Profil instastories

Misteri Makam dan Peninggalan Kesultanan Banten

Senja telah dihantam petang, menyisakan

lelah pada manusia yang telah beraktivitas

seharian, seperti halnya Azis yang

mengendarai mobil dari Bogor menuju ke

Banten.

"Ki, masih jauh nggak sih? Pegel nih

tangan gue," seru Azis dengan raut

wajah kelelahan, namun tetap fokus

menyetir mobil sedan hitam, membelah

jalanan.

"Bentar lagi, Bang. Sabar ... kalau saya bisa

nyetir pasti kita gantian nyetir mobilnya,

sayangnya saya gak bisa nyetir mobil. Sorry

banget, Bang," jawab Riki yang duduk di

jok sebelah Azis.

"Yoi, gak papa, Bro. Selow."

"Eh, make up aku luntur gak sih?" tanya

Airin yang duduk di jok belakang bersama

Erna dan Rinda.

"Nggak kok," jawab Rinda.

"Meski tanpa make up, kamu tetep cantik,

Rin," kata Riki sambil tersenyum.

"Duh, adek gue kumat gombalnya," seru

Erna.

"Masa sih, Ki? Tapi aku gak percaya ah

kalau aku cantik tanpa make up, mataku

sipit gini tanpa maskara," jawab Airin

sambil memainkan matanya. "Erna, pinjem

kaca dong?" lanjutnya.

Riki tertawa kecil, diikuti gelengan pelan

kepala Azis mendengar percakapan

teman-temannya.

"Tuh di tas, ambil aja sendiri," ucap Erna

yang sibuk dengan gadget di tangannya.

Airin secepat kilat menyambar tas Erna,

mencari kaca. Namun karena terburu-buru

mengambil kaca itu, Airin menumpahkan

semua isi tas Erna.

"Rin, lu gimana sih? Ambil kaca aja sampe

tumpah segala?" umpat Erna ketika melihat

isi tasnya berantakan.

"Iya, maaf. Aku kan gak sengaja." Airin

memunguti barang-barang

Erna yang berjatuhan, dibantu oleh rinda.

"Alah, alasan aja lu. Ngeselin! Udah siniin

tas gue."

"Eh, kalian bisa diem gak sih? Gue gak

fokus nyetir nih!" ucap Azis.

Bruk! Tiba-tiba mobil yang mereka kendarai

menabrak sesuatu.

"Zis, kamu nabrak apaan?" tanya Rinda.

"Gak tau nih, perasaan tadi di situ gak ada

pohon. Tiba-tiba gue nabrak pohon. Maafin

gue, Sob. Tapi kalian semua gak kenapa-

kenapa kan?" tanya Azis.

"Saya sih gak papa, cuma kepala doang

agak pusing karena kebentur jok depan

tadi," kata Rinda.

"Lu mestinya belok tadi, Zis. Kenapa

lu lurus? Ya jelas aja nabrak." Erna

menggerutu sambil berkacak pinggang.

"Tadi kan gue udah biang, gue gak fokus

karena kalian ribut terus," tukas Azis.

"Eh udah dong, jangan berantem. Nyalain

aja mobilnya lagi, serem nih di sini banyak

pohon-pohon gede gitu," ucap Airin

ketakutan.

Azis pun mencoba menstarter mobilnya,

namun tidak bisa. Dicobanya lagi hingga

beberapa kali, namun mesin mobilnya tetap

tak menyala.

"Sial! Gak bisa nyala nih mobilnya," ucap

Azis sambil menghentakkan tangannya

di atas stir mobil.

Riki pun turun dari mobil untuk melihat

daerah sekitar, pandangannya terarah ke

segala penjuru, tak perlu waktu lama

untuknya mengenali tempat itu dan ia pun

langsung masuk kembali ke dalam mobil.

"Oke, temen-temen. Ini tempatnya udah

lumayan deket sama rumah bibi saya,

mendingan kita sekarang jalan kaki aja ke

sana. Tapi jangan ribut, jangan berantem

dan jangan banyak nanya. Lakuin aja apa

yang saya katakan, ini demi kebaikan kita

semua." Riki menjelaskan dengan wajah

serius. Teman-temannya pun mengangguk.

"Ki, mobil gue gimana?" tanya Azis

"Jangan banyak tanya, ayo buruan," ajak

Riki.

Mereka berlima pun keluar dari mobil dan

berjalan menuju rumah bibinya Riki yang

berjarak sekitar 1 KM dari mobil yang

mereka tumpangi, sesekali mereka berlari

kecil, hingga sampailah mereka di sebuah

rumah bercat biru.

Riki mengetuk pintu rumah itu,

"Assalamu'alaikum ... Bi, ini Riki.

