Profil instastories

Menyesap Jiwa

Orang-orang bilang mencintai itu seperti terbang ke atas langit, berlarian diantara bunga-bunga mekar, dikelilingi kupu-kupu beterbangan. Indah sekali. 

 

Semua jauh dari ekspektasi. Tidak berlaku untuk seorang gadis berparas biasa saja seperti Mayang. Dia hanya perempuan bermuka sendu, selalu tampak begitu. Muram dan suram seolah menjadi dua hal yang pantas menjadi cerminan gadis berambut kribo. Usia sudah menginjak dua puluh empat tetapi jodoh belum datang juga. 

 

Tidak pernah merasakan jatuh cinta yang seperti orang lain katakan. Jika jatuh cinta pun dia selalu ditolak mentah-mentah, para pria menatapnya dengan jijik. Malang betul nasib gadis ini. 

 

Sesekali langkahnya menapaki danau untuk menyendiri menghilangkan rasa sakit atas kenyataan yang menimpa. Seperti sekarang ini,  melemparkan batu-batu ke atas permukaan air, sendirian. Emaknya memerhatikan dari jauh menatap perihatin. Ingin rasanya ia memeluk dan mendekap Mayang untuk sekadar memberi semangat. Selalu terhalang perasaan tak enak atau takut membuatnya semakin sedih. Ah,  Emak. Andaikan tahu Mayang begitu sakit selalu sendirian. Ia ingin dipeluk hangat, diberi elusan pada punggung untuk sekadar menenangkan. 

 

Emak Mayang, Rasti. Terduduk lesu di atas kasur. Teringat dahulu bagaimana ia mendapatkan ayah si gadis malang. 

Rasti menggeleng kuat.   Tuhan. Beri cara lain untuk tidak melakukan hal gila ini. Pikir Rasti saat itu. Tapi nuraninya selalu berontak, tak tega pabila Mayang menjadi seorang perawan tua. Dia kembali menimbang apa yang hendak di lakukan. 

 

"Sepertinya tidak ada cara lain..." Rasti mengusap lembut permukaan wajah keriputnya. Jemari renta membuka lemari di sudut kamar,  mengambil kotak yang dipenuhi banyak debu. Angin dari bibir kering mengembus butirannya. Menyisakan kotak berpahat bunga diwarnai emas. 

 

Sedikit gemetar. Tangannya membuka kotak secara perlahan. Angin semilir meraba tengkuk Rasti, merinding, bulu kuduknya perlahan bangkit. Lirih terdengar cekikik merdu seorang perempuan di balik jendela kamar wanita renta. 

 

"Dia datang," batin Emak Mayang. 

 

"Anakku, kamu pintar sekali." Tampak sesosok wanita beruban, wajahnya dipenuhi darah, bola matanya berwarna merah, satu matanya terkatup,buta. Bibirnya koyak menembus telinga, memamerkan deretan gigi yang mulai membusuk. Kamar Rasti diselubungi bau busuk, amis, sampai membuat ususnya melilit seperti ingin mengeluarkan seluruh sarapan tadi pagi. Padahal ini bukan kali pertama mereka bertemu. 

 

"Ny-nyai..." Perempuan renta tadi mulai membuka suara. 

 

"Apa yang kamu inginkan, Anakku?" Seseorang yang dipanggil Nyai bertanya pada Rasti. 