Profil instastories

Muslimah

MUSLIMAH

Muslimah seperti bunga. Jika bunga itu dirawat maka akan mekar dengan indah dan berbau harum. Namun jika bunga itu tidak dirawat maka ia akan layu. Tidak banyak yang mengetahuhi seperti apa muslimah sejati itu. Ada yang bilang seorang muslimah tidak bisa melakukan segala hal karna pakaian yang ia kenakan. Tetapi bagiku seorang muslimah bisa melakukan segalanya. Pakaian bukanlah tolak ukuran bagi seseorang untuk berkarya dan menjalani apa yang ia inginkan.

Menjadi seorang muslimah adalah karunia terindah yang telah Allah berikan padaku.

Dulu aku jauh dari-Nya. Sehingga dalam pandanganku seorang muslimah adalah wanita yang biasa saja. Hingga banyak kejadian yang menyadarkanku.

Dulu aku tidak berhijab, melakukan banyak kesalahan dan dosa.

Pacaran? Yah aku pernah.

Memabangkang keduang orang tua? Sering aku lakukan.

Pantaskan aku menjadi seorang manusia dan muslimah yang baik? Dulu mungkin aku tidak pantas, tetapi sekarang aku yakin aku pantas.

Dulu hijab bukanlah identitasku.

Dulu hijab bukanlah mahkotaku.

Dulu hijab bukanlah jati diriku.

Hingga satu peristiwa menimpaku........

Ada seorang pria yang katanya sangat mencintaiku, dia bahkan rela melakukan segalanya untukku. Aku percaya akan kesungguhannya, hingga membuatku berpikir jika dia segalanya bagiku juga. Hanya dengan mengingat namanya saja membuat jantungku berdebar. Aku terlalu jatuh dalam permainannya dan aku percaya semua perkataannya.

Setiap hari kami saling bertegur sapa. Pagi hingga malam tak pernah terlupakan untuk memberi kabar. Chattingan, telponan adalah hal biasa yang kami lakukan. Hingga suatu hari............

"Maukah kamu menikah denganku? Aku ingin selalu bersamamu dan membuatmu bahagia" itulah yang pernah dia tawarkan padaku.

Senang bukan main saat seseorang yang ku kagumi mengatakan hal itu. Tanpa pikir panjang aku mengangguk mengiyakan. Dan tak tahu bahwa perkataannya hanyalah sebatas menawarkan tanpa ada niat memberi.

Seminggu setelah perkataan itu dia pergi tanpa kabar. Hatiku resah dan gelisah.

Kemana dia pergi? Aku tak mengetahuinya. Ponsel dia tidak aktif dan membuat hatiku tak menentu.

Ku coba mencari tahu lewat sahabatku yang menjadi teman dia, bercerita banyak padanya dan tidak ada hasil apapun.

Ku rasakan hatiku kosong dan sepi. Menangis tak membuatku lega. Hingga hidayah datang melalui sebuah mimpi yang memperlihatkan ayahku yang tengah disiksa. Aku bangun dari tidur, melihat jam dinding menujukan pukul 01:23 malam.

Air mata mengalir dengan cepat. Aku sadar selama ini perbuatan yang ku lakukan salah dan merupakan dosa paling besar. Aku mendekati zina yang seharusnya dihindari.

Air wudhu membasahiku, dimalam yang dingin ku gelar sejadah dan melakukan shalat tahajud. Masya Allah, seketika hatiku menghangat. Perasaan kosong dan hampa terisi dengan kebahagiaan.

Seketika tangisanku kembali pecah. Dalam keheningan malam aku menangis dalam diam, bermunajat meminta ampun atas segala dosa yang telah aku lakukan. Dan bercerita tentang "dia".

.

Keesokan harinya. Mataku terasa berat namun perasaanku menjadi lebih baik. Ku lihat sehelai kain yang tak pernah kusentuh menggantung di pintu kamar, hatiku tertarik untuk mengambil dan mengenakannya.

Ku lihat pantulan diriku dicermin, lagi dan lagi hatiku merasakan ketenangan. Air mata mengalir tak tertahankan.

"Apa aku pantas mengenakannya?" bisikku.

"Masya Allah, kamu cantik sekali. Ibu bahagia kamu mulai berhijab" ucapan ibu menusuk relung hatiku.

Hijab? Yah, sehelai kain yang selama ini tak pernah aku sentuh dan selalu aku abaikan ternyata memberikan dampak yang luar biasa dalam hidup.

Ku dekap ibu menangis dalam pelukannya seraya berkata, "aku ingin berhijab."

Aku meminta maaf pada orang tuaku. Terutama ayah yang tanpa kusadari, aku telah mencelakainya dengan kelakuan burukku selama ini.

.

3 hari setelah memutuskan berhijrah dan berjilbab seseorang memberitahukan padaku bahwa pria yang pernah menawarkan niat baiknya pergi bersama wanita lain. Dan syukur Alhamdulillah aku tak lagi merasakan sakit hati. Kecewa memang, tapi aku sadar bahwa dia bukanlah yang terbaik untuk ku.

Allah telah menunjukan padaku siapa dia sebenarnya.

Ternyata keutamaan menjadi seorang muslimah adalah kebahagiaan terbesar bagiku. Lebih dekat pada Allah menjadikan hatiku tenang dan tak lagi merasakan kekecewaan. Ternyata dulu Allah mencemburuiku karna lebih berharap pada manusia ketimbang pada-Nya.

Ternyata Allah begitu memuliakan seorang muslimah, pakaian, tutur kata dan perbuatan telah diatur dengan sebaik-baiknya.

Setelah memutuskan berhijrah memang tidaklah mudah. Banyak cacian dan makian yang silih berganti dalam hidupku. Namun aku tahu harus menyikapi mereka seperti apa. Hanya sebuah senyuman yang selalu aku berikan pada mereka.

Berhijrah dan berjilbab adalah 2 hal yang membuatku merasa hidup. Dengan berjilbab aku menjadi seorang muslimah sejati, menunjukan siapa jati diriku. Ayah, ibu terima kasih sudah membimbingku dalam proses hijrah ini.

Aku senang menjadi seorang muslimah. Aku bangga menjadi seorang muslimah. Aku bahagia menjadi muslimah. Karna muslimah bisa menjadi apa yang ia inginkan berada dalam jalan kebaikan dan kebenaran.

Ternyata bunga tidak melulu harus dirawat oleh seseorang. Bunga bisa bermekar indah dengan sendirinya bahkan memberikan bau yang lebih harum berkat kemandiriannya.

Itulah jati diri seorang muslimah meskipun dirinya dibalut pakaian syar'i tetapi kecantikannya terpancar dengan indah. Dibalik luka yang pernah dirasakannya.

Enjoyed this article? Stay informed by joining our newsletter!

Comments

You must be logged in to post a comment.

Stori terkait
Jul 8, 2020, 1:15 PM - Annisa mahmudah
Jul 6, 2020, 10:20 PM - Chocho_Yucho
Jul 3, 2020, 6:34 PM - Tjahjono widarmanto
Jul 3, 2020, 6:26 PM - Nnaga
Jul 3, 2020, 1:07 PM - Kristina Dai Laba
Jul 2, 2020, 2:25 PM - Mei Elisabet Sibarani