Profil instastories

Penantian Abah dan Emak

Suasana dapur lengang hanya diiringi dengan desiran angin dan riuhan pohon yang manja. Sebelum berangkat kerja, kali ini Anton membantu emaknya memasak di dapur. Maklum Anton merupakan anak semata wayang sekaligus anak kesayangan emak dan abahnya.

“Mak, ini Anto bawa separuh ya buat makan siang di kantor. Karena masakan emak emang paling enak sedunia.” Anton tersenyum melirik emak, tanganya masih saja mengaduk-aduk sayur sop ayam yang sebentar lagi matang.

“Ah bisa aja kamu. Tapi kapan nih kira-kira emak bisa nyobain masakan menantu emak ya?” emak terkekeh lembut, Anton hanya diam sambil tersenyum.

“Tenang aja Mak, nanti juga datang,” sahutnya.

“Eh tapi emak serius loh, kamu harus buru-buru nikah ya Ton. Mengingat umur kamu yang udah mau kepala tiga. Emak harap kamu bisa nikah tahun ini.” Seketika suasana kembali lengang, senyum Anton mulai kembali datar. Setelah sayur sop matang, dia segera mempersiapkan segala kebutuhanya untuk berangkat kerja. Anton langsung izin pamit kepada emaknya yang masih berada dapur. Sedangkan abahnya tengah menyeruput kopi pagi.

Anton harus mulai kembali menuju riuhnya kota metropolitan untuk menuju perjalananya bekerja. Pagi selalu macet, tanpa jeda. Beruntungnya Anton hari ini selamat dalam keterlambatan.

 

*****

 

Saat tiba di kantor, dalam derap langkahnya Anton masih terbayang soal kata-kata emaknya harus menikah tahun ini. Dalam hal itu, Anton terkesima antara bingung dengan senang. Anton ingin mewujudkan harapan emaknya, untuk bisa menikah tahun ini.

Dalam lamunanya tentang menikah, Anton sudah bosan jika dengan jalan mencari pacar. Karena rasanya sudah bosan dengan ke playboyan semasa dulunya. Maka dengan itu Anton memutuskan untuk menjalani ta’aruf sebagai jalan menuju penjemputan cintanya.

****

Disela penjemputan cintanya, Anton berusaha terus merahasiakanya dari emak. Anton bertekad ingin memberi kejutan yang spesial terhadap emak dan abah. Permulaan untuk Taaruf yaitu lewat sang Ustadz biasa di tempat dia mengaji, bahkan hingga melalui bimbingan online Whatsapp dalam mempertemukan kedua insan. Satu, dua, tiga bahkan beberapa kali Anton sudah melewati masa-masa taaruf ini. Hasilnya masih belum bisa memuaskan hati, Anton yakin perpisahan dan penolakan itu bukanlah sebuah kegagalan menemukan pujaan hati. Namun Anton yakin ini hanya belum jodoh.

“Insyaallah saya siap untuk melanjutkan taaruf bersama antum. Silahkan boleh bertemu dengan kakak saya sebagai pihak ketiga antar pertemuan kita.”Badai atmosfer seakan menghujam hati Anton, dari sekian banyak sudah mencoba berkenalan dengan si calon. Inilah yang sampai tahap menemui pihak ketiganya. Anton yang saat itu tengah berada di kantor, seketika teriak Alhamdulillah sekencang-kencangnya. Lantas teman-teman yang sedang berada di ruangan itu melirik Anton dengan aneh.

“Heh Ton, lu kenapa? Naik gaji atau naik pangkat? Kok bisa sampe puji syukur kenceng sekenceng itu," ujar Anas memandangi Anton. Anton hanya terkekeh.

“Enggak. Ini cuman balesan kalo emak dirumah masak cumi bakar.”

Seketika ruang kerja pecah dengan tawa karyawan yang lain. Anton tersipu malu

*******

Pagi disertai gemercik hujan, Anton termanggu di meja depan rumahnya. Memandangi ayunan di sebelah kiri rumahnya, berandai-andai bisa duduk bersama bidadari pilihanya nanti. Abah menghampiri Anton sambil membawa kopi panas.

