Profil instastories

Nada dan Kata

Dengan jaket kulit bewarna coklat yang selalu menjadi favoritnya tentu membuatku langsung mengenali pemuda yang muncul dari pintu masuk kafe. Dia masih seperti dulu, tampan dan memukau. Di balik jaket kulit itu ada kaos hitam yang kontras dengan kulit terangnya. Tubuhnya tampak tinggi dengan celana jeans hitam dan sepatu boot stylish yang bewarna sama dengan jaketnya. Sayang, rambutnya yang dulu sering aku jambak, kini ditimpa dengan topi hitam yang di depannya ada lambang dari band dimana dia menjadi vokalisnya. Dan hal yang paling membuatku merasa kecewa adalah mata yang dulu selalu menatapku dengan tatapan melindungi itu sekarang terhalang oleh kaca mata hitam yang memang membuatnya tampak lebih luar biasa.

Namun, dalam hitungan sepersekian detik dia langsung membuyarkan kekecewaanku, dia berjalan ke arahku, tersenyum, dan tepat saat di depanku, dia membuka kaca matanya. Aku tersenyum, begitu bahagia dapat berada di pupilnya yang menawan dan selalu membuatku merasa terlindungi. Kami bertatapan cukup lama. Tanpa sadar, mataku rupanya sudah berkaca-kaca.

"Setelah bertahun-tahun tidak bertemu, apa kau tidak merindukanku?" Dia merenggangkan tangannya. 

Aku langsung menghambur ke pelukannya. Didekap erat tubuhku seakan dia tak akan pernah melepasnya. Aku tidak bisa berkata apa-apa lagi selain menangis meluapkan rindu yang terkandung sangat lama.

"Aku di sini, kenapa menangis? Selama masih ada aku, kau tidak boleh menangis. Tuhan menakdirkan aku di dunia untuk membuatmu tersenyum." Diusapnya punggungku.

"Tapi selama ini kau tidak ada." Ucapku begitu saja.

"Karena kau yang memintanya." Ucapnya lirih.

Aku tertegun. Dilonggarkan pelukannya. Aku menarik diri dan sedikit mengambil jarak. Kutatap matanya, begitupun sebaliknya.

"Permintaanmu adalah perintah untukku. Saat kau memintaku pergi, aku akan pergi. Dan saat kau memintaku datang, aku akan datang. Seperti kemarin kau memintaku hadir hari ini, maka aku hadir. Semua sesuai dengan permintaanmu Nawa." Katanya dengan nada yang lembut.

"Arga?" Aku menatap dalam ke pupilnya, "maafkan aku. Aku tidak bermaksud memintamu pergi saat itu." Tiga butir penyesalan meluncur jatuh ke pipiku yang semakin hangat.

"Tidak perlu meminta maaf, mungkin memang itu yang terbaik. Kau harus jauh dari diriku untuk bisa menikmati dunia yang luas ini. Karena saat bersamaku, aku tidak pernah rela ada yang lain di dekatmu. Dulu, aku terlalu egois. Aku tidak peduli bahwa kau punya hak untuk menikmati seluruh dunia, aku selalu mengurungmu di duniaku saja. Aku terlalu memaksakanmu. Maafkan aku."

Kata-kata Arga membuatku merasa begitu sesak. Bukan jauh darinya yang aku inginkan. Bukan jauh darinya yang membuatku bahagia. Aku justru ingin selamanya terpenjara dalam dunianya.

"Ga," 

"Ssstt!" Arga menghentikan kalimatku, meletakkan jari telunjuknya di bibirku.

Aku hanya bisa menatapnya, berharap dia mengerti bahwa aku tidak pernah ingin jauh darinya. Dengan telapak tangannya, Arga menghapus air mataku. Sebuncah perasaan hangat mengalir dalam diriku.

"Sudah! Jangan nangis lagi." Katanya, padahal aku dapat melihat kalau matanya juga berkaca-kaca dan pipinya basha. Namun, Arga tetap tersenyum. "Sekarang kita harus bahagia. Walau kita tidak bersama-sama selama ini, tetapi sekarang sebuah karya telah kita ciptakan bersama." Arga merangkulku dan kami mulai berjalan, "kau pernah berpikir bahwa akhirnya kita bisa kolaborasi dimana aku membuat lagu dan kau membuat cerita? Kau selalu candu dengan rumus dan angka, bagaimana ceritanya kau bisa jadi pintar merangkai kata menjadi kisah?"