Assalamu'alaikum ...."

Terlihat sebuah tangan menyingkap sedikit

gorden yang menutupi jendela, lalu

membukakan pintu dan mempersilakan

mereka masuk.

"Kalian terlihat terengah-engah,

memangnya kalian ke sini naik apa?" tanya

Bu

Darsih, bibinya Riki dan Erna yang tinggal

sendirian di rumah tersebut karena

suaminya bekerja di luar kota dan belum

mempunyai anak.

"Pake mobil, tapi mobilnya mogok. Jadi kita

jalan ke sini Bu," jawab Airin. "Eh, nabrak

pohon mobilnya. Gitu maksudnya,"

lanjutnya sambil membetulkan kuciran

rambut panjangnya.

"Iya, Bi. Mobilnya nabrak pohon di depan

makam stadion Maulana Yusuf itu, untung

gak kenapa-kenapa. Langsung aja saya ajak

mereka jalan kaki ke sini, bahaya kan kalau

lama-lama di sana," Riki menjelaskan.

"Bahaya kenapa, Ki?" tanya Azis.

"Oh tadi tuh makam Ki Tuan Syarif

Penancangan?" Erna menimpali pertanyaan

Azis.

"Iya. Tadi itu makam Ki Tuan Syarif

Penancangan atau lebih dikenal dengan

nama makam stadion Maulana Yusuf yang

merupakan salah satu tempat keramat di

Banten. Pemakaman dengan luas 1 hektar

itu ialah tempat disemayamkannya tokoh-

tokoh dan sesepuh Banten. Katanya,

banyak hal ganjil yang terjadi di sana,

pengendara yang lewat jalan di dekat

makam sering kehilangan kendali kemudi

kendaraannya manakala mereka

menampakan sikap arogan atau egonya,

akibatnya mereka mengalami

kecelakaan, ada yang luka-luka, patah

tulang dan meninggal dunia. Tembok

makam pun retak dan ada yang berlubang

karena seringnya terjadi kecelakaan di sana.

Kita patut bersyukur karena kita masih

selamat dari kejadian barusan." Riki

berkata panjang lebar.

"Ih .... Serem," ucap

Airin.

"Gue kira itu cuma mitos doang loh

Adek jelek," kata Erna sambil meledek

adiknya.

"Yee, makanya Kakak jangan

ngurusin skripsi yang gak kelar-kelar terus,"

balas Riki.

"Sudah, sudah ... yang namanya makhluk

gaib itu kan benar adanya, banyak

disebutkan dalam al-qur'an. Intinya, kita

sebagai manusia tidak boleh angkuh

berada di dunia ini, karena kita bukan satu-

satunya makhluk yang tinggal di dunia.

Jadikan ini sebagai pengalaman dan

pembelajaran untuk kalian. Sekarang, lebih

baik kalian istirahat. Katanya besok mau ke

keraton kesultanan Banten dan benteng

Speljwick? Tapi hati-hati ya kalau ke sana,

cepat pulang sebelum sore," ucap Bu

Darsih menengahi. Mereka semua

mengangguk, kecuali Azis.

"Eh, tunggu dulu. Mobil gue gimana?"

tanya Azis.

"Kalau orang arogan atau emosian

di sana aja kecelakaan, apalagi orang nyuri

di sana. Menurut Bang azis bakalan gimana

tuh orang? Lagian mobilnya dikunci kan? Di

sana juga ada Pak Aryo kok, penjaga

makam sana. Saya jamin besok mobilmu

masih ada di sana," kata Riki sambil

tersenyum.

Azis pun tersenyum seraya berkata:

"Bener juga lu, Ki. Kadang-kadang pinter

juga lu."

"Dari dulu, Bang ... dari orok

udah pinter, pinter nangis," jawab Riki.

"Kirain dari orok lu udah pinter

ngegombal, Ki." Azis menyikut lengan

Riki. Mereka pun tertawa mendengar

percapakan Riki dan Azis.

"Udah ah becandanya, aku ngantuk nih,"

ucap Airin.

"Ya udah, sana tidur Putri Airin yang manja,

kan kamu tidurnya bareng Kak Erna dan

Rinda. Jangan lupa doa ya," kata Riki.

Beberapa pasang kaki melangkah hati-hati,

menyusuri bangunan benteng dengan

tinggi 0,5 sampai 2 meter. Pemandangan

indah terlihat dari atas, sebuah sungai

mengalir, kelenteng yang berdiri megah,

serta lautan yang terlihat membentang.

"Baru kali ini aku jalan di atas

bangunan begini. Takut sih, tapi seru,"

ucap Airin.

"Ki, itu laut apa di sana itu?"

kata Rinda sambil menunjuk hamparan air

biru.

