Profil instastories

Menulis dengan hati yang ikhlas dan jiwa yang tenang

Mirna

MIRNA

Oleh:Cahya Gumilar

(1)

Mirna... Seorang gadis desa usianya baru sembilan belas tahun.

Mirna hanya tamatan sekolah menengah pertama (SMP). Karna keterbatasan ekonomi, orang tuanya tidak mampu lagi untuk melanjutkan sekolah Mirna ke tingkat SMA, keseharian Mirna hanya bantu-bantu dirumah, tidak ada kegiatan lain selain itu. Terkadang Mirna juga suka membantu orang tuanya di ladang, untuk sekedar bercocok tanam, atau merabuk tanah.

Sejatinya Mirna punya cita-cita yang tinggi. Dia ingin menjadi seorang dokter, namun Mirna harus ikhlas menerima kenyataan, cita-cita yang  diimpikan hanya tinggalah angan-angan.

Mirna faham dengan keadaan ekonomi orang tuanya. Mirna ingin bekerja dan mendapatkan penghasilan untuk membantu dan membahagiakan mereka.

°°°

Hari itu Mirna kedatangan seorang tamu... Namanya Ara teman sekolah dulu, waktu masih duduk dibangku SMP, dan Ara juga masih satu kampung dengan Mirna.

“Assalamualaikum...”

Terdengar suara salam dari luar.

Mirna bangkit dari tempat duduk dan langsung membuka pintu.

“Oh. Kamu ra, silahkan masuk” sambut Mirna dengan sikap ramah.

“Iya mir” jawab Ara, sambil melangkah masuk. 

“Mau minum apa ra?”

“Tidak usah mir, aku tidak lama”

“Aku kesini mau ngajak kamu kerja” sambung Ara.

“Kerja apa ra?”  tanya Mirna dengan penuh rasa penasaran.

“Kerja di restoran,kira-kira kamu mau tidak mir?” ucap Ara, dengan menatap wajah Mirna.

Mirna mengerutkan kening.

“Aku sih mau-mau saja, saat ini aku lagi butuh kerjaan buat bantu-bantu ekonomi orang tua. Tapi aku harus izin dulu sama mereka”

“Iya santai saja mir, kamu bicarakan dulu sama orang tua kamu, nanti kalau sudah di izinkan, kabarin aku. Nomer hp aku masih ada kan?” 

“Iya masih aku simpan ra,nanti aku kabarin kalau sudah dapat izin” balas Mirna.

“Ya sudah kalau begitu aku pamit dulu yah? salam buat orang tua kamu”

“Iya terima kasih banyak ra, nanti aku sampaikan”

Setelah pamitan, Ara langsung melangkah keluar rumah. Mirna mengikuti langkah Ara sampai kedepan rumah...

Kehadiran Ara, membuat Mirna senang. Karna ada kabar baik dari Ara untuknya, apa yang Mirna harafkan akhirnya datang juga.

“Semoga. Abah dan Emak mengizinkan” Gumam Mirna penuh harap.

°°°°°°°°°°°°

Sore harinya...

Mirna langsung memberi tahu Emak, tentang kedatangan Ara.

‘’Mak...tadi siang ada Ara ke sini.’’ ucap Mirna memulai pembicaraan.

“Anaknya  Pak Memed servis tv itu, bukan?”

“Iya mak...!”.

“Ada perlu apa Ara kesini?” Emak kembali bertanya sambil menatap wajah gadis semata wayangnya.

“Ara ngajak Mirna kerja mak”

“Kerja dimana nak?”

“Katanya sih kerja di restoran” Jawab Mirna.

“Kamu izin ke Abah dulu,kalau Emak sih tergantung Abah mu” jawab Emak sambil mengelus-ngelus pundak Mirna.

‘’Iya mak nanti Mirna bicarakan ke Abah”

Setelah itu Mirna bergegas mandi untuk segera melaksanakan sholat ashar. Dan Emak kembali ke dapur untuk melanjutkan masak, karna Emak sudah lebih dulu melaksanakan sholat ashar.

Setelah selesai melaksanakan sholat, Mirna kembali ke dapur, membantu Emak mengupas singkong.

Emak begitu menyayangi Mirna, sebaliknya Mirna juga sangat sayang terhadap Emak, tak pernah sekalipun Mirna membantah atau melawan sama Emak.

Mereka terlihat begitu bahagia meskipun hidup dalam kesederhanaan. Tak ada keluh kesah, mereka mensyukuri sekecil apapun nikmat yang Tuhan berikan.

Di luar rumah terlihat ada seorang pria tua menggenggam cangkul berjalan menuju ke arah pintu...

“Assalamualikum” suaranya pelan hampir tak terdengar.

“Walaikum salam” jawab Mirna, bangkit dan segera membuka pintu.

Setelah pintu dibuka, ada sosok pria tua yang berdiri tepat di depan pintu.Rambutnya terlihat sudah memutih dan raut wajahnya sudah mulai keriput. Dia adalah Ayahnya Mirna yang biasa dipanggil Abah.

“Abah sudah pulang” sambut Mirna, dengan mencium tangan Abah.

“Iya nak” jawab Abah dengan melangkahkan kakinya masuk kedalam rumah. 

 

(2)

Mirna kembali ke dapur untuk menyelesaikan pekerjaannya, tidak terasa hari semakin sore dan matahari sudah mulai terbenam, itu tandanya malam akan segera datang menggantikan siang. Sayup-sayup terdengar merdunya suara adzan tanda masuk waktu magrib.

Selesai mandi Abah langsung berangkat ke Musola, sedangkan Emak dan Mirna melaksanakan sholat magrib di rumah.

Setelah usai melaksanakan sholat, mereka kembali berkumpul di ruang tengah. Emak menyajikan singkong rebus dan segelas kopi pahit kesukaan Abah.

“Tadi siang ada Ara kesini nemuin Mirna. Ara ngajak Mirna kerja di restoran” ucap Emak lirih, memulai percakapan.

“Restoran yang di cikampek itu?” tanya Abah dengan mengunyah singkong rebus.

“Bukan di cikampek bah, tapi di jakarta” jawab Emak, menjelaskan.

‘’Boleh kan bah?” timpal Mirna sambil menatap wajah Abah, penuh harap.

“Abah izinkan, yang penting kamu jangan lupa ibadah”

“Iya Bah Mirna akan berusaha taat dan patuh dengan pesan Abah. Insya Allah Mirna bisa jaga diri” Mirna meyakinkan Abah dengan lemah lembut.

Akhirnya kedua orang tua Mirna, sepakat dan  mengizinkan, walaupun mereka sangatlah berat, berpisah dengan putri semata wayangnya. Namun itu semua sudah menjadi ke inginan Mirna, untuk bekerja agar bisa membantu kedua orang tuanya.

Abah dan emak tidak dapat menolak kehendak putrinya. Mereka hanya berharaf Mirna bisa menjaga diri dan sukses dalam pekerjaannya.

Esok harinya. 

Mirna langsung menghubungi Ara dengan telpon seluler miliknya. Mirna memberi tahu Ara, bahwa dia sudah dapat izin dari kedua orang tuanya.

 Ara sepakat untuk menjemput Mirna tiga hari kedepan. Mirna langsung memberi tahu orang tuanya.

“Mak hari selasa Mirna berangkat ke jakarta, nanti Ara yg jemput kesini”  ucap Mirna dengan mata berkaca-kaca, antara bahagia bisa mendapatkan pekerjaan, dan sedih harus meninggalkan kedua orang tua, yang sangat ia sayangi.

“Iya Emak doakan,semoga kamu sukses disana, jangan pernah ada alasan untuk meninggalkan sholat” ucap Emak dengan nasehat-nasehatnya.

Mirna hanya diam sesekali menganggukan kepala, sebagai tanda menerima nasehat dari Emak. Sebenarnya Mirna merasa berat, meninggalkan kedua orang tuanya, tapi semua demi masa depan, Mirna ingin membahagiakan Emak dan Abah.

Tiga hari kemudian. Tepatnya hari selasa pagi, Ara datang menjemput Mirna, untuk berangkat ke jakarta. Dengan mengendarai mobil sedan berwarna merah, sesampainya di depan rumah Mirna. Ara mengetuk pintu dan mengucap salam.

“Assalamualaikum”

“Walaikumsalam” jawab Abah dari dalam rumah, sembari membuka pintu.

“Oh nak Ara, silahkan masuk nak?” sambut Abah.

Kemudian Ara meraih tangan Abah dan menciumnya, sebagai ungkapan rasa hormat terhadap orang tua.

“Silahkan duduk nak”  Abah mempersilahkan Ara untuk duduk.

Setelah dipersilahkan. Ara langsung duduk berhadapan dengan Abah, dan tidak lama kemudian, Mirna dan Emak keluar dari kamar. Mereka langsung ikut duduk bersama.

“Abah titip Mirna ya nak” Abah memulai pembicaraan, nada suaranya begitu berat nampak kesedihan dari raut wajah Abah.

“Iya bah” saya janzi akan jaga Mirna dengan baik,  jawab Ara lirih penuh hormat.

Setelah itu Mirna langsung berkemas dan langsung pamitan kepada kedua orang tuanya.

Mirna merangkul Abah dan Emak, mendekap dengan penuh cinta dan kasih sayang. Membuat haru suasana pagi itu.

“Doakan Mirna ya bah, Mak”

Abah dan Emak kelihatan begitu sedih. Ini pertama kali mereka harus rela melepas kepergian putri semata wayang nya.

Dengan berat hati Mirna melangkahkan kaki menuju mobil.

Mirna langsung masuk kedalam, dan melambaikan tangan ke arah Abah dan Emak.

Ara mulai mengemudikan mobilnya, perlahan mobil berjalan meninggalkan halaman rumah.

Abah dan Emak masih tetap berdiri di depan rumah sambil terus memandangi mobil yang sudah melaju.

Perjalanan dari Karawang ke jakarta hanya memakan waktu dua jam saja.

Pukul 09-35. Ara dan Mirna sudah sampai di jakarta.

“Mir kita makan dulu yah,sekalian istirahat” 

“Iya ra” Jawab Mirna pelan.

Mereka berdua turun dari mobil, dan langsung masuk ke salah satu rumah makan yang ada di pinggir jalan.

Selesai makan. Ara dan Mirna kembali masuk ke mobil, untuk melanjutkan perjalanan mereka.

Di dalam mobil. Mirna hanya bengong dan merasa takjub, melihat suasana kota jakarta yang dipenuhi gedung-gedung bertingkat. Maklum ini kali pertama Mirna ke Kota jakarta.

Lima belas menit kemudian. Ara membelokan mobilnya menuju ke tempat parkir. Tepat di depan gedung berlantai dua dengan tulisan Japan resto kamaguci.

 

(3)

“Sudah sampai, ayo kita turun mir”

Mereka berdua keluar dari mobil, dan berjalan menuju ke arah gedung restoran tersebut. Mirna berjalan di belakang Ara dengan menggendong tas warna hitam.

Sesampainya di dalam. Ara disambut oleh para karyawan restoran.

“Selamat siang pak” sapa dari salah satu karyawan dengan membungkukan badannya sebagai tanda hormat kepada Ara.

“Siang juga” jawab Ara dengan melontarkan senyum ke arah karyawan itu.

Ara berjalan menuju satu ruangan, di ikuti Mirna di belakangnya. Kemudian Ara membuka pintu ruangan itu, dan mempersilahkan Mirna untuk masuk kedalam.

“Ayo silahkan masuk mir”

Mirna hanya menganggukan kepala, dan langsung masuk ke dalam.

“Silahkan duduk mir” Ara mempersilahkan Mirna duduk.

Mirna langsung duduk.  Pandangannya tertuju ke seputar ruangan tersebut, dalam benaknya timbul satu pertanyaan, apa jabatan Ara direstoran tersebut.

Terlihat Ara menekan tombol warna hijau yang ada di meja kerjanya.

Tak lama kemudian “tok tok” Suara ketukan pintu.

“Silahkan masuk”  jawab Ara.

Seorang karyawan masuk.

“Ada yang bisa saya bantu pak” Kata karyawan itu, dengan sikap sopan.

