Profil instastories

Telah Menerbitkan 25 Judul Karya Tulis di Usia 22 Tahun & Owner di Xanggita Webrary Community (Komunitas Berbasis Sastra Lintas Provinsi) Riau-Sumatera Barat

Perempuan Berkuteks Merah

Venya, perempuan yang berstatus Pekerja Seks Komersial (PSK) selama 5 tahun terakhir itu melirik jam Alexandre Cristie yang terpasang angkuh di lengan kanannya. Waktu sudah menunjukkan pukul tiga sore, saat dimana Venya harus menjemput putra semata wayangnya ke sekolah. Namun perempuan itu tampak ragu-ragu, mengingat pelanggannya malam ini adalah "Pelanggan Kelas Dewa" yang hanya Tuhan kirimkan satu kali dalam satu bulan, Morgan Maholtra.

Perempuan itu tampak terburu-buru untuk melakukan sebuah panggilan kepada Roy. Pemuda tampan, yang juga merupakan mahasiswa di salah satu kampus yang tidak jauh dari Ev Hotel, tempat dimana Venya bekerja.

Ya! Venya bukan lagi bekerja layaknya PSK bayaran kelas menengah ke bawah, yang hanya menghabiskan waktu di club-club malam, cafe, atau sebatas karaoke. Ibu dari satu anak itu telah naik kasta tepat tiga tahun yang lalu, ketika dirinya berhasil memuaskan "Pelanggan Kelas Dewa" yang memang sudah waktunya untuk ia layani malam ini.

Tiga tahun lamanya, Venya merasa kehidupannya benar-benar berubah. Mengoleksi barang-barang bermerk layaknya Selebriti papan atas, bukan lagi seuatu hal yang gigit jari bagi Venya. Kini ia menjadi "PSK Kelas Dewi" dengan jam kerja yang hanya berotasi di Ev Hotel saja.

"Sore Nya," Sapa Roy ketika telfon Venya tersambung.

"Roy, kamu mau bantu aku buat jemput Alaska nggak, sore ini? Eh, kamu ada kelas nggak?"

"Aku udah selesai kelas Nya, ya udah aku langsung otw buat jemput Alaska ke sekolahnya. Kamu kenapa nggak bisa jemput?"

"Aku malam ini ada 'Pelanggan Kelas Dewa' Roy, kayanya, aku harus lebih awal ke salon. Ini udah mau otw sih, kamu beneran nggak apa-apa nih?" Venya juga sebenarnya merasa tidak enak, Alaska itu kan anak dia dan mantan suaminya, kenapa Roy harus menjadi pengasuh anak seusia Alaska sedang lelaki itu bahkan belum tau bagaimana rasanya punya Istri.

"Ya udah, hati-hati ya." Pinta Roy dengan nada khawatir seperti biasanya.

Roy adalah pemuda yang juga merupakan Adik kelas Venya ketika mereka masih sama-sama duduk di bangku SMA. Roy juga tidak menyangka bahwa dirinya akan bertemu dengan Venya lagi sekarang ini. Roy pun sempat mengutarakan perasaannya pada sang Kakak kelas dan meminta Venya untuk meninggalkan pekerjaannya yang sekarang, namun Venya telah buta. Perempuan itu juga dengan gamblang menolak perasaan Roy dan juga permintaan lelaki itu untuk meninggalkan pekerjaan ini lantaran, Roy saja bahkan saat ini masih berstatus mahasiswa, sedang Venya saat ini bisa memiliki segalanya yang ia damba.

"Iya sayang, makasih ya. Kamu juga hati-hati." Dan kalimat-kalimat manis seperti itu, tentu sangat mudah sekali diucapkan oleh Venya bahkan ke semua lelaki yang pernah menjadi pelanggannya.

"Hmm."

