Profil instastories

Nephilim 1

Di umurnya yang berusia 21 tahun, Arabella diharuskan melakukan seluruh pekerjaannya sendiri tanpa bantuan dari orangtuanya. Ayahnya telah lama meninggal saat ia berusia 15 tahun, beruntunglah di saat masa remajanya ia memiliki pemikiran yang dewasa, jadi ia tak larut dalam kesedihan terlalu lama dan lebih memilih menguatkan ibunya yang sangat terpukul. 

 

Lalu ibunya pergi menjemput sang kekasih 3 tahun yang lalu. Sungguh berat beban yang ia pikul sendiri saat itu. Pasalnya ia memiliki saudara jauh yang entah keberadaannya di mana, dan study yang terpaksa ia tunda karena kurangnya biaya.

 

Dan di sinilah ia sekarang, memilih menghabiskan waktu membaca buku kuno di balkon kamarnya yang langsung mengarah ke hutan. Rumah yang cukup strategis karena berada di atas bukit dengan disuguhkan pemandangan indah di sekelilingnya. 

 

Buku kuno yang tebalnya seribu halaman itu, ia dapatkan dari mendiang ibunya. Entah dia mendapatkannya dari mana, tapi ibunya itu menyuruhnya untuk menjaganya dengan baik.

 

Arabella menguap saat ia berada di halaman ke delapan ratus. Padahal masih ada dua ratus halaman lagi, keluhnya. Halaman ke delapan ratus itu menampilkan gambar pria tampan dengan kostum yang bisa dibilang aneh, karena pakaian yang pria itu kenakan seperti pakaian kerajaan; berwarna putih bersih menjuntai panjang dengan lambang sayap bak malaikat di dada sebelah kirinya.

 

"Ah, pria yang sangat tampan." Arabella mengusap gampar pria itu seolah-olah ia tengah menyentuhnya. 

 

Ia berlama-lama menatap gambar itu dan berdecak kagum. Tak bisa dipungkiri bahwa makhluk mitos yang melegenda itu luar biasa tampan. Tak salah jika banyak orang yang menyebutnya dewa Yunani.

 

"Andai aku bisa bertemu denganmu," gumamnya dengan mengerucutkan bibir, "sayangnya kau hanya makhluk yang tak akan pernah ada."

 

Setelah bergumam dengan segala khayalnya, ia mendengar dentuman keras di dalam hutan. Arabella beranjak dari duduknya dengan segera memilih mendekat ke pembatas balkonya. Gadis itu memicingkan matanya saat melihat cahaya biru dari dalam hutan ke atas langit. Ia memerhatikannya lagi dengan saksama dengan segala keingin tahuannya yang tinggi, ternyata bukan dari hutan ke atas langit, lebih tepatnya dari atas langit jatuh ke dalam hutan. Seperti, altar berwarna biru yang menjulur ke bawah layaknya jalan.

 

"Cahaya apa itu? Sepertinya aku harus melihatnya dengan teropong." Arabella menganggukkan kepalanya, kemudian melenggang mengambil barang yang tadi ia sebutkan.

 

Saat ia kembali, cahaya itu sudah hilang. Kemudian ia melihatnya dengan teropong. Nihil, tak ada tanda-tanda keberadaan cahaya aneh itu.

 

"Kira-kira cahaya apa itu? Kenapa bisa menimbulkan dentuman yang besar? Apa para tetangga juga mendengarnya?" Deretan pertanyaan memenuhi pikirannya seraya menerka-nerka keanehan itu sendiri.

 

"Aku pusing memikirkannya!" dengusnya. "Lebih baik, besok aku bertanya kepada Emily saja."

 

~0~

 

Gadis yang kerap disapa Bella itu berjalan tergesa-gesa menuju rumah sahabat kecilnya. Butuh waktu lima menit untuk mencapai rumah Emily.

 

Bella mengetuk pintu di hadapannya dengan tidak sabar.

 

"Sebentar!" teriak seseorang di dalam sana, yang Bella rasa itu adalah suara Emily.

 

"Ada apa?" tanya Emily to the point.

 

Bella berdecak kesal. "Kau ini, bukannya aku disuruh masuk!" Kemudian ia melenggang memasuki rumah Emily tanpa menghiraukan dengusan kesal dari sahabatnya itu.

 

"Aku ingin membicarakan sesuatu yang cukup aneh," ucap Bella mengenai permasalahannya langsung.

 

"Stop! Biarkan aku mengambil beberapa camilan, baru kau boleh melanjutkan ceritamu itu." Setelah mengatakan itu Emily bergegas menuju dapur.

 

Beberapa saat kemudian dia datang dengan membawa setoples kue kering, cake, dan kacang almond tak lupa dua gelas jus jeruk.

 

"Lanjutkan!" pinta Emily seraya mengambil kacang almond.

 

Bella menceritakan di mana ia mendengar dentuman keras, sampai cahaya biru yang muncul dari langit ke dalam hutan hingga cahaya itu menghilang.

 

Emily membulatkan matanya. "Jangan-jangan itu Nephilim!"

 

Bella yang tengah meminum jus itu seketika tersedak. 

 

"Mana ada! Nephilim itu hanya makhluk mitos. Kuakui dari gambar yang kulihat di buku kuno itu perwujudan mereka sangat tampan, tapi tidak mungkin mereka turun ke bumi tanpa tujuan yang jelas. Lagipula mereka hanya makhluk mitos belaka," ujar Bella panjang lebar seraya mengedikkan bahunya.

 

"Ck, aku percaya bahwa makhluk itu ada. Buktinya buku kuno yang kau miliki tahu tentang sejarah Nephilim!" tegas Emily pada pendiriannya.

