Profil instastories

Pangeran Tanpa Wajah

Cinta merupakan fitrah manusia yang diberikan oleh Allah SWT kepada Hamba-Nya. Bayangkan jika tidak ada cinta mungkin manusia akan saling berperang, jika tidak cinta mungkin kita takkan pernah ada di dunia. Semua orang pasti pernah merasakan yang namanya cinta, mau itu laki – laki ataupun perempuan. Itu merupakan hal yang wajar, karena itu memang sudah kodrat manusia. Namun terkadang banyak dari mereka yang salah mengartikan makna cinta.Kebanyakan dari mereka memahami kata cinta hanya sebatas jika ada dua insan saling mencintai yang harus bersama serta membina rumah tangga yang bahagia. Atau ada juga yang menganggap cinta itu hanyalah sesuatu yang melelahkan, karena pengalaman dirinya yang selalu merasakan tersakiti oleh cinta. Namun sebenarnya, makna cinta lebih  luas dari itu. Menurutku, cinta memang fitrah manusia, namun aku dapat memutuskan siapakah yang akan aku cintai nantinya. Mengapa aku mengatakan demikian? Karena aku merasakan sendiri bahwa saat aku mencintai seseorang, itu adalah sebuah keputusan yang yang aku pilih  sendiri walau hal itu akan menyakiti hatiku pada akhirnya.

Jujur, aku sudah menyukai seseorang sejak awal aku masuk SMA, sebut saja Rafael namanya. Uniknya, saat itu aku tidak tahu wujud Rafael seperti apa karena memang aku tidak pernah bertemu dengannya. Karena memang aku sejak SMP menuntut ilmu di sekolah berasrama sehingga aku tidak berkomunikasi dengan lawan jenis kecuali dengan guru yang mengajar di sekolah. Lalu mengapa aku bisa menyukai Rafael? Pasti pertanyaan itu muncul di benak kamu. Saat aku SMA, aku sekamar dengan adik kelasku yang bernama Yasmin, ia baru duduk di kelas 1 SMP, ia adalah adik kandung Rafael lelaki yang aku sukai. Awalnya memang aku tidak pernah bertemu dengan Rafael, jangankan bertemu, Yasmin mempunyai seorang kakak saja aku tidak tahu. Pertama kali aku mengetahui
Yasmin mempunyai kakak itu saat ibunya bercerita tentang Rafael kepadaku. Saat itu aku terkejut mendengarnya, terlebih lagi tak lama setelah itu timbul gosip miring tentangku yang mendekati Yasmin karena ingin mendekati Rafael.

Pada awalnya, aku merasa tertekan dan tidak adil diperlakukan seperti itu, karena pada kenyataannya aku dekat dengan Yasmin memang karena kita satu kamar dan sejak ada yang terus mengirimkan surat peringatan kepada Yasmin. Menurutku, itu lebih bisa disebut surat ancaman sih, karena di dalamnya banyak unsur ancaman. Dalam surat itu, si penulis memperingatkan Yasmin agar tidak dekat – dekat dengan Shofi yang tak lain adalah kakak kandungnya. Saat aku menanyakan kepada Yasmin maksud dari surat ini, akhirnya Yasmin menceritakan kepadaku yang terjadi sebenarnya. Ia menceritakan bahwa Rafael menitipkan dirinya kepada Shofi karena memang hanya Shofilah yang Rafael kenal di sekolah berasrama tersebut. Sebenarnya, Yasmin tidak mempersalahkan hal itu karena Shofi sendiri sangat baik padanya. Namun sayangnya, Nisa adik kandung Shofi merasa cemburu dengan perhatian yang diberikan Shofi terhadap Yasmin. Hal itu terlihat jelas dari kata – kata dalam surat yang dikirimkannya ada kata – kata gue tahu kakak gue suka sama kakak lu, tapi bisa gak lu gak usah deket – deket kakak gue? Adik kandungnya itu GUE, bukan elu. Dan jangan harap gue bakal setuju kalau kakak gue sama kakak lu.
    Berdasarkan isi surat itulah Yasmin mulai berfikir apakah Shofi baik kepadanya hanya karena ingin mengambil hati kakaknya. Maka Yasmin sudah tidak terlalu dekat dengan Shofi karena disisi lain juga Nisa selalu mengirimkan surat ancaman terus menerus kepada Yasmin. Sebenarnya, aku heran juga dengan sifat Nisa seperti itu. Maksudnya, menurutku dia mempunyai khawatir yang berlebih terhadap kakaknya yang lebih sayang orang lain daripada dirinya. Padahal, kasih sayang seorang kakak itu tak usah diragukan lagi menurutku, secuek – cueknya kakak tapi jika ada yang berbuat tidak baik kepada adiknya pasti kakak akan membela dan menolongnya, karena itulah yang namanya cinta keluarga. Bisa jadi, mungkin Shofi adalah tipikal orang yang rasa sayangnya tidak mau di publish. Dan satu  lagi yang aku sayangkan adalah mengapa Nisa tidak membicarakannya baik – baik kepada Shofi, aku yakin Shofi juga akan menerima masukannya dengan tangan terbuka. Bukannya melampiaskan kekesalannya kepada orang yang tidak tahu apa – apa, menurutku itu kekanak – kanakan banget sih. Mungkin aku terlihat seperti terlalu ikut campur dengan urusan mereka, namun aku tidak peduli. Yang aku sesalkan adalah mengapa aku bisa terjebak antara masalah pribadi dan cinta
monyet yang gak jelas itu.

Dulu, sebelumku mempunyai rasa kepada Rafael, aku terus mendapat hujatan karena menjadi pelakor antara Rafael dan Shofi. Btw, dulu itu belum ada istilah pelakor, tapi masih memakai istilah PHO (perusak hubungan
orang). Tapi aku tidak memungkiri banyak juga dari mereka yang mendukungku dengan Rafael. Sementara itu, aku sangat muak dengan itu semua. Bukannya apa – apa, awalnya aku berfikir tidak usah menanggapi gosip murahan seperti itu, namun lama – lama aku mulai terusik juga. Aku mulai merasakan sikap Shofi yang mulai berbeda kepadaku, memang aku tidak terlalu dekat dengannya. Namun aku dapat merasakan perubahan sifat Shofi yang lambat laun semakin berbeda kepadaku. Terlebih lagi, sat ia mulai tidak ingin menatap mataku saat kita bertemu. Itu menimbulkan berbagai pertanyaan dalam hatiku, benarkah ia mulai membenciku hanya karena Rafael? Benarkah ia menganggapku sebagai orang ketiga? Sampai kapankah kita akan seperti ini padahal kita saudara seiman? beberapa kalimat itu terus berputar – putar dalam benakku. Sampai pernah saat diriku sedang kalah melawan emosiku sendiri aku sempat berkata kepada Yasmin.

“Perasaan aku gak ngelakukan apa – apa tapi kenapa seakan aku yang terlihat jahat? Seakan Shofilah korban
disini. Ya Allah Min, kamu jaga jarak sama aku aja deh, aku cape. Kalau emang Shofi suka Rafael ya ambil aja, toh itu juga kalau Rafaelnya mau sama dia”

“Kakak ngomong apa sih, aku gak suka dengernya. Udahlah kak biarin aja, yang penting aku tahu faktanya gimana.
Dan emangnya kakak kira kakakku barang apa? main ambil – ambil sembarangan. Aku
gak mau punya saudara yang suka ngancem, pokoknya.”Sanggah Yasmin.

“Itu sih DL (Derita Lu)”Jawabku.

“Ih, jahat!”Kata Yasmin kesal.

“Emang.”Jawabku lagi.

Sedikit info tentang Shofi, ia adalah adik kelas Rafael saat di sekolah dasar, dan menurut teman – teman terdekatnya, sepertinya Shofi itu terlihat menyukai Rafael. Satu pertanyaan yang ingin aku tanyakan adalah Shofi yang sudah jelas – jelas terlihat menyukai Rafael, tapi kenapa malah aku yang di tuding oleh satu sekolah bahwa aku dekat dengan Yasmin hanya ingin mendekati Rafael. Ya walaupun sekarang aku tidak memungkiri aku mempunyai rasa terhadap Rafael, namun tetap saja saat itu kejadiannya aku belum mengetahui Rafael tiba – tiba dapat gosip seperti itu. Menurut kamu bagaimana rasanya? Tidak enak kan? Bayangkan saja aku yang tidak tahu  apa – apa melihat Yasmin menangis dan merasa tertekan karena surat – surat yang dikirimkan kepadanya, apa yang bisa aku lakukan? Pastilah menghiburnya dan menemaninya sampai ia merasa tenang. Lalu mengapa orang – orang justru berprasangka buruk kepadaku? Ya sudahlah, nasi sudah menjadi bubur aku bisa apa. Tugas aku sekarang hanyalah mencari bumbu dan pelengkap bubur itu agar menjadi bubur ayam yang enak untuk
dimakan.

Namun, seiring berjalannya waktu, aku mulai tertarik kepada Rafael yang hanya mendengar cerita dari ibunya dan ada sedikit dari Yasmin, adiknya. Dari ibunya aku tahu Rafael adalah tipikal orang yang sangat penurut kepada ibunya, berbeda dengan Yasmin yang kata ibunya tipikal anak yang kurang mendengarkan nasihat dari orang lain. Ibunya juga menceritakan saat Rafael juga pernah bersekolah diasrama yang masih satu yayasan dengan sekolahku, namun ia hanya setahun lalu pindah ke sekolah swasta lainnya karena menjadi korban pemukulan. Dan saat SMA, Rafael diterima di salah satu SMA favorite di kotaku, namun disisi lain, ia juga keterima di MAN. Tapi Rafael memilih di MAN karena katanya pelajaran agamanya lebih banyak daripada SMA. Ibunya selalu
mendukung apapun pilihan yang dipilih oleh Rafael, dan ibunya berkata ia sangat bersyukur mempunyai anak laki – laki seperti Rafael yang penurut. Dari sanalah aku mulai memutuskan untuk menyukai Rafael orang yang tidak pernah aku temui sebelumnya.

Mungkin kamu berfikir aku adalah orang yang aneh menyukai
orang yang tidak pernah aku temui sebelumnya, tapi mau bagaimana lagi? hatiku
sudah memilih, aku bisa apa? Karena aku suka kepadanya bukan karena
perawakannya, namun karena sifat baik yang dimilikinya. Ya walaupun Yasmin kadang
menceritakan kekesalannya kepada Rafael karena tidak perduli kepadanya, namun
menurutku itu bukannya tidak kepedulian, melainkan hanya ingin menjahilinya
saja. Yasmin bercerita bahwa saat ia hendak pergi diantar oleh kakaknya, Rafael
memintanya untuk ia tidak berpegangan kepadanya, namun Rafael menjalankan
motornya sangat kencang.

“Ya kan aku jadinya sebel kan kak, bilang sama aku jangan pegangan, tapi bawa motor ngebut banget. Gila emang
tuh orang! Kalau nanti aku jatuh gimana?”keluh Yasmin saat itu.

“Ya tinggal jatoh kebawah susah amat, gak mungkin keatas kan? Kalau kamu jatohnya ke atas itu baru repot
nantinya.”Jawabku asal.

“Ih, sama aja kaya aa!”Ucapnya sebal.

“Jangan samain aku sama kakak kamu.”Kataku datar.

Yasmin juga menceritakan kejahilan kakaknya seperti saat orang tua mereka sedang tidak ada di rumah dan mereka baru pulang sekolah. Pagar rumah mereka terkunci, dan Rafael tanpa berbicara sepatah katapun
langsung memanjat pagar dengan mudah, 3 detik kemudian Rafael sudah berada di halaman rumahnya meninggalkan Yasmin yang masih bengong diluar pagarpun meminta bantuan kepada Rafael.

“Aa tolong mamin sih, mamin kan pake rok.”Ucap Yasmin saat
itu.

“Tinggal manjat, susah amat!”Ucap Rafael.

“Tega banget sih.”Gerutu Yasmin.

Akhirnya Yasmin memanjat pagar tersebut, karena ia memakai rok sehingga ia merasa kesulitan. Dan saat ia melompat kebawah, ternyata rok yang dipakainya tersangkut yang akhirnya membuat Yasmin jatuh kebawah. Melihat adiknya jatuh, Rafael malah tertawa sangat keras tanpa membantu Yasmin. Walaupun kejahilan kakaknya tingkat dewa, Yasmin terkadang merasa sangat bersalah kepada Rafael karena tak jarang Yasmin yang membuat kesalahan Rafael yang terkena marah oleh ayahnya. Kata Yasmin, Rafael pernah disiram kopi yang masih panas oleh ayahnya tepat diwajahnya karena dianggap tidak dapat menjaga adiknya. Aku yang mendengar cerita itu terkejut, jika aku berada diposisi Rafael saat itupun hatiku sangat terpukul, namun Rafael hanya
diam saja karena rasa hormat dia kepada ayahnya.

Yasmin juga menceritakan bagaimana kesalnya dia saat banyak teman perempuan Rafael yang mendekatinya dan bersikap baik kepadanya hanya untuk mencuri hati kakaknya. Maka yang awalnya Yasmin tipikal orang yang
sangat welcome dengan sekitar menjadi cuek dengan lingkungannya. Aku sengaja melontarkan pertanyaan dari hatiku yang paling dalam kepada Yasmin.

“Kalau emang nyatanya aku suka sama kakak kamu gimana Min? Kalau gosip itu bener aku deketin kamu cuma buat deketin kakak kamu, kamu juga akan benci sama aku?” Tanyaku penasaran.

Yasmin terlihat berfikir sejenak, “Enggak juga sih, karena aku tahu banget kakak itu kenal aku lebih dulu daripada aa.” Jawabnya yakin.

“Kalau nyatanya aku cuma pura – pura gak kenal kakak kamu gimana? Dan aku suka kakak kamu gimana?”Tanyaku lagi.

“Setidaknya kakak tidak punya adik yang cemburuan kaya Kak Shofi.”Jawabnya cepat.

Waktu berlalu begitu cepat, semakin hari aku dan Yasmin pun semakin dekat, bahkan banyak yang bilang aku dan dia layaknya kakak adik. Aku tidak mempermasalahkan itu sebenarnya, karena memang aku tulus peduli dan sayang kepada Yasmin sebagai seorang kakak. Masalah perasaanku kepada Rafael itu lain cerita. Aku juga sangat nyaman dengan keluarga Yasmin yang sangat baik kepadaku, terlebih ibunya dan ayahnya. Aku masih ingat sekali saat aku diajak CFD (Car Free Day) bersama, aku merasa bahwa aku juga bagian dari keluarga itu. Yang mana saat itu aku berjalan dengan ibunya, dan Yasmin berjalan dengan ayahnya. Sedangkan waktu itu Rafael tidak ikut karena ada urusan yang tak dapat ditinggalkan. Ayahnya juga adalah tipikal orang yang penyayang dan peduli
dengan orang, padahal awalnya aku menyangka ayahnya adalah sosok yang cuek dengan sekitar, namun ternyata ayahnya adalah orang yang lucu dan baik. Dari sini aku mengambil pelajaran bahwa tidak baik melihat seseorang hanya dari covernya saja.

Enjoyed this article? Stay informed by joining our newsletter!

Comments

You must be logged in to post a comment.

Stori terkait
Jul 8, 2020, 1:15 PM - Annisa mahmudah
Jul 6, 2020, 10:20 PM - Chocho_Yucho
Jul 3, 2020, 6:34 PM - Tjahjono widarmanto
Jul 3, 2020, 6:26 PM - Nnaga
Jul 3, 2020, 1:07 PM - Kristina Dai Laba
Jul 2, 2020, 2:25 PM - Mei Elisabet Sibarani