“Tolong buatkan air minum dua, orange jus” perintah Ara dengan suara lirih.

“Baik pak” jawab karyawan tersebut, sambil berjalan keluar untuk mengambil air minum.

Selang beberapa menit... Karyawan itu kembali masuk keruangan, dengan membawa dua gelas air minum orange jus dan di letakannya di atas meja.

“Silahkan diminum pak, mbak”

“Oh iya Mbak” jawab mirna sambil tersenyum ke arah karyawan itu.

Karyawan itu kembali keluar.

“Maaf ra posisi jabatan kamu di restoran ini sebagai apa?” tanya Mirna.

Ara menjawab sambil tersenyum.

“Aku manager disini”

Mirna kaget dan tidak pernah menduga sebelumnya, karna selama ini Ara yang Ia kenal, hidupnya cenderung sederhana. Dia tidak pernah menampakan dirinya sebagai orang sukses.

“Besok kamu langsung kerja yah...setelah ini aku bantu carikan kost-kost'an”

“Iya ra” jawab Mirna.

“Mir kamu isi pormulir ini, untuk pembuatan kartu atm”

Ara menyerahkan beberapa lembar kertas pormulir untuk Mirna isi. Mirna langsung mengisi pormulir tersebut.

Setelah semuanya selesai.

Ara mengajak Mirna untuk mencari rumah kost'an, sebagai tempat tinggal Mirna. Sebelum ketempat kost'an, Ara mampir di sebuah mini market, untuk membeli segala kebutuhan Mirna, sebagai bekal di tempat kost'annya nanti.

Tidak terlalu sulit untuk Ara mencarikan rumah kost buat Mirna, karna di belakang restoran banyak sekali rumah-rumah kost'an.

Setelah mendapatkan kost'an. Mirna langsung menempatinya, dan Ara langsung kembali ke restoran untuk melanjutkan pekerjaannya.

Ke esokan harinya...

Pukul 04_30. Terdengar suara adzan berkumandang tanda waktu subuh sudah tiba...

Mirna Terbangun dari tidurnya, Mirna langsung mandi, setelah selesai mandi, Mirna segera melaksanakan sholat subuh dengan khusyu. Mirna juga tidak pernah lupa ketika selesai sholat, selalu menyelipkan doa-doa untuk kedua orang tuanya.

Usai melaksanakan sholat. Mirna langsung memasak, untuk kebutuhan sarapan pagi.

Semua keperluan di kost'an, sudah di persiapkan kemarin siang. Ara membeli banyak kebutuhan dapur untuk Mirna.

Mulai dari beras,mie instan,naget dan berbagai keperluan lainnya, Ara paham apa yang dibutuh kan oleh sahabatnya itu.

Pukul tujuh. Mirna langsung berangkat ke restoran dengan berjalan kaki, karna letak restoran dengan kost'an jaraknya sangat dekat. Kost'an Mirna berada di belakang restoran tempat dia kerja.

Mirna berjalan menyusuri gang kecil menuju ke restoran. Tiba direstoran Mirna di sambut dengan senyuman khas dari Pak Nur, sapaan akrab untuk Pak Nurman seorang security direstoran itu.

“Pagi mba” sambut Pak Nur dengan sikap hormatnya.

“Pagi juga pak” jawab Mirna.

‘’Kemarin Pak Ara titip pesan sama saya, mba disuruh menunggu, di ruang tunggu dibelakang pos” imbuh Pak Nurman menyampaikan pesan sambil jempolnya di tujukan ke arah pos, tanda mempersilahkan Mirna untuk menunggu disana.

Mirna tersenyum dan menganggukkan kepala ke arah Pak Nur, sambil melangkah menuju tempat duduk di ruang tunggu belakang pos security.

Tidak lama kemudian.

Ara datang dengan mengendarai sepeda motor. Ara behenti tepat didepan ruang tunggu. Ara membuka helm dan memerintahkan Pak Nur, untuk memarkirkan motor besar nya itu.

(4)

Pak Nur dengan sikap tegak memberi hormat kepada Ara.

“Siap pak”

“Laksanakan komandan” jawab Ara sambil tertawa lepas.

“Ra kamu bawa motor?” tanya Mirna, bergeser memberi tempat duduk untuk Ara.

Ara duduk disamping Mirna, menghela nafas kemudian menjawab pertanyaan Mirna, dengan tatapan tajam dan senyum khasnya.

“Jakarta macet mir”

“Kamu sudah sarapan belum mir” sambung Ara....

“Sudah ra, tadi sebelum berangkat, aku sarapan di kost'an” jawab Mirna, sambil memegang tas kecil yang di bawanya.

Selang beberapa menit kemudian.

Karyawan-karyawan restoran yang lain, sudah berdatangan dan mereka langsung melakukan aktivitas di bagian masing-masing. Ara dan Mirna langsung masuk kedalam.

Sebelum memulai pekerjaan Ara mengajak Mirna ke ruangannya, untuk menjelaskan bagian apa yang harus Mirna kerjakan  di restoran itu.

Sangat mengejutkan, dengan bermodalkan pendidikan SMP, Mirna di berikan kepercayaan untuk menjabat sebagai pengatur keuangan, atau bagian accounting.

Jabatan itu sudah menjadi keputusan Ara sebagai manager di restoran itu, dan sudah dapat persetujuan dari owner restoran.

Mirna sangat menikmati pekerjaannya. Ara selalu membantu menjelaskan jika ada hal yang tidak di fahami oleh Mirna.

Mirna mendapatkan gaji yang cukup lumayan dari hasil kerjanya, dan bisa membantu perekonomian orang tuanya dikampung.

Tak terasa waktu berjalan begitu singkat. Hampir satu tahun Mirna bekerja di restoran itu. Mirna sudah beberapa kali kirimkan uang ke orang tuanya di kampung, dan untuk di jakarta pun Mirna sudah mapan, tabungannya sudah mulai banyak.

Mirna percaya dan yakin ini semua berkat kekuatan doa orang tuanya. Walaupun minim dalam pendidikan, akan tetapi Mirna sudah mendapatkan kepercayaan, melebihi kepercayaan yang di berikan kepada karyawan lain, yang berpendidikan lebih tinggi dari dia.

Sore itu sekitar pukul empat...

Mirna sedang santai di dalam ruangan, setelah seharian di sibukkan dengan pekerjaannya.

Terdengar ketukan pintu

”Tok-tok”

“S0ilahkan masuk” ucap Mirna sambil menatap ke arah pintu.

Lalu terbukalah pintu ruangan kerja Mirna.

Nampak seorang ibu muda berkulit putih dan bermata sipit.

Mirna bangkit dan langsung menghampiri ibu itu. Dengan sikap ramah Mirna mempersilahkan ibu itu untuk duduk.

“Silahkan duduk bu” ucap Mirna dengan tersenyum, dan sedikit membungkukkan badan, sebagai bentuk rasa hormatnya terhadap ibu itu.

“Iya terima kasih mir” jawab ibu itu, dengan balasan senyum ke arah Mirna.

Lusiana kamaguci. Beliau adalah pemilik restoran “Japan resto kamaguci”

Beliau keturunan jepang, ibunya orang sunda, dan ayahnya berasal dari jepang.

“Sebentar bu saya ambilkan air minum dulu” kata Mirna.

“Tidak usah mir, saya tidak lama hanya mampir saja, sebentar lagi mau ke cabang yang ada di bekasi”  jawab Bu Lusi

Mirna kembali duduk, mereka saling berhadapan, raut wajah Mirna terlihat begitu gugup.

“Saya kesini, ingin menyampaikan kabar baik buat kamu mir”

“Kabar baik tentang apa bu” jawab Mirna dengan penuh rasa penasaran.

“Setelah satu tahun lebih kamu bekerja di sini, saya perhatikan pengaturan uang keluar lebih efisien, dan untuk pengaturan lainnya pun, tertata rapi. Dulu saya sempat ragu dengan kemampuan kamu, tapi kamu sudah membuktikan kepada saya, dan juga kepada Ara sebagi manager resto ini. Ternyata kamu jauh lebih baik dari dugaan saya” imbuh Bu Lusi. Menjelaskan perihal kedatangannya dengan suara yg lirih, sesekali Bu Lusi melontarkan senyum ke arah Mirna, sangat detil dan penuh sanjungan.

Mirna hanya diam, menyimak perkataan Bu Lusi.

“Kabar baik berikutnya. Saya membuka cabang di Kota karawang, cabang baru itu nanti kamu yang kelola” sambung Bu Lusi sambil menatap wajah Mirna.

Mirna sangat terkejut, seakan-akan tidak percaya dengan keputusan bos nya itu.

‘Mohon maaf sebelumnya bu, apa ibu tidak salah dengan keputusan ibu, yang mempercayakan cabang baru kepada saya?” jawab Mirna dengan suara pelan.

“Semua sudah menjadi keputusan saya, serta dapat dukungan dari semua staf perusahaan kita” pungkas Bu Lusi menegaskan.

“Iya bu semoga saya amanah dengan jabatan baru nanti”

Mirna akhirnya menyetujui, apa yang sudah diputuskan Bu Lusi sebagai bos besarnya.

Setelah obrolan mereka selesai. Bu Lusi, langsung pamit dan meninggalkan ruangan itu.

Mirna kembali melakukan aktivitasnya.

Jarum jam sudah menunjuk ke arah pukul tujuh malam. Mirna baru saja selesai mendata keperluan belanja untuk besok. Mirna menghela nafas dalam, dan bersandar ke kursi, matanya menatap tajam mengamati semua isi dalam ruangan itu.

(5)

“Alhamdilillah... Ya Allah, atas berkah rizki yang telah Engkau anugerahkan untukku” gumam Mirna.

Tiba-tiba terdengar bunyi ketukan pintu.

Tok...tok...

“Assalamualikum”

“Walaikumsalam” jawab Mirna.

Pintu pun terbuka, nampak pria tampan dengan kemeja biru, dan jam tangan di lengan kanannya, terlihat gagah dan berwibawa.

“Silahkan duduk ra” sambut Mirna dengan melontarkan senyum.

Ara terlihat begitu sumringah dan bergegas masuk kedalam, dan langsung duduk di sofa ruangan itu.

“Sukses ya mir, kamu dapat kepercayaan dari Bu Lusi”

“Iya ra, ini semua berkat kamu juga” jawab Mirna, sambil merapikan berkas-berkas yang berserakan di atas  meja kerjanya.

“Pulang kerja, aku traktir kamu makan yah?” sambung Mirna.

“Ok siap, ibu manager baru” Jawab Ara sedikit bergurau.

Diantara mereka terlihat begitu akrab. Ada benih-benih cinta yang tumbuh diantara keduanya, namun mereka berdua begitu kuat menahan perasaannya. Mereka enggan untuk saling mengungkapkan perasaan yang selama ini terpendam.

°°°

Waktu terus berjalan, tak terasa jam dikantor sudah menunjukan pukul sepuluh malam. Waktunya Mereka pulang.

“Ayo Mir kita pulang?’’ ajak Ara dengan lirih.

“Makan malam dulu ra” Mirna mengajak Ara untuk makan malam, seperti yang tadi dia janzikan. Ara setuju, namun sebelum keluar restoran Ara bantu-bantu karyawan dulu, untuk menutup restoran.

Setelah semua selesai, Ara dan Mirna langsung berangkat ke tempat makan langganan mereka, tidak jauh dari tempat kost'an Mirna. Ara sangat menikmati malam itu dengan suasana hati yang bahagia.

Nampak jelas kemesraan di antara mereka. Selesai makan mereka tidak langsung pulang. Keduanya memilih untuk bersantai, menikmati suasana malam yang indah. Setelah seharian mereka disibukan dengan pekerjaan.

“Besok aku libur mir Ara mengawali pembicaraan.

“Ooh, iya ra” jawab Mirna dengan senyuman manisnya, yang membuat hati Ara luluh, dan semakin membuat perasaan cintanya membahana.

“Jangan terlalu sering menatap wajahku mir, nanti kamu terpesona dengan ketampananku” timpal Ara.

