Profil instastories

Sal, masih dalam fase putih abu, dimana lebih menggunakan hati dari pada logika..

Perempuan Diantara Jingganya Langit

 

Matahari tentunya sudah hampir menghilang. Sekarang yang tersisa hanyalah jingga di langit dengan seorang perempuan yang tengah duduk di sudut kedai lantai dua.

 

Sudah sejak satu jam yang lalu, aku memandangi perempuan dengan jaket coklat itu. Dan ini bukanlah untuk pertama kalinya, namun ke sekian kalinya.

 

Aku tak mengenalnya. Namun yang aku tau tentangnya adalah, ia selalu duduk di kursi yang sama, di waktu yang sama, dan selalu menatap jingganya langit sore. Tak lupa, sesekali ia menulis sesuatu diatas buku yang sama seperti hari - hari sebelumnya.

 

Esok harinya, aku kembali lagi ke kedai itu. Dan aku pun menemukan kembali perempuan itu. Di tempat yang sama tentunya.

 

Tatapanku sejenak aku alihkan ke langit sore itu. Aku ingin mengenalnya. Tapi aku tak tau, jika aku harus memulainya dari mana dan bagaimana.

 

Kembali aku menatap perempuan yang tengah menuliskan sesuatu diatas bukunya. Dan entah ada keberanian dari mana, aku berdiri dan perlahan berjalan mendekati perempuan yang selama ini hanya bisa ku lihat dari jauh.

 

Baru saja aku sampai di sampingnya. Perempuan itu langsung saja mendongakkan kepalanya untuk menatapku. Sorot matanya begitu hangat. Ternyata ia lebih cantik jika dilihat dari dekat.

 

Aku menggaruk tengkukku yang tak gatal. Sorot matanya benar benar membuatku gugup dan bingung. Bingung sekali. Bingung harus berkata apa. Bingung harus bagaimana.

 

Tak aku sangka, perempuan itu mengulas lengkung bibirnya begitu saja. Dan lengkungan itu membuatku melakukan hal yang sama. Dadaku berdebar begitu saja entah karena apa.

 

"Duduk saja. Kursinya masih kosong kok." ucap perempuan itu dengan suara yang sangat lembut.

 

Aku masih mempertahankan senyumku. Kemudian aku menarik kursi yang ada di hadapannya. Sedangkan ia kembali menulis sesuatu. Aku menatapnya lekat. Seiring berjalannya waktu, kegugupan perlahan mampir diantara aku dengannya.

 

"Mm.. Kalau boleh tau, kamu sedang menulis apa?" tanyaku dengan dada yang menggebu-gebu.

 

Perempuan itu menatapku. Dan lagi - lagi ia hendak membunuh jantungku dengan senyuman indahnya. Jingga yang di miliki sore pun kalah oleh senyuman miliknya.

 

"Hanya sebuah sajak sederhana." jawabnya yang masih saja tersenyum.

 

Aku mengangguk. Dan untuk kedua kalinya ia membuatku bingung. Bingung untuk melanjutkan obrolan ini bagaimana. Sudah terlanjur aku mulai. Tak mungkin aku mengakhiri begitu saja.

 

"Reynan... Namaku Reynan." kataku sambil menyodorkan tangan kananku begitu saja.

 

Aku kira dia akan menganggapku aneh. Ternyata tidak. Dia menerima uluran tanganku. Dan bibirnya, tak pernah satu detik pun ia pudarkan.

 

"Sasya.." katanya singkat.

 

Aku mengangguk beberapa kali.

 

"Eh, mata kamu bengkak? Habis nangis ya?" tanya perempuan yang kini ku kenal dengan nama Sasya itu.

 

Dan yang aku rasakan kini adalah malu. Aneh pastinya jika seorang laki laki menangis. Aku masih tak menjawab.

 

Ia lagi lagi tersenyum. "Wajar kok kalau kamu nangis. Kamu juga manusia biasa yang punya perasaan." ucapnya yang seketika membuatku ikut tersenyum.

 

"Orang tuaku bercerai.." Bodoh sekali aku. Kenapa kalimat itu harus terucap sekarang? Dia baru saja aku kenal.

 

"Kamu harusnya bersyukur. Setidaknya orang tuamu masih ada." kata Sasya menatapku lekat.

 

Aku tertegun mendengar kalimat itu.