"Oh, itu pelabuhan Karangantu,

terhubung langsung dengan selat Sunda,"

jawab Riki.

"Adek jelek, pegangin tangan gue. Gue

takut jatoh," pinta Erna.

"Kakak nih nyusahin, tapi sini deh. Adekmu

ini siap pegangin," jawab Riki sambil

menggenggam tangan kakaknya yang

berjalan di belakangnya.

"Untung mobil gue gak kenapa-kenapa dan

bisa nyala, cuma bemper depan doang

penyok. Jadi setelah dibawa ke bengkel

langsung bisa kita gunain buat ke sini,"

ucap Azis menyeringai.

"Iya, Zis. Sesuatu tuh," kata Rinda.

Siang pun hampir luruh ditikam gelap.

Mereka bergegas keluar dari benteng

setelah puas berkeliling dan foto-foto.

Sekelebat bayangan tiba-tiba melintas di

depan mata Airin. Seketika ia menutup

mata dengan kedua tangannya untuk

beberapa saat hingga dirasanya bayangan

menyeramkan itu telah hilang. Saat dia

membuka mata, teman-temannya sudah tak

ada di dekatnya.

"Riki, Erna, Azis Rinda ... kalian kok

ninggalin aku sih. Aku takut," ucapnya

sendirian, sementara hari semakin gelap.

Teman-temannya sudah tak

terlihat, entah ke mana.

Airin segera mengeluarkan handphone dari

saku celananya.

"Ah, mana lobet lagi nih

HP."

Sebuah bayangan hitam datang

mendekatinya dari belakang, semakin dekat

dan semakin dekat.

"Aaaaaaaah," suara teriakan Airin

memenuhi seisi benteng.

Azis, Riki, Erna dan Rinda bergegas

memasuki mobil. Azis memasang sabuk

pengaman, begitu pun Riki.

"Eh, tunggu. Kayaknya ada yang kurang

deh," seru Erna.

"Apa?" tanya Riki.

"Eh, Airin mana? Kok gak ada?" Rinda

bertanya.

"Iya, Airin. Apa dia ketinggalan di benteng?"

Ucap Azis.

Rinda segera keluar mobil memeriksa

kemungkinan Airin berada tak jauh dari

mobil.

"Temen-temen, Airin ilang. Gak ada di deket

sini, jangan-jangan dia beneran ketinggalan

di benteng. Duh, gimana nih?" seru Rinda.

Riki, Azis dan Erna pun keluar dari mobil.

"Kalau Airin kenapa-kenapa gimana?

Benteng itu angker juga kan? Nanti gue juga

yang dimarahin nyokapnya Airin." Erna

panik, segera ia menelpon Airin namun

nomornya tak dapat dihubungi. "Mana HP-

nya gak bisa: dihubungi lagi," lanjutnya.

Azis memijat-mijat dahinya, sementara

Riki terdiam sejenak, lalu berkata: "Jangan

panik. Sekarang gini aja, saya sama Rinda

cari Airin di benteng, kalian berdua balik ke

rumah bibi kasih tau yang terjadi, telpon

polisi kek, apa kek, pokoknya nanti kalian

minta pendapat ke bibi. Oke Kak Erna, saya

bisa percaya Kakak dan Bang Azis kan?"

Erna dan Azis mengangguk.

"Pasti Ki, gue akan kembali secepatnya

nanti. Loe hati-hati sama Rinda ya, cari

Airin sampe ketemu," ucap Azis sambil

menepuk bahu Riki.

Mereka pun bergegas melakukan tugas

mereka masing-masing. Dengan kecepatan

tinggi Azis menyetir mobil agar segera

sampai ke rumah bibinya Riki dan Erna.

Setelah sampai di sana, Erna segera

menjelaskan apa yang terjadi pada bibinya.

"Apa? Bukannya bibi sudah bilang agar

jangan pulang sore-sore?" Bu Darsih

tampak kesal. "beberapa waktu yang lalu

ada isu tentang harta peninggalan

kesultanan Banten, orang-orang

berbondong-bondong mencari harta itu di

benteng Spelljwick yang dibangun di atas

reruntuhan keraton Surosowan pasca

penyerangan Sultan Ageng Tirtayasa, lalu

menurut kabar yang berembus arwah

pangeran Aryadillah yang merupakan anak

dari Sultan Maulana Hasanudin dan istri jin

marah. Memang, kematian pangeran

Aryadillah masih silang pendapat, ada yang

berkata bahwa sang pangeran menghilang

ke alam gaib atau negeri jin, ada juga yang

percaya bahwa pangeran Aryadillah gugur

saat berperang memperebutkan kekuasaan

di Palembang." Bu Darsih menghela napas

panjang. "seminggu sebelum kalian datang,

ada orang yang kesurupan di sana, katanya

makhluk halus yang masuk ke tubuh orang

tersebut ialah pangeran Aryadillah, dia

ingin warga tidak lagi mencari harta dan

mengacak-acak keraton Surosowan.