Venya pun menutup telfon, lalu kembali mamasukkan ponselnya ke dalam tas Hermes berwarna Silver. Ia kenakan kembali kacamata Hitamnya, masuk ke dalam Honda Jass berwarna Merah yang ia kemudikan secara pribadi, lalu dengan segera meluncur ke salon langganan. Venya tidak sadar, bahwa dalam radius sepuluh meter, ada sosok yang tengah mengintai perjalanannya.

Kurang lebih 15 menit perjalanan, Venya telah sampai. Perempuan itu meminta salah seorang karyawan di salon tersebut untuk memarkirkan mobilnya. Ia mulai melangkah kan kaki, dan sang empunya salon tentu merasa sangat-sangat bahagia jika yang datang itu adalah seorang Venya. Perempuan itu mulai melepaskan kaca mata Hitam yang sedari tadi ia kenakan. Memandang secara menyeluruh dirinya yang selalu haus akan kecantikan itu di cermin. Sesaat, ia menyibak beberapa kali rambut Cokelatnya di cermin, lalu bersandar, dengan beberapa instruksi yang sepertinya sangat dipahami sekali oleh sang empunya salon.

Dua jam berlalu, kini hanya tinggal menyempurnakan tampilan hightclass versi Venya, dengan memoleskan kuteks di kedua puluh jemarinya yang Putih bersih dan melentik-lentik.

"Malam ini yey mau wernong apa?" Tanya sang empunya salon dengan ciri khasnya yang melambai.

"Merong dong Cyin, kan malam ini 'Pelanggannya Kelas Dewa'. Haha."

"Siyaaapppp Merong." Sudahlah, biar mereka berdua saja yang paham akan perbincangan tersebut.

Seisi ruangan itu tampaknya tak sadar, bahwa ketika Venya mengatakan bahwa malam ini "Pelanggannya Kelas Dewa" ternyata dalam radius lima meter, ada yang sudah menarik pelatuk untuk siap ia tembakkan. Benar saja, dalam hitungan 5 detik, 4, 3, 2, 1, pistol itu mengeluarkan bunyi. Peluru yang semula memecahkan dinding kaca salon, kini menembus punggung Venya sebelah kiri.

"Eh kuteks baru siap sebelah! Eh sebelah! Eh kuteks copot lah sebelah!" Latah sang empunya salon mendengar deraman kaca terlebih mendapati sosok Venya yang terbaring dengan mata terbelalak.

"Oh my God! Ini kerjongan siapa? Yey nggak ada otaknya emang! Salon eke bisa jadi sepi pelanggan selama dua bulan kalau gini ceritanya!"

Selang beberapa menit, tempat itu diamankan oleh polisi. Police Line pun di pasang sekeliling demi alasan keamanan. Roy yang saat itu datang bersama Alaska pun membawa Venya ke rumah sakit menggunakan ambulance yang tak henti-hentinya berbunyi.

Sesampainya di rumah sakit, Venya langsung ditangani oleh Dokter. Celakanya, peluru sudah menembus jantung Venya dari arah belakang. Perempuan itu sudah tidak lagi bisa diselamatkan. Dan sejak saat itu, salon yang merupakan Tempat Kejadian Peristiwa itu pun ditutup selama dua bulan.

***
Perempuan berkulit eksotis tanpa polesan make up jenis apa pun di wajahnya memilih berhenti di depan sebuah salon yang sangat ramai sekali sore itu. Bagaimana tidak? Salon yang merupakan markas kecantikan para "Elite Hawa" itu ditutup selama dua bulan dan tentu saja pelanggan merindukan suasana di salon tersebut. Belum lagi, ini adalah hari pertama setelah kejadian dua bulan yang lalu dan pihak pemilik salon membebaskan para pelanggan datang untuk perawatan sepuasnya tanpa biaya, alias gratis di hari pertama ini. Perempuan berkulit eksotis dan mengenakan pakaian serba Cokelat itu pun melangkah masuk.