 

"Ayah ibuku di jodohkan. Sejak aku melihat dunia ini, aku belum pernah melihat mereka berbicara baik baik. Pasti saja tentang pertengkaran, selebihnya, mereka tak pernah berbicara. Keduanya sibuk dengan dunianya masing masing." aku mulai bercerita dengan pandangan kearah jingganya langit. Karena entah kenapa rasanya begitu nyaman saat berbicara dengannya.

 

"Kamu pasti laki - laki kuat." ujarnya membuatku beralih menatapnya. Kemudian aku tertawa miris.

 

"Kamu salah. Aku itu laki - laki paling payah. Aku tidak bisa membuat mereka berdamai. Aku lebih suka menghindar saat mereka bertengkar. Bahkan, jika boleh aku memilih, aku ingin lahir dari keluarga kecil saja. Biar saja aku kekurangan, asalkan orang tuaku memberiku kasih sayang." jelasku panjang.

 

Entah ke berapa kali Sasya tersenyum sambil memandang ku. Tentunya senyuman yang menghangatkan sudut hatiku yang sekian lama membeku.

 

"Rey, jangan pernah menganggap kalau kamu adalah manusia paling terluka. Lihat dari jendela hidupmu, masih ada manusia yang lebih terluka dari dirimu." lanjutnya yang lagi-lagi membuatku tertegun.

 

Mendengar kalimat - kalimat yang terucap dari mulutnya, membuat hatiku sedikit tersentuh. Mungkin benar. Aku bukanlah satu - satunya manusia yang menyedihkan. Aku menatap kosong meja dihadapanku. Kalimat - kalimat Sasya sangat menampar hatiku.

 

"Sudah hampir malam. Aku duluan, ya? Senang berkenalan denganmu, Rey. Semoga kita bisa ketemu lagi. Bye.."

 

Baru saja aku akan membalas ucapan Sasya. Tapi, ia terlalu cepat pergi. Sangatlah teruburu-buru. Entah ada apa. Meskipun Sasya telah pergi dari hadapanku, tetap saja seuntai kalimatnya masih melekat di pikiranku.

 

Sudah hari ke-5 aku mengenal Sasya. Setiap sore aku kembali ke kedai itu. Tentunya untuk bertemu dengan Sasya. Dan tentu juga Sasya ada di tempat biasa ia berada. Sekarang aku duduk di hadapannya, bukan lagi di meja yang jauh darinya.

 

"Kamu senang sekali menulis sajak?" tanyaku sambil memperhatikan Sasya yang tengah menulis.

 

Sasya menatapku, kemudian tersenyum. "Di bilang suka, tapi tidak terlalu suka. Karena kalau bukan dengan buku, aku harus bercerita dengan siapa?"

 

"Kan sekarang ada aku." kataku dengan nada membanggakan diri sendiri.

 

"Haha, maaf, aku gak mau meninggalkan yang lama karena yang baru." katanya yang terdengar lekucon di telingaku.

 

Aku mengerucutkan bibirku. Aku lebih memilih diam saja. Memandangi wajahnya yang indah. Lebih indah dari semua hal indah yang pernah aku lihat.

 

Aku hitung - hitung, sudah hampir dua bulan aku mengenalnya. Seiring berjalannya waktu, aku menyadari satu hal. Jika hatiku tak menganggapnya teman, namun lebih indah dari jata teman.

 

Sore ini senja terlihat sangatlah indah. Aku menatapnya lekat. Sejak semalam aku memikirkan tindakan ini. Jika aku akan jujur kepada Sasya.

 

"Mm, Sya." panggilku dengan pelan.

 

Sasya mendongakan kepalanya menatapku. Halisnya ia naikkan sebelah. Bertanda ia berkata 'ada apa?'

 

Tanganku menyodorkan sesobek kertas putih ke hadapannya. Ku lihat Sasya mulai membacanya. Jantungku menggebu. Tanganku berkeringat. Tentunya kakiku gemetar. Aku harus bagaimana?

 

°°Aku tau, kita belum lama saling mengenal. Tapi, tentang perasaan bukan sekendali kita bukan? Kalau boleh jujur, sebenarnya aku sudah menyukaimu sebelum aku mengenalmu. Awalnya aku anggap rasa itu hanya sebagai debu. Yang nanti juga hilang saat ada angin. Tapi.. Waktu berjalan cukup lambat, membuatku perlahan sadar. Jika rasaku itu bukanlah sebuah debu lagi saat aku sudah mengenalmu. Setiap detik yang aku lalui bersamamu, membuat rasa itu berubah. Yang tadinya sebuah debu, kini sebuah batu. Tak mudah hancur dan nyata. Aku mencintaimu. Will you be my girlfriend?"°°

 

Usai membaca itu. Sasya menatapku dan tersenyum. Ia mengembalikan kertas itu tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Aku lihat ia menatap arloji yang melingkar di tangannya. Kemudian ia membereskan bukunya.

