Profil instastories

Musibah Dibalik Hujan Sore Itu

Musibah Dibalik Hujan Sore Itu

 

“Kring… kring….” terdengar bunyi bel sekolah tanda pembelajaran telah berakhir. Di balik jendela terlihat teman-teman ku berhamburan keluar kelas memadati lorong dan bergegas menuju tempat parkir. Hari itu tak ada firasat apa pun. Semua tampak baik-baik saja. Seperti biasanya, aku pulang dengan mengendarai motor matic kesayanganku.  Sampai di tempat parkir terdengar suara perempuan memanggilku. “Sindi...” teriak seseorang yang berlari ke arahku. “Sin, numpang pulang bareng kamu boleh? Tadi pagi diantar ibuku” tanya Rina. Rina adalah teman sekelas sekaligus sahabatku. Tanpa berfikir panjang aku pun membolehkan. 

“Sin, bagaimana kalau aku yang memboncengmu?” kata Rina sambil menawarkan bantuan. “Iya Rin, tidak apa-apa, selama kamu tidak keberatan.” ucapku. Hari semakin sore dan langit terlihat mendung. Ya, memang musim penghujan. Di tengah perjalanan, Rina tiba-tiba membuka kaca helmnya seolah ingin mengajakku berbincang-bincang. “Sin, nanti aku turun di depan rumah Bu Mila. Hari ini ada jadwal les” ucap Rina. Memang para siswa kelas 12 SMA sedang berlomba-lomba belajar giat dalam menghadapi ujian nasional yang tinggal beberapa bulan lagi. Mendengar permintaan Rina, aku pun tak merasa keberatan. Lagi pula rumah Bu Mila searah dengan rumahku dan jaraknya pun tak jauh dari sekolah.

Beberapa menit perjalanan, tibalah di rumah Bu Mila. Sesampai di sana hujan mulai turun, derasnya air hujan membasahi aspal jalan. Tampak para pengendara berhenti memarkirkan kendaraannya. Mereka berlari mencari tempat berteduh di tengah derasnya hujan dan suara petir yang menggelegar. Untunglah aku selalu membawa jas hujan dan kantong kresek besar dalam jok motorku. Ku pakai jas hujan dan segera memasukkan tas ke dalam kantong kresek. Aku sangat khawatir terhadap laptop dalam tasku. Hari itu memang ada jadwal membawa laptop untuk simulasi mengadapi ujian berbasis komputer bagi siswa kelas 12. Keadaan saat itu memang cukup mencemaskan. 

Hujan yang semakin deras dan angin yang begitu kencang menyelimuti suasana sore itu. Jam terus berputar, dan hujan pun belum reda. Rasa cemas menghantuiku. Dalam benak terlintas jelas betapa khawatirnya ayah dan ibu menanti kepulanganku, ingin rasanya segera pulang. Tampak Rina yang setia menemaniku sambil menunggu Bu Mila yang belum pulang dari tempatnya mengajar. Rina tampak iba dan tidak tega melihatku harus pulang di tengah derasnya hujan. Namun aku harus segera pulang. Ku nyalakan motor maticku tak lupa melambaikan tangan kepada Rina. Ia pun membalas lambaian tanganku “Hati-hati di jalan Sin.” ucap Rina. 

Di tengah perjalanan pulang, terlihat tas milikku basah karena kantong kresek terbuka. Saat itu aku begitu panik. Yang ada dipikiranku hanyalah kondisi laptopku. Sambil mengendarai motor tangan kiriku mencoba menutupi tas yang kebasahan sambil menunduk ke bawah. Karena sibuk melindungi tas, tak peduli keadaan sekitar. Tanpa sadar sebuah tiang listrik berdiri tegak tepat di depanku, aku pun tak bisa mengendalikan rem. “Gubrak….” suara keras motorku menghantam tiang seketika aku terjatuh dan sempat berusaha membuka helm lalu bangkit kembali. Namun, akibat kejadian itu tubuhku lemas dan tak sadarkan diri. 