"Selamat datang kembali, Ny. Vellery Maholtra," Sapa sang empunya salon yang selalu berada di garda terdepan untuk para pelanggan yang memang sudah ia hafalkan di kepalanya.

Vellery Maholtra, merupakan istri dari seorang Pebisnis kelas dunia yang tidak hanya memiliki kantor di Indonesia saja, namun juga di Singapur, Hongkong, Cambridge dan Canada. Ya! Morgan Maholtra.

"Yey masih tetap muda ya, kejadian dua bulan ini sama sekali nggak menjadikan kerutan yey bertambah," Sahut Vellery.

"Wahaa, yey bisa aja, ada yang bisa eke bantu?" Tanya sang empunya salon yang masih mempertahanakan ciri khasnya yang melambai.

Vellery melihat ke sebelah kiri, tempat duduk itu masih ada, dan seorang pelanggan tengah duduk di sana seraya melentik-lentikkan jemarinya yang tengah dioleskan kuteks berwarna Merah oleh salah seorang karyawan di salon tersebut.

"Yyuuhhuu, mau ganti model rambut dong Cyin, persis kaya si itu ya," Vellery pun berbisik di telinga lelaki pemilik salon itu, meski sedikit terkejut, lelaki melambai itu tampaknya sangat paham.

"Siip, yey duduk dulu ya Cyin." Sang empunya salon pun mempersilahkan Vellery duduk di tempat duduk yang ia lirik beberapa saat yang lalu.

"Kemana perginya pelanggan yang tadi di pasangkan kuteks di tempat duduk ini?" Tanya Vellery dalam hati setelah mendapati tempat duduk itu kosong.

Vellery seketika merinding. Sang empunya salon dengan sikap bersahabatnya mempersilahkan Vellery duduk untuk yang kedua kali. Vellery tau persis, bahwa di tempat duduk ini, dua bulan yang lalu, Venya mati tragis di sana. Venya, perempuan simpanan Suaminya. Dan hari ini, dia datang ke salon tersebut, meminta sang empunya salon untuk mengganti model rambutnya persis seperti rambut Venya karena Vellery sampai detik ini masih tidak mendapat jawaban, kenapa Morgan begitu tergila-gila pada Pelacur itu.

"Cyin, btw gimana sih ceritanya kejadian waktu itu?" Vellery memancing percakapan,

"Gilong Cyin!! Mana eke lagi masangin kuteks Venya waktu itu, trus tiba-tiba aja di terkapar dan matanya itu loh, kaya mau keluar dari cangkangnya gilong deh gilong, amit-amit!"

"Lagian, siapa suruh jadi Pelacur!" Spontan Vellery mengucapkan kata-kata itu menjadikan sang empunya salon berpikir.

"Apa jangan-jangan kejadian dua bulan yang lalu ada hubungannya dengan Vellery?"

Sang empunya salon itu memang tidak pernah memihak, dan juga tidak mau terlibat dalam persoalan perempuan-perempuan "Kelas Dewi" itu. Vellery merupakan Istri sah Morgan Maholtra secara hukum. Dan merupakan langganan di salonnya dalam rentang waktu yang tidak jauh berbeda dengan Venya. Pelacur yang amat sangat digilai oleh Morgan Maholtra hingga perempuan itu bisa hidup mewah bak Vellery dalam tiga tahun terakhir.

Satu setengah jam berlalu, bahkan Vellery tampak tertidur di salon tersebut. Namun ia dikejutkan dengan rasa aneh yang seolah-olah menggoreskan kakinya dengan kuku-kuku tangan.

"Hhh!" Vellery terbangun. Sontak ia langsung melihat ke arah bawah, dan mengusap kaki-kakinya. Perempuan itu lagi-lagi merinding.

"Ohh, Ny. Velleryyyy yey udah bangun? Bagaimana rambutnya? Terpuaskan kah?" Suara sang empunya salon langsung mengalihkan perhatian Vellery hingga kini dirinya mulai mematuk-matuk perempuan dengan rambut Venya dan berparas Vellery itu di cermin.

