Profil instastories

Percakapan dengan Bulan

   Kutatap langit. Bulan tinggal sepotong,ditemani kerlip bintang dengan sinar yang suram. Bulan itu pucat,seolah kehilangan cahaya. Mirip seperti wajah manusia yang sedang tidak baik-baik saja. Padahal,aku berharap bulan bercahaya terang malam ini. Tapi tak apa,aku tetap suka memandangnya.

    Setiap kali kutatap bulan,seperti ada ruang yang berbeda,membuatku terhanyut hingga masuk ke dalam pusaran waktu lalu menikmati cahayanya dalam diam yang beku. Tidak jarang kami bercakap-cakap layaknya dua orang sahabat.

"Lan,kok kamu muram malam ini?"

Tanyaku sambil menopang dagu di balik jendela kamar.

"Aku capek"

Jawab bulan sembari menghembuskan nafas kesal.

 

"Capek?Bulan bisa capek?"

Tanyaku heran

 

"Seharusnya tidak boleh. Tapi aku muak melihat tingkah manusia di bawah sana. Coba kamu lihat!"

Bulan menunjuk,kuikuti arah telunjuknya.

 

"Bapak-bapak yang baru turun dari mobil itu?"

Tanyaku memastikan.

 

"Ia baru saja membeli mobil baru,seandainya aku bisa menjerat lehernya,sudah kugantung dia sejak tadi"

Bulan mengungkapkan kekesalannya.

 

"Kok kamu begitu marah?"

Tanyaku bingung

 

"Uang yang digunakannya hasil korupsi"

Jawab bulan. Aku terdiam mendengar jawabannya.

"Sudahlah,lebih baik kita doakan agar ia sadar. Aku hanya khawatir melihat manusia yang serba kekurangan. Ada anak yang kelaparan, bahkan ada anak yang tak mampu melanjutkan sekolah karena harus menjadi tulang punggung keluarganya.Miris sekali"

Aku hanya mengangguk setuju. Lalu,kututup jendela kamar,beranjak meninggalkan bulan karena rasa kantuk menyerang.

   Malam pun berganti. Bulan tetap muram ditemani kerlip bintang.Angin malam berhembus membuat rambutku berayun.

"Kok muram lagi?Sekarang kan tanggal muda"

Godaku ketika menyapanya sambil duduk di kursi tua depan rumah yang kayunya mulai lapuk termakan usia.

 

"Aku capek"

"Punya cerita apa lagi malam ini?"

Tanyaku.

"Ini lebih gila dari yang kemarin"

"Masa?"

Tanyaku tak percaya.

"Tuh,lihat dua lelaki yang sedang asyik duduk di sana"

Tunjuk bulan ke arah kiri,beberapa meter dari tempat dudukku. Akupun menoleh,mengikuti gerak telunjuknya.

"Apanya yang gila?"

Tanyaku heran

"Mereka adalah sepasang kekasih yang sudah menjalin hubungan selama satu tahun"

"Tapi kan,mereka lelaki sama lelaki?"

"Nah itulah gilanya mereka"

Karena masih tak percaya,akupun menolah lagi. Dan benar saja,dua lelaki itu berpegangan tangan lalu saling berpelukan. Aku bergidik ngeri menyaksikannya.

"Nah,coba lihat ke arah mereka yang sedang berboncengan"

Bulan menunjuk ke arah jalanan yang cukup ramai. Maklum saja,sekarang malam minggu.

"Kenapa? Mungkin mereka sepasang kekasih"

Aku akui bahwa ketika kasmaran,dunia serasa milik berdua. Yang terpikirkan hanyalah dia.

"Lelaki sialan itu baru saja nembak perempuan di kampusnya tadi siang"

"Lalu perempuan yang bersamanya?"

"Pacarnya juga. Baru satu bulan mereka jadian"

"Jadi?"

"Ya begitulah,tidak puas dengan satu wanita"

"Boleh tahu, siapa nama lelakinya?"

Kali ini jantungku terasa lebih keras berdetak.

"Kok tumben minta detail"

Bulan mengerutkan kening keheranan.

   Begitu mendengar nama yang disebutkan bulan,langsung saja kuremas poto yang tadinya akan kutunjukkan padanya seusai mendengarkan ceritanya malam ini. Bulan benar. Lelaki tadi itu memang sialannnn.

 

Enjoyed this article? Stay informed by joining our newsletter!

Comments

You must be logged in to post a comment.