Mirna hanya tersenyum sambil memandangi jalanan kota yang masih dipadati ribuan kendaraan. Seakan-akan Mirna tak peduli dengan perkataan Ara. Sikap Mirna sangat bertolak belakang dengan hati dan perasaan yang sesungguhnya.

Sejatinya Mirna itu sangat menyayangi Ara, dan kagum dengan sikap Ara, yang rendah hati dan pengertian, serta sopan terhadap orang lain, sekalipun itu bawahannya.

Malam semakin larut, hembusan angin terasa dingin menyentuh tubuh. Hampir dua jam kebersamaan mereka di tempat itu.

Kemudian, Ara menyarankan Mirna untuk pulang, karna besok pagi Mirna harus kembali kerja.

“Sudah malam mir, kamu pulang saja, besok kan kamu kerja”

“Terus kamu gimana?” Tanya Mirna lirih.

“Aku juga langsung pulang,tapi kamu aku antar dulu yah”

“Tidak usah ra, aku jalan kaki saja” jawab Mirna.

Setelah itu. Mirna langsung pulang duluan, dengan berjalan kaki menuju ke tempat kost'an nya, yang jaraknya tidak jauh dari tempat itu.

Ara terus memandangi langkah Mirna, sampai Mirna masuk ke dalam gang, dan menghilang dalam pandangannya.

Ara menghela napas panjang.

“Aku harus mencari waktu yang tepat untuk mengungkapkan perasaanku ini” gumam Ara.

Suasana malam semakin larut perlahan keadaan mulai sepi. Kendaraan yang berlalu lalang terlihat mulai berkurang. Ara masih tetap bertahan ditempat itu, nampak kegundahan menyelimuti jiwa dan pikirannya.

Tiba-tiba hp Ara berdering keras tanda ada panggilan masuk, Ara menyentuh layar hp nya dan menerima panggilan itu.

 “Ada apa mir?” tanya Ara lirih.

“Kamu sudah pulang ra?” jawab Mirna dengan balik bertanya.

“Belum mir!”

“Cepetan pulang sana, nanti kamu masuk angin” perintah Mirna dengan bentakkan manja.

“Iya bu manager, ini aku sudah siap-siap pulang” jawab Ara sambil berjalan menuju ke arah motornya, yang terparkir tepat di bahu jalan.

“Ya sudah hati-hati di jalannya”

“Iya” jawab Ara, sambil menstarter motornya.

Mirna langsung mengakhiri panggilan telponnya.

Ara langsung tancap gas, menuju pulang.                 

                                  

(6)

Esok harinya...

Mirna kembali beraktivitas seperti biasa...

Mirna dapat kabar email dari Bu Lusi bahwa pekan depan, Mirna harus segera pindah ke restoran baru cabang karawang.

Mirna sangat senang dengan kabar tersebut, namun di sisi lain, Mirna pun merasa sedih karna harus berjauhan dengan pria yang Ia kagumi. Mirna mengabarkan berita itu ke Ara via telpon selulernya.

Ara juga ikut merasa senang dan bangga terhadap Mirna, berkat kejujuran dan kerja keras selama ini, Mirna berhasil menduduki jabatan penting di restoran cabang baru di karawang. Serta mendapatkan kepercayaan penuh dari Bu Lusi bos besar Resto japan kamaguci.

°°°

Tidak terasa hari berganti hari dan waktu terus berjalan, waktu yang sudah di tentukan tinggal dua hari lagi... Namun Mirna sudah bersiap untuk berangkat ke karawang, Mirna berencana untuk menemui kedua orang tuanya terlebih dahulu, sebelum dia ke tempat restoran baru.

Karna jarak restoran dengan tempat tinggal Mirna tidak terlalu jauh, hanya butuh waktu 15 menit untuk perjalanan dengan menggunakan angkutan umum.

Sore itu tepatnya hari jumat...

Mirna hanya duduk termenung diruang kerjanya. Mirna baru saja melaksanakan meeting dengan klien'nya, dari pihak distributor pemasok segala keperluan restoran.

Mirna terlihat gelisah sesekali Mirna berdiri menghadap ke arah jendela, kemudian duduk, dan berdiri lagi, hal seperti itu Mirna lakukan berulang kali, tanda kegelisahan menyelimuti suasana hati Mirna saat itu.

Tak lama kemudian Ara datang dengan mengetuk pintu terlebih dahulu.

Setelah mendengar ketukan pintu Mirna bergegas membuka pintu dan mempersilahkan Ara masuk.

”Masuk ra” sambut Mirna.

“Iya mir, maaf tadi aku kejebak macet, jadi tidak bisa ikut meeting dengan klien kita. Dari bekasi aku pulang jam dua langsung mampir ke cabang pulogadung”

“Tidak apa-apa ko ra. Aku sudah bereskan semua” jawab Mirna sambil tersenyum dan menatap wajah Ara.

Ara terkesima dengan tatapan tajam dari gadis cantik yang jadi pujaan hatinya.

“Besok pagi aku pulang ke karawang, aku pulang ke rumah dulu, sambil nunggu pembukaan restoran disana, lumayan ada waktu dua hari lagi” sambung Mirna.

“Aku tidak bisa antar kamu ke terminal mir, soalnya pagi-pagi aku harus ikut Bu Lusi”

“Tidak apa-apa ra, aku kan naik taksi, jadi tidak harus ke terminal”

Empat mata kembali beradu tatapan, satu sama lain saling melontarkan senyum. Getaran cinta mulai merasuk ke dalam jiwa mereka, tercipta rasa ketidak ikhlasan diantara mereka berdua. Sejatinya Mirna dan Ara ingin terus bersama, dan tidak ingin dipisahkan.

Sabtu pagi pukul enam... Mirna sudah bersiap, untuk melakukan perjalanan pulang ke karawang, dengan menggunakan taksi. Kebetulan di depan jalan,tak jauh dari kost'an banyak mobil taksi yang sengaja mangkal.

“Mau kemana mba” tanya salah satu supir taksi dengan ramah.

“Mau ke karawang pak” jawab Mirna.

“Ayo mba saya antar”

Dengan sigap supir tersebut meraih koper di tangan Mirna, dan memasukannya ke dalam bagasi taksinya.

“Silahkan mba” supir itu membuka pintu dan mempersilahkan Mirna untuk masuk kedalam taksi.

Setelah Mirna masuk, supir langsung tancap gas, perlahan taksi keluar dari area ruko dan berjalan menuju tempt tujuan.

Dalam perjalanan pikiran Mirna terus tertuju kepada Ara. Mirna sangat sayang sama Ara, namun Mirna belum bisa mengungkapkan perasaannnya, karna belum ada kesempatan yang tepat untuk mengatakannya.

Tidak terasa mobil taksi yang Mirna tumpangi sudah keluar dari gerbang tol karawang barat. Tidak seperti biasanya, ruas jalan dari arah jakarta menuju karawang cukup lancar tidak ada kemacetan.

Nampak kebahagiaan terpancar dari wajah Mirna. Setelah hampir setahun Mirna meninggalkan kampung halamannya, kini Mirna bisa kembali menikmati indahnya kota tempat Ia di lahirkan.

Suasana kota karawang dengan pemandangan yang indah nampak hamparan sawah terlihat begitu luas dan di pinggir jalan intercange karawang barat berjajar gedung-gedung tinggi.

Karawang memang terkenal dengan nuansa pertanian, tapi disisi lain karawang juga sudah menjadi kota modern. Kota metropolitan baru, yang tetap mempertahankan ke arifan budaya lokanya.

°°°

“Belok kiri pak” perintah Mirna kepada supir taksi dengan lirih.

“Baik mba” jawab supir sambil membelokan stir mobilnya ke arah kiri.

Mobil sudah memasuki gerbang desa yang menuju ke arah kampung halaman Mirna.

Beberapa menit kemudian. Taksi yang di tumpangi Mirna sudah sampai ditempat tujuan.

“Stop pak” ucap Mirna.

“Disini bu” jawab supir itu.

“Iya pak, kedepan sedikit” Timpal Mirna.

Perlahan mobil taksi tersebut berhenti. Mirna langsung turun dari mobil taksi tersebut dan supir taksi membantu mengluarkan koper yang tersimpan dibagasi.

 

(7)

Setelah selesai membayar ongkos. Mirna langsung berjalan dengan menarik koper, menuju rumahnya. Setelah sampai di depan rumah, nampak Emak dan Abah sedang duduk santai di teras rumah.

Mirna sangat senang melihat kondisi orang tuanya yang kelihatan sehat,dan takjub juga melihat kondisi rumah yang sudah berubah.

Beda dengan kondisi rumah yang dulu, sebelum Mirna berangkat ke jakarta. Sekarang rumahnya sudah lumayan bagus dan berukuran lebih besar dari sebelumnya.

“Assalamualaikum” Mirna mengucapkan salam.

“Walaikum salam” jawab Emak dan Abah serentak.

Mirna mencium tangan kedua orang tuanya, Emak langsung memeluk putrinya itu dengan tangisan kebahagiaan.

“Kamu sehat nak ?” tanya Emak sambil terus memeluk Mirna.

“Alhamdulillah mak, Mirna baik-baik saja” 

Abah menarik koper yang Mirna bawa dan memasukannya kedalam rumah. Disusul Mirna dan Emak mengikuti langkah Abah, mereka masuk kedalam rumah.

Mirna mengamati seluruh isi ruangan rumahnya, yang nampak megah dan beda dengan suasana rumah yang dulu.

“Ini hasil kerja keras kamu nak” ucap Abah tersenyum ke arah Mirna.

“Ya Allah, ternyata Abah bisa desain rumah seperti yang Mirna inginkan” Mirna seolah merasa takjub melihat keadaan ruangan rumah yang sudah berubah total.

“Gimana kabar Ara sekarang ?” tanya Abah sambil duduk bersandar disopa. Seakan-akan Abah menikmati empuknya sopa itu.

“Ara baik-baik saja Bah, dia masih pegang dua cabang restoran di jakarta” jawab Mirna sambil merapikan baju yang baru Ia keluarkan di dalam koper.

Sorenya... Mirna berencana untuk bersedekah, dari sebagian uang hasil kerja, akan di sumbangankan ke masjid yang ada di kampung tempat tinggalnya.

Mirna menitipkan uang tersebut ke Abah, untuk di serahkan ke pengurus masjid, Abah  langsung menemui pengurus masjid, dan menyerahkan uang titipan putrinya itu.

Malam itu suasana terasa begitu dingin dan sunyi, hanya tedengar suara walangkeke dan jangkrik bersahutan, sesekali terdengar gemuruh angin yang menyibak daun-daun pohon yang ada di sekitar rumah.

Pukul 21-30 

Mirna masih belum bisa memejamkan mata. Mirna hanya berbaring di tempat tidur pandangannya menerawang ke sudut-sudut ruangan kamar, pikirannya terus tertuju ke Ara, seorang pria tampan yang rendah hati.

Tiba-tiba terdengar suara nyaring bunyi handphone. Mirna bangkit dan mengambil handphone yang Ia letakan di atas meja di samping tempat tidurnya.

“ Hallo. Assalamualaikum ra” Suara Mirna pelan, dengan menempelkan handphone ditelinga kanannya. 

“Walaikumsalam, sedang apa mir?”

“Aku lagi mikirin kamu ra” jawab Mirna dengan gurau manjanya.

“Ah kamu mir, jadi kangen aku”

Mereka berdua saling menanyakan kabar, lewat sambungan telpon mereka bisa mencurahkan rasa kangen mereka malam itu.Tidak terasa hampir 30 menit, Ara menelpon Mirna.

“Ya sudah kamu jaga diri yah... jangan lupa sholat... Assalamualaikum” pungkas Mirna, dengan menyentuh layar handphone, tanda mengakhiri obrolannya dengan Ara.

Malam semakin larut, udara terasa dingin masuk lewat celah-celah jendela kamar. Tidak terasa jam sudah menunjukan pukul sebelas, Mirna pun tertidur  dengan iringan suara jangkrik dan walangkeke yang terus bersahutan, memecah kesunyian malam.