"Centong bangeeeeetttttttt!!" Histeris Vellery.

"Iya duonggggg."

"Makasih yey Cyin, tapi seriusan nih hari pertama yey kasih gretonggg? Nggak takut bangkrut yey?" Tanya Vellery sebelum bersiap meninggalkan salon.

"Coba yey cari di Indonesia ini, siapa pemilik salon yang paling keyong reyong, maka jawabannya tak lain dan tak bukan adalah, eke!! Haha." Sang empunya salon pun berceloteh sesukanya.

"Haha. Ok-ok, paham. Ya udah, kalau gitu eke pulang dulu ya Cyin. Makasih!" Vellery pun mencubit pipi lelaki melambai yang sudah mengganti model rambutnya itu dan kemudian melangkah ke luar. Di depan salon, Mercedes yang dikemudikan oleh supir pribadi langsung menyambut lantaran tak mau Ny. Vellery Maholtranya berjalan lebih lama.

Dalam perjalanan pulang..
Vellery baru sadar, bahwa pemilik salon langganannya itu memoleskan kuteks berwarna Merah sedang perempuan itu tak memintanya.
"Dasar! Tapi cantik juga ya, dia memang paling tau selera para pelangganya," Gumam Vellery tersenyum seraya memainkan jemarinya berkali-kali.

"Hhh!" Vellery tiba-tiba dikejutkan oleh seseorang yang tengah meremas pundaknya. Seseorang itu pun berhenti, namun tangannya masih betengger di pundak Vellery. Vellery melihat dari sudut matanya, ia berhasil melihat tangan seseorang yang Putih bersih dan kuku-kuku yang diberi warna Merah,

"What?" Merah? Vellery sontak memandang kuku-kukunya. Persis sekali, itu adalah warna yang sama dengan,

"Hhh!" Vellery lagi-lagi terkejut saat seseorang itu melepaskan genggamannya di pundak Vellery dengan kasar.

"Mike, di belakang ada siapa?" Tanya Vellery yang masih berusaha bersikap tenang. Sedang Mike mulai memainkan cermin dispionnya untuk mencari-cari siapa gerangan yang dimaksud oleh Vellery.

"Tidak ada siapa-siapa Ny."

Vellery nekat memutar tubuhnya dan mencari tau sendiri siapa gerangan seseorang yang meremas pundaknya tadi. Tidak ada siapa-siapa! Vellery mulai ketakutan, ia tak hanya merinding sekarang, namun juga dikuasai oleh rasa takut.

Malam harinya..
Vellery yang dilanda stress semenjak dirinya pulang dari salon pun memutuskan untuk mandi air hangat ketika jam dinding sudah menunjukkan pukul 23.00 wib. Perempuan itu sama sekali tidak bisa tidur. Setelah melepaskan pakaian, lalu masuk ke kamar mandi, Vellery melirik ke arah bathub dan lagi-lagi perempuan itu merinding. Ia mengurungkan niat untuk berendam air hangat, dan memilih untuk mandi menggunakan shower saja, yang terpenting baginya malam ini adalah, sesuatu yang hangat.

Vellery yang tengah mengusap-usap beauty puff di seluruh tubuhnya itu pun tiba-tiba merasakan ada seseorang yang tengah meraba-raba punggungnya. Ia menghentikan aktifitasnya sesaat. Tidak ada apa-apa. Ia pun menggeleng beberapa kali dan berharap bahwa itu hanyalah wujud dari rasa takutnya yang berlebihan.

"Hhh!" Kini kuku-kuku panjang terasa menggaruk punggung Vellery, lebih tepatnya, punggung perempuan itu yang sebelah kiri.

"Aku ingin jantung mu," Bisikan seperti itu terdengar jelas di balik kuping Vellery sebelah kiri.

