia tampak begitu marah dengan perkataanku, nafasku tersengal, air mataku tak mampu lagi dibendung. Aku paham, kini dia salah paham dengan perkataanku.

"Hubungan seseorang belum tentu akan berjalan mulus sesuai yang diinginkan. Bisa jadi aku bukan orang yang ditakdirkan untuk menjadi teman hidupmu, Mas.” sesak sekali mengatakan itu. Dia hanya menatapku dengan wajah marahnya, sungguh aku tidak ingin melihatnya. 

"Pergilah" pintaku.

"Bel" suaranya sangat lembut, kulihat wajahnya, dia pun kini menitihkan air mata. 

“Bel, kita masih bisa lanjutin dengan LDR-an kan?” aku tersentak, apa ini bisa jadi solusi?

“Lalu kamu akan membiarkan aku menunggumu disini? Bertahan untuk orang yang jauh dariku?” entahalah, aku juga sangat membenci diriku saat ini, yang tega mengucapkan hal demikian. Tapi aku tidak ingin menjadi beban pikirannya.

“Bel, yang kita butuhin itu saling percaya”. 

“Sudahlah, kalau Mas mau pergi kenapa harus aku yang menjadi halangannya? Sudah kubilang hubungan kita ini belum pasti. Lebih baik kita udahin aja, kalau Mas ngga mau buat aku tersiksa dengan jarak” nadaku sedikit meninggi. 

           Dia diam. Kemudian beranjak pergi.  Aku hanya menangis melihatnya menjauh dariku. Menatap punggungnya hingga hilang ditelan kabut, aku ingin sekali mengejarnya dan mengatakan semua yang aku katakan tadi itu bohong.

“Bel, Bela” aku terhenyak. 

           Dia, pemilik gigi gingsul itu sudah ada di depanku dengan sinyumannya. Dimana ini? Ruang kelas? Mataku melihat sekelilin. Benar, ini diruang kelas. Lalu, tadi itu?

 

Enjoyed this article? Stay informed by joining our newsletter!

Comments
Erka - Apr 21, 2020, 4:50 AM - Add Reply

P

You must be logged in to post a comment.

You must be logged in to post a comment.

Stori terkait
Jul 8, 2020, 1:15 PM - Annisa mahmudah
Jul 6, 2020, 10:20 PM - Chocho_Yucho
Jul 3, 2020, 6:34 PM - Tjahjono widarmanto
Jul 3, 2020, 6:26 PM - Nnaga
Jul 3, 2020, 1:07 PM - Kristina Dai Laba
Jul 2, 2020, 2:25 PM - Mei Elisabet Sibarani