Profil instastories

Percaya Adalah Kunci Keajaiban

Percaya Adalah Kunci Keajaiban

Oleh Firra Nurisma

Bagaimana perasaanmu jika salah satu bagian dari tubuhmu tidak berfungsi? Terluka, sedih, kecewa, atau bahkan tidak lagi percaya pada diri sendiri? Ya, mungkin itulah yang sedang aku rasakan. Tidak hanya meninggalkan luka yang tidak berujung, tapi juga mampu membunuh satu demi satu impian yang pernah menjadi cahaya dalam hidup.

Walau aku tahu tidak ada yang dapat disalahkan terhadap kejadian itu. Aku tahu inilah takdir, tapi salahkah jika aku lelah pada kehidupan? Di umurku yang masih 18 tahun, aku harus mengalami hal yang begitu besar, yang mana mampu merenggut seluruh semangat dan kebahagiaanku. Lalu, apalagi yang bisa kuperbuat selain menangisi jalan hidupku yang begitu berat?

Sebuah kecelakaan yang terjadi beberapa bulan yang lalu, seakan masih menyisakan luka yang teramat dalam untukku. Kecelakaan yang diakibatkan oleh orang lain, namun aku yang harus menanggungnya? Sungguh sakit sekali rasanya. 

Masih teringat jelas di benakku saat sebuah motor melaju kencang berusaha untuk mendahului mobil besar dari arah berlawanan, tanpa melihat jika saat itu ada motor lain di depannya. Dan pada akhirnya membuat pengendara itu menabrak motorku dalam keadaan melaju kencang, sehingga menyebabkan aku terdorong cukup jauh dan terjatuh dalam posisi mengenai tulang ekorku. Peristiwa itu tidak hanya melumpuhkan kakiku, tapi juga mengubur mimpi-mimpiku.

"Bulan, ada Natasha di depan. Ibu suruh masuk ke kamar kamu aja ya," ujar seorang wanita paruh baya membuyarkan lamunanku.

Aku tersenyum tipis menyembunyikan rasa sedihku. "Iya, Bu!"  balasku.

Rima -- Ibuku mengusap pucuk kepalaku lembut sembari tersenyum. "Yaudah Ibu panggil dulu ya." 

Aku hanya tersenyum sembari menganggukan kepalaku.

Setelahnya Ibu kembali menutup pintu kamarku. Membuat senyumku perlahan pudar dan menyisakan kesunyian. Tanpa sadar mataku melirik sebuah kertas yang berisi tulisan tentang impianku di masa depan, tertempel rapi di dinding kamarku. Di baris pertama tertulis mengenai impianku untuk bisa berkuliah di universitas negeri favoritku. Aku hanya tersenyum lirih melihatnya. Dulu aku sangat ingin berkuliah di universitas negeri impianku. Tapi kini itu semua tidak lagi membuatku semangat.

"Bulannnnn," sapa Natasha antusias.

Perempuan yang masih mengenakan almamater kuliahnya itu, langsung memelukku erat. "Lan, kamu tau gak? Tadi aku ketemu Lia, dan sekarang dia udah kuliah di Universitas Indonesia lho. Keren ya," cerita Natasha riang sambil duduk di tepi tempat tidurku.

Aku tersenyum sendu. "Iya keren," balasku singkat.

Natasha bergeming mendengar ucapanku. Tiba-tiba ia melepaskan kertas yang tertempel di dinding kamarku. "Bulan, kamu liat ini! Ini semua impian kamu, apa kamu rela ngelepasin semua ini. Ayo dong kamu semangat!" seru Natasha yang membuatku terdiam.

"Lan, aku tau kamu bukan orang yang lemah. Aku tau kamu kuat, dan aku tau kamu bisa." Natasha tersenyum menyemangatiku.

Tapi, aku justru menggelengkan kepalaku."Semua itu gak ada gunanya, Nat! Apa yang bisa dilakuin orang yang cacat kayak aku?! Gak ada, Nat!. Bahkan kata Dokter, kecil kemungkinan untuk aku sembuh total." Air mataku kembali terjatuh dengan hati yang sesak.