"Jantung mu yang tertawa bahagia dengan sekencang-kencangnya ketika peluru itu menembus jantung ku!" Suara bebisik selanjutnya menjadikan Vellery kian merasa ciut. Segera, Istri dari Morgan Maholtra itu mengenakan handuk, lalu bergegas meninggalkan kamar mandi.

Vellery bahkan tak berani untuk mengenakan kembali bajunya. Ia langsung naik ke atas tempat tidur, dan membiarkan dirinya berbalut selimut saja malam ini. Vellery yang ketakutan mulai gemetar, ia menutup ujung rambut hingga ujung kakinya dengan selimut.

"Vellery, ini aku Venya!" Suara bisikan itu terdengar membentak.

"Aku tau, kamu telah membayar anak buah Morgan dengan sangat mahal untuk membunuh ku bukan? Aku tidak bodoh Vellery, dan kamu juga tidak lebih pintar dibanding aku."

"Hhh!" Kini Vellery merasa ada jemari seputih Susu dengan kuku-kuku berwarna Merah masuk ke selimutnya yang hanya mendapat sedikit cahaya. Jemari itu seolah mencari-cari dimana posisi Vellery.

"Aaappppp!" Perempuan itu tercekat ketika ada seseorang yang duduk di punggungnya. Meraba-raba punggung Vallery, lalu mengetuk pelan di bagian punggungnya sebelah kiri.

Vellery hanya bisa membayangkan bahwa saat ini, arwah Venya tengah duduk di atas punggungnya, dan hendak mencabik-cabik diri Vellery demi mendapatkan jantungnya malam ini juga. Sedang dalam hitungan detik, jemari seputih Susu dengan kuku berkuteks Merah yang melentik-lentik itu menembus punggung Vellery, lalu menarik jantungnnya ganas!

***
Perusahaan yang bergerak di bidang Teknologi Industri itu tampak masih berkatifitas sekali, padahal waktu sudah menunjukkan pukul 21.00 waktu Kuala Lumpur. Begitu juga dengan salah seorang Supervisor yang harus lembur di balik layar monitor di ruang kerjanya malam itu.

Roy memang sengaja menyibukkan dirinya dalam beberapa tahun terakhir. Kematian Venya yang masih menyisakan tanda tanya menjadikan hantaman keras bagi lelaki itu untuk segera menyelesaikan kuliah, dan bekerja keras mencari nafkah bahkan hingga ke negri tetangga. Beruntungnya, Roy mendapatkan posisi yang cukup kuat di perusahaan tersebut.

Tiba-tiba, ponsel lelaki itu berbunyi. "Pingkan" seperti itu nama yang tertulis di sana. Pingkan merupakan teman dekat Venya, yang turut membantu Roy bangkit dari keterpurukannya. Perempuan yang memberikan rasa nyaman bagi Roy hingga saat ini.

"Malam sayaaaaannngggggg," Teriak Pingkan manja ketika Roy mengangkan panggilan video darinya.

"Malam sayang, kamu kenapa masih belum tidur?" Tanya Roy segera.

"Aku nggak bisa tidur soalnya," Perempuan itu mengeluh.

"Kenapa? Kamu ada masalah, sini cerita sama aku." Roy menghentikan segala aktifitas dan memfokuskan perhatiannya untuk Pingkan terlebih dahulu.

"Aku nggak ada duit sayang, besok aku harus bayar pajak mobil. Mana aku hape aku udah agak-agak lemot," Keluh Pingkan lagi.

"Ya udah, nggak usah terlalu dipikirin, sekarang kamu tidur ya, ntar sekalian jalan pulang langsung aku transfer, okey?"

"Makasih sayangggggggg, love yoouuuuuu."

"Iya, love you too. Sekarang kamu tidur ya?" Roy yang lugu dan naif sama sekali tidak tau bagaimana cara membedakan mana perempuan yang tulus, dan mana yang bukan.