 

"Entahlah, meskipun aku mengagumi mereka, aku sedikit tidak percaya dengan adanya makhluk mitos itu. Pikirkan saja kita saat ini berada di abad ke-21!" jelas Bella seraya memasukan kacang almond ke dalam mulutnya.

 

"Terserah kau saja!" dengus Emily kesal.

 

"Padahal dia sendiri yang bertanya padaku tentang cahaya aneh itu! Tapi dia sendiri tidak percaya dengan jawabanku, menyebalkan!" gerutu Emily.

 

"Aku masih bisa mendengarkannya, Em!" desis Bella seraya mencebikkan bibirnya.

 

Kemudian kerutan di dahinya muncul.

 

"Tapi, Em. Apa kau mendengar suara dentuman itu semalam?" 

 

~0~

 

Bella kembali ke rumahnya dengan segala pertanyaan di dalam otaknya. Bagaimana mungkin Emily tidak mendengar dentuman sebesar itu. Ini benar-benar aneh, pikirnya. Apa gadis itu sudah tertidur dan tidak mendengarnya sama sekali? Tapi saat ia bertanya kepada Bibi Daisy, dia sama sekali tidak mendengar suara apapun. Kejadian ini benar-benar membuatnya pusing. 

 

"Lebih baik aku mengerjakan pekerjaan rumah saja dari pada memikirkan kejadian aneh itu!" pikir Bella.

 

Seperti biasa, yang ia kerjakan hanya menyapu, mengepel, membersihkan kamar, mencuci piring dan terakhir memasak untuk dirinya sendiri. Beruntung sekali ia tak perlu belanja buah dan sayur ke pusat perbelanjaan. Karena ia sudah memiliki kebunnya sendiri. 

 

Setelah menyiapkan makanan yang tidak terlalu banyak untuk satu orang. Desahan kecil lolos di bibirnya, setelah kepergian orang tuanya, ia terbiasa makan malam sendiri seperti ini. Terkecuali jika Emily datang untuk menginap satu hari di rumahnya.

 

Hanya dentingan sendok yang menemani makan malamnya. Setelah selesai, ia menyimpan piring itu di wastafel. Kemudian beranjak pergi ke kamarnya.

 

Bella membiarkan jendelanya terbuka. Sudah menjadi kebiasaannya sejak lama saat hendak tidur pasti ia akan membiarkan jendelanya terbuka, membiarkan angin malam masuk ke dalam kamarnya. Apalagi ranjang yang ia tempati mengarah keluar jendela langsung, seringkali ia memandang bintang-bintang di atas sana. Tak khawatir dengan adanya maling atau sebagainya, karena tempat ini sudah dijamin tak akan ada yang mengganggu kenyamanan warganya.

 

Ia merebahkan tubuhnya di kasur. Memandang keluar melihat hamparan bintang di langit kelabu. Ia tersenyum sesaat, kemudian ia memejamkan matanya dan tertidur.

 

~0~

 

"Aku ada di mana?" gumam Bella.

 

Ia menatap sekelilingnya yang berwarna putih bersih bagai di atas awan. Perlahan tapi pasti, langkahnya menuntun untuk terus berjalan. Tapi suara langkah kaki kuda di belakangnya menghentikan pergerakannya.

 

"Berhenti di sana!" teriak salah seorang di antara banyaknya pengendara berkuda. Dari penampilannya tampak seperti prajurit, dengan baju zirah perangnya.

 

Merasa dirinya terancam, Bella berlari sekuat tenaga demi menjauhi orang asing yang tengah mengejarnya itu. Entah salah apa, ia sampai diburu oleh banyaknya prajurit itu. 

 

Sampai sebuah sinar berwarna biru tampak seperti anak panah melesat mengenai kakinya. Bella terjatuh sambil meringis kesakitan memegangi kakinya yang terkena senjata—entah senjata apa ia sendiri tak tahu.

 

Para prajurit itu berhasil mengepung Bella. 

 

"Akhirnya, tertangkap juga!" seru salah seorang dari mereka yang memakai baju zirah lebih mencolok, sepertinya dia panglima tertinggi.

 

"Panglima, kurasa secepatnya kita harus menghabisi dia sebelum pangeran penguasa langit menemukan mate-nya!" ucap salah seorang prajurit.

 

"Kau benar, bunuh dia sekarang!" titah panglima itu dengan seringai di bibirnya.

 

"Tidak, aku tidak salah apa-apa kepada kalian. Kumohon jangan bunuh aku!" Isakan tangis muncul di bibir Bella.

 

Tanpa memerdulikan permohonan Bella, para prajurit itu segera menyerangnya. Duarr! Seketika mereka terempas saat senjata yang mereka gunakan hampir melukai tubuh Bella. 

 

Bella yang semula menundukkan kepalanya, segera mendongak melihat siapa yang menyelamatkannya. Seorang pria dengan sayap sehalus sutra menjulang tinggi di hadapannya. 

 

Saat pria itu menolehkan kepalanya, seketika semuanya menjadi gelap.

Enjoyed this article? Stay informed by joining our newsletter!

Comments

You must be logged in to post a comment.

Stori terkait
Jul 8, 2020, 1:15 PM - Annisa mahmudah
Jul 6, 2020, 10:20 PM - Chocho_Yucho
Jul 3, 2020, 6:34 PM - Tjahjono widarmanto
Jul 3, 2020, 6:26 PM - Nnaga
Jul 3, 2020, 1:07 PM - Kristina Dai Laba
Jul 2, 2020, 2:25 PM - Mei Elisabet Sibarani