Profil instastories

Orang Aneh

  1. Orang Aneh

 

Percayalah aku hanyalah remaja laki-laki biasa, cowok tulen yang hobinya menulis puisi saat gabut. Aku jarang sekali bersosialisasi dengan teman-temanku tapi bukan berarti aku ini anti sosial. Aku bisa berubah jadi sosok yang cerewet hanya ketika berada di depan orang-orang yang dekat denganku saja.

Lalu suatu hari, seseorang menerobos kelasku, dengan lantang dan jahilnya dia berkata, "Mana yang namanya alif disini?". Tentu saja aku tak merespon. Untuk apa? Orang bodoh macam itu dihiraukan? Lebih baik aku menulis puisi. Tak mendapat apa yang dia inginkan, aku dengar dia bertanya pada teman-temanya diluar sana yang berada didepan kelas menunggu sambil melihat aksinya. Dan tak lama kemudian beberapa kaki berjalan kearahku. Aku masih fokus dengan puisi ditangan "Yang ini?" . Katanya terdengar olehku. "Iya", jawab temanya lagi. Menyebalkan. Kenapa mereka senang sekali mengusik ketenangan?.

Kuputuskan untuk bangkit menghindar sebelum mereka melakukan hal-hal yang tidak kusukai. Tak sedikitpun ada niatan bagiku untuk melihat wajah mereka yang bodoh itu. Hingga tiba-tiba tanganku diraih paksa oleh seseorang memaksaku untuk berbalik dan berhadapan dengan mereka. Aku menatap mereka kesal. Ya, benar-benar kesal. Aku juga berusaha melepaskan tanganku dari genggaman orang 'Ajaib' itu. Ajaib karena 'bagaimana bisa dia sebodoh itu jadi manusia? ' . Tapi tanganku tak kunjung lepas. Sampai dia buka suara."Cantik juga, kalo cewek pasti aku hamilin! ". Yap, apa yang kalian pikiran bila ada diposisiku saat ini? Yang pasti aku kesal. Namun, bukan berarti aku akan terima begitu saja. "Kalaupun aku cewek, aku gak bakalan mau hamil sama kamu!".
Gak guna sih memang, tapi setidaknya aku membalas. Itu yang kupikirkan. Tapi ternyata membuahkan hasil. Kulihat dia menyeringai lalu melepas tanganya. Sayang saja, ternyata itu malah buat dia senang. "Kamu yakin bilang gitu?" . Dia mencoba lebih dekat. Dan aku tentu saja segera menghindar.

Sementara diluar kelasku, banyak anak-anak dari kelasku dan kelas lain yang sengaja lewat dan menonton kami dari luar jendela.

Karena aksi membully mereka dikelas Akupun kemudian mengisolasikan diri di kantin saja. Duduk dengan penjual sampai bel masuk berbunyi lagi. Tapi itu bukan akhir cerita. Akhir sebenarnya muncul saat aku berjalan sendirian ditengah hari, tengah lapangan yang panas. Dan lapangan sekolahku itu dikelilingi kelas-kelas jadi banyak dari siswa yang bisa melihat. Cuma saja saat itu sebagian besar ada kelas, hanya kami yang gurunya absen dan berkeliaran diluar.

"Hey cantik! Ngapain kamu jalan sendirian kayak gitu disitu? Kamu dah gila ya? ". Aku mendengar suara teriakan itu dari sisi kiri. Dari seseorang yang menyebalkan si Bodoh yang kemarin membullyku. Jangan tanyakan bagaimana ekspresi ku saat ini, karena yakinlah rasanya ingin sekali ku mencekik dan mematahkan lehernya.
Dia saat itu sedang duduk di emperan kelasnya dan entah karena apa dia malah menghampiriku yang masih menatapnya kesal dantajam. Hingga aku mendengar kata-kata yang bernada 'Aneh' . " Jangan berdiri disitu,lagi panas ini. Nanti kamu jadi item, cantiknya ilang lagi! " . Ya, itu..aneh , nadanya lebih-lebih sok perhatian, sok lembut, sok.. Akrab?. Aku tak menghiraukanya lagi dan langsung kembali ke kelas.
Hari-hari setelahnya, dia bertingkah seperti itu terus, datang ke kelas dan mamggilku cantik, manis, sayang, dll. Terkadang risih tapi lucu juga, hingga aku putuskan untuk menjalani lakon itu. Toh barangkali kami bisa saling mengerti. Dan benar saja aku dan dia kemudian jadi akrab. Tak peduliah dia memanggilku apa, yang pasti dia sudah tak semenyebalkan dulu.

Sampai ada waktu saat kami bertemu diacara wisuda kelulusan, rasanya kurang seru juga berpisah sama dia. Orang bodoh yang berteman denganku dengan cara jahil. Pertemuan itu cuma kami habiskan dengan menampar-namparkan tangan satu sama lain. Sambil tertawa ringan dan mengucap sampai jumpa lagi. Terasa santai dan selaras seolah kami adalah teman satu geng, satu tongkrongan. Setidaknya selama berada di kapal bernama SMA.

Karena saat kami wisuda, rasanya seperti kami telah sampai dipemberhentian berikutnya dan bersiap-siap berpisah menuju jalan masing-masing. Aku dan dia sama-sama tahu bahwa apapun yang orang lain lihat, kami tetaplah dia orang yang bertemu dengan cara aneh.

Enjoyed this article? Stay informed by joining our newsletter!

Comments

You must be logged in to post a comment.

Stori terkait
Jul 8, 2020, 1:15 PM - Annisa mahmudah
Jul 6, 2020, 10:20 PM - Chocho_Yucho
Jul 3, 2020, 6:34 PM - Tjahjono widarmanto
Jul 3, 2020, 6:26 PM - Nnaga
Jul 3, 2020, 1:07 PM - Kristina Dai Laba
Jul 2, 2020, 2:25 PM - Mei Elisabet Sibarani