"Oookkkyyyuuuuuuu, aku tidur dulu yaaaaaaa. Night."

"Night."

Keesokan harinya..
Pingkan yang girang bukan kepalang pun langsung membawa dua orang temannya menuju sebuah salon yang sedari dulu ia mimpikan, namun urung untuk ia realisasikan lantaran salon itu memang bukan diperuntukkan bagi kalangan perempuan-perempuan seperti dirinya.
Ya! Pertama kali Pingkan tau tentang salonnya para "Elite Hawa" itu memang dari Venya, teman dekatnya. Namun Pingkan hanya bisa gigit jari ketika setiap saat, Venya keluar masuk salon tersebut. Semenjak menjalin hubungan dengan Roy, lelaki yang dulu sempat ditolak oleh Venya, kini Pingkan merasa perlahan apa yang inginkan berhasil ia dapatkan, termasuk menginjakkan kaki di salon ini.

"Aakkhhiirrnnyyaa!!" Teriak Pingkan norak saat memasuki salon tersebut.

Pingkan memilirik ke arah sebuah kursi di sebelah kiri, dan mendapati seorang perempuan dengan kulit seputih susu tengah melentik-lentikkan jemarinya yang dipoles kuteks berwarna Merah. Namun dalam hati, Pingkan sempat berpikiran, dari penampilan perempuan itu, persis seperti Venya, teman dekatnya. Ya! Tentu saja itu tidak mungkin, bantahnya lagi.

"Selamat datang, ada yang bisa saya bantu?" Tanya salah seorang karyawan di salon tersebut menghampiri Pingkan dan kedua orang temannya.

"Iya, tentu saja!!" Sahut Pingkan yang masih belum bisa menyembunyikan raut bahagianya. Pingkan mulai menjelaskan tentang ini dan itu yang ia inginkan dan sepertinya, karyawan di salon itu paham. Karyawan di salon itu pun mempersilahkan Pingkan duduk di kursi yang sejak semula, Pingkan melihat ada seseorang di sana.

"Loh, perempuan yang di tadi?" Tanya Pingkan pada karyawan tersebut.

"Perempuan? Oh, mungkin udah pulang," Sahut lelaki yang sedikit lebih maco itu sekenanya.

Pingkan mendekat ke arah kursi itu. Sedang karyawan yang tadi masih mempersiapkan peralatan yang lain. Pingkan merasa bahwa harusnya ia duduk tetap di atas kursi, namun apa yang terjadi?
Seisi salon mentertawakan Pingkan karena perempuan itu jatuh terduduk di lantai.

"Hahahaaaa." Sungguh, Pingkan merasa bahwa kursi itu semestinya sudah pas, tetapi kenapa malah mundur?

Selang beberapa jam mebenahi Pingkan, karyawan yang bekerja di salon itu pun akhirnya bertanya,

"Mau dikasih kuteks sekalian?"

"Iya dongggggg! Aku mau yang Merah merekah-rekah ya," Pinta Pingkan dengan raut genit.

"Ssiiaapp!"

Sedang nuh jauh di sana..
Ponsel Roy berbunyi, menyiratkan panggilan video yang lagi-lagi, nama Pingkan tertera di sana. Roy pun menggeser layar ponselnya hendak mengangkat panggilan video tersebut, namun yang di dapat oleh Roy hanyalah gelap.

"Sayang? Sayang?" Panggil Roy beberapa kali.

"Loh, kok nggak ada wajahnya sih? Sayang, kamu kepencet ya?" Kesal dengan itu, Roy pun memutus panggilan videonya, dan kembali menelfon Roy. Setidaknya, Pingkan akan tersadar ketika ponselnya berbunyi.

"Eh itu ada telfon, tolong ambilin tas aku dong?" Pinta Pingkan pada salah seorang teman yang sudah selesai terlebih dahulu.