"Bulan, kaki kamu itu bisa sembuh. Asal kamu yakin dan mau usaha! Ucapan Dokter itu belum tentu benar, karena dia bukan Tuhan yang tau takdir manusia. Aku mohon, sekali ini aja kamu dengerin aku, kamu ikut terapi buat nyembuhin kaki kamu. Habis itu kamu kembali kejar mimpi-mimpi kamu yang tertinggal. Aku mohon, Lan. Kamu harus percaya, kalo kamu bisa."

Aku hanya bisa menangis dengan tangan terkepal kuat. Aku menatap wajah Natasha yang tampak meyakinkan dengan penuh harapan. Aku memandang kembali tulisan tentang impianku. Apa iya semua mimpiku harus hancur begitu saja, tanpa sedikitpun memperjuangkannya? Kurasa tidak! Mungkin inilah saatnya aku bangkit kembali.

"Aku mau coba dan berusaha untuk sembuh, baru habis itu aku kembali kejar impianku." Aku tersenyum lebar menatap Natasha.

Natasha berteriak antusias, lalu memelukku erat. "Aku tau kamu bukan orang yang mudah menyerah, Bulan."

****

Ucapan Natasha kemarin, seolah menjadi penyemangatku untuk bisa sembuh. Hari ini aku diantar Ibu untuk memulai terapi. Rasanya membuatku gugup sekaligus takut, apa mungkin aku bisa sembuh? Bagaimana kalau tidak bisa, dan aku tidak akan pernah bisa berjalan lagi untuk selamanya? Apakah aku sanggup menjalaninya?

Ibu mengusap bahuku dan tersenyum lembut, seolah memberikanku kekuatan. "Kamu jangan khawatir, percaya kalo kamu pasti bisa jalan lagi. Semua ini hanyalah ujian untuk membuat kamu jadi lebih kuat, Bulan."

Aku menggenggam tangan Ibu erat. "Iya, Bu! Doain Bulan ya," ucapku sembari tersenyum.

"Ibu akan selalu doain kamu, bahkan tanpa kamu minta." Ibu beralih mengusap pucuk kepalaku. 

Aku merasa lebih tenang sekarang, akupun masuk ke dalan ruangan didampingi Ibuku. Ibu berbincang dengan orang yang ada di dalam ruangan tersebut, mengenai apa yang aku alami. Setelahnya orang itu mulai menggerakkan kakiku secara perlahan. Aku juga berusaha untuk menggerakkan kakiku, tapi hasilnya kakiku tetap tidak dapat kugerakkan. Aku sempat sedih, tapi lagi-lagi Ibu menyemangatiku. Hingga akupun mulai menjalani rangkaian terapi yang begitu berat bagiku. Tapi aku tidak akan menyerah, aku akan tetap melewati proses-proses sulit ini, sampai aku benar-benar sembuh.

Dokter itu menuntunku secara perlahan untuk bisa berjalan, yang nyatany belum juga membuahkan hasil. Langkah itu terus dilakukan, hingga akhirnya jadwalku selesai. Aku dan Ibu akhirnya pulang, tanpa ada hasil apapun. 

"Bulan, ini baru aja hari pertama. Jadi wajar kalo hasilnya belum keliatan, tapi nanti kalo rutin pasti lama-lama akan ada hasilnya. Jangan putus asa ya, besok kita kan kesana lagi. Kalo belum bisa juga, masih ada besoknya lagi, lagi, dan lagi. Sampe kamu bener-bener sembuh." 

Aku memeluk Ibu dengan sayang. Ibuku adalah wanita hebat yang bisa membesarkan anaknya seorang diri, walau saat itu kondisi keuangan keluargaku sedang bermasalah. Semenjak Ayah meninggal saat usiaku masih menginjak satu tahun, Ibu harus banting tulang untuk bisa membesarkanku. Ibu begitu kuat menghadapi segala ujian, aku tidak ingin membebani Ibu dengan apa yang terjadi padaku. Cukup sudah aku menyulitkan Ibu, mulai saat ini aku harus berusaha tegar dan kuat menerima apa yang telah menimpaku.