Beruntung saat kejadian, ada seorang yang sedang berada di teras rumah tepat di depan lokasi kejadian. Segera ia berlari dan mencari bantuan “Tolong-tolong” teriak seorang ibu dengan wajah panik mencari pertolongan. Beliau berusaha mencari bantuan dengan menghentikan salah satu pengendara yang melintas. “Bapak minta tolong angkat wanita ini.” kata ibu tersebut. Mereka kemudian membawaku ke sebuah klinik yang tak jauh dari lokasi. Setelah beberapa menit aku pun tersadar, tampak di sampingku seorang wanita yang telah menolongku. “Nak, kamu sudah bangun, sebenarnya apa yang membuatmu terjatuh? apakah kamu mengantuk atau lapar? Tanya beliau seolah memastikan keadaanku. “Saya tidak mengingatnya bu, kejadian itu sungguh cepat.” jawabku sambil memegang pipi kanan yang lebam dan sedikit berdarah di bagian alis akibat terjatuh. Bergegas ku ambil handphone di dalam tas dan mengabari orang tua di rumah sambil menangis terisak-isak. Mendengar kabar itu orang tuaku panik dan ayah segera berangkat menjemputku di klinik.

Terlintas dipikiranku mengenai kondisi laptop ku setelah terjatuh dari motor. “Kondisi laptopku bagaimana bu ?” tanyaku. Dengan wajah kebingungan ibu itu pun menjawab “Laptop yang mana nak, ibu tidak melihatnya”. Seorang pria muncul dibalik pintu, sambil membawa tas ransel milikku “Ini tasmu tadi ikut terjatuh di genangan air.” ujar bapak itu. Segera ku buka isi di dalam tas, beruntunglah laptopku dalam keadaan baik-baik saja, rasa cemasku pun berkurang. Setelah itu bapak tersebut membawa motor maticku yang kondisinya sudah rusak parah akibat menghantam dan terjepit diantara tiang listrik dan tembok. Separuh bagian sudah retak, bahkan kaca spion dan lampu pun ikut pecah. Tak apalah yang terpenting kondisi ku saat ini tidak parah. Terdengar suara motor dari depan teras, nampak ayahku sudah datang. “Sebelumnya terima kasih sudah merawat anak saya dengan baik bu, semoga Allah membalas kebaikanmu.” ucap ayah. “Iya bapak sama-sama semoga lekas sembuh” jawab ibu yang telah menolongku. Kami pun terpaksa pamit pulang di tengah rintiknya hujan, sementara motor maticku dititipkan di sana untuk diambil esok hari. Sehari setelah kejadian itu kaki kananku Nampak lebam dan sakit ketika berjalan. Orang tuaku pun meminta untuk tidak masuk sekolah terlebih dahulu sampai kondisi ku membaik. 

Setelah dua hari tidak masuk sekolah, aku pun memutuskan untuk pergi ke sekolah karena hari itu ada ujian try out. Banyak teman-temanku yang merasa iba melihat ku, apalagi dengan kondisiku yang berjalan sedikit pincang karena menahan rasa sakit. Rina pun kaget, ia tak menyangka musibah saat hujan itu membuatku seperti ini. Karena merasa kasihan akhirnya sepulang sekolah Rina menawarkan diri untuk mengantarku pulang. “Sindi, kamu aku antar pulang ke rumah ya?” tawar Rina. Sebenarnya aku merasa tidak enak karena sudah merepotkan sahabatku itu, namun Rina terus memaksaku. “Ya sudah Rin, aku terima tawaranmu.” Akhirnya setelah beberapa menit kami pun sampai di rumahku. “Terima kasih Rin, sudah mengantarku sampai rumah” ucapku. “Iya, sama-sama Sin, semoga cepat sembuh kaki mu”. 

Dua minggu pun berlalu, rasa sakit di kakiku kini sudah mulai hilang, selama itu pula tanpa mengendarai motor rasanya sungguh berbeda. Tersimpan rasa trauma akan kejadian saat hujan itu. Hari ini pertama kalinya aku mengendarai motor maticku setelah apa yang telah menimpaku. Untungnya motor maticku masih bisa diperbaiki dengan mengganti beberapa bagian yang rusak dengan yang baru. Namun, perasaan takut, cemas masih menghantui. Rasanya seperti mengendarai motor untuk pertama kalinya dalam hidup. Laju kendaraanku tak seperti biasanya, kali ini berjalan sangat lambat dan begitu hati-hati. Seolah tak ingin kejadian itu terulang kembali. Sungguh kejadian itu memberikan pengalaman bagiku, untuk lebih berhati-hati dalam berkendara di jalan raya. 

Enjoyed this article? Stay informed by joining our newsletter!

Comments

You must be logged in to post a comment.