Profil instastories

Wattpad : mrstputri Judul : World is a Trap Yuk baca wattpad ku :) siapa tau suka hehe...

🌾Penantian Di Bawah Derasnya Hujan🌾

Penantian Di Bawah Derasnya Hujan

Setiap kali aku melihatnya, saat dia duduk sendiri. Entah apa yang dipikirkannya, yang jelas saat dia bersama teman – temannya dia berusaha menutupi rasa sedihnya. Tapi semenjak 1 tahun yang lalu saat aku mulai mengenalnya lebih dekat, semua itu berubah.

"Elvira.. cepet bangun nanti kesiangan!" panggil seorang wanita dari balik pintu.

"Iya" jawab Elvira. Bergegaslah dia menuju kamar mandi dan bersiap untuk berangkat sekolah.

Elvira adalah anak yang pendiam, saat di kelas Elvira sering di jahili temannya. Salah satu murid yang seringkali menjahilinya adalah Deva. Dia terkenal di kalangan para siswa SMA Itomori karena kenakalannya, sering kali dia masuk ruang BK. Walaupun sering kali di skors, itu tidak menyurutkan niat Deva untuk menjahili teman – temannya. Padahal kadang saat aku melihatnya sendiri sering kali dia seperti orang yang sedih, tapi saat di hadapan teman – temannya dia berubah menjadi sosok yang brutal.

Siang itu setelah pulang sekolah Elvira di panggil ke ruang guru untuk menemui wali kelasnya, dengan di temani sahabatnya Sinta sampailah mereka di ruang guru.

"Permisi Bu, tadi manggil saya kan?" tanya Elvira. 

"Eh iya Elvira, ibu mau minta tolong boleh??" jawab bu Indah.

"Boleh bu, minta tolong apa ya?" jawab Elvira dengan sopan. 

"Jadi gini, kamu tahu kan Deva, dia ini nakalnya sudah di luar batas. Ibu bingung sebentar lagi kan ujian nasional dia sering bolos waktu jam pelajaran, gimana mau dapet nilai yang bagus kalo kayak gini terus, jadi ibu mau minta tolong ke kamu. Tolong ajari Deva buat belajar, kan dia banyak materi yang ketinggalan cuma kamu yang saya percaya saat ini" kata bu Indah panjang lebar menjelaskannya. 

"Kenapa ngga yang lain aja bu, sayakan ngga pernah akur sama Deva" gerutu Elvira.

"Ya mau gimana lagi, kamu kan selalu dapet juara 1 jadi kamu aja ya. Yaudah ibu ngga bisa ngobrol lama – lama, pokoknya ibu udah izin ke ibunya Deva kalo kamu mau bantuin dia belajar" kata bu Indah dan langsung keluar dari ruang guru.

Jam sudah menunjukkan pukul 6.30, Elvira langsung loncat dari tempat tidurnya dia kesiangan lagi. Segeralah dia berangkat, dia lari dari rumahnya ke sekolah. Pintu gerbang sudah di tutup dan Elvira bingung, sekarang dia akan lewat mana.

"Hosh... hosh... Pakk, ayolah bukain ntar saya traktir di kantin deh. Saya kan cuma telat 1 menit" dengan suara ngos – ngosan Elvira membujuk Pak Satpam. 

"Nggak bisa! kalo udah telat ya pulang sana!" usir Pak Satpam. 

"Saya mohon pak sekali aja" dengan wajah memelas ke Pak Satpam. Tanpa di sengaja Bu Indah lewat sana. 

"Lho Elvira, kamu telat?" tanya Bu Indah. 

"Eh, iya bu. Bantuin saya Pak Ujang nggak mau bukain gerbangnya" mohon Elvira ke Bu Indah. 

"Yaudah Pak, tolong bukain" pinta Bu Indah ke Pak Ujang. Di bukakanlah pintu gerbang itu untuk Elvira.