Pingkan meraba-raba isi tasnya untuk mengambil handphone genggam miliknya, namun tiba-tiba,

"Hhh!" Tas dan juga barang-barang milik Pingkan terlempar jauh. Ia perempuan itu terkejut ketika merasakan ada jemari yang menarik tangannya ke dalam.

"Kenapa Ping?" Tanya teman-temannya sedang karyawan yang masih memoles kuteks di sebelah kanan Pingkan tampak mendekat ke arah tas berwarna Silver tersebut.

"Nggak tau! Aku nggak tau! Coba dilihat dong!" Pingkan meminta teman-temannya untuk melihat. Tidak apa-apa di sana melainkan ponselnya yang berbunyi dan menyiratkan panggilan video dari Roy. Pingkan pun segera mengangkat panggilan video tersebut.

"Hai sayaaaaaannnggggg!" Teriak Pingkan.

"Kamu tadi vc aku kenapa?"

"Ha?" Terang saja Pingkan merasa bingung, ia sama sekali belum melakukan panggilan apa pun pada Roy hari ini.

"Kepencet kali ya?" Sahut Pingkan sekenanya.

"Ohh. Terus sekarang kamu dimana?"

"Aku lagi di salon sayang."

"Ya udah, ntar pulangnya hati-hati ya."

"Ok sayang, love youuuuuu."

"Iya, love you too."

"Udah Mas, ini semunya jadi berapa? Kita bertiga?" Tanya Pingkan yang ingin segera pergi ketika mendapati kesepuluh jemarinya telah berbalut kuteks berwarna Merah.

"Totalnya $$."

" Ini, kembaliannya ambil aja ya."

"Terimakasih, silahkan datang kembali lain waktu," Ucap lelaki itu seraya melepas kepergian Pingkan dan juga teman-temannya.

Malam harinya di rumah Pingkan..
Krakkkk!!
Ada seseorang yang merobek kasar piyama yang tengah dikenakan oleh Pingkan ketika perempuan itu tengah tertidur dengan posisi tengkurap. Pingkan terkejut seraya membuka matanya, namun sama sekali belum berani untuk beranjak dari posisi tidurnya saat ini. Belum tentus rasa keterkejutannya atas kejadian barusan itu, sebuah kuku terasa menari-nari di atas punggung Pingkan. Ia pun mencoba meraba-raba tempat tidurnya dengan nafas sedikit tertahan, dimana gerangan ponselnya saat ini? Ayolah, ia harus menghubungi seseorang sebelum,

"AAAAAAaaaaaaa!" Pingkan menjerit ketika ada yang menarik kakinya hingga kini ia terhempas ke lantai masih dengan posisi tengkurap. Pingkan melihat ponselnya, namun kini posisinya kian jauh untuk meraih ponsel tersebut.

"Siapa kamu?" Tanya Pingkan memberanikan diri.
Hawa dingin kian terasa lewat sisi Piyamanya yang sobek. Sebuah kuku kembali menari-nari di atas punggung Pingkan.

"AAaawwww!" Pingkan mengaduh sakit lantaran kuku itu mulai mencongkel daging yang membalut punggungnya. Bau amis mulai tercium, itu artinya punggung Pingkan sudah berdarah sekarang. Kuku itu masih belum berhenti memberikan rasa sakit yang teramat sangat hanya dengan menggunakan satu kuku panjangnya.

"Aakk!" Pekik Pingkan lemah ketika bagian terujung kuku berhasil menancap di organ Pingkan yang bernama jantung. Kuku itu mencongkel hingga mata Pingkan terbelalak menahan rasa sakit, dan dalam hitungan detik, jantung itu sudah tidak berada di tubuh Pingkan lagi.

*** 

14 tahun kemudian..

 

Nb : Lanjutannya ada di Part 2 ya Readers :-* 

Enjoyed this article? Stay informed by joining our newsletter!

Comments

You must be logged in to post a comment.