Minggu pagi pukul 04-30

Seperti biasa Mirna, Abah, dan Emak. Bersiap untuk melaksanakan Sholat Subuh. Selesai mandi Abah langsung pergi ke Musola, sementara Emak dan Mirna hanya melaksanakan Sholat di rumah.

Usai melaksanakan Sholat Subuh...

Emak langsung membuatkan kopi pahit kesukaan Abah, nampak Abah sudah duduk manis di teras rumah, menikmati udara segar di pagi itu.

“Di minum kopinya bah” ucap Emak dengan menaruh kopi pahit serta pisang goreng di atas meja.

Setelah itu Emak kembali ke dapur, untuk melanjutkan memasak nasi dan ikan hasil tangkapan Abah dari balong.

(Balong adalah kolam, istilah bahasa sunda untuk tempat ternak ikan)

Mirna ikut membantu Emak mencuci peralatan dapur yang kotor dan mencuci pakaian.

Mirna masih seperti dulu, walaupun sudah sukses Mirna tak pernah lupa pekerjaan yang harus Ia lakukan ketika berada dirumah.

Pagi yang indah, suasana kampung juga begitu menyenangkan, udara terasa sejuk beda jauh dengan suasana kota yang penuh dengan hiruk pikuk kendaraan, penuh polusi.

Hari itu adalah hari minggu, ada satu hari lagi untuk Mirna memanfaatkan moment liburnya, karna esok hari Mirna harus kembali beraktivitas di restoran cabang baru. Mirna pagi itu izin kepada orang tuanya untuk berkunjung ke rumah Euis.

“Bah Mirna izin mau main kerumah Euis” ucap Mirna sambil mencium tangan Abah.

“Ya sudah berangkat sana, mumpung masih libur” jawab Abah.

“Emak kemana bah” tanya Mirna, dengan menengok ke arah kamar Emak.

 

(8)

“Emak mu tadi berangkat ke rumah Bu Sri, mau bantuin masak, buat acara sunatan cucu nya Bu Sri” jawab Abah sambil menikmati sebatang rokok kretek kesukaannya.

Setelah itu Mirna langsung berangkat ke rumah Euis dengan berjalan kaki, karna jarak rumah Mirna dengan rumah Euis tidak terlalu jauh, dan hanya butuh beberapa menit saja untuk sampai kesana.

Dalam perjalanan Mirna selalu menyapa dengan sopan setiap kali Ia jumpai warga yang kebetulan berpapasan dengannya.

°°°

Perjalanan hidup Mirna mempunyai banyak pesan moral, kesederhanaan dan prilaku yang baik, selalu mengedepankan kebahagiaan kedua orang tua, serta kepintaran dan kejujuran dalam bekerja, semua patut di contoh.

Beberapa menit kemudian... Mirna sudah sampai dirumah Euis.

“Assalamualikum” Mirna mengucapkan salam dengan posisi berdiri tepat didepan pintu rumah Euis.

“Walaikum salam” jawab Euis sambil membuka pintu.

“Oh kamu mir” sambung Euis.

Euis menyambut Mirna dengan pelukan hangat, Nampak kebahagiaan di antara mereka, setelah satu tahun lamanya Mirna dan Euis terpisah.

“Is kamu sekarang sudah berubah, tambah cantik” ucap Mirna sambil tersenyum dengan tatapan penuh rasa bahagia.

“Baru tahu ya. Kan aku cantik dari lahir” jawab Euis dengan tertawa.

“Kamu kapan nikah is?” tanya Mirna.

“Masih belum kepikiran mir, orang aku belum punya pacar terus nikah nya sama siapa?

“Sama si Udin is, yang dulu suka ngejar-ngejar kamu” timpal Mirna dengan sedikit gurauan.

“Itu mah, cocoknya sama kamu mir”

“Yey...” balas Mirna.

Kemudian Euis masuk ke dalam, mengambil air minum untuk Mirna.

“Kopi susu ya is” teriak Mirna.

“Ada,,, susu kambing” balas Euis dari dalam.

Tidak lama, Euis kembali dengan membawa dua gelas kopi susu.

“Silahkan mir diminum kopi susunya” ujar Euis dengan meletakan dua gelas kopi susu di meja.

Euis duduk di samping Mirna, mereka ngobrol dan bercerita tentang apa yang mereka alami dalam setahun terakhir. Nampak keceriaan dan gelak tawa menghiasi obrolan mereka saat itu.

Tak terasa waktu terus berjalan hari sudah mulai siang. Terik matahari sudah mulai terasa panasa.

“Sudah siang is, aku pulang dulu yah? Kapan2 aku main lagi” 

“Baru sebentar mainnya, sudah mau pulang, aku kan masih kangen mir”

“Nanti kalau libur kita sambung lagi” jawab Mirna bangkit dari duduknya.

“Ya sudah hati-hati, ingat kalau ada lowongan kerja kasih tau aku”

“Iya is, nanti aku kabarin” Pungkas Mirna.

Mirna langsung melangakah keluar, meninggalkan sahabatnya, menuju pulang.

Sesampainya di depan rumah. Mirna dikejutkan dengan kehadiran sosok pria idamannya, yang sedari tadi menunggu di teras rumah dengan ditemani Abah.

“Tuh Mirna sudah ddatan” ucap Abah sambil mengarahkan pandangannya ke Mirna, yang baru sampai.

Ara hanya tersenyum menatap Mirna yang sedang berjalan.

“Assalamualaikum” Mirna mengucapkan salam.

“walaikum salam” jawab Abah dan Ara serentak.

Mirna mencium tangan Abah dan bersalaman dengan Ara.

“Apa kabar ra” Mirna menyapa dengan senyum manisnya.

“Alhamdulillah baik mit” jawab Ara dengan lirih.

Mirna duduk di samping Abah tepat berada di hadapan Ara.

“Abah mau ke kebun dulu ya nak” ucap Abah mengarah ke Ara.

Seakan-akan, Abah mengerti dan memberi ruang untuk Ara dan Mirna, melepas kerinduan mereka.

“Iya bba” jawab Ara lirih dengan anggukan kepala.

Tinggalah mereka berdua, keduanya hanya saling tatap-tatapan saja, belum ada yang berani mengawali pembicaraan. Terpancar rasa bahagia dalam diri Mirna, terlihat dalam sikap dan raut wajahnya.

“Kopinya ko belum di minum?”

“Sengaja biar dingin, sekalian aku nunggu kamu biar kopinya tambah manis” Ara menjawab sambil sedikit menggoda Mirna.

“Ah gombal” 

“Aku kangen mir, meskipun baru dua hari, tidak jumpa” celetoh Ara.

Mirna hanya diam, ada sesuatu yang ingin Ia ungkapkan namun Mirna belum bisa mengatakannya langsung. Mirna hanya bisa berharap Ara yang mengatakannya lebih dulu.

“Aku kesini mau mengatakan sesuatu mir” dengan pelan Ara mencoba memberanikan diri untuk mengungkapkan isi hati dan perasaannya.

Pucuk dicinta ulam pun tiba, akhirnya apa yang Mirna tunggu tiba juga...

“Katakan saja ra” jawab Mirna.

(9)

“Aku sayang kamu mir, aku ingin serius menjalin hubungan dengan kamu” ucap Ara, mengungkapkan perasaannya dengan lirih.

“Iya ra... Aku mengerti dan sudah faham semua tentang perasaan kamu, dan aku juga mempunyai perasaan yang sama seperti apa yang kamu rasakan” 

“Itu tandanya kamu mau dan siap jadi kekasihku” jawab Ara sambil terus menatap wajah Mirna.

Mirna hanya mengangguk...

Suasana berubah seketika, hati Ara mulai berbunga-bunga. Cerahnya langit saat itu, melukiskan kecerahan hati dan perasaan kedua insan yang sedang dilanda asmara. Tak terbayangkan betapa bahagianya mereka, setelah sekian lama saling memendam perasaan, dan hari itu sudah ada keberanian untuk saling mengungkap rasa, yang selama ini bersemayam di hati mereka.

Hari itu telah tercipta sebuah moment indah dalam kehidupan Mirna dan Ara, dua sahabat sejati di satukan dalam ikatan tali cinta.

“Besok jam berapa berangkat ke restoran?” tanya Ara, memegang tangan Mirna.

“Jam delapan ra” jawab Mirna.

“Hari ini Bu Lusi sudah menugaskan Pak Jaya, untuk stanbay disana, kemungkinan paginya Rita akan membantu kamu untuk persiapan pembukaan”

“ Iya, kemarin malam Rita sudah menghubungi aku” 

“Semoga sukses yah, aku tidak bisa ke sana, soalnya sore ini aku mau balik lagi ke jakarta” jawab Ara sambil terus memegang tangan Mirna.

“Tidak apa-apa, yang penting kamu jangan melupakan aku” Jawab Mirna dengan menyenderkan kepalanya di pundak Ara.

“Ya sudah sekarang aku pulang dulu yah, soalnya tadi dari jakarta, aku langsung kesini, belum pulang ke rumahku”

“Hati-hati dijalan ra”

Sebenarnya Mirna masih ingin berlama-lamaan dengan Ara, namun sore itu Ara harus kembali ke jakarta. Dan Ara juga harus menemui kedua orang tuanya terlebih dahulu, sebelum berangkat lagi ke jakarta.

Ara masuk ke dalam mobil,,, perlahan mobil yang dikemudikan Ara keluar dari halaman rumah Mirna. Mirna berdiri dan terus menatap mobil yang terus melaju meninggalkannya. 

Waktu berjalan begitu cepat, tidak terasa sudah hampir memasuki waktu dzuhur. Mirna hanya duduk santai diteras rumah menunggu Emak dan Abah.

Nampak dari kejauhan seorang wanita tua dengan balutan kebaya biru, berjalan dengan raut muka yang lusuh, sedikit berkeringat.

“Assalamualaikum”

“Walaikum salam” jawab Mirna bangkit dari temat duduknya dan menghampiri Emak.

“Emak sudah pulang” sambung Mirna sambil mencium tangan Emak.

“Iya nak” jawab Emak sambil memberikan plastik kantong kresek hitam.

“Ini apa mak?,, tanya Mirna.

“Itu nasi sama ayam goreng, dari Bu Sri”

“Emak mandi dulu ya nak” sambung Emak langsung masuk kedalam rumah.

Mirna mengikuti langkah Emak masuk kedalam, untuk menyimpan makanan yang Emak bawa dari Bu Sri.

Selang beberapa menit kemudian. Abah pulang dengan membawa pisang mentah yang sudah tua, hasil dari kebun.

“Abah mau ngopi?” tanya Emak.

“Nanti saja Abah mau mandi dulu, tanggung sebentar lagi dzuhur” jawab abah, tangannya meraih handuk yang tergantung, dan berjalan menuju kamar mandi.

Dari kejauhan terdengar alunan suara adzan, tanda waktu dzuhur sudah tiba. Mereka langsung bersiap untuk melaksanakan ibadah Sholat dzuhur.

Abah,Emak dan Mirna tak pernah meninggalkan kewajiban mereka sebagai muslim, meski dalam keadaan apapun. Sholat lima waktu selalu mereka jalankan.

Setelah selesai sholat dzuhur, mereka kembali berkumpul di teras rumah...

Mirna membustkan kopi pahit untuk Abah, dan uli singkong kesukaan Abah (uli merupakan makanan khas orang sunda, uli terbuat dari singkong yang sudah di olah).

“Tadi Ara pulang jam berapa nak?” tanya Abah menatap Mirna.

“Sekitar jam sebelasan” Mirna menjawab dengan lirih sambil menikmati uli singkong buatan Emak.

“Abah cuma ngasih saran sama kamu, nyari calon suami yang seperti Ara saja, kelihatannya baik dan bertanggung jawab, mudah-mudahan saja Ara jadi jodohmu” celetoh Abah.

Mirna hanya diam dan meng iyakan pembicaraan Abah. Tanpa mengurangi sikap hormat kepada orang tuanya.

“Ya kalau menurut Emak sih, kamu pacaran Saja sama nak Ara sahut Emak.

“Ah Emak” jawab Mirna sedikit tersipu.