"Entahlah, mungkin karena aku merindukanmu. Kau sangat jenius membuat lagu. Menyusun nada dan kata, aku tidak berhasil bermain dengan nada, jadi aku pilih bermain dengan kata."

"Kau sedang merayu pengisi sountrack filmmu wahai penulis skenario?" Katanya sambil tersenyum meledek.

"Jadi bagimu, aku hanya seorang penulis yang menjadi rekanmu?"

"Oh, bukan. Kau adalah seseorang yang pernah menjadi teman sebangkuku selama dua tahun di SMA."

"Apa?" Aku menghentikan langkah dan menoleh serius ke Arga.

"Oh, tidak. Kau lebih dari itu. Kau adalah murid yang selalu memberikanku contekan setiap ujian."

Aku menatap Arga kesal dan berjalan cepat meninggalkannya. 

"Hei!" Arga menarik lenganku dan membuatku berhenti. Diraihnya tubuhku. Diletakkan kedua tangannya di bahuku. Dia menatapku lurus dan dalam. Lalu didekapnya tubuhku dan dikecup puncak kepalaku dengan pelan tapi memberikan pengaruh luar biasa pada seluruh tubuhku.

"Ehm, cie..." Teriakan dari arah tim yang menjadi kru dan pemain di film independen yang kami buat, menjadikan aku dan Arga tersentak dan melepas pelukan.

Arga tersenyum, "bagiku, kau tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Tidak ada istilah yang bisa menggambarkan tentang kita."

Arga kembali merangkulku dan kami berjalan ke arah tim. Sebentar lagi acara launching trailer dari film yang diproduksi oleh komunitas filmku. Dan karena cerita ini diadaptasi dari lagu karya Arga dan teman-teman bandnya, maka Arga dan bandnya akan tampil di acara ini. Aku masih ingat saat pertama kali aku memberanikan diri menghubungi Arga ketika tahu dia dan bandnya mengeluarkan single terbaru mereka. Dan berkat keberanian itu, akhirnya aku dan Arga dapat bertemu kembali. Berjalan bersama, berangkulan dan berbahagia. 

"Oh iya, teman-teman bandmu dimana? Mereka datang kan?" Tanyaku setelah kami sudah berkumpul bersama tim.

"Sebentar lagi mungkin mereka sampai. Aku naik motor, makanya jadi lebih cepat. Mereka naik mobil sekaligus bawa alat." Jelas Arga dengan santai.

Tidak lama kemudian, Hardi, asisten sutradara di project film ini, menghampiriku.

"Temani nempel balon yuk!"

Hardi memang selalu begitu. Siapapun tidak pernah dimintanya untuk ini dan itu, selain aku. Bisa dibilang, Hardi ini teman gaduhku. Kami sering sekali berdebat, tetapi saat ada masalah justru Hardi yang tahu cara menenangkanku.

"Buruan!" Hardi menarik lenganku memaksa menjauh dari Arga.

"Jangan kasar gitu sama cewek." Arga ikut berdiri dan menahanku. Arga masih seperti dulu, marah jika ada yang seakan memaksaku pergi saat sedang bersamanya.

Hardi tidak menggubris Arga  dia hanya sekilas melirik Arga lalu kembali melihatku kemudian pergi begitu saja.

"Siapa sih dia?"

"Dia asisten sutradara. Anaknya memang rada sinis begitu. Tapi sebenarnya baik kok."

"Kau membelanya. Kalian dekat? Atau jangan-jangan dia pacarmu?"

"Bukan! Yaudah, aku pergi dulu. Bentar ya, Ga."

Aku meninggalkan Arga dan segera menyusul Hardi. Aku terkekeh sendiri mengingat wajah Arga tadi. Dia masih saja cemburuan. Aku senang mengetahui hal itu.

Urusanku dengan Hardi tidak terlalu lama. Aku segera kembali ke tempat Arga. Di sana sudah ada teman-temannya Arga.

"Hei, Wa. Kenalkan ini teman-teman aku di band. Ini Ditra, Dio, dan ini Dewa." Arga mengenalkan aku dan teman-temannya. Sebelumnya aku hanya pernah melihat mereka melalui foto.

