Profil instastories

Novel : Kangga. Bab 3

Suasana Jakarta malam ini sedikit dingin. Raka tidak bisa tidur karena masih belum percaya kalau dia sudah mengakhiri kariernya sebagai pembalap. Dia memandangi piala-piala hasil kerja kerasnya selama 10 tahun terakhir. 

Raka mengingat kembali jalannya balapan tadi siang. Mengingat bagaimana perkasanya dia saat melewati pembalap lain di depannya. Strategi yang dia terapkan dalam balapan tadi siang merupakan strategi terbaiknya selama ikut kejuaraan. Dia mulai tersenyum sendiri mengingat semuanya. Tiba-tiba terdengar suara ketukan dari pintu kamarnya. 

“Siapa?” tanya Raka dari dalam kamar.

“Aku,” jawab Arkan sembari membuka pintu kamar kakaknya. 

“Ada apa?”

“Kakak tadi keren.”

“Sudah biasa.”

“Idih, songong. Baru juga sekali di puji.”

“Iya dong, ada apa?”

“Coba lihat ini.” Arkan menyodorkan beberapa lembar foto kakaknya saat berjuang di lintasan tadi siang. Dari beberapa gambar itu, ada satu foto ketika Raka menaklukan lawannya di tikungan terakhir. 

“Ini kakak simpan ya?” tukas Raka tersenyum kepada adiknya. 

“Iya dong, coba lihat ini juga,” Arkan menyodorkan sebuah telepon genggamnya yang berisi video saat kakaknya sedang selebrasi dengan mengangkat roda depan motornya. Di akhir video itu, Arkan mengucapkan selamat kepada Raka tepat di sisi podium ketika Raka merayakan kemenangan. 

“Terima kasih, dik!”

“Sama-sama kak.”

Raka bahagia saat kembali mengingat adiknya yang hadir ke sirkuit tadi siang. Dia tidak menyangka, karena tadi pagi sebelum berangkat Arkan menolak untuk ikut le sirkuit.

“Jangan senyum-senyum terus, traktirannya jangan lupa!” tukas Arkan yang memaksa Raka menghentikan senyum di wajahnya.

“Jadi ada maunya?”

“Iya lah, tidak ada yang gratis.”

“Dasar kau,” ucap Raka sambil melempar bantal ke wajah adiknya.

“Kakak rencananya mau kerja apa sekarang?” tanya Arkan. Karena memang selama ini Raka hanya fokus kepada dunia balapan.

“Entahlah,” jawab kakaknya sembari menggelengkan kepala.

“Kakak harus coba ikut aku berpetualang dengan kamera.”

Raka tidak menjawab tawaran Arkan. Dia masih belum tertarik untuk mengikuti jejak adiknya berkreasi dengan kamera. 

“Sana kamu keluar, kakak mau tidur.”

“Kakak ngusir aku, setelah apa yang aku lakukan hari ini, kakak rela mengusir aku,” ujar Arkan dengan nada ala pentas drama.

“Lebay Lu, sana keluar.”

Arkan pergi dengan wajah kesal, setelah sampai di pintu dia berucap, “Awas Lu ya.”

“Bodoh amat.”

Raka mencoba memejamkan mata karena sudah larut malam, dengan usaha keras akhirnya dia mulai tertidur. Setelah beberapa jam tertidur, Raka bermimpi bertemu dengan seorang laki-laki. Di dalam mimpinya laki-laki itu berucap “Sekarang waktunya kamu kejar jodohmu, jodohmu akan datang dari orang di masa lalumu.” Antara sadar atau tidak, Raka terbangun dengan kebingungan. Suara laki-laki di mimpinya itu masih melekat di dalam pikirannya.

***

Raka menikmati teh hangat di pagi hari sembari duduk di teras rumah. Teh buatannya sendiri memang terasa nikmat, apalagi di temani cemilan di dekatnya. Pagi ini menjadi pagi pertama Raka menjadi pensiunan pembalap. Dan akan lebih memiliki banyak waktu untuk fokus mencari pendamping hidup.

Raka teringat akan mimpinya semalam. Dia masih mengingat jelas ucapan laki-laki di dalam mimpinya itu. Ucapan laki-laki itu tidak bisa hilang dari ingatannya. 

Sepertinya mimpi itu akan menjadi awal dari petualangan Raka mencari pendamping hidup. Namun pertanyaan yang timbul dari pikirannya yaitu “Yang mana?” Kalau berbicara orang di masa lalu jelas akan membuatnya bingung. Sebab dengan ketenarannya menjadi seorang pembalap hebat, Raka sedikit menguasai jiwa playboy. Kalau tidak salah wanita yang pernah memiliki hubungan dengannya ada 34 orang. Itu pun kalau tidak salah. Dan sepertinya mimpi itu benar-benar akan membuat seorang Raka Alfian kebingungan. Karena Raka sendiri tidak ingat satu-satu nama wanita yang pernah di pacarinya. 

“Bodoh amat lah,” ujarnya setelah lelah mengingat satu-satu orang dari masa lalunya. Pikirannya letih menerka-nerka siapakah jodohnya yang di maksud dalam mimpi semalam. 

Jakarta mulai mendung, sebentar lagi sepertinya akan turun hujan. Raka mengenang beberapa kenangan manis saat hujan turun. Salah satunya yaitu saat dia memenangi balapan pertamanya pada kondisi hujan. 

Dia juga mengenang aroma wangi tubuh seorang perempuan yang sering dia dengar di masa lalu. Sampai saat ini Raka masih mengingat aroma perempuan itu, dia menyebutnya “Aroma Kangga”  yang berarti aroma tubuh. Entah apa yang terjadi dengan perempuan itu, wangi tubuhnya semakin menyerbak ketika terkena air hujan. 

 

Enjoyed this article? Stay informed by joining our newsletter!

Comments

You must be logged in to post a comment.

Stori terkait
Jul 8, 2020, 1:15 PM - Annisa mahmudah
Jul 6, 2020, 10:20 PM - Chocho_Yucho
Jul 3, 2020, 6:34 PM - Tjahjono widarmanto
Jul 3, 2020, 6:26 PM - Nnaga
Jul 3, 2020, 1:07 PM - Kristina Dai Laba
Jul 2, 2020, 2:25 PM - Mei Elisabet Sibarani