"Iya, Bu. Bulan beruntung banget punya Ibu yang hebattt banget. Bulan juga mau jadi orang yang kuat kayak Ibu, mulai sekarang Bulan bakal berusaha menerima dan menjalani semua prosesnya tanpa mengeluh." Aku berucap antusias.

"Kamu udah semakin dewasa, Ibu seneng ngeliatnya. Yaudah yuk kita pulang," tukas Ibu sembari mendorong kursi rodaku.

Apa yang terjadi padaku ini tidak seberapa dengan beratnya perjuangan Ibu, maka dari itu aku ingin pula dapat menjalani semuanya dengan sabar dan ikhlas. Aku yakin semua kesulitan ini akan berakhir. Akan kuterima apapun takdir dari-Nya, karena Dialah yang mengerti apa yang terbaik untuk hambanya. Walaupun mungkin takdir itu tidak sesuai dengan keinginanku.

***

Hari demi hari, bulan demi bulan pun berganti. Tidak pernah sekalipun aku tidak datang ke tempat terapi milik sahabat Mama Natasha. aku selalu rutin terapi untuk kesembuhan kakiku yang lumpuh. Karena aku percaya hasil tidak akan pernah mengkhianati usaha. Aku yakin semua akan berlalu, dan berganti kebahagiaan yang tiada tara.

Tidak terasa 4 bulan berlalu, dan akhirnya kakiku sembuh total. Rasanya masih tidak percaya aku yang biasanya hanya bisa duduk di kursi roda, kini bisa kembali berjalan layaknya manusia normal. Ini adalah sebuah anugerah besar dari-Nya, dan aku sangat bersyukur karenanya..

Semua yang terjadi padaku telah memberiku banyak pelajaran, untuk lebih bersyukur dan lebih menghargai setiap peristiwa. Terutama untuk lebih menyadari perhatian dari orang-orang terdekatku, seperti Ibu dan sahabatku. Mereka selalu ada disaat suka dan dukaku. Aku beruntung memiliki Ibu dan sahabat sebaik Natasha. Kini, aku dapat kembali mengejar mimpi-mimpiku yang sempat tertinggal, karena terlalu fokus akan keterpurukkanku.

Aku sadar jika kesedihan tidak akan mengembalikan keadaan. Bangkit dan percaya jika masalah apapun bisa terselesaikan tanpa harus menyalahkan takdir. Dengan begitu barulah keajaiban itu akan terjadi.

"Natashaaaa, aku akhirnya tembus di Universitas Indonesia!" seruku semangat.

Natasha terperanga, tapi kemudian dia memelukku erat. "Huaaa selamat, akhirnya mimpi kamu untuk bisa kuliah di UI tercapai. Aku ikut seneng, Lan." 

Aku tahu hal itu bukanlah akhir dari segalanya, tapi baru awal dari langkahku menggapai impianku.. Masih ada rintangan yang akan kuhadapi, tapi aku akan menikmati setiap prosesnya. Sedih, sakit, kecewa, tidak akan lagi membuatku terpuruk. Karena ada hal yang lebih bermanfaat daripada menangisi keadaan, yaitu berusaha agar lebih baik lagi.

Enjoyed this article? Stay informed by joining our newsletter!

Comments

You must be logged in to post a comment.

Stori terkait
Jul 8, 2020, 1:15 PM - Annisa mahmudah
Jul 6, 2020, 10:20 PM - Chocho_Yucho
Jul 3, 2020, 6:34 PM - Tjahjono widarmanto
Jul 3, 2020, 6:26 PM - Nnaga
Jul 3, 2020, 1:07 PM - Kristina Dai Laba
Jul 2, 2020, 2:25 PM - Mei Elisabet Sibarani