Profil instastories

Novel : Kangga. Bab 1

Dia adalah Raka Alfian. Panggil saja Raka, atau kalau bosan boleh panggil Alfian. Raka baru berumur 30 tahun dua hari yang lalu, tepatnya 22 Oktober kemarin. Di usianya saat ini, banyak orang memanggil Raka dengan julukan bujang lapuk, alasannya tidak lain dan tidak bukan karena memang dia belum menemukan seseorang pendamping. Raka tinggal di Jakarta sudah lama, bisa di bilang sudah 30 tahun lebih dua hari.

Dia dikenal sebagai pemuda yang baik. Sering menolong orang yang membutuhkan. Rajin menabung dan juga tidak pernah kebut-kebutan di jalan raya. Karena prinsip seorang Raka yaitu, ketika seseorang berbuat baik maka akan di kenang dengan baik oleh orang lain.

Raka Alfian adalah orang yang sedikit pendiam, setidaknya itu kata orang yang baru kenal dengannya, namun kata teman-teman lamanya beda lagi. Raka di besarkan dari keluarga sederhana. Walaupun begitu, semua keinginannya selalu di turuti oleh kedua orang tuanya. Salah satu permintaannya yang mungkin paling berat bagi kedua orang tuanya adalah ketika dia meminta izin untuk masuk akademi balap 10 tahun yang lalu. Saat itu ayahnya menawarkan satu permintaan, khusus hadiah ulang tahunya yang ke 20 tahun. Sesuai keinginan, dia meminta untuk di daftarkan ke akademi balap. Walaupun sudah terbilang terlambat namun bagi Raka tidak ada yang tidak mungkin. Mau tidak mau, setelah berunding dengan sang istri, ayah Raka mengabulkan permintaan anehnya.

Sejak masuk akademi balap itu Raka tumbuh sesuai apa yang dia harapkan. Sejak kecil dia memiliki mimpi untuk menjadi pembalap profesional. Dengan sekolah balap itu mimpi Raka kian mudah di capai. Bakatnya lumayan besar untuk pemula sepertinya. Cara dia cepat memahami motor terbilang bagus. Modal bagus untuk bisa bersaing dengan para pembalap yang sudah memiliki pengalaman.

Di tahun pertama sejak memulai petualangannya di dunia balap, Raka di nobatkan sebagai pendatang baru terbaik. Walaupun sebatas penghargaan dari sekolah balapnya sendiri, setidaknya dia berhasil menyingkirkan 49 pesaing seangkatannya. Dan dua tahun kemudian Raka menemukan tim balap yang siap mendukungnya secara penuh.

Raka memiliki seorang adik laki-laki yang bernama Arkan Alfian, usianya kini 21 tahun. Berbeda dari Raka, Arkan tidak suka dunia balap. Bahkan ketika sang kakak ikut kejuaraan, tidak sekalipun Arkan hadir sekedar untuk menonton kakaknya berjuang di lintasan.

10 tahun Raka menjadi pembalap, rasanya tidak pernah Arkan menanyakan tentang dunia balapan. Baginya berbicara tentang balapan hanya mengganggu waktu saja. Arkan lebih fokus ke dunianya sendiri, yaitu menjadi seorang fotografer handal, menyeberangi samudra dan mendaki gunung demi memuaskan obsesinya. 

Bagi Arkan, memotret apa saja yang membuat hatinya puas sudah cukup membuatnya girang seharian. Namun anehnya, ketika Raka meminta kepadanya untuk mengambil gambar Raka bersama motor balap Arkan selalu menolak. Sampai saat ini Raka sendiri belum tahu alasan di balik tingkah adiknya itu.

Raka beruntung memiliki ayah sekuat Nugroho, sosok laki-laki disiplin yang berperawakan gagah dan berbadan atletik. Ayah yang selalu bertanggung jawab dalam semua hal. Raka juga beruntung terlahir dari rahim seorang ibu yang lemah lembut dan sangat sabar. Namanya Sukma Wati, perempuan asli Bandung yang di lamar oleh ayah Raka 32 tahun yang lalu. Setelah menikah dengan Nugroho, ibu dari dua anak itu menetap di Jakarta mengikuti jejak suami. Raka hanya sedikit tidak beruntung memiliki seorang adik seperti Arkan Alfian. Pemuda yang hanya sibuk dengan dunia kamera. Tanpa peduli dengan keadaan Raka ketika butuh bantuan. 

Arkan orang yang sedikit acuh terhadap sekitar, dia hanya peduli dengan apa yang menurut dia menyenangkan. Berbeda jauh dengan kakaknya yang sering menolong orang lain. Ayah dan mamanya sering memberi nasehat agar dia lebih peduli orang lain, begitu juga dengan Raka yang hampir setiap hari memberi nasehat yang hanya di jawab “siap” oleh Arkan. 

Sifat Arkan yang seperti itu sudah terlihat sejak usianya 15 tahun. Saat itu tetangga baruku di Jakarta namanya Pak Herman. Dia baru saja pindahan kemarin dan keesokan harinya sedang sibuk memperbaiki genteng rumahnya yang bocor. Tanpa sengaja tangga dari bambu yang dia pakai terjatuh saat orang itu sudah ada di atas genteng. Ketika Bapak Herman hendak turun dia mendapati Arkan sedang bermain di bawah, tentu saja Bapak Herman meminta tolong kepada Arkan untuk menaruh tangga itu pada tempatnya yang awal. Bukannya membantu Arkan malah lari ke dalam rumah.

Sejak kejadian itu Raka paham ada yang berbeda dalam diri adiknya. Arkan seolah membutuhkan jiwa sosial yang harus dimiliki sejak kecil. Akan tetapi arahan Raka tidak pernah di gubris sedikit pun oleh adiknya. 

“Sudahlah kalau adikmu memang maunya begitu,” tukas Mama ketika mendengar Raka berceramah atas tingkah Arkan. Raka hanya memberi tahu hal yang benar. Bukannya Mama melarang Raka menegur sang adik, namun Mama juga merasa lelah atas sikap Arkan. “Nanti juga dia paham kalau sudah membutuhkan bantuan orang lain,” lanjut Mama. 

Jakarta siang ini sedikit panas, sepertinya cocok untuk sedikit mengomel kepada Arkan. Semoga dia lekas berubah karena suatu saat dia akan membutuhkan bantuan orang lain. Pasti.

 

 

Enjoyed this article? Stay informed by joining our newsletter!

Comments
Nurwahidah - Mar 16, 2020, 5:33 AM - Add Reply

Hallo saiful bahri ketemu lagi d studio baru, kita saling fllow ya?

You must be logged in to post a comment.
Nurwahidah - Mar 16, 2020, 5:33 AM - Add Reply

Hallo saiful bahri ketemu lagi d studio baru, kita saling fllow ya?

You must be logged in to post a comment.
Syaiful Bahri - Mar 21, 2020, 5:35 AM - Add Reply

Siap

You must be logged in to post a comment.

You must be logged in to post a comment.

Stori terkait
Jul 8, 2020, 1:15 PM - Annisa mahmudah
Jul 6, 2020, 10:20 PM - Chocho_Yucho
Jul 3, 2020, 6:34 PM - Tjahjono widarmanto
Jul 3, 2020, 6:26 PM - Nnaga
Jul 3, 2020, 1:07 PM - Kristina Dai Laba
Jul 2, 2020, 2:25 PM - Mei Elisabet Sibarani