 

"Aku sudah bertunangan. Aku ada janji sama seseorang. Aku duluan ya, bye.."

 

Aku menatap punggung Sasya yang semakin menjauh. Jawaban Sasya membuat mataku memerah. Senyuman Sasya beberapa detik lalu kembali terbayang. Senyuman yang entah apa artinya. Sama sekali aku tak bisa mengartikannya.

 

Hatiku berdenyut nyeri. Kenapa aku harus merasakan ini? Mencintai sebelah pihak. Memberi cinta tanpa timbal balik. Aku marah pada diriku. Kenapa aku mudah sekali dibodohi oleh senyumnya?

 

Sudah dua hari berlalu sejak aku menerima tolakan dari Sasya. Sudah dua hari juga aku tak mendatangi kedai itu. Aku belum siap bertemu dengan seseorang yang aku cintai sebelah pihak.

 

Namun aku tetap menatap senja sore. Bedanya, sekarang aku menatapnya dari jendela kamarku. Terus saja bayangan Sasya tengah menulis melintas begitu saja.

 

Ponselku berbunyi. Bertanda jika ada pesan masuk. Aku merogoh ponselku dari saku celana. Tertera dengan indah nama seseorang yang menjadi gundahku. Aku membuka pesan itu.

 

Sasya🌅
Rey.. Kamu kemana? Kenapa tak muncul lagi di kedai? Aku hanya mau memberitaumu jika aku akan pergi ke Singapura untuk beberapa saat. Sebelum aku pergi, aku ingin bertemu denganmu dulu. 60 menit tersisa sebelum aku pergi. Aku harap kamu datang.

 

Aku hanya membaca pesan itu. Tidak berniat membalasnya. Aku melempar ponselku keatas kasur. Aku tak peduli jika ia akan pergi. Aku sedang menyembuhkan lukaku dulu. Aku benar benar belum siap menemuinya.

 

Tak terasa jika 60 menit itu sudah berlalu. Beberapa kali aku menatap jam dinding di kamarku. Entah mengapa kini pikiranku terusik. Apakah aku bodoh karena aku membiarkan Sasya pergi begitu saja?

 

Sekarang, sudah satu pekan setelah kepergiannya ke Singapura. Aku terus mengirimnya pesan. Namun, tak ada satu pun pesan yang ia balas. Setiap malam aku gelisah. Kemana Sasya? Apakah ia takkan kembali lagi?

 

Aku membuka sebuah buku tulis. Aku mencoba bersahabat dengan buku. Seperti Sasya yang sangat dekat dengan buku. Hanya dengan cara ini aku merasa dekat dengannya.

 

Gundahku

 

Kamu adalah orang pertama yang memperkenalkanku dengan candu. Senyumanmu disetiap detik, adalah racun untuk pikiranku.

 

Kemanakah kamu? Wahai perempuan indah nan elok. Senja tak lagi indah saat tak aku lihat bersamamu. Kenapa kamu datang hanya untuk sekejap? Hadirmu lebih singkat dari senja milik sore.

 

Kembalilah kamu, wahai gundahku. Aku merindukanmu disetiap detakku.

 

Selesai aku menulis, ponselku berbunyi. Nafasku tercekat saat aku melihat nama yang tertera.

 

Sasya🌅
Hai, Rey..
Lama tak jumpa ya.
Apa kabar? Aku disini baik.
Tulisan ini akan cukup panjang. Akan memakan waktu lama jika kamu membacanya sampai tuntas. Aku harap sih kamu baca sampai tuntas ya. Tunggu, tulisannya ada di pesan berikutnya.

 

Aku menunggu pesan berikutnya. Saat sudah masuk, aku kembali membacanya dengan perlahan.

 

Sasya🌅
Untukmu, Reynan.
Laki laki paling kuat.

 

Pertama, aku mau bilang maaf. Maaf untuk kebohonganku. Kebohongan jika aku belum bertunangan. Maaf sekali. Maaf lagi, untuk aku pergi begitu saja setelah membaca isi hatimu. Bukan aku tak menghargai perasaanmu. Tapi aku tak mau melihat retinamu sendu.