Obrolan mereka terus berlanjut, hingga pada akhirnya Abah pamit untuk kembali ke ladang, karna masih ada beberapa pekerjaan di ladang yang belum diselesaikan.

Mirna dan Emak masuk ke dalam, untuk mengolah singkong dan pisang untuk di jadikan kripik.

Singkat cerita, ke esokan harinya.

Pukul 08-30. Mirna sudah sampai di tempat kerja nampak beberapa karyawan baru, dengan mengenakan seragam hitam putih, sudah berkumpul di depan restoran. Mereka adalah hasil rekrutan untuk bekerja di bagian pelayanan, dan untuk bagian lain-lain, sesuai yang dibutuhkan.

“Assalamualaikum” sapa Mirna sambil melontarkan senyuman ke arah para karyawan baru.

 

(10)

“Walaikumsalam bu” serentak mereka menjawab.

Mirna melanjutkan langkahnya menuju kedalam, dengan di ikuti Rita staf keuangan pindahan dari restoran yang di jakarta.

“Bu ruangannya di lantai dua”

 “Iya rit” jawab Mirna melangkah naik ke atas tangga menuju ke lantai dua.

Rita mengikuti langkah Mirna dari belakang, setelah sampai di atas Rita berjalan mendahului Mirna dan membukakan pintu salah satu ruangan yang ada di lantai dua.

“Silahkan bu” ucap Rita dengan posisi tangan memegang pintu.

 “Iya Rit” jawab Mirna sambil melangkah masuk ke ruangan tersebut.

Setelah Mirna masuk, Rita pun ikut masuk dan menutup pintu ruangan itu.

Setelah didalam mereka berdua langsung memulai kerja, berdiskusi mengambil langkah yang tepat untuk memulai pembukaan restoran itu. Seperti yang sudah di amanatkan oleh Bu Lusi kepada Mirna.

Sementara para karyawan yang lain, bagian juru masak dan bagian pelayanan, sudah di atur oleh Pak Jaya.

Bagian koki, pagi itu juga sudah mulai memasak menu-menu yang sudah di atur oleh Pak jaya, dan staf yang lainnya. Untuk bagian pelayanan, sementara ditugaskan untuk beres-beres ruangan.

“Jam satu kita mulai buka rit” Ucap Mirna sambil membuka tas, yang berisikan berkas-berkas kerja.

“Iya bu” jawab Rita.

Mirna begitu semangat mengatur strategi untuk restoran cabang baru yang dikelolanya. Dengan mengikuti arahan-arahan dari Bu Lusi dan dibantu oleh Rita selaku staf keuangan, dan Pak Jaya sebagai Leader yang mengatur para karyawan direstoran itu.

Pukul 12-15 

Mirna dan Rita Melaksanakan sholat dzuhur di musola yang ada di dalam restoran, setelah selesai melaksanakan sholat dzuhur, mereka berdua langsung makan siang di ruang makan khusus untuk para karyawan dan staf restoran.

Jam satu tepat...

Restoran sudah mulai dibuka untuk umum, sebelum buka, Mirna dan para karyawan berkumpul untuk memanjatkan doa bersama. Doa di pimpin langsung oleh Pak Jaya.

Memohon perlindungan dan keberkahan untuk restoran cabang baru yang Mirna kelola. Setelah selesai berdoa restoran langsung di buka dan para karyawan membagi tugas sesuai bagian mereka masing-masing.

Beberapa pengunjung sudah mulai berdatangan, tidak terlalu sulit untuk menarik minat dari para pengunjung, karna resto japan kamaguci sudah punya nama dan sudah terkenal ke penjuru tanah air.

Sudah hampir satu pekan resto japan kamaguci cabang karawang berjalan, dengan kepemimpinan Mirna sebagai manager dan kepala cabang.

Kemajuan cukup pesat dan omset pemasukan melebihi pencapaian target, yang sudah ditetapkan Bu Lusi sebagai direktur utama, ini tentunya menambah nilai plus untuk kinerja para staf restoran tersebut, termasuk mengangkat nama baik Mirna sebagai manager dan pengelola restoran itu.

Hasil kerja keras yang sangat memuaskan. Membuat bos besar restoran itu, menjadi kepincut dengan cara kerja Mirna dan staf yang membantunya, tidak sedikit bonus yang diberikan terutama untuk Mirna.

,,Saya percayakan sepenuhnya kepada kamu mir,, ucap Bu Lusi.

“Iya bu” jawab Mirna dengan lirih.

“Besok saya kasih bonus mobil untuk kamu, dan bonus ini saya berikan sesuai dengan hasil kerja kamu, yang menurut saya cukup luar biasa”  timpal Bu Lusi.

Mirna sangat terkejut, dan sujud syukur dengan pencapaian yang Ia raih. Dan berkali-kali mengucapkan terima kasih kepada bos besarnya itu.

Bu Lusi hanya tersenyum-senyum, dan terus memberikan suport untuk Mirna.

“Besok hari jumat kamu libur saja, soalnya nanti mobil yang sudah saya pesan datang besok, petugas dealer akan mengirimkannya langsung ke rumah kamu mir” ucap Bu Lusi.

“Iya bu terima kasih banyak” Jawab Mirna dengan mata berkaca-kaca, perasaan nya diselimuti rasa haru.

Nanti kamu minta tolong sama teman atau sodara kamu, untuk mengajarkan kamu cara mengemudi, supaya kerja bisa bawa mobil sendiri dan tidak usah naik angkot lagi” pungkas Bu Lusi.

Rupanya diam-diam Bu Lusi sudah memesankan mobil, untuk hadiah Mirna, dari lima hari yang lalu.

Setelah pembicaraan mereka selesai. Bu Lusi langsung pamit kembali ke jakarta, untuk mengecek dua restoran miliknya yang ada disana.

Selang beberapa menit Rita datang dengan membawa berkas-berkas laporan kerja.

“Maaf bu berkasnya baru selesai, soalnya tadi saya nunggu laporan dari pak Jaya dulu”

“Iya Rit tidak apa-apa, yang penting laporannya hari ini sudah masuk semua” jawab Mirna.

Setelah menyerahkan berkas -berkas dan laporan kerja. Rita kembali ke ruangan nya.

Waktu terus berjalan dan hari sudah mulai sore. Suasana restoran semakin ramai para pengunjung terus berdatangan, karyawan restoran terlihat begitu sibuk dalam melayani para pelanggan. Mereka sangat antusias dalam melayani para pengunjung.

Dari luar terlihat mobil-mobil mewah, dan beberapa motor berjajar rapi dihalaman parkir restoran.

 

(11)

Mirna berdiri tepat di jendela ruangan kerjanya, yang berada di lantai dua gedung restoran. Pandangannya terus terarah ke area parkir, dia merasa senang dan bersyukur atas segala nikmat yang Tuhan berikan. Kerja kerasnya tidak sia-sia.

Baru satu tahun bekerja di restoran itu. Mirna sudah mendapatkan kedudukan tinggi, yang tidak pernah Ia bayangkan sebelumnya.

Inilah kehidupan... Tuhan memberikan kenikmatan dan kedudukan serta jabatan, tanpa harus melihat latar belakang hambaNya. Hidup ini penuh dengan kerahasiaan, dan nikmat serta hasilnya akan di rasakan oleh para pekerja keras yang jujur dan amanah.

°°°

Pukul 22-00 ...

Mirna sudah bersiap untuk pulang, Mirna dan Rita sudah berdiri didepan restoran, mereka berdua sedang menunggu abang gojrek yang sudah diorder via aplikasi gojrek.

Selang beberapa menit... Abang gojrek sudah datang dengan motor matic warna putih, lengkap dengan menggunakan seragam gojrek warna hijau tua dan memakai helm.

“Selamat malam dengan mba Mirna” tanya pengemudi gojrek dengan sikap ramah.

“Iya saya bang” sahut Mirna.

“Rit aku duluan yah” 

“Iya bu, hati-hati dijalan” jawab Rita sedikit menganggukan kepalanya.

Mirna langsung naik ke motor gojrek tersebut. Untuk sampai ke rumah hanya butuh waktu sekitar 15 menit saja. Mirna nampak kelelahan setelah seharian disibukan dengan pekerjaan.

Beberapa menit kemudian Mirna tiba didepan sebuah gang yang  menuju ke arah rumahnya...

“Bang turun disini saja”

“Kenapa mba kan belum sampai ke lokasi yang ada diaplikasi ?” tanya abang gojrek.

“Disini saja bang, ada orang tua saya nungguin” jawab Mirna, jari telunjuknya mengarah ke Abah yang sedang duduk di pos ronda.

Mirna langsung turun dari motor dan membayar ongkos gojrek sesuai dengan tarif yang tertera di aplikasi gojrek.

Mirna berjalan menghampiri Abah. Kemudian Abah bangkit dari duduknya.

“Assalamualaikum” Mirna mengucap salam sambil mencium tangan Abah.

“Walaikumsalam”

“Ayo bah kita pulang” ajak Mirna dengan menggandeng tangan Abah.

Mereka berdua langsung berjalan menelusuri gang kecil. Sebagai jalan pintas, yang mengarah ke rumah Mirna.

Sesampai nya di rumah. Terlihat Emak  sedang menunggu diteras.

“Assalamualaikum”

“Walaikumsalam” jawab Emak.

Mirna mencium tangan Emak, kemudian duduk dikursi tepat di depan Emak... Abah pun ikut duduk di samping Emak.

“Ya sudah kamu masuk nak, mandinya pakai air hangat sudah Emak siapkan di dapur”

“Iya mak” jawab Mirna, terlihat lelah.

Mirna masuk kedalam rumah, sementara Abah dan Emak, masih duduk santai diteras rumah.

Udara terasa dingin, terlihat di atas langit pecutan-pecutan kilat dan suara gelegar guntur bersahutan, langit berubah gelap, bulan dan bintang-bintang sudah tidak nampak lagi, karna terhalang gumpalan awan hitam.

Tak lama kemudian hujan turun begitu deras, menambah dinginnya suasana malam. Abah dan Emak bergegas masuk ke dalam rumah.

Sementara Mirna sudah tidur di kamarnya. Emak berjalan menuju ke kamar Mirna, kemudian masuk dan memasangakan selimut untuk putri semata wayangnya itu.

“Ya Allah semoga putriku selalu di beri kesehatan dan panjang umur” gumam Emak dalam hati.

Setelah itu Emak bangkit dan berjalan menuju kamarnya, untuk rehat sejenak merefres tubuh yang seharian di sibukan dengan berbagai aktivitas.

Ke esokan harinya setelah selesai melaksanakan sholat subuh, seperti biasa Abah, Emak dan Mirna kembali berkumpul menikmati susana pagi.

“Hari ini mobil hadiah dari Bu Lusi, mau di antar kesini” Mirna mengawali pembicaraan.

“Alhamdulilah” ucap Emak.

“Nanti jangan lupa kita adakan syukuran nak” ucap Abah lirih.

“Iya bah, nanti Mirna undang teman-teman Mirna”

“Kamu sedang di percaya sama atasanmu nak, jadi harus benar-benar amanah dalam menjalankan perusahaannya” Timpal Emak sambil mengelus-ngelus pundak Mirna dengan penuh kasih sayang.

“Apa yang kamu impikan,kini sudah tercapai” sambung Emak.

°°°

Suasana pagi itu nampak cerah tidak terasa jarum jam sudah menunjukan pukul tujuh pagi.

Matahari mulai memancarkan sinarnya dan terasa hangat menyentuh tubuh, setelah semalaman kampung halaman Mirna dan sekitarnya di guyur hujan lebat.

Pagi itu Mirna tidak kerja, karna hari itu Mirna harus menandatangani surat serah terima dari dealer, karna mobil hadiah untuknya hari itu akan dikirim langsung ke rumah.

 

 

(12)

Tepat pukul sepuluh

Yang ditunggu-tunggu akhirnya datang juga mobil baru sudah terparkir di halaman depan rumah. Nampak dua orang pegawai dealer turun dari mobil tersebut dan berjalan menghampiri Mirna yang sedang duduk santai di teras rumah.

