Profil instastories

Penyesalanku di Ujung Nafasmu

Wush………wush……….wush………., suara angin terdengar jelas ditelinga. Menyapu debu diemperan rumah seorang lelaki tua bernama Pak Marno. Pak Marno adalah seorang buruh yang tinggal dipedesaan dengan anak perempuannya yang bernama Ayu dan Sinta. Sudah sekitar 5 tahunan ia menjadi orang tua tunggal untuk Ayu dan Sinta, karena istrinya telah meninggal akibat sakit yang diderita. Sinta merupakan putri sulung Pak Marno. Usianya kini baru genap 17 tahun. Sedang Ayu, putri bungsunya Pak Marno telah berusia 15  tahun. Sinta adalah anak yang sangat penurut. Ia tak pernah menuntut apapun kepada ayahnya. Ia sangat memahami kondisi ayahnya semenjak kepergian ibunya. Kini Sinta tengah menempuh pendidikan di sebuah pondok pesantren didaerahnya. Berbeda dengan Ayu, kepribadiannya berubah drastis sejak kepergian sang ibu. Ia tumbuh menjadi seorang gadis cantik yang pemarah. Peringainya kasar, apalagi terhadap ayahnya. 

Pagi ini seperti biasanya, Pak Marno membangunkan Ayu untuk sholat subuh berjamaah.

“Nak, bangun, ayo sholat subuh.”  

 “Apa sih yah, aku masih ngantuk”. Hanya itu yang dikatakan Ayu, dan kembali menyelimuti tubuhnya.

“Tapi ini sudah pagi sayang, ayo sholat dulu. Kamu kan juga harus berangkat pagi hari ini.”

“Alahhh ayah ini, berisik sekali, aku bilang kan aku masih ngantuk ya ngantuk. Udah ayah sholat aja sendiri! Aku tuh udah besar ngga usah deh di atur-atur terus !!!” ucap Ayu dengan suara tinggi.

 “ Ya Allah nak, ayah cuma mengingatkan. Memang sekarang kamu sudah besar tapi bukan berarti ayah lepas tanggungjawab untuk selalu mengingatkanmu nak” ujar Pak Marno (matanya berkaca-kaca melihat sikap anaknya yang sangat keras itu)

“ Sudah yah aku bosan denger ayah ngoceh mulu..” bentak Ayu seraya mendorong Pak Marno keluar dari kamarnya dan mengunci pintu kamarnya. Ia hanya bisa mengelus dada saat melihat anak yang paling disayanginya itu bersikap sangat menyakiti hatinya. 

Dari kecil Ayu memang selalu di manja oleh kedua orangtua nya. Apapun yang ia inginkan selalu dituruti. Bisa dibilang kehidupannya yang dulu serba tercukupi dan tak ada kekurangan. Namun tidak dengan kehidupannya yang sekarang, perekonomian keluarganya merosot. Bisnis orang tuanya bangkrut, kemudian disusul ibunya yang meninggal karena penyakit yang menyerangnya. Masalah-masalah yang datang memaksanya harus hidup dalam kesederhanaan, jauh dari kemewahan yang biasa ia dapatkan. Namun Ayu masih tak bisa menerima keadaan tersebut. Ia selalu menyalahkan ayahnya. Setiap kali apa yang diinginkannya tidak dipenuhi, Ayu akan marah dan berkata kasar pada Pak Marno, ayahnya.

“ Ahhhhhh kenapa sih hidupku kok beginih banget sekarang, aku benciiiii…semua ini gara-gara ayah. Kenapa dia harus bangkrut. “ ujar Ayu dalam hatinya mengeluh 

Matanya meneteskan air mata, Ia tak habis fikir dengan keadaan yang sedang menimpa dirinya.Tak bisa menerima kenyataan yang ada bahwa ia mengalami kehidupan yang serba kekurangan, untuk makan saja uang setiap harinya pas-pasan. Menangis dan terus menangis menyesali keadaan bahkan terkadang menyalahkan takdir yang telah di tetapkan Tuhan. Di ruang tamu Pak Marno melamun memikirkan sikap anaknya tersebut, Ia tidak habis fikir dengan sikap Ayu yang sekarang begitu sulit untuk dinasehati terlebih di atur. Padahal semua itu untuk kebaikan Ayu sendiri. Sebagai orangtua, Pak Marno tidak ingin sesuatu yang buruk menimpa pada putri bungsunya itu. Ia ingin anak-anaknya tumbuh menjadi wanita yang shalihah.

“Ya Allah, berikanlah hidayah untuk anakku. Jadikanlah ia anak yang shalihah, anak yang senantiasa selalu berbakti pada orangtuanya, selamatkan lah ia di dunia dan akhiratnya..“ ujarnya dalam hati, berharap sekali anaknya bisa berubah menjadi lebih baik lagi. 

Keesokan harinya ketika hendak berangkat ke sekolah Ayu meminta uang kepada ayahnya,

“Yah, minta uang dong..” sambil menyodorkan tangan kanannya.