 

Kedua, aku mau bilang terimakasih. Terimakasih untuk rasa yang kamu beri. Terimakasih telah menjadi teman pertama dan terakhirku. Aku juga mencintaimu. I love you. Aku juga mencintaimu sejak kamu memandangiku dari jauh. Dan sepertinya, aku lebih dulu yang memandangimu dari jauh.

 

Kamu ingat tidak, saat aku mengucapkan, 'lihat dari jendela  hidupmu, masih ada manusia yang lebih terluka darimu.' Kamu tau? Yang aku aku maksud adalah diriku sendiri. Aku lebih terluka darimu, Rey.

 

Sejak aku melihat dunia ini, aku belum pernah merasakan indahnya kasih sayang. Orang tuaku meninggal karena kecelakaan. Dan posisinya, aku sedang berada dalam kandungan. Tuhan masih menerimaku di bumi, jadi ia menyelamatkanku. Dan sejak saat itu aku adalah orang yang selalu disalahkan oleh kakak ku, anggota satu satunya yang aku miliki.

 

Genap di umurku empat belas tahun, aku divonis terkena sebuah penyakit yang cukup mengerikan. Mulai dari situ, kakakku memperhatikanku. Mengantarku berobat atau semacamnya. Kakakku hanya merasa kasihan kepadaku, dia tak menyayangiku. Tapi aku tetap bersyukur jika ia masih peduli kepadaku.

 

Aku lewati masa SMA ku di rumah. Tanpa teman, tanpa orang baru. Aku boleh keluar hanya untuk menatap senja di kedai pamanku. Itulah kenapa buku adalah teman terbaikku.

 

Aku pergi ke singapura untuk berobat. Karena penyakitku semakin mengambil sebagian tubuhku. Aku kira kamu akan datang meski hanya mengucapkan selamat tinggal. Tapi aku salah. Aku hanya terlalu berharap saja. Mungkin itu imbas dari kebohonganku yang membuatmu terluka dan enggan menemuiku.

 

Sekali lagi, terimakasih telah hadir. Maaf jika aku terlalu singkat bagimu. Penyakitku adalah alasan aku tak ingin menjawab rasamu. Aku takut aku terlalu cepat meninggalkanmu. Seperti sekarang ini.

 

Kalau kamu menerima pesanku ini. Itu berarti aku sudah pergi. Aku sudah tak bisa menatap retina teduh milikmu. Semoga kau bahagia selalu. Lupakan saja aku. Aku tak pantas dikenang, karen terlalu singkat.

 

Untuk terakhir kalinya, aku harap kamu datang untuk mendoakanku. Rumahku dibelakang kedai. Tenang saja. Rasaku untukmu tetap aku bawa.

 

Jangan menangis ya. Jangan pernah merasa paling terluka. Pastinya masih ada yang lebih terluka darimu.

 

Air mataku tak hentinya menetes sedari tadi. Aku tak menyangka jika ia pergi dengan secepat ini. Aku tak membuang waktu lagi. Aku berlari menuju kedai yang hanya berjarak 1 km dari rumah.

 

Aku berdiri di depan sebuah rumah yang sangatlah ramai. Banyak orang menggunakan pakaian serba hitam. Aku berjalan perlahan menuju rumah itu. Seorang laki laki menyambutku dan mengantarku ke hadapan sebuah manusia yang sudah terbaring dan ditutupi kain.

 

Kakiku lemas. Aku menangis sejadi-jadinya. Tak ada lagi cerita perempuan diantara jingganya langit. Tak ada lagi senyuman indah disetiap sore. Kisahku dan kisahnya hanya sampai disini. Sampai aku dengannya berpisah, dan tentunya takkan pernah bisa kembali bersama. Karena aku dengannya sudah berjalan kearah yang berbeda. Duniaku dengan dunianya sudah tak sama.

 

Selamat jalan, senjaku...

 

Enjoyed this article? Stay informed by joining our newsletter!

Comments

You must be logged in to post a comment.

Stori terkait
Jul 8, 2020, 1:15 PM - Annisa mahmudah
Jul 6, 2020, 10:20 PM - Chocho_Yucho
Jul 3, 2020, 6:34 PM - Tjahjono widarmanto
Jul 3, 2020, 6:26 PM - Nnaga
Jul 3, 2020, 1:07 PM - Kristina Dai Laba
Jul 2, 2020, 2:25 PM - Mei Elisabet Sibarani