Teman-teman Arga sangat baik. Aku mengira awalnya Dio adalah sosok yang dingin, ternyata dia sangat lembut dan ramah bahkan terkesan lebih dewasa daripada yang lain. Sedangkan Dewa, seperti dugaanku di awal, dia adalah yang paling gila dan mudah bergaul, ternyata dia adalah yang paling muda, usianya bahkan setahun di bawahku. Kemudian ada Ditra, teman Arga yang satu ini tidak aku pungkiri memang begitu memesona dan sangat baik. 

Arga selalu tahu jika aku memiliki perasaan yang spesial ke seorang cowok. Dan sepertinya Arga tahu kalau aku sedikit berbeda pada Ditra. Arga sering sekali menyela obrolanku dengan Ditra.

"Oh, jadi Mas Ditra pernah ikut lomba MTQ? Wah, itu hebat." 

"Iya, tapi itu sudah lama." Ditra tersenyum sangat manis.

"Tetap aja hebat, Mas." Aku tetap memujinya sambil menatap kagum.

"Kenapa harus panggil Mas?" Sela Arga. "Panggil Ditra saja." Arga tersenyum memaksa.

Ditra tersenyum, "iya, Ditra saja."

"Baiklah. Ditra."

Aku selalu suka dengan sikap Arga yang seperti ini. Suka mengatur, cemburuan, dan semacamnya. Membuat aku merasa dimilikinya. Hal ini yang membuatku belum pernah berpacaran dengan siapapun. Arga sudah lebih dari cukup. Dan saat Arga tidak ada seperti yang terjadi sejak kami kelas tiga SMA, maka tidak ada siapapun yang bisa menggantikan posisinya. Arga adalah segala hal yang menjadi semestaku.

Aku, Arga, Ditra, Dio, Dewa dan seluruh tim sedang melebur dalam obrolan santai. Seorang perempuan datang dari luar. Menggunakan gaun berbahan kaos dengan panjang selutut. Wajahnya tampak sangat menggemaskan dengan polesan make up yang profesional. Rambutnya dibiarkan terurai membuatnya tampak dewasa. Dia melangkah lebih cepat dan mengarah pada kami. Lalu menghentakkan jiwaku, dengan santai dia melebur ke pelukan Arga. Mencium pipi kanan dan kiri, merapuhkanku dalam hitungan sepersekian detik.

Ya, Arga memang masih sama seperti dulu. Dia selalu begitu. Dia selalu cemburu jika ada yang dekat denganku, selalu suka mengaturku, dan selalu bersikap memilikiku tapi harus memiliki yang lain untuk menyempurnakan apa yang tidak didapatnya dariku. Status kekasih. Ya, sampai kapanpun aku tak akan pernah rela menukar status persahabatan kami dengan status apapun. Arga seringkali berganti-ganti kekasih, tetapi persahabatan adalah status yang tak bisa digantikan.

"Nawa, kenalkan ini Rasi. Seperti yang kubilang, permintaanmu adalah perintah untukku. Kau memintaku agar berhenti mempermainkan wanita dan berhenti berganti-ganti kekasih. Aku dan Rasi sudah lima tahun berkekasih dan tahun depan kami berencana menikah. Seperti permintaanmu, aku selalu menepati janjiku, bukan?"

Aku hanya tersenyum, tidak bisa berkata apapun.

"Hei, senang bertemu denganmu Nawa. Semoga kita bisa bersahabat juga. Arga seringkali bercerita tentangmu, sahabat terbaiknya." Rasi mengulurkan tangannya.

Aku menatap uluran tangan itu dengan perasaan yang tidak bisa aku definisikan. Dengan senyum yang kuusahakan, aku menerima uluran tangan itu. Air mataku tidak boleh jatuh, walau harus menerima kenyataan bahwa kini semestaku meruntuh.

 

MORE ABOUT ME @

https://instagram.com/mannawassalwa9

https://linktr.ee/mannamoondot

https://www.youtube.com/c/MannaMoondot https://www.youtube.com/c/mkofficialchannel

Enjoyed this article? Stay informed by joining our newsletter!

Comments

You must be logged in to post a comment.