“Assalamualaikum, selamat siang denga Ibu Mirna”

“Walaikum salam, iya pa saya Mirna” jawab Mirna bangkit dari tempat duduknya. Dan bersalaman dengan kedua pegawai dealer tersebut.

“Silahkan duduk pak” sambung Mirna.

Kedua pegawai dealer tersebut langsung duduk.

“Maaf bu mobilnya saya kendarai langsung kesini, soalnya mobil pengangkutnya hanya sampai didepan jalan raya saja, untuk masuk kesini jalannya sempit bu” ucap salah satu pegawai dealer, sambil mengeluarkan beberapa kertas dan surat-surat kelengkapan kendaraan.

Mirna diminta untuk menandatangani surat tanda terima, pegawai dealer langsung menyerahkan STNK dan BPKB.

“Untuk plat nomer kemungkinan besok saya kirim kesini bu, soalnya masih dalam proses” sambung pegawai dealer itu.

“Iya pak” jawab Mirna dengan tersenyum.

“Serah terimanya sudah selesai, semoga mobilnya bisa digunakan dengan baik, dan terima kasih atas kepercayaan ibu kepada dealer kami, saya berdua langsung pamit ya bu? Kasihan teman saya menunggu di depan sana” ucap pegawai dealer itu dengan sikap ramah.

Setelah kedua pegawai dealer pergi. Mirna mendekati mobil barunya itu, dan di sentuh dengan perlahan. Bergetar hati Mirna menahan rasa haru dan rasa bahagia, tidak pernah terbayangkan olehnya, bisa mempunyai mobil semewah itu.

“Terima kasih Ya Allah, dengan kepercayaan yang Engkau berikan untukku” gumam Mirna.

Tak lama kemudian Emak datang dengan membawa belanjaan. Yang sudah dikemas dalam plastik kresek, yang Emak tengteng dengan tangan kanannya.

“Asalamualaikum”

“Walaikum salam mak” jawab Mirna, mencium tangan Emak.

“Ini mobil kamu nak?” tanya Emak.

“Iya mak” jawab Mirna dengan mata berkaca-kaca.

Kemudian Mirna membuka pintu mobilnya dengan kunci yang Ia pegang.

“Ayo mak masuk, kursinya empuk lo mak” 

Emak masuk kedalam mobil, pelan dan sangat hati-hati, duduk didepan sambil mengamati isi di dalam mobil itu... Mirna hanya tersenyum melihat Emaknya yang kelihatan bahagia.

“Nanti kamu belajar nyetirnya sama siapa nak?” tanya Emak, keluar dari mobil.

“Kan ada Ipul mak, dia kan bisa nanti Mirna telpon Ipul” 

“Ya sudah Ipul suruh kesini saja, sekalian pesan ayam tiga ekor  buat syukuran nanti malam, sekarang Emak mau nyiapain beras, buat masak nasi uduk” jawab Emak.

Emak langsung masuk kedalam rumah mempersiapkan kebutuhan untuk syukuran malam nanti.

Mirna kembali ke teras rumah, dan langsung menghubungi Ipul via handphone. Mirna meminta Ipul untuk segera datang ke rumahnya siang itu, sekalian memesan tiga ekor ayam yang sudah dibersihkan, untuk keperluan syukuran malam nanti.

Satu jam kemudian...

Ipul datang dengan menggunakan motor astrea hitam, dengan suara bising knalpotnya, Ipul membawa pesanan Mirna tiga ekor ayam yang sudah di potong-potong.

“Assalamualaikum”

“Walaikumsalam” jawab Mirna, membuka pintu.

“Masuk pul, langsung kasih ke Emak saja ayamnya” sambung Mirna mempersilahkan Ipul masuk.

Ipul masuk kedalam, melangkah ke arah dapur.  

“Sini pul mau langsung Emak potongin ayamnya” 

“Sudah Ipul potongin mak, tinggal di cuci saja” jawab Ipul, mengamati ruangan dapur.

“Rumah Emak sudah berubah sekarang, lebih besar ukurannya, jadi gedong mak” sambung Ipul.

 (Gedong sebutan untuk rumah yang bagus atau mewah).

“Mirna yang biayain semua, dari hasil kerjanya, sedikit demi sedikit. Emak kumpulkan, untuk merehab total rumah ini” jawab Emak sambil mengiris bawang merah, sesekali Emak terlihat menyeka peluh di kening.

“Pul sini dulu” teriak Mirna memanggil Ipul.

“Iya teh” sahut Ipul, menghampiri.

“Mulai besok pagi, antar jemput teteh ya! pakai mobil teteh” 

“Berangkat jam berapa teh?” tanya Ipul, dengan pandangan tertuju ke sekitar ruangan rumah. Ipul merasa takjub dengan suasana rumah yang sudah banyak perubahan.

“Pokonya jam enam, kamu sudah ada disini, paling lambat jam setengah tujuh, teteh berangkat jam setengah delapan” jawab Mirna menjelaskan.

“Ok teh” pungkas Ipul.

Setelah itu. Ipul langsung pamit. Dan Mirna kembali membantu Emak mempersiapkan kebutuhan, untuk acara syukuran nanti malam.

Hari sudah semakin siang tidak terasa waktu dzuhur telah tiba. Abah baru pulang dari kebun langsung mandi untuk segera melaksanakan sholat dzuhur.

Emak dan Mirna sudah lebih dulu melaksanakan sholat, dan mereka kembali melanjutkan kerjaannya di dapur.

(13)

“Mir buatkan kopi dulu buat Abah” perintah Emak.

“Iya mak” jawab Mirna, dan Mirna segera membuatkan kopi pahit buat Abah.

Abah baru saja selesai mengerjakan sholat dan terlihat sedang duduk di ruang tengah sambil menonton tv.

“Ini bah kopinya” Mirna menyajikan segelas kopi untuk Abah.

“Iya nak, itu mobil kamu nak?” tanya Abah sambil mengerutkan kening.

“Iya bah, mulai besok Mirna kerja di antar jemput sama Ipul, sampai nanti Mirna bisa sendiri” 

“Alhamdulillah mimpi kamu jadi wanita sukses sudah tercapai nak, pesan Abah, jangan lupa sama anak-anak yatim” lirih ucapannya, penuh nasehat.

Mirna sangat terharu dengan perkataan Abah, lemah lembut terselip pesan moral didalamnya.

“Nanti malam kita mengadakan syukuran, Emak sudah memasak daging ayam dan, membuat nasi uduk buat acara nanti”

“Nanti habis sholat magrib, jamaah musola Abah undang” Ucap Abah dengan pandangan mengarah ke wajah putrinya itu.

Mirna menyetujui rencana Abah untuk mengundang jamaah musola. Setelah selesai ngobrol, Abah kembali berangkat ke kebun untuk melanjutkan kerjaan, menanam pohon pisang dan merabuk tanah untuk tanaman cabai rawit.

“Nak sini dulu”

“Iya Mak” Mirna bergegas menghampiri Emak.

“Ada apa mak” Tanya Mirna.

“Kupasin pisang yang sudah matang, mau Emak bikin pisang goreng”

Tanpa menunggu lama, Mirna langsung mengerjakan apa yang diperintahkan Emak.

Sore hari menjelang malam...

Tepatnya ba'da magrib, rumah Mirna dipenuhi beberapa jamaah Musola, dan para tetangga dekat. Mereka sengaja di undang oleh Abah untuk ikut berdoa bersama dalam acara syukuran.

Setelah acara selesai Abah membagikan besek yang berisikan nasi uduk, daging ayam dan makanan pendamping lainnya, serta buah-buahan.

Tidak lupa juga, Mirna membagikan amplop ke semua yang hadir dalam acara tersebut.

Itu sudah menjadi kebiasaan Mirna, selalu berusaha untuk berbagi dengan para tetangganya. Dan merupakan bentuk rasa syukur atas segala anugerah dan nikmat yang Allah berikan untuk Mirna dan keluarganya.

Emak dan Mirna nampak sibuk membereskan ruangan rumah, dari sisa-sisa acara yang baru saja selesai, nampak wanita paruh baya ikut membantu Emak mencuci piring dan barang-barang perkakas yang kotor.

Dia Mak Unah, tetangganya Mirna yang rumahnya berada di belakang rumah Mirna. Mak Unah adalah teman sejawat nya Emak waktu muda.

“Mak Unah” teriak Mirna pelan.

“Iya neng” sahut Mak Unah sambil menghampiri Mirna.

“Ada apa neng?” sambung Mak Unah dengan logat sunda, dan latahnya.

“Ini buat Emak” Mirna memberikan uang ke Mak Unah dengan cara di kepalkan ke tangan Mak Unah.

“Haduh neng jadi ngerepotin”

“Buat jajan emak” jawab Mirna simpel, dengan tersenyum ke arah Mak Unah.

Setelah itu Mak Unah langsung pamit, dengan membawa plastik hitam yang di dalamnya berisikan nasi uduk lengkap dengan daging ayam yang sengaja diberikan oleh Emak, untuk Mak Unah yang sudah membantunya beres-beres di dapur.

Rumah yang tadinya ramai dengan kehadiran para undangan, kini kembali sepi, tinggalah Mirna, Abah dan Emak.

“Abah tidak ke musola?” tanya Emak.

“Abah sholat dirumah tadi mak, asam urat Abah kumat” jawab Abah sambil memijat-mijat betis kakinya.

Sementara Mirna sudah tidur lebih awal, setelah mengerjakan sholat isya. Abah dan Emak masih ngobrol di ruang tengah menonton tayangan berita di televisi. Jam dinding sudah menunjukan pukul sepuluh lebih lima belas menit.

Abah dan Emak langsung menuju ke tempat tidur. Mereka segera melepas lelah setelah seharian di sibukan dengan berbagai aktivitas, yang tentunya sangat menguras tenaga mereka.

Malam itu suasana sunyi dan hanya terdengar suara jangkrik dan binatang-binatang kecil lainnya, nyaring terdengar saling bersahutan.

Sesekali terdengar suara kentongan berbunyi. Karna di kampung itu, ronda tiap malam selalu aktip ada tiga petugas hansip yang berkeliling silih berganti, bertugas mengamankan kampung.

Tidak terasa malam sudah berlalu...

Setelah melaksanakan sholat subuh, seperti biasa Abah, Emak dan Mirna, kembali berkumpul di teras rumah menikmati segarnya udara pagi hari.

“Ipul sudah di telpon belum nak?” tanya Abah sambil menatap putrinya.

“Sudah bah, tadi Ipul sudah mulai jalan menuju kesini” jawab Mirna sambil menatapi mobil barunya yang terparkir di halaman rumah.

“Abah jangan dulu ke kebun, istirahat saja, takut asam uratnya kumat lagi, nanti Mirna belikan obat untuk Abah” sambung Mirna.

Tidak lama kemudian. Ipul datang dengan motor tua yang dia kendarai, dengan suara knalpot yang berisik, memecah suasan pagi.

(14)

Setelah Ipul datang. Mirna langsung bergegas masuk mengambil tas dan laptop untuk keperluan kerja.

“Sudah ngopi belum pul?” tanya Abah.

“Sudah bah tadi sebelum berangkat saya ngopi dulu” jawab Ipul meraih tangan Abah, dan menciumnya.

Ipul langsung masuk untuk mengambil kunci mobil... Tidak lama, Ipul keluar lagi dengan memegang kunci mobil, bergegas menuju ke arah mobil yang terparkir dihalaman rumah, untuk memanaskan mesin.

Mirna keluar dari rumah, dengan berpakaian rapi, mengenakan krudung biru tua, terlihat cantik dengan balutan jas hitam. Mirna sudah siap untuk berangkat kerja.

“Mau berangkat sekarang nak?” tanya Emak yang baru keluar.

“Iya Mak”

Mirna langsung berpamitan, dan langsung berangkat kerja dengan menggunakan mobil barunya, bersama Ipul sebagai supir.

Sesampainya di restoran Mirna langsung masuk ke ruangannya, dan segera melakukan aktivitasnya sebagai manager di restoran itu.

Hari-hari Mirna, di penuhi rasa kebahagiaan dan penuh dengan rasa semangat dalam mengerjakan kewajibannya sebagai manager di restoran yang Ia kelola. Restoran yang sudah mewujudkan impian dan cita-cita Mirna. 

