Profil instastories

Pamit

Namaku Jeni, Jenia Putri Amanda. Salah satu siswa ter-cerewet yang ada di sekolahku. Aku lahir pada tanggal 9 desember 2002, di klinik Ananda, Jl. Merpati no.12, pada pukul 22.00 Waktu Indonesia bagian barat dan dari rahim seorang ibu bernama Susanti. Kata sebagian orang, lahir pada waktu malam hari itu pasti anaknya akan menjadi anak yang pemberani. Namun bagiku, itu salah. Buktinya ini, aku sendiri. Bisa dibilang kadar penakut dalam diriku ini sudah mencapai 80% dan 20% nya adalah sok-sokan berani.

Sekarang, aku sedang melatih tanganku untuk mengukir kata-kata indah untuk kakak kelas yang dahulu pernah mengisi hatiku dikala SMA. Namanya Andre, sosok kakak kelas yang ganteng, humoris, dan yang lebih adalah dia adalah pemain basket terkenal di sekolahku, badannya tinggi dan wangi. Hehehe..

Sayangnya, dulu dia pindah ke sekolah yang jauh dari sekolahku. Dia pindah karena ikut ibu dan bibinya. Ayahnya, sudah meninggal saat ia berhasil memenangkan pertandingan basket antar kota waktu itu. Penyesalan selalu ada didalam hatinya. Karena, di detik-detik terakahir nafas ayahnya, ia tak bisa mendampinginya.

Kak Andre, sudah ku kenal sejak aku masuk ke sekolah itu. Awal kenal ku dengannya, bagiku adalah suatu hal yang konyol. Kami bertemu di ruang BP, saat itu aku dan dia sama-sama dipanggil karena makan saat jam pelajaran. Padahal, saat itu aku benar-benar tidak dapat menahan gemuruh cacing-cacing di perutku yang hampir mati karena sudah 3 jam tak ku beri makan. Jadi, aku kasihan. Karena itu, aku terpaksa makan demi kelangsungan hidup cacing-cacingku.

Berbeda dengan alasan kak Andre. Dia beralasan kalau dia hanya makan permen karet dan lupa membuangnya. Jadi dengan terpaksa juga dia harus tetap mengunyahnya daripada menyelipkannya didalam laci meja. Waktu itu kami sama-sama dimaafkan dan diperbolehkan masuk kelas kembali dengan perjanjian tidak akan makan di kelas lagi. Betapa senangnya hatiku karena ayah dan bunda tidak dipanggil ke sekolah oleh ulahku. Berbanding terbalik dengan kak Andre. Keluar dari ruang BP, wajahnya hening bak air laut yang sedang tenang. Terpancar raut kesal, marah dan malu dari wajahnya. Ya, memang aku dan dia sangat berbeda. Dari segi apapun itu.

Karena kejadian itu. Aku sering mencari tahu tentang kak Andre dan dari sinilah ceritaku dimulai.

 

 

Enjoyed this article? Stay informed by joining our newsletter!

Comments

You must be logged in to post a comment.

Stori terkait
Jul 8, 2020, 1:15 PM - Annisa mahmudah
Jul 6, 2020, 10:20 PM - Chocho_Yucho
Jul 3, 2020, 6:34 PM - Tjahjono widarmanto
Jul 3, 2020, 6:26 PM - Nnaga
Jul 3, 2020, 1:07 PM - Kristina Dai Laba
Jul 2, 2020, 2:25 PM - Mei Elisabet Sibarani