“Iya sebentar nak, ini ayah cuma ada 5 ribu” ujar Pak Marno sambil memberikan uang kepada Ayu 

 “Ya elah yah ini mah kurang tambahin napa, jangan pelit-pelit dah ama anak sendiri..”  seru Ayu sambil menyodorkan tangan lagi di depan muka ayahnya yang sedang duduk di ruang tamu.

“ Ayah belum gajian nak belum ada uang lagi. Hari ini kamu bawa segitu dulu , besok-besok nanti ayah tambahin uang sakunya.” 

Ayu hanya melengos dan langsung pergi mendengar jawaban dari ayahnya, tanpa berpamitan terlebih dahulu ia langsung mengayuh sepedanya menuju ke sekolah. 

“Dasar ayah tuh pelit timbang kasih uang ke anaknya aja itung-itungan banget.. kasih uang saku bae cuma 5 rebu, buat jajan ya kurang lah.. arrrrrgggg….” Gumamnya di dalam hati sambil mengayuh sepedanya. 

Dikelas Ayu mengikuti pelajaran seperti biasanya, Ayu termasuk anak yang cerdas dan aktif di kelas. Namun kembali lagi setelah kepergian ibunya, sekarang Ayu menjadi anak yang lebih pendiam bahkan pasif di dalam kelas. Ia tak lagi terlihat seperti Ayu yang dulu.  

Kringgggggg…

Bel pulang pun sudah di bunyikan, Ayu tak lantas pulang seperti teman-temannya yang lain. Pikir Ayu malas sekali untuk pulang karena yang ada nanti hanyalah pertikaian dengan ayahnya lagi. Namun tidak lama kemudian Ayu pun bergegas untuk pulang karena keadaan sekolah mulai sepi.

Sesampainya dirumah di dapati kakak perempuannya yang bernama Sinta sedang terduduk manis di ruang tamu. Ia kaget melihat kakak nya yang selama ini hidup di pondok pesantren tiba-tiba sudah ada di rumah tanpa ada kabar sebelumnya. 

“ Pulang kapan ka, kok tiba-tiba udah di rumah bae..” tanya Ayu sambil meminum segelas air yang ada di tangannya. 

“ Pulang tadi dek, tapi besok kakak harus balik ke pondok lagi, kalau tidak nanti ada dendanya, soalnya tadi kakak cuma izin pulang sehari..” ujar kakaknya seraya berjalan menuju kamar Ayu.

“ Ayok dek sekarang kamu beres-beres baju, dan semua perlengkapan yang di perlukan,” sambil memberikan tas ransel kepada Ayu.

Sontak Ayu pun kaget mendengar ucapan kakaknya tadi, 

“ Hah.. emang mau kemana ka, kok beres-beres baju segala” 

“ Kamu besok harus ikut kakak ke pondok, kasihan ayah di buat pusing sama kamu terus” ujar kakaknya sambil satu persatu mengeluarkan baju Ayu dari dalam lemari. 

“ Dih gak mau kaaa, udah sihhh jangan berantakin lemariku..” Ayu menolak keras ajakan kakaknya tersebut.

“ Mau atau tidak, besok kamu tetap harus ikut berangkat ke pondok pesantren bareng kakak. Cepetan beresin ! ..” ujar kakaknya tegas kemudian keluar dari kamar Ayu. 

Ayah dan kakaknya memang sudah berniat untuk mendaftarkan Ayu ke pondok pesantren setelah kelulusannya. Namun karena sikap Ayu yang keterlaluan akhirnya Ayu pun di daftarkan sebelum ia lulus. Ayahnya tidak tahu harus bagaimana lagi menghadapi sikap Ayu yang begitu keras. Mungkin ini jalan satu-satunya supaya Ayu mau berubah dan tidak bandel lagi. 

Keesokan harinya dengan sangat terpaksa Ayu berangkat dengan kakanya ke pondok. Sepanjang perjalanan Ayu terus menangis. Bahkan Ayu punya niatan untuk kabur. Sesampainya dipondok Ayu masih menangis, matanya memerah. Melihat Ayu yang begitu sedih, Pak Marno merasa tidak tega meninggalkan Ayu saat itu. Namun putri sulungnya terus meyakinkan ayahnya untuk mempercayakan Ayu padanya. Akhirnya Pak Marno meninggalkan mereka di pondok dan kembali ke rumah.

Beberapa minggu dipondok, Ayu tak pernah mau mengikuti kegiatan yang ada di pondok. Ia selalu menyendiri. Ia tidak mau berbaur dengan teman-temannya. Bahkan kakaknya terus membujuknya namun tak pernah dihiraukan oleh Ayu.