Hari berganti hari, waktu terus berjalan. Tidak terasa sudah hampir satu tahun Mirna mengelola restoran itu. Omset pemasukan semakin tinggi, itu sangat berpengaruh terhadap nama baik Mirna sebagai manager di restoran itu.

Dan kepercayaan dari Bu Lusi pun semakin bertambah. Mirna sudah berubah dalam hal ekonomi dan sudah mampu memberikan banyak hal yang positif untuk para karyawan, dan rekan-rekan kerjanya, di cabang-cabang restoran kota lain.

Kejujuran dan kerja keras Mirna patut di contoh. Dalam memimpin para karyawannya, Mirna selalu bersikap ramah dan baik. Tidak pernah membentak atau berkata kasar sekalipun bawahannya melakukan kesalahan.

Mirna meyakini bahwa takdir hidup sudah Allah tentukan meski dalam segi pendidikan Mirna sangat terbelakang, namun ke inginan untuk sukses terus Mirna kembangkan. Kini Mirna sudah mempunyai ijazah SMA, karna sesibuk apapun dirinya, Mirna masih menyempatkan waktu untuk ikut program ujian persamaan.

Mirna tidak kuliah, namun Mirna rajin mengikuti berbagai kursus. Mulai dari kursus bahasa jepang dan inggris, dia juga ikut kursus yang berkaitan dengan bisnis. Sehingga,,, dari hari ke hari Mirna semakin pandai dan cerdas. Bu Lusi sangat mendukung dan memberikan banyak luang untuk Mirna melakukan kursus, tidak terlalu membebankan jam kerja, untuk Mirna.

°°°

Hari itu pukul lima sore...

Mirna di kejutkan dengan kedatangan Ara. Mirna sangat senang menyambut pria yang sekarang sudah resmi jadi kekasihnya. Hubungan mereka tidak seperti kebanyakan remaja saat ini, mereka menjalani hubungan secara jarak jauh.

Namun itu semua tidak mengurangi perasaan cinta dan sayang mereka, antara Mirna dan Ara sudah saling percaya satu sama lain. Ara selalu menjaga hatinya, dan tidak pernah membuka hati untuk gadis lain. Walupun banyak di antara gadis-gadis jakarta yang coba mendekati Ara.

Ara tetap teguh dengan perasaan cinta nya, yang dia pertahankan hanya untuk Mirna. Begitupun sebaliknya, Mirna juga sangat setia menunggu Ara, selama setahun terakhir ini mereka jarang berjumpa, hanya lewat komunikasi telpon seluler. Mirna dan Ara saling mengabarkan keadaan mereka masing-masing.

“Kamu tambah cantik mir” Ara mulai memulai percakaan dengan nada menggoda.

Mirna hanya tersenyum sambil menatap wajah Ara. Kemudian Mirna bangkit dari tempat duduknya dan menghampiri Ara yang sedang duduk di sopa, yang ada diruangan tersebut.

“Kamu nyetirnya sudah lancar mir?” sambung Ara.

“Sudah lancar sih, tapi aku jarang bawa sendiri, kasihan Ipul dia masih butuh kerjaan” jawab Mirna.

Kemudian Mirna duduk disamping Ara. Dan menatap Ara dengan berbinar-binar penuh rasa cinta, terlukis ke indahan disaat dua pasang kekasih kembali dipertemukan.

“Hari ini kamu pulang jam berapa mir?” tanya Ara.

“Hari ini aku pulang lebih awal, sebentar lagi aku pulang” 

“Pulangnya bareng aku saja,biarkan Ipul pulang duluan pakai mobil kamu” timpal Ara.

“Iya nanti aku sms Ipul”  suara Mirna lirih, menggetarkan hati Ara,

Mirna kemudian memberi tahu Ipul lewat sms dan menyuruh Ipul untuk pulang duluan.

“Aku mau membicarakan banyak hal, tentang hubungan kita kedepan, supaya diantara kita ada kepastian dan anggaplah ini sebagai ikatan untuk menuju jenjang pernikahan” imbuh Ara.

“Ya sudah nanti kamu bicarakan sama Abah dan Emak, kalau aku tergantung dari keputusan mereka” jawab Mirna.

“Iya mir, nanti aku bicara langsung ke Abah”

Obrolan mereka berlanjut, tidak terasa waktu sudah menunjukkan pukul tujuh malam. Mirna kemudian merapikan peralatan kerjanya dan bersiap untuk pulang, bersama Ara kekasih pujaan hatinya.

Setelah rapi semua. Mirna dan Ara langsung beranjak pulang, dengan menggunakan mobil milik Ara.

Sesampainya dirumah...

Terlihat, Abah dan Emak sedang asyik ngobrol diteras rumah. 

 Nampak juga,mobil warna merah terparkir di garasi, yang tiga hari lalu baru selesai dibangun.

 

(15)

Ara dan Mirna, turun dari mobil dan langsung melangkah menuju ke arah teras, untuk menghampiri Abah dan Emak.

Mereka mengucap salam, kemudian bersalaman dengan mencium tangan Abah dan Emak.

“Silahkan duduk nak” ucap Abah mempersilahkan Ara untuk duduk.

“’Iya bah”’ jawab Ara, duduk disamping Abah.

Emak masuk ke dalam, mengambil air minum untuk Ara,  di ikuti Mirna dari belakang.

Tidak lama kemudian.Emak kembali keluar dengan nampan yang berisikan dua gelas kopi hitam.

“Ini yang pahit buat Abah, dan yang ini buat nak Ara”

“Iya mak terima kasih” ucap Ara.

Emak kembali kedalam rumah.

“Silahkan diminum nak”

“Iya bah” jawab Ara lirih.

Dengan pelan Ara meminum kopi buatan Emak.

“Gimana nak restoran nya lancar” tanya Abah.

“Alhamdulillah bah lancar, apalagi cabang karawang, yang Mirna kelola, omsetnya jauh lebih tinggi dari restoran di jakarta yang saya kelola” ucap Ara memuji sang kekasihnya.

“Syukurlah” timpal Abah singkat.

“Maaf bah maksud kedatangan saya kesini, ingin membicarakan tentang hubungan saya sama Mirna”

Kemudian Ara menghela nafas dalam.

“Bulan depan saya punya niat, mau meminang Mirna” sambung Ara.

“Abah setuju, namun semuanya tergantung Mirna” ucap Abah, dengan sikap yang santai, sembari menikmati sebatang roko kretek.

Tak lama, Mirna keluar dengan membawa piring yang berisikan singkong goreng, yang sudah di lumuri keju dan coklat.

“Nih cobain, singkong keju ala Mirna” 

Mirna langsung menaruhnya diatas meja. Kemudian dia duduk di samping Abah.

“Di coba singkong nya, nak Ara”

“Iya bah” jawab Ara, dengan meraih singkong keju yang ada didepannya.

“Nak, tadi Ara sudah menjelaskan niat baiknya ke Abah, bulan depan Ara mau meminang kamu, keputusan ada ditanganmu, kalau Abah sebagai orang tua setuju-setuju saja' ujar Abah menjelaskan, apa yang tadi sudah di sampaikan Ara.

"Iya bah. Mirna siap, dan Mirna juga sudah tau semuanya dari Ara" jawab Mirna dengan suara pelan.

Empat mata kembali beradu pandangan, mewakili hati yang sedang di landa cinta, senyum bahagia terlukis dari bibir keduanya. Tahap demi tahap sudah mereka lalui, tinggalah menunggu hari puncak kebahagiaan mereka, yang semakin dekat.

“Ya sudah kalian lanjut ngobrolnya. Abah mau kedalam dulu” Abah bangkit dan langsung masuk kedalam rumah.

Tinggal dua sejoli yang sedang dilanda cinta, hati mereka berbunga-bunga, setelah mendapatkan persetujuan dari Abah.

“Kamu bahagia, kan mir?” tanya Ara sambil memegang kedua tangan Mirna, sesekali Ara membelai rambut Mirna yang terurai kedepan.

“Iya ra, terima kasih atas cinta yang sudah kamu berikan, terima kasih juga karna kamu sudah berusaha keras menjaga hatimu” lirih dan sangat menyentuh hati.

“Aku janzi, akan tetap menjaga hati ini, hanya buat kamu mir”

“Aku sayang kamu ra” kemudian Mirna bersandar ke bahu Ara, dan Ara membalasnya dengan pelukan hangat

“Aku juga sayang kamu” bisik Ara, mencium kening Mirna.

“Sudah malam, aku pamit dulu yah” bisik Ara.

“Iya, jangan lupa besok sebelum berangkat ke jakarta, telpon aku dulu”

“Iya sayang” balas Ara, bangkit dari duduknya.

Kemudian Mirna masuk kedalam rumah untuk memberitahu Abah dan Emak, bahwa Ara mau segera pulang. Setelah Abah dan Emak keluar, Ara langsung pamitan pulang.

Kemudian Mirna dan kedua orang tuanya kembali masuk kedalam, untuk beristirahat karna malam sudah semakin larut. Gemuruh angin terdengar begitu kencang dan berhembus masuk ke sela-sela jendela, karna merasa kedinginan Mirna mematikan kipas angin yang ada di kamarnya. Pukul setengah sebelas, Mirna sudah terlelap tidur dengan di iringi gemirciknya suara hujan di luar, sesekali terdengar suara glegar guntur dari kejauhan.

Pukul 06-00 pagi.

Mirna sudah bersiap untuk berangkat kerja, Ipul juga sudah berada garasi mobil rumah Mirna, Ipul sudah memanaskan mobil dan mengeluarkannya dari dalam garasi, untuk segera mengantarkan Mirna ke tempat kerja.

“Mak... Mak...” panggil Mirna.

“Iya nak” sahut Emak datang dari arah dapur.

“ Mirna mau berangkat sekarang mak, soalnya pagi ini mau ada klien ke restoran”

“Oh iya, hati-hati nak”

“Abah kemana mak?” tanya Mirna, pandangannya mengarah ke sekeliling ruangan.

 

(16)

“Abahmu usai sholat subuh, langsung berangkat ke cikarang sama Pak Haji Syafar, katanya sih mau nyari bibit kacang sama obat hama”

“Ya sudah. Mirna berangkat dulu ya mak?” kemudian Mirna mencium tangan Emak. Dan langsung berjalan ke arah mobil yang sudah menunggu.

“Berangkat sekarang teh” tanya Ipul.

“Iya pul, mau ada klien” jawab Mirna sembari masuk kedalam mobil.

Ipul langsung menjalankan mobil perlahan keluar dari halaman rumah Mirna, menuju ke tempat kerja.

Pukul 06-45

Mirna sudah sampai di halaman parkir restoran, langsung disambut oleh Pak Nur security senior resto japan kamaguci.

“Selamat pagi bu” tegak dan memberikan hormat ke arah Mirna.

“Pagi juga pak” jawab Mirna sambil tersenyum.

“Pak Jaya sudah datang belum pak?” sambung Mirna bertanya.

“Sudah ada di dalam bu”

“Iya teima kasih pak”  jawab Mirna. Melangkah menuju kedalam restoran, nampak sepi suasana di dalam, hanya bagian koki saja yang sudah  datang. Sementara untuk bagian pelayanan, jadwal masuknya jam delapan pagi.

Sebelum naik ke lantai dua menuju ruang kerjanya. Mirna menyempatkan diri, untuk mengontrol ke ruang masak dan sekalian menemui Pak Jaya.

“Selamat pagi bu” sapa dari salah satu koki yang sudah bersiap untuk mulai masak.

“Pagi juga pak” 

“Ada Pak Jaya, pak ?” timpal Mirna, bertanya.

“Ada diruangan loker bu” jawab koki itu, sembari mengarahkan jempolnya ke ruang ke salah satu ruangan.

Mirna langsung menuju loker, nampak Pak Jaya sedang duduk sambil memegang buku besar yang sedang di ceknya.

“Assalamualaikum, pagi pak”

“Walaikumsalam, pagi juga bu” jawab Pak Jaya.

“Silahkan duduk bu” Sambungnya.