Bergegaslah ia menuju kelasnya, sampai di sana dia harus mendapat hukuman karena keterlambatannya masuk kelas. Dia tidak boleh mengikuti jam pelajaran Kimia selama 3 jam pelajaran.

“Parah lo Vir, kok bisa – bisanya telat gini” Tanya Sinta heran. 

“Semalem gue nggak bisa tidur” jawab Elvira.

 “Hah? Gue yakin lo pasti mikirin Deva ya?” goda Sinta.

“Idihhh… nggak lah Sin. Apaan sih lo” ucap Elvira yang mulai kesal.

Tanpa di sadari Elvira, Deva yang sedari tadi sudah berada tepat di belakangnya. Dengan tatapan sinisnya, Deva mulai menghampiri Elvira. Elvira hanya melihatnya dengan perlahan menelan ludah yang ada di tenggorokannya. Badan Elvira perlahan gemetar menatap mata Deva yang sangat tajam itu.

“Nanti pulang sekolah kita belajar dimana?” Tanya Deva, sontak membuat kaget Elvira.

“Di rumah lo aja. Tunggu ini benerankan lo mau belajar?” Tanya Elvira meyakinkan dirinya lagi.

“Hmmm…” jawab Deva sambil mengangguk dan pergi meninggalkan Elvira.

“Lah… gila ya tu orang, maen pergi aja. Jawab iya kek!” umpat Sinta.

“Udahlah ayok kita ke kantin aja” ajak Elvira.

Siang ini setelah pulang sekolah Elvira belajar di rumah Deva. Elvira menunggu angkot di halte depan sekolahnya sendiri. Hampir 15 menit menunggu tak satu pun angkot yang lewat di halte. Seorang laki – laki menghampirinya dengan motor scoppy warna merahnya.

“Cepetan naik!” ajak Deva. Elvira langsung menghampirinya dan segera memakai helm yang sudah di siapkan Deva.

Sampai di sana Elvira mulai mengajari Deva, tapi bukannya menyimak apa yang di jelaskan Elvira, Deva malah asik memelototi ponselnya. Tak kehilangan akal, berbagai cara di lakukan Elvira agar Deva mau belajar. 2 jam berlalu, saatnya Elvira pulang. Setelah berpamitan ke ibu Deva segeralah Elvira bergegas pulang.

“Ayok gue anterin!--” ajak Deva. “Udahh… ayok!” paksa Deva dengan menarik tangan Elvira menuju motor. Dalam hati Elvira merasa aneh saat tangannya di pegang oleh Deva.

“Thanks Dev, udah nganterin gue” ucap Elvira.

Semakin hari mereka semakin dekat, sudah sebulan ini mereka belajar bersama. Setiap jam istirahat mereka menyempatkan diri untuk ke perpustakaan. Semua orang yang melihat ini agak di buat heran. Deva membuat perubahan semakin baik dan lebih rajin, nilai – nilainya pun semakin membaik dari sebelumnya.

Siang ini hujan cukup lebat, Elvira memilih berhenti di halte. Hujan tak kunjung mereda, terpaksa Elvira menerjang hujan.

“Ngapain lo di sini?” Tanya Deva yang melihat Elvira akan menerjang hujan.

“Mau pulanglah” jawab Elvira.

“Ayok gue anter aja, dari pada masuk angin” ajak Deva.

“Okedeh” jawab Elvira.

“Jangan sakit, nih pake aja jaket gue” sambil memakaikan jaket ke Elvira. Elvira hanya terdiam dengan tindakan Deva. 

Di rumah Elvira senyum – senyum sendiri, hatinya merasakan ada yang beda tentang perlakuan Deva terhadapnya tadi sore. Tanpa di sadari ibunya yang sedari tadi melihatnya tersenyum sendiri. 

Tak terasa sebulan berlalu, setelah ujian yang mereka jalani. Hari ini adalah pengumuman kelulusan mereka. Semua orang berkerumun di mading sekolah, melihat hasil ujiannya selama ini.

"Lulus sekolah nanti lo mau masuk ke Universitas mana??" tanya Deva.

"Emm.. kemana ya. Mungkin gue ke Meikarta aja" jawab Elvira.

"Yahh.. berarti kita bakalan pisah dong." Ujar Deva.

"Ya gitu" jawab Elvira. Seketika Deva merasa agak kecewa dengan jawaban Elvira.

"From : "Elvira" <081234567890>

"Dev, besok gue udah bisa pindah ke Meikarta. Seneng banget deh rasanya ^_^ . Besok gue mau ketemu sama lo, di taman jam 8" isi pesan dari Elvira.

To : "Elvira" <081234567890>

"Iya" balas Deva.

Untuk kesekian kalinya Deva kehilangan orang yang di sayanginya, 3 tahun lalu ayahnya resmi bercerai dengan ibunya. Pikirannya jadi kacau dan sering membuat masalah di sekolah. Semata – mata ia lakukan hanya untuk mendapatkan perhatian dari orang lain di sekitarnya. Ibunya yang selalu sibuk bekerja, membuatnya lupa akan rasanya di perhatikan oleh orang tuanya. Tapi semenjak kehadiran Elvira, hidupnya lebih tertata dan berubah.

Duduk sendiri di bangku taman, seorang gadis dengan rambut di gerai mengenakan dress biru bermotif bunga.

"Lo udah lama di sini?" tanya Deva.

"Nggak baru 5 menit yang lalu. O iya nanti jam 10 gue berangkat ke Meikarta, jadi nggak bisa lama – lama di sini. Soalnya harus beres – beres juga" jawab Elvira.

"Lo di sana berapa lama?" tanya Deva.

"Nggak tau sih, Cuma gue bakal ke sini sebulan sekali, itupun kalo nggak sibuk juga. Buat nengokin nenek sama lo" jawab Elvira.

"Oh gitu ya" Deva menjawab dengan nada yang agak sedih.

"Kita ketemu lagi Oktober bulan depan ya. Di sini aja ketemuannya. Jangan lupa kabarin gue, ntar lo kangen" goda Elvira.

"Iyaa... iyaa... nanti sering – sering gue chat deh" dengan mengacak – acak rambut Elvira.

Di sepanjang perjalanan dia berkirim pesan singkat dengan Deva, setelah mulai lelah Elvira pun tertidur.

Karena banyak kegiatan yang harus di selesaikan Elvira, tak terasa setengah tahun berlangsung. Dia belum bisa mengunjungi Deva, mereka hanya bisa berkirim pesan lewat ponsel. Bulan depan Elvira berencana mengunjungi Deva, karena Elvira merasa berhutang janji untuk bertemu sebulan sekali. 

Hari ini mereka akan bertemu, Elvira berangkat menuju Jakarta untuk menemui Deva. Mereka akan bertemu di taman tempat terakhir mereka bertemu. Cuaca hari ini agak buruk, terpaksa pemberangkatan bis yang bertujuan Jakarta di tunda 2 jam lagi. Tapi karena hujan dari pagi, membuatnya cemas. Mungkin Elvira akan sedikit terlambat. Dia duduk di ruang tunggu menanti keberangkatan bis yang akan di naikinya. Seorang laki – laki paruh baya bertanya pada Elvira.

"Mbak, bisnya berangkat masih lama ya" tanya laki – laki itu.

"Eh iya pak telat 2 jam an" jawab Elvira. Setelah agak lama mengobrol laki – laki itu pergi meninggalkan Elvira. Ketika Elvira ingin mengirim pesan ke Deva, tanpa di sadari ponsel Elvira tidak ada di tempatnya. Seketika membuat Elvira kesal, mungkin laki – laki tadi bukan orang baik pikirnya.

Dia sampai di terminal, dan sekarang hujan semakin deras membuat seluruh tubuhnya basah terkena hujan. Semua orang berteduh di depan kios – kios yang sudah tutup dari tadi. Dia melihat seorang anak menawarkan payung, bergegaslah dia menuju si anak dan di belilah payung itu. Setengah jam ia menunggu hujan reda, sekarang sudah jam 16.30. Entah apa yang di lakukan Deva sekarang apakah dia masih menunggunya atau tidak yang jelas Elvira tetap akan berangkat menuju taman.

Saat sampai di taman dengan berjalan kaki, dia melihat seorang lelaki yang sedang kedinginan sendiri di sana. Elvira mendekatinya, sepertinya dia orang yang di cari Elvira.

"Deva" panggil Elvira. Terbangun dari tidurnya, dia beranjak dari tempat duduknya. "Siapa ya mbak?" tanya laki – laki itu.

"Eh maaf mas, saya salah orang" kata Elvira.

Datanglah dia ke rumah Deva, di sepanjang perjalanan ia kedinginan karena baju basah yang ia kenakan dari tadi.

Sesampainya di sana, dia melihat ibu Deva menangis dan dia juga melihat banyak orang tak terkecuali teman – temannya waktu SMA. Dia sedikit kaget, "sebenarnya ada apa ini" tanyanya dalam hati. Melangkahlah dia ke dalam rumah itu. Ia segera masuk dan bertanya pada orang – orang di sana. "Ini ada apa?" tanya Elvira ke Sinta. "Lo yang tabah ya, Deva udah nggak ada" jawab Sinta dengan mata berkaca – kaca. Seketika kalimat itu membuat hati Elvira sakit, detak jantungnya berdetak tak menentu. Air matanya mulai mengalir di pipinya. "Kamu yang sabar ya. Baru tadi sore gue dapet kabar kalo Deva kecelakaan. Sekarang jenazahnya masih di rumah sakit, nanti jam 8 nyampe sini" kata Sinta. Elvira tidak bisa berkata – kata lagi, hanya tangis yang tak bisa di bendungnya sekarang.

Setelah cukup lama menunggu, akhirnya jenazah Deva tiba di rumah duka. Elvira menatap sedih, melihat orang yang di sayanginya terbujur kaku dan tak bernyawa lagi. Kini dia hanya bisa menangisinya, ini adalah pertemuan yang sama sekali tak pernah terbayangkan oleh Elvira.

“Hargai waktumu dengannya selagi kamu masih bisa di sampingnya. Hidup kadang tak sejalan sesuai dengan harapan, tapi yakinlah rencana Tuhan pasti lebih indah”.

 

Halo teman – teman semua, perkenalkan saya Marista Putri Ayuningtyas. Saya berasal dari Kota Ngawi Jawa Timur. Umur 18 tahun, hobi saya menggambar, menulis, dan main gitar. Semoga teman – teman suka dengan karya saya. Jika ingin mengenal lebi lanjut bisa lewat instagram saya @mpayts atau facebook saya Marista Putri Ayuningtyas. Terimakasih :)

Enjoyed this article? Stay informed by joining our newsletter!

Comments
Indah - Mar 13, 2020, 4:23 AM - Add Reply

ceritanya keren. terus berkarya ya..

sudah q follow ya sayang.. :)
semangat ;)

You must be logged in to post a comment.
Arina - Apr 7, 2020, 8:26 PM - Add Reply

Bagus kak ceritanya. :)

You must be logged in to post a comment.

You must be logged in to post a comment.

Stori terkait
Jul 8, 2020, 1:15 PM - Annisa mahmudah
Jul 6, 2020, 10:20 PM - Chocho_Yucho
Jul 3, 2020, 6:34 PM - Tjahjono widarmanto
Jul 3, 2020, 6:26 PM - Nnaga
Jul 3, 2020, 1:07 PM - Kristina Dai Laba
Jul 2, 2020, 2:25 PM - Mei Elisabet Sibarani