Profil instastories

Nata de Banana

Nata de Banana

By : Widia Purnamasari

 

Indonesia merupakan Negara agraris yang kaya akan alam baik buah-buahan maupun sayur-sayuran. Mengkonsumsi buah-buahan dan sayuran sangat baik untuk tubuh, karena selain mengandung vitamin juga mengandung serat yang tinggi untuk membantu proses pencernaan. Meskipun masyarakat Indonesia mengetahui tentang pentingnya mengkonsumsi buah-buahan dan sayuran namun, tidak banyak masyarakat yang mengetahui bagian dari buah tersebut yang dapat dimanfaat atau diolah kembali. Salah satunya adalah limbah kulit buah dan limbah sayuran yang sudah tidak laku dipasaran. Limbah kulit buah dapat dimanfaatkan untuk produksi selulosa.

Kulit buah pisang merupakan bagian buah pisang yang pada umumnya dibuang menjadi limbah. Peningkatan limbah kulit buah pisang berdampak pada lingkungan jika dibuang begitu saja, salah satu upaya untuk meningkatkan kualitas limbah kulit buah pisang adalah dengan membuatnya menjadi nata de banana melalui proses fermentasi (Siswarni, 2007). Ditinjau dari kandungan gizinya, limbah kulit buah pisang mengandung karbohidrat yang dapat dimanfaatkan untuk pembuatan nata. Hasil analisis menunjukkan komposisi kulit buah pisang terdiri dari air 68,90%, dan karbohidrat 19,50%. Dengan adanya kandungan karbohidrat yang tinggi ini dapat dimanfaatkan untuk media pertubuhan bakteri Acetobacter xylinum sebagai sumber energy maupun sumber karbon untuk mengubah glukosa menjadi selulosa ekstraseluler (Wahyudi, 2013).

Nata merupakan padatan dengan tekstur kenyal, tidak larut dalam air, berwarna putih, terbentuk dipermukaan media fermentasi. Padatan tersebut tersusun atas senyawa polisakarida (selulosa) yang merupakan hasil fermentasi bakteri asam laktat. Nata merupakan selulosa berkalori rendah, kadar serat 2,5%, dengan kadar air 98%. Serat yang terdapat pada nata sangat penting dalam proses fisiologi yang dapat memperlancar pencernaan makanan. Nata dapat diperoleh dari berbagai bahan salah satunya nanas, air kelapa, lidah buaya, limbah tahu dan berbagai macam buah-buahan dan sayuran. Dalam pembuatan nata disini memanfaatkan bakteri Acetobacter xylinum untuk menghasilkan selulosa ekstraseluler. Dalam proses pembuatan nata disini Bakteri Acetobacter xylinum membentuk asam dari glukosaetil alkohol, propil alkohol dan glikol serta mengoksidasi asam asetat menjadi gas CO2 dan H2O.komponen selulosa ini akan membentuk jalinan mikrofibril (benang-benang berwarna putih atau transparan) yang panjang, berlendir dalam cairan fermentasi.gelembung gas CO2 mempunyai kecenderungan melekat pada selulosa yang mengakibatkan jaringan terangkat keatas permukaan cairan. Terbentuknya pelikel (lapisan tipis nata) mulai dapat terlihat dipermukaan media setelah 24 jam inkubasi bersamaan dengan proses penjernihan dibagian bawah medium (Rahayu, 1993).

Bakteri Acetobacter xylinum merupakan bakteri penghasil selulosa atau nata. Bakteri ini adalah bakteri gram negatif, dengan variasi oloni yang ditentukan oleh arah pembelahannya, umur dan pertumbuhannya dipengaruhi oleh nutrisi yang tersedia serta keadaan yang menguntungkan bagi bakteri. Bakteri Acetobacter xylinum menghasilkan selulosa sebagai hasil metabolit sekunder sedangkan hasil dari metabolit primernya adalah asam asetat. semakin banyak kadar nutrisi, maka semakin banyak Bakteri Acetobacter xylinum yang berkembang dan semakin besar kemampuan dalam memperoleh selulosa. Faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan Bakteri Acetobacter xylinum selain dari ketersediaan nutrisi juga diperlukan pH medium antara 3-6, suhu lingkungan antara 20-28oC (Febrianti, 2011).

Enjoyed this article? Stay informed by joining our newsletter!

Comments

You must be logged in to post a comment.