Profil instastories

My Husbando is Ember

My Husbando Is Ember

 

Gimana sih cara yang tepat untuk mengungkapka isi hati bahwa raga dan jiwa ini hanyalah milik sang terkasih?

 

Ini bukan kisa Dilan yang dengan mudah membuat kata-kata puitis agar sang pujaan jungkir balik mencintai kita.

 

Bukan juga kisah cinta antara Romeo dan Juliet yang mati bersama hanya karena cinta. Gila... Rugi Dunia akhirat kalo hal seperti itu terjadi.

 

Ini hanyalah kisah sederhana namun seindah bunga secerah mentari dan segila jiwa yang kerasukan.

 

"Ah Restu kamu sudah pulang nak?" Senyum manis semanis gula tidak membuat orang setampan Restu berpikir bahwa sang Ibu tengah berbaik hati menyambutnya pulang, akan tetapi ada hal tersembunyi dibalik senyum manis sang ratu di rumah ini.

 

Restu hanya nyengir gaje menanggapi senyuman sang Ibu. "To the point aja mam ada apa?"

 

Miranda bertepuk tangan, menggeser tempat duduk nya mempersilahkan sang anak untuk mendekat dan duduk di sampingnya. "Kamu memang anak mamah yang paling pekaan, tidak seperti kakak kamu yang jud-"

 

"Ssssstttt.... Ada apa mamah ku yang cantik." Tangan restu sudah gatal ingin menyumpal mulut ibunya.

 

"Dengerin mamah, tadi sahabat lama mamah berkunjung ke rumah sayang. Nah mamah dan dia membuat kesepakatan yang akan langsung kamu setujui, mamah sudah seratus persen yakin kalo kamu tidak akan menolak ini. Bahkan mamah yakin sekali kalo kamu akan setuju. Anak mamah yang tampan ini akan bersanding dengan Princess beautifull milik om Hans."

 

Tunggu dulu, apa tadi kata Miranda? Restu sungguh tidak mengerti dan otaknya yang pintar, kini sedang loading mengartikan perkataan sang mamih.

 

"Intinya?" Dengan tampang pelongo, Restu bertanya.

 

"Kamu akan mamah jodohkan." Miranda tersenyum bahagia setelah mengatakan maksudnya.

 

Kamu akan mamah jodohkan...

Akan mamah jodohkan...

Mamah jodohkan

Jodohkan...

Jodohkan...

 

Pandangan Restu memburam dan gelap, secara tidak etis Restu ambruk ke lantai dengan mulut menganga.

 

"Tidak!! Ini tidak adil." Pria dengan style rambut mirip oppa oppa korea itu menggebrak meja dengan keras, pasalnya hari ini sampai nanti, kehidupannya akan rumit melebihi kehidupan lajangnya. 

 

"Yudo sayank, dengerin mamah nak." Miranda menatap malang pada putra sulungnya yang kini tengah merjuk, pasalnya setelah mengetahui bahwa Restu akan dijodohkan dengan anak sahabatnya, Yudo langusng pasang urat. Menuding sang mamah dan adiknya bergantian. Dia tidak terima, ini sungguh tidak adil bagi Yudo. Dia yang lahir terlebih dahulu dan melihat Dunia ini lebih dulu dari Restu, kenapa Restu yang akan menikah duluan. 

 

Restu berjalan gontai menuruni tangga, tidak ada niatan menguping pada awalnya, hanya saja waktu Restu melangkah pada anak tangga pertama dia mendengar keributan yang tak lain adalah kakaknya. Mendengar apa yang dikatakan Yudo, Restu dengan langkah seribu langsung menuruni tangga.

 

"Nah kan mah, mamah dengar apa yang dikatakan Bang Yudo. Restu setuju mah, lebih baik mama menjodohkan Bang Yudo dengan anak dari sahabat mamah itu." 

 

"Bahkan Restu saja mengiyakan kemauan Yudo mah."

 

Miranda memijit pelipisnya secara perlahan, melihat adik kakak yang saling membela membuat kepalanya dilanda pusing. 

 

"Keputusan mamah sudah fiks tidak bisa diganggu gugat apalagi oleh papah!" Miranda melotot ke arah Rehan yang hendak memberikan penolakan, suami Miranda memang tidak setuju jika Restu yang akan menikah. Tapi apalah daya keputusan sang istri itu mutlak, jika dibantah maka tempat tidurmu bisa beralih ke sopa dingin nan sempit. Alasan Rehan tidak setuju adalah umur Restu yang masih muda dan masih sekolah menengah atas, tidak bisakah istrinya ini mengerti? 

.

.

 

Gadis berkacamata tebal berkepang dua kini menatap gerbang salah satu rumah milik mendiang kakeknya dengan tatapan horror. Benarkah ia akan tinggal ditempat seperti ini jika menolak permintaan sang mamah? Ataukah dia harus setuju dengan kehendak sang mamah? Jika ia setuju maka hobinya akan terbatasi. Ini sungguh menyebalkan sangat-sangat menyebalkan!

 

Diva membuang nafasnya secara kasar, ini akan mejadi hari yang rumit baginya , tapi sebuah ide melintas dalam benaknya. Siapapun tidak boleh ada yang menyentuh bahkan mengganggu hobinya.

 

 

 

Enjoyed this article? Stay informed by joining our newsletter!

Comments

You must be logged in to post a comment.

Stori terkait
Jul 8, 2020, 1:15 PM - Annisa mahmudah
Jul 6, 2020, 10:20 PM - Chocho_Yucho
Jul 3, 2020, 6:34 PM - Tjahjono widarmanto
Jul 3, 2020, 6:26 PM - Nnaga
Jul 3, 2020, 1:07 PM - Kristina Dai Laba
Jul 2, 2020, 2:25 PM - Mei Elisabet Sibarani