Mirna langsung duduk di kursi depan meja kerja Pak Jaya.

“Nanti jam sepuluh, bapak temuin Bu Maryam di kantornya, dan tolong berikan berkas ini kepada Bu Maryam” ucap Mirna.

“Baik bu” jawab Pak Jaya.

“Ini berkasnya pak”

Mirna mengeluarkan amplop besar warna coklat, yang didalamnya berisikan berkas-berkas, yang akan di serahkan ke Bu Maryam.

Setelah itu Mirna langsung pamit, menuju ruang kerjanya yang berada di lantai dua gedung restoran itu. Setelah sampai di ruang kerja, Mirna langsung menghidupkan laptop, yang Ia bawa untuk segera memulai kerja. Tiba-tiba terdengar suara handphone berdering keras tanda ada panggilan masuk.

“ Halo...Assalamualaikum, ra”

“Walaikumsalam, mir”

Ara menelpon untuk memberitahu Mirna, pagi itu Ara mau berangkat lagi ke jakarta.

Percakapan mereka tidak lama. Mirna langsung menutup telponnya, dan kembali melakukan aktivitasnya, menyiapkan segala kebutuhan untuk keperluan restoran.

Tok tok, bunyi ketukan pintu terdengar dari luar ruangan.

“Silahkan masuk” sahut Mirna.

Pintu terbuka, nampak Rita yang baru datang, berjalan menuju ke arah Mirna yang sedang duduk.

“Silahkan duduk, rit” 

“Iya bu” jawab Rita langsung duduk di sopa didepan meja kerja Mirna.

“Klien kita mau datang hari ini pukul delapan bu” sambung Rita.

“Ya sudah nanti di persiapkan saja, catat barang yang kita butuhkan, supaya nanti klien bisa proses cepat untuk barang yang kita perlukan” 

“Maaf bu kalau untuk kompor gas masuk catatan apa tidak bu?”

“Iya Rit di jadikan satu saja, yang penting jenis kompornya harus sesuai dengan kompor yang biasa kita pakai, jangan pakai merk yang lain” jawab Mirna.

“Baik kalau begitu, saya kebawah dulu bu, mau cek kebutuhan dapur, mumpung Pak Jaya belum berangkat” pungkas Rita.

Rita langsung keluar ruangan untuk kembali mengerjakan apa yang menjadi tugasnya sebagai accounting dan pengadaan barang dan kebutuhan restoran.

Tepat pukul delapan...

Mirna dan Rita mengadakan meeting dengan klien, termasuk dengan para distributor untuk kebutuhan restoran, meeting berjalan alot, karna Mirna termasuk orang yang tidak pernah gegabah mengambil keputusan, apalagi menyangkut barang dan kebutuhan restoran, pukul 09-30 meeting baru selesai.

Semakin hari, restoran semakin ramai oleh pengunjung. Tidak salah Bu Lusiana membuka cabang restorannya di kota karawang,karawang saat ini memang sudah jauh berbeda dengan karawang masa lampau. Pertumbuhan ekonomi di sana sudah mulai berkembang, banyak para investor yang mencoba mengembangkan bisnisnya di kota itu.

(17)

Mirna sangat bersyukur dan merasa senang, melihat kinerja para karyawan restoran yang Ia kelola, mereka sangat bersemangat dalam melaksanakan pekerjaannya.

Beberapa hari kemudian...

“Assalamualaikum”

“walaikumsalam” jawab Mirna dari dalam rumah.

“Masuk saja is” 

“Ya Allah Ibu manager, jam segini udah kinclong.

“Ah kamu, duduk is” ucap Mirna.

“Mir kemarin aku ketemu Ipul, katanya besok Ara mau melamar kamu yah?” tanya Euis. Menatap tajam wajah sahabatnya.

“Iya besok jam empat sore, malam ini kamu nginep disini yah, bantuin Emak bikin kue” timpal Mirna.

“Ya mir, tapi aku pulang dulu, soalnya aku harus bilang ke sibuk” jawab Euis.

“Hemzzz anak mamah” 

“Iya dong, eh Emak kemana mir?” tanya Euis.

“Emak lagi ke rumah Mak Unah, mau minta bantuan buat bikin kue nanti malam”

Ketika sedang asyik-asyiknya ngobrol, terdengar suara dering handphone.

Mirna langsung menerima panggilan tersebut... Dan melakukan percakapan serius dengan si penelpon,,, Euis hanya diam menyimak obrolan Mirna dengan orang yang menelponnya. Setelah selesai Mirna langsung menutup telponnya, kembali duduk di samping Euis...

“Siapa mir” tanya Euis.

“Bu Lusiana, bos ku” jawab Mirna.

“Aku kira cowok idaman kamu”

“Bu Lusi, Lagi butuh orang untuk kerja, bagisn posisi keuangan menggantikan Rita. Soalnya minggu depan Rita, kembali di tarik ke jakarta”

“Aku saja mir” timpal Euis.

“Ya sudah nanti kamu siapin berkas-berkas lamarannya, nanti aku email ke Bu Lusi”  

“Semoga saja aku bisa diterima” ucap Euis sambil menadahkan kedua telapak tangannya ke atas lalu di usapkan ke wajah.

“Amiin” sahut Mirna.

“Sekarang, aku pulang dulu ya mir, mau bilang dulu ke Ibuku, sore aku balik lagi ke sini”

“Iya is, hati-hati di jalan, jangan mampir ke rumah Udin” jawab Mirna,tertawa lepas.

“Ah kamu... Udin itu cinta mati sama kamu mir” pungkas Euis sambil berjalan keluar.

Setelah Euis pergi. Mirna langsung masuk kamar.

Pukul 18-30...Ba'da magrib.

Emak dibantu Mak Unah, dan Euis, sedang sibuk membuat kue dan makanan ringan, untuk jamuan tamu dari keluarga Ara, yang besok hari hendak datang untuk melamar Mirna. Segala sesuatunya Emak siapkan, membuat kue bugis dan kue kering, dan kue-kue yang lainnya khas makanan sunda.

Diteras rumah nampak Abah dan Ipul sedang duduk santai sambil menikmati kopi dan makanan yang di hidangkan sama Emak.

“Ayo pul di makan kue nya”

“Iya bah” jawab Ipul, mengambil sepotong kue yang ada di depannya.

“Besok jam dua siang, kamu sudah harus ada disini, bantuin Abah nyiapin keperluan buat para tamu” ucap Abah menatap Ipul.

“He'eh bah” jawab Ipul dengan mulut sedang mengunyah kue.

Di dalam Emak dan yang lainnya, masih belum selesai dengan pekerjaannya, karna baru beberapa jenis kue saja yang sudah jadi, yang lainnya masih belum dikerjakan.

Meski dalam keadaan sibuk, sesekali terdengar celetohan Mak Unah yang latah, memancing gelak tawa, ditambah lagi hadirnya Euis yang hobinya bercanda, menambah suasana semakin riang.

 Emak membuat kue sangat banyak, disamping untuk jamuan tamu. Emak juga sengaja membuat banyak kue untuk dibagikan ke para tetangga yang ada disekitar rumahnya.

Emak dan Mirna, termasuk  orang yang gemar berbagi... Bukan hanya karna sekarang mereka sudah mapan, kebiasaan itu sudah sering mereka lakukan. Sedari dulu ketika hidup mereka masih susah, dari kecil Mirna sudah terbisa dengan hal seperti itu. Emak selalu mengajarkan Mirna, berbagi dengan orang lain. Hingga kebiasaan itu, berlanjut sampai Mirna dewasa.

Ke esokan harinya. Tepat pukul tiga sore...

Suasana rumah Mirna nampak ramai, dengan kehadiran tamu-tamu dari keluarga besar Ara, yang turut serta menghadiri acara lamaran hari itu.

Nampak Pak Memed dan Bu Sarah (orang tua Ara), duduk paling depan, dan berhadapan langsung dengan Abah Syueb dan Mak Minah (orang tua Mirna).

Dengan dihadiri beberapa kerabat dari pihak keluarga Ara dan Mirna. Pak Memed membeberkan niat baiknya, untuk melamar Mirna mewakili putranya Ara Prawira.

Setelah semua jelas dan sudah menjadi kesepakatan antara Ara dan Mirna. Abah Syueb selaku orang tua Mirna, menyetujui dan menerima lamaran dari keluarga Pak Memed.

Kemudian mereka sepakat menentukan hari yang baik untuk acara pernikahan kedua anak mereka. Dan telah diputuskan acara resepsi pernikahannya satu bulan mendatang.

Setelah acara lamaran selesai. Mirna dan Ara memulai babak baru dalam kehidupannya, mempersiapkan segala hal, yang di butuhkan untuk acara penikahannya nanti.

Termasuk mempersiapkan diri dan mental yang kuat, agar mereka benar-benar siap dalam mengantisipasi segala hal, dalam mengarungi bahtera rumah tangga mereka.

(18)

Dalam diri Mirna maupun Ara, sudah mulai saling memahami satu sama lain, agar mereka kelak, ketika sudah disatukan dengan ikatan pernikahan, mereka sudah siap segalanya dan bisa mempertahankan kekokohan rumah tangga.

Walaupun tinggal satu bulan acara pernikahan akan berlangsung, namun mereka tetap profesional dalam menjalankan pekerjaan. Ara seperti biasa masih semangat menjalankan restoran yang di kelolanya dijakarta, begitupun dengan Mirna masih tetap pokus dengan restoran yang yang Ia kelola di karawang.

Keduanya hanya melakukan komunikasi lewat telpon selular. Dan itu semua tidak mengurangi rasa sayang dan cinta dari keduanya. Waktu terus berjalan, hari berganti hari, jam berganti jam, hingga tiba waktunya, hari yang mereka nantikan, hari yang akan menjadi sejarah indah dalam kehidupan mereka.

°°°

Tiga hari menjelang pernikahan Ara dan Mirna sudah dapat izin cuti dari Bu Lusiana. Mereka sudah berada di rumahnya masing-masing, mempersiapkan diri menjelang acara pernikahan.

Di kediaman Mirna sudah mulai persiapan jelang acara pernikahan, nampak Ipul dan Abah dibantu para tetangga membuat “papayon” atau tenda yang menggunakan tiang penyangga dari bambu dan beratapkan terpal, dan di hiasi dengan janur, di setiap sudut papayon juga nampak bergantung pisang setengah matang sebagai pelengkap, dan ciri khas warga setempat, setiap kali mengadakan acara pesta pernikahan ataupun acara sunatan. 

Ini merupakan kali pertama Abah mengadakan pesta dirumahnya, beberapa undangan  sudah disebar kepada tetangga dan orang-orang yang Abah kenal, termasuk kepada kerabat Abah dan Emak.

°°°

Tibalah waktu yang di nantikan dan hari yang ditunggu..

Ara dan Mirna resmi telah mengikat janzi dan berikrar didepan penghulu, dua kalimah syahadat menjadi pengikat diantara mereka, dengan di saksikan oleh kedua orang tua masing-masing, serta para tamu undangan yang hadir.

Kini mereka sudah resmi menjadi pasangan suami istri, dengan kehidupan baru dan status baru. Mirna sudah jadi istri dari Ara,dan Ara sudah jadi suami dari Mirna.

Suasana pesta yang meriah dengan di iringi alunan musik marawis, dan lantunan solawat bergema. Nampak beberapa tamu undangan hadir, memberikan doa restu untuk kedua mempelai.

Ara terlihat tampan dan gagah, dengan balutan baju pengantin adat sunda, selaras dengan busana yang di kenakan Mirna. Terpancar sinar bahagia dari raut wajah keduanya.

Inilah akhir cerita Mirna, semoga menjadi inspirasi buat kita semua. Cinta yang di awali dengan status persahabatan, mengantarkan mereka ke jenjang pernikahan, kejujuran dan kerja keras membuahkan hasil dan dapat merubah hidup Mirna, menjadi sukses dan tercapai semua cita-cita yang dia impikan.

Semoga kisah ini bermanfaat untuk para pembaca.

Sekian....

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Enjoyed this article? Stay informed by joining our newsletter!

Comments

You must be logged in to post a comment.