Pangeran Aryadillah baru mau keluar dari

tubuh orang tersebut setelah dibawa ke

kuncen kuburannya yang ada di Banten,

makam kalian lewati kemarin." Bu Darsih

menuturkan panjang lebar.

"Pantas saja tadi di benteng sepi. Cuma ada

kita berlima yang main di sana, padahal

kata Riki tahun lalu bentengnya rame,"

ucap Erna.

"Lalu, bagaimana dengan teman

kami, Bu?" tanya Azis.

"Ibu juga nggak tahu, karena ada juga yang

hilang di sana, sampai sekarang belum

kembali," kata Bu Darsih.

"Dret! Dreet!" Tiba-tiba handphone Azis

bergetar, sebuah SMS masuk dari Riki

yang memintanya untuk segera datang ke

benteng. Azis dan Erna pun segera pergi

kembali ke benteng, tak lupa mereka

berpamitan pada Bu Darsih terlebih dahulu

dan meminta doanya.

"Angkat tangan! Jangan bergerak, kalian

sudah kami kepung! Letakkan semua

senjata yang kalian punya ke tanah," seru

komandan polisi yang telah datang ke

benteng bersama pasukannya, beserta Azis

dan Erna.

"Terima kasih anak muda, tanpa kalian kami

tidak akan bisa menangkap banda narkoba

yang sedang kami buru," ucap komandan

polisi pada Riki, Azis, Erna dan Rinda

setelah pasukannya membekuk beberapa

orang berbadan tegap dengan baju warna

hitam dan penutup kepala yang sedang

membawa 7,5 Kg sabu-sabu dan 3,5 kg

ganja.

"Sama-sama, Pak. Kalau bapak butuh

kesaksian, kami siap menjadi saksi," jawab

Riki bersemangat.

"Tentu, silakan datang ke kantor kami besok

pagi," ucap komandan tersebut.

"Eh, kok kamu tahu sih Adek jelek kalau

mereka itu bukan hantu tapi bandar

narkoba?" tanya Erna.

"Penasaran ya? Siapa dulu dong, adiknya

Kak Erna," jawab Riki. "eh, Airin ada di

pojokan atas sana tuh,

tolongin dulu yuk? Dia dibius kayaknya.

Nanti saya ceritain deh detailnya," lanjut

Riki.

Mereka pun menolong Airin yang

belum sadarkan diri di pojok atas

bangunan benteng. Setelah itu, Riki

mengatakan pada teman-temannya

bahwa saat dia dan Rinda mencari Airin,

mereka melihat sinar merah terang di atas

menara pantau benteng, Riki menyuruh

Rinda memotretnya dengan handphone,

ternyata itu ialah sinar laser yang

digunakan untuk memberi kode dengan

sandi morse ke pelabuhan Karangantu.

Para pemasok narkoba itu

menyembunyikan narkoba di bagian bawah

benteng yang tak bisa dijangkau

pengunjung lain untuk mereka amankan

dari polisi. Saat pengamanan di pelabuhan

lemah, bandar narkoba itu segera mengirim

barang haram itu ke pelabuhan untuk

menyebrangi selat sunda dan sampai ke

pulau yang mereka tuju. Isu arwah sesepuh

dibuat hanya untuk memastikan narkoba

yang mereka simpan aman, begitupun

orang-orang yang mereka bayar untuk

berpura-pura kesurupan. Riki

mengetahui penyimpanan narkoba di

benteng tersebut karena ia melihat bekas

kolam di sisi belakang atau sisi selatan yang

menempel pada benteng seperti baru digali

dan ada bubuk putih sedikit berserakan di

sana, serta percakapan para kurir narkoba

itu Riki dan Rinda dengar dengan jelas.

Mereka tak memungkiri bahwa benteng

tersebut memiliki penunggu, karena mereka

diarahkan oleh sesosok bayangan besar

yang mereka ikuti hingga mengetahui

kejahatan yang tersembunyi itu.

Enjoyed this article? Stay informed by joining our newsletter!

Comments

You must be logged in to post a comment.

Stori terkait
Jul 8, 2020, 1:15 PM - Annisa mahmudah
Jul 6, 2020, 10:20 PM - Chocho_Yucho
Jul 3, 2020, 6:34 PM - Tjahjono widarmanto
Jul 3, 2020, 6:26 PM - Nnaga
Jul 3, 2020, 1:07 PM - Kristina Dai Laba
Jul 2, 2020, 2:25 PM - Mei Elisabet Sibarani