Sampai pada suatu hari, datang seorang santri baru bernama Nita. Usianya 2 tahun dibawah Ayu. Kondisi kesehatan Nita tidak normal seperti anak-anak pada umumnya, kaki kirinya harus diamputasi karena kecelakaan yang dialaminya beberapa tahun yang lalu. Sehingga dia harus duduk di kursi roda. Namun Nita tak pernah mengeluh ataupun merasa minder dengan kondisinya. Bahkan selama beberapa minggu di pondok dia sudah akrab dengan banyak santri dan dia juga mengikuti setiap kegiatan yang ada. 

Pada suatu hari saat Nita hendak berangkat mengaji dan dia melihat Ayu sedang duduk sambil melamun di tangga menuju loteng. Nita menghampiri Ayu dan mengajaknya berbicara 

“ Hai kamu mba Ayu kan, Mba ngapain disini kok nggak ikut ngaji ? “ 

Ayu tak menghiraukan Nita, namun Nita terus mengajaknya berbicara.    

“ Nita udah denger dari temen-temen tentang mba, tapi liat Nita deh mba. Dulu Nita tinggal dirumah yang besar sama ayah bunda. Tapi karena kecelakaan beberapa tahun yang lalu. Mengakibatkan ayah dan bunda Nita meninggal dan Nita kehilangan satu kaki Nita dan semua yang ayah dan bunda tinggalkan habis untuk pengobatan Nita, termasuk rumah yang Nita tempati waktu itu. Awalnya Nita sangat terpukul dan Nita hampir putus asa. Tapi kemudian Nita bertemu anak kecil jauh dibawah Nita dia mengatakan “ kalau Allah itu tidak memberikan cobaan kepada hamba Nya melebihi batas kemampuannya, dan itu bukti kalau Allah itu sayang sama kita” mendengar kata-kata dari anak itu Nita sadar bahwa setiap cobaan pasti ada hikmahnya. dan ini bukti bahwa Allah masih sayang sama Nita, buktinya sampai saat ini Nita masih diberi kesempatan untuk hidup, tentunya untuk memperbaiki diri” 

Mendengar cerita dari Nita tanpa sadar Ayu meneteskan air mata, hatinya tersentuh. Dan dia tersadar bahwa apa yang terjadi pada dirinya bukanlah apa-apa jika dibandingkan dengan apa yang dialami Nita.

Dalam hati Ayu berkata “ Pantaskah aku mengeluh seperti ini..selama ini aku udah jahat sama ayah dan kaka ” 

Saat itu juga terbayang kesalahan-kesalahan yang pernah dia lakukan kepada ayahnya. Ayu sangat menyesali kata-kata kasar yang pernah dilontarkan kepada ayahnya padahal ayahnya begitu menyayanginya. Ayu berlari menemui kakaknya. 

“ Kaka.. Kaka.. maapin Ayu. Ayu mau pulang sekarang ka”

“ Kamu kenapa dek? ”

“ Ayu mau minta maaf sama ayah ka, ayooo kaa pulangg, ayu nyesel.. ayu udah jahat sama ayah..”    

“ Iyaa.. Iyaa.. tapi kita minta izin dulu yahh sama Pak Kyai “ 

Setelah berpamitan dan mendapat izin dari Gurunya akhirnya mereka berdua pulang dan sesampainya dirumah didapati rumah mereka kosong, ada tetangga lewat dan mengatakan kalau ayah mereka dirawat di Rumah Sakit Permai sejak tiga hari yang lalu. Lalu Ayah dan kakaknya langsung menuju ke rumah sakit, sesampainya di rumah sakit dokter mengatakan kalau kondisi ayah mereka sangat lemah. 

Kakak Ayu bertanya “Dokter apa boleh kami menemui ayah?” 

“ Iya silahkan, tapi saat ini ayah kalian kondisinya sangat lemah jadi jangan lama-lama.”

Mereka mengangguk dan langsung masuk ke ruangan. Pak Marno menyadari kedatangan kedua putrinya. 

Ayu menangis, sambil memeluk ayahnya dan berkata “ Ayah Ayu minta maaf selama ini ayu udah kasar sama ayah, Ayu udah jadi anak yang pembangkang”  

“ Iya Nak, Ayah sudah memaafkan kamu” 

“ Sintaa,  jaga adik kamu.” Pak Marno tersenyum dan memeluk kedua putrinya. Namun perlahan kedua bola matanya tertutup. Ternyata itu menjadi pesan terakhir dari Pak Marno.

Pak Marno dinyatakan telah meninggal dunia. Ayu dan Sinta terus menangis. Memanggil-manggil ayahnya.  

Enjoyed this article? Stay informed by joining our newsletter!

Comments

You must be logged in to post a comment.

Stori terkait
Jul 8, 2020, 1:15 PM - Annisa mahmudah
Jul 6, 2020, 10:20 PM - Chocho_Yucho
Jul 3, 2020, 6:34 PM - Tjahjono widarmanto
Jul 3, 2020, 6:26 PM - Nnaga
Jul 3, 2020, 1:07 PM - Kristina Dai Laba
Jul 2, 2020, 2:25 PM - Mei Elisabet Sibarani