“Anton, lagi ngapain masih pagi tumben udah duduk disini?” sapa Abah, sambil menempatkan pantatnya ke kursi kayu itu.

“Anton lagi seneng Bah. Doain ya sebentar lagi.” Belum saja selesai berbicara. Sudah ada motor Honda Beat termanggu di depan rumah Anton.

“Dengan Bapak Anton? Ini paketnya.”

“Terimakasih, sudah dibayar ya.” Anton langsung merebut halus paket itu dari tangan kurir. Anton tersenyum malu lagi. Abahnya melihat Anton aneh.

“Paket apa itu nak?” tanya Abah penasaran.

“Bukan apa-apa Bah. Anton ke kamar dulu ya.”

Perlahan Anton membuka paket yang berisi Al-Qur’an dan mukena. Ini Anton gunakan untuk seserahan nanti. Dia segera merapikanya. Teringat masih harus menyiapkan kata-kata untuk esok bertemu dengan kakak sang calon.

******

Anton berlenggak lenggok di depan cermin, menyisir rambut lalu memakaikan minyak rambut bermerek gatsby. Kemeja yang saat ini ia kenakan berwarna biru muda.

“Sudah ganteng dan gagah,” ucap Anton memuji diri sendiri, terlihat senyumnya merekah lebar. Tiba-tiba handphone Anton bergetar, ia langsung mengambil dari kantongnya. Ternyata tertera pesan Whatsapp dari sang calon yang hendak ditemui hari ini.

“Mohon maaf ya, saya belum bisa melanjutkan taaruf bersama antum. Selesai istikharah semalam, saya berubah pikiran. Mohon maaf.” Seketika Anton langsung lunglai dan duduk di tempat tidur. Batinya menangis, namun air mata berusaha tidak ikut turun. Anton harus kuat.

*******

Suasana pasar Tanah Abang macet padat. Hampir tak ada jarak spasi antar yang satu dengan yang lainnya. Hari ini, Anton mengantar Abah berbelanja untuk kebutuhan dagang ketoprak dirumahnya. Panas terik membuat mereka istirahat sejenak di warung es.

“Anton, ada yang mau abah omongin serius. Terkait masa depan kamu.” Abah menatap Anton yang sedang sibuk memesan dua es teh manis, langsung mencoba fokus pada Abahnya.

“Emak udah ngejodohin kamu sama si Fida, anak bu Masnah. Pasti kamu tau kan Ton?” Seketika Anton mengingat-ngingat Fida, ia adalah gadis lulusan pesantren Darul Qur'an, Fida juga anak yang cerdas bahkan dengar-dengar tak lama ini baru menyelesaikan wisuda hafalanya 30 Juz.

“Ta… tau bah. Terus gimana? Anton minder bah, dia terlalu tinggi dalam segala hal.” Anton menunduk, agak pesimis.

“Nggak Ton. Dia cocok buat kamu kok.”

Entah suasana pasar yang semula panas menyengat, seketika menjadi dingin seperti ada angin yang menyelinap di tiap-tiap nadi.

*******

Dengan mengucap Alhamdulillah, pagi itu riuhan puji syukur terdengar hingga langit. Anton dengan berani dan gagah melamar Fida dan meminta izin untuk menikahinya kepada kedua orang tua Fida.

“Sebaiknya, pernikahan kalian disegerakan ya. Mumpung abah dan emak masih ada.” Abah membuka omongan terlebih dahulu saat suasana hening, Anton melihat gelagat abahnya terasa aneh.

“Abah jangan ngomong seperti itu ya. Insyallah pernikahan kita disegerakan.”

******

Dua minggu berlalu dari proses lamaran, tiba saatnya lima hari menjelang pernikahan, Anton sudah merasa tidak sabaran. Persiapan segalanya sudah siap. Tinggal menunggu tenda terpasang saja.

“Ehem, masyallah anak emak sebentar lagi udah mau ganti status ya.” Emak dan Abah memecahkan lamunanku pagi itu.

“Ton, abah sama emak pamit dulu ya buat belanja ke pasar.”

“Lah kok? Bukanya Bi Sumi yang mau belanja?”

“Biar emak sama Abah aja,” sahutnya. Terlihat seberkas senyum kebahagiaan dari emak dan abah. Anton merasa bersyukur sekali. Pelan-pelan setelah pamit, bayangan abah dan emak mulai hilang menjauh, mereka pergi dengan menggunakan mobil Toyota Kijang.

Jam detik di dinding mulai bergeser, hingga tiba saatnya waktu menunjukkan pukul 15.00 WIB, emak dan abah tak kunjung pulang dari pagi tadi. Perasaan Anton mulai tidak enak, tapi dirinya terus beristighfar.

Beberapa detik kemudian, terdengar riuhan suara, dan nyatanya suara itu semakin mendekat. Teriakan warga, itu mendekati rumah Anton. Pak RT segera menggandengku, raut wajahnya seakan kaget

“Ton, emak dan abah kecelakaan. Mobilnya ringsek. Mereka langsung dibawa ke Rumah Sakit selaras.”

“Bawa aku kesana pak.” Siang itu, ceceran darah dan air mata menggenang menyatu. Anton terus beristighfar, tubuhnya lemas, tapi berusaha kuat.

Anton memasuki ruangan ICU, terlihat abah dan amak dibalut dengan kasa yang cukup banyak mereka saat ini kritis. Abah divonis retak tulang belakang, dan emak divonis retak tulang dada. Tak bisa menahan tangis, Anton terduduk lunglai di hadapan mereka. Mengingat pernikahan 4 hari mendatang, lalu di hari kebahagiaan ini masih saja kesedihan menggenang.

Beberapa menit kemudian abah dan emak sadar, Anton langsung bergegas menciumi serta memeluk mereka.

“Anton, lanjutkan pernikahanmu. Abah pengen liat kamu nikah ton.”

“Enggak Bah, Anton bakal nunggu abah sama emak sembuh.”

“Enggak, harus lanjut dan disegerakan Ton. Emak udah gak kuat,”

“Emak jangan ngomong kayak gitu.”

Siang itu saat kondisi emak dan abah sedang berada di ujung tanduk, Anton mengikuti perintah orang tuanya untuk nikah hari ini juga. Semuanya telah siap berdatangan termasuk penghulu. Kala itu, rumah sakit berubah menjadi haru biru. Emak dan abah menyaksikan Anton ijab qobul. Dengan lancar seketika riuhan SAH pun terdengar. Abah dan emak tersenyum. Anton bersalaman serta terus memeluk emak dan abah bergantian, begitupun dengan Fida sang menantu idaman.

“Fida, emak titip Anton ya,” ujar emak sambil memegang tangan Anton dan Fida, lalu disatukan agar bergandengan tangan.

“Mak, jangan bilang begitu. Ayo Fida masakin masakan kesukaan emak dan abah.”

Beberapa detik kemudian, napas abah dan emak terdenggal-senggal. Riuhan permintaan tolong sangat ramai di ruangan itu. Ternyata emak dan abah tengah mengalami sakaratul maut. Anton sibuk berada di telinga abah dan Fida di telinga emak. Mereka membacakan dua kalimat syahadat. Sampai saatnya mereka benar-benar pergi menghadap ilahi.

Enjoyed this article? Stay informed by joining our newsletter!

Comments

You must be logged in to post a comment.

Stori terkait
Jul 8, 2020, 1:15 PM - Annisa mahmudah
Jul 6, 2020, 10:20 PM - Chocho_Yucho
Jul 3, 2020, 6:34 PM - Tjahjono widarmanto
Jul 3, 2020, 6:26 PM - Nnaga
Jul 3, 2020, 1:07 PM - Kristina Dai Laba
Jul 2, 2020, 2:25 PM - Mei Elisabet Sibarani