Profil instastories

P E R A K (Seandainya) pt. 3

P E R A K

•••

_Saka

Gue kalap. Rasanya gue berdosa tapi enggan minta maaf. Rasanya juga gue sudah melakukan apa yang pengen gue lakukan juga seharusnya gue lega akan hal itu. Tapi mendadak gue jadi bingung dan merasa bersalah. Mendadak gue merasa dia bukan satu satunya pihak yang bisa disalahkan.

Hari ini mendung dan tiba tiba hujan. Gue masih didalam mobil. Menatap bagaimana riuh kota dari dalam sini. Sembari bertanya pada semesta tentang apa yang sedang mereka rencanakan.

Kemudian mata gue fokus ke tetesan air di kaca depan mobil yang menghamburkan pandangan diluar sana. Tetesan itu membentuk garis kemudian semakin lama semakin banyak. Tidak beraturan. Namun pasti berakhir ditempat yang sama.

Garis garis air itu terlihat begitu apik bagi gue. Seperti tangis. Menetes perlahan kemudian jatuh menghilang. Seperti itu terus dan terus.

Gue kurang tau apa hubungannya tetes hujan di depan kaca mobil gue dengan keadaan sekarang. Namun yang pasti, garis air menyerupai tangis itu sudah mewakili kesedihan gue. Setidaknya dia mewakili mata gue yang udah perih menahan tangis.

Ponsel gue berdering. Gila. Keras banget. Atau karena gue tadi ngelamun jadi suara kecil aja bisa bikin gue jantungan.

Dirga telfon.

"Kenapa?"

"Bang Saka dimana?"

"Dijalan. Di rumah ada masalah?"

"Enggak. Cuma atmosfirnya jelek aja. Bang Jae nggak keluar kamar."

"Udah makan?"

"Udah, tapi kalo bang Saka mau bawa makanan gue nggak akan nolak."

Semenit kemudian telfon terputus. Mendengar suara Dirga membuat gue emang harus pulang sekarang. Setidaknya jangan menimbupkan keributan antara Dirga dan Winasis yang tidak tau apapun.

Hari ini Jae pasti murung banget. Jadi gue mutusin buat mampir ke warung seblak. Karena cuacanya cocok juga buat makan yang panas panas.

Gue pesen seblak empat porsi. Tentu dengan level yang berbeda. Saat gue menyebutkan pesanan pada abangnya, gue jadi kepikiran dan itu sedikit canggung.

Gue belum pernah pesen seblak cuma empat. Pasti lima atau bahkan lebih. Seblak adalah makanan simbolis bagi Enamhari. Anak anak dan tentu saja Brian.

Ah, gue jadi inget bajingan yang satu itu.

***

"Bang Jae lagi galau dikamar atas. Kayaknya, sih, jangan diganggu dulu."

Dirga menyapa gue lebih dulu. Kemudian mengambil bungkusan seblak dan berlari menuju dapur. Anak itu berteriak keras memanggil Winasis yang pasti sedang molor dikamarnya.

Tidak. Winasis keluar dari kamar mandi. Dengan rambut tertutup handuk dan wajah yang lebih segar.

Gue jadi tersenyum getir melihat bagaimana Dirga dan Winasis kini tersenyum sumringah memakan seblak masing masing. Senyum mereka terlalu berharga untuk menghilang jika tau masalah apa yang sedang gue dan Brian alami.

Gue membanting tubuh ke sofa ruang tamu. Kemudian menatap langit langit yang kini menampilkan adegan demi adegan dalam perjalalan kehidupan gue.

Hari itu hari pertama gue ketemu Brian dan Jae. Keduanya sedang adu mulut tentang sesuatu yang nggak gue ngerti pentingnya dimana. Sereal dulu atau susu dulu. Mereka adu mulut sampai halte bus yang bikin gue ketawa sendiri dengernya.

Kemudian peetemuan pertemuan tidak sengaja selanjutnya yang bikin gue yakin kalo mereka ditakdirkan berteman dengan gue. Seperti mereka yang tanpa sengaja lari larian dikejar anjing dan gue juga malah ikutan lari.

Waktu itu ditaman kota. Entah manusia seperti apa yang meninggalkan anjing tanpa pengikat.

"Anjing, woy. Lari!!!" suara Brian waktu itu mengarah ke gue dan jelas matanya melotot mengisyaratkan untuk segera berlari.

Jae lari sambil sesekali membenahi kaca matanya tanpa menengok ke belakang sama sekali. Brian menoleh ke gue lebih sering karena mungkin dipikiran dia, karena badan gue yang gede isi lemak waktu itu dia takut gue ketinggalan atau malah udah disantap sama anjing.

Kita berhenti didepan sebuah rumah. Rumah kecil berlantai dua yang katanya kontrakan mereka.

"Jadi gini ya rasanya dikejar anjing." gue ngos ngosan sambil ngelap peluh.

"Lo... " Brian ingin berucap tapi nafasnya belum teratur. "baru pertama kali dikejar anjing?"

Gue noleh ke dia.

"Sumpah, lo?" Jae merespon juga. Mata sipitnya betul betul terlihat saat dia melepas kaca mata. Bikin gue berasumsi itu bakal cuma terlihat seperti titik alih alih mata.

Mereka kemudian mengajak gue masuk kontrakan mereka. Yang luar biasanya kini sudah resmi menjadi rumah kita. Iya, kita. Gue, Jae, Brian ditambah dua makhuk lain yaitu Dirga dan Winasis. Kita memutuskan untuk membelinya.

Gue jadi mulai membayangkan bagaimana hidup gue waktu itu. Ketika gue melewati adegan dikejar anjing dan pertemuan gue bareng mereka. Bagaimana jika waktu itu gue memilih pulang dari taman kota dan tidak berniat untuk mengenal mereka. Atau bagaimana jika gue tidak mengenal mereka sama sekali.

Tapi apa semua bakal lebih baik jika gue tidak mengenal mereka?

Atau justru gue jadi semakin buruk tanpa mereka.

•••

Selamat datang....

Mari bersama untuk waktu yang lama....

Salam..

 

Enjoyed this article? Stay informed by joining our newsletter!

Comments

You must be logged in to post a comment.