Profil instastories

P E R A K (Pertanyaan tanpa jawaban) pt. 2

 


P E R A K

•••

_Jae

Mendung tiba tiba merambat padahal matahari masih betah bersinar diatas sana.

Atau mendung memang sengaja memberi suasana pas bagi gue yang sedang dalam mode memprihatinkan.

Jasmin tiba tiba mutus kontak dengan gue yang tanpa gue tau alasan dengan jelas. Kerjaan yang pasti bakal makan banyak waktu dan tenaga karena gue yang cuti karena sakit seminggu terakhir. Kemudian Brian yang tanpa alasan jelas mutusin buat hengkang dari grup.

Gue kenal Brian udah lama. Karena dia itu temen satu angkatan gue masa SMA terus lanjut ke perkuliahan yang walaupun beda jurusan tapi masih satu kosan. Gue juga kenal Brian lebih dalam daripada pacar Brian yang ninggalin dia nggak jelas kemana. Atau Saka yang nggak gue tau punya hubungan sedekat apa dengan Brian. Yang pasti gue kenal dia lebih dari orang lain.

Tapi semua berubah sejak gue keluar rumah sakit dua hari lalu. Gue yang kenal Brian lebih dari orang lain mendadak dia menjadi orang lain bagi gue. Ya, Brian berubah dan gue nggak tau alasannya.

Ketika mendung berjalan mulai menutup langit gue dikejutkan dengan kehadiran Dirga yang tiba tiba menyodorkan sebungkus rokok ke gue. Rasanya seperti deja vu.

"Mikirin bang Brian pasti."

Dirga itu anaknya selalu jujur. Saking jujurnya kadang gue begitu hati hati kalo deketan sama dia. Takut kalo dia membocorkan banyak aib yang seharusnya tersimpan rapat.

"Tadi bang Brian telfon katanya nggak bisa pulang mungkin sampai seminggu kedepan."

Dirga menyalakan rokoknya yang bikin gue bingung kok anak itu berani banget sekarang.

"Saka dimana?"

"Bang Saka keluar. Urusan kerjaan."

Gue menaruh bungkus rokok. Sedang tidak mau menyakiti diri sendiri untuk saat ini. Atau mungkin gue emang udah benci rokok sejak adik gue meninggal karena kangker paru paru dua tahun lalu karena gue dan bokap yang sering ngobrol sambil ngerokok.

"Bang?"

Gue diem. Punya firasat kalo Dirga bakal tanya soal Brian. Anak ini tidak tau masalahnya. Cuma gue sama Saka doang yang mati matian nyembunyiin ini supaya urusan tidak melebar.

"Apa? Jangan manggil kayak gitu, gue geli."

"Bang Brian sama Bang Saka ada masalah?"

Gue langsung diem. Bingung mau jawab atau mau tanya. Karena gue sendiri juga kurang yakin apa gue benar benar tau jika keduanya bertengkar.

"Katanya mereka berantem kemaren. Mungkin itu yang bikin bang Brian nggak bakal pulang seminggu terakhir."

"Kok lo udah kasih kesimpulan?"

Gue ngomong gitu spontan. Dirga natap gue dengan ragu.

"Emangnya bakal ada kesimpulan lain?"

Dirga memang sepolos itu atau dia memang tidak pernah mau peduli dengan urusan orang lain.

Gue berdiri. Pergi ninggalin Dirga dengan kepolosannya.

***

Matahari sempurna tertutup. Kini rintik perlahan membasahi aspal dan banyak hal lainnya. Mungkin bisa termasuk hati gue. Semakin lama semakin deras disusul angin yang mampu membuat pepohonan besar menari indah.

Gue menunduk. Rasanya menyakitkan. Hujan selalu menjadi musik paling indah bagi gue dan yang lain. Entah kenapa mengingatkan gue akan hal hal konyol yang pernah kita lakukan bertahun lalu. Dan begitu lucu ketika gue mengenangnya hari ini. Sendiri.

Hujan memang selalu seindah itu dan semenyakitkan itu. Bagaimana dengan kebetulan atau memang semesta yang mengatur demikian semua kejadian yang terkenang di gue terjadi ketika hujan.

Ketika adik gue menyerah dengan penyakitnya dan memilih mengahdap Tuhan lebih cepat. Saat itu hujan. Bukan cuma hujan angin seperti saat ini namun seperti langit begitu terpukul dengan kepergian adik gue. Atau langit memang hanya menemani kesedihan gue. Atau justru langit mengambil alih kesedihan gue. Yang pasti hujan juga menemani bagaimana hubungan gue dan Brian yang merenggang.

Sebelum gue masuk rumah sakit minggu lalu. Brian dateng ke gue dengan begitu lusuh. Matanya menyirat bahwa dia tidak tidur selama berhari hari dan memaksa alkohol masuk ke tubuhnya untuk membuatnya tertidur namun gagal. Gue sendiri gagal paham dengan keadaan sebelum dia mengatakan hal yang sungguh tidak bisa gue terima dengan akal sehat.

Dia keluar dari Enamhari.

Dengan alasan yang sungguh membuat gue murka. Kemudian membuat gue kehilangan arah dan kecelakaan. Bukan kecelakaan parah yang merenggut nyawa gue namun membuat gue harus berbaring di rumah sakit hampir seminggu. Setelah itupun murka gue belum luntur.

Apa alasan Brian hengkang dari Enamhari?

Sebuah pertanyaan yang tidak seorangpun mau menjawab. Atau mereka tidak bisa menjawab.

Saka adalah orang kedua setelah gue yang tau hengkangnya Brian dari band. Dan sama halnya dengan gue dia tidak mendapat alasan dari apa yang Brian lakukan.

Gue jadi semakin gusar. Apakah Saka menghajar Brian karena hal itu.

Namun Saka bukan orang yang akan mengayun pukul semudah itu.

Hujan terhenti. Kemudian matahari muncul kembali dipuncak pepohonan. Menyinari dedaunan yang membuat kilau hujan begitu mengagumkan.

Cahaya datang setelah hujan. Kilau perak yang tercipta selalu memberi pertanyaan. Kenapa mereka bisa tersenyum indah setelah badai. Padahal sisa badai belum seluruhnya dibersihkan. Semudah itukah?

•••

Makasih udah sampe sini..

Sampai jumpa di bab berikutnya..

Paipai..

 

Enjoyed this article? Stay informed by joining our newsletter!

Comments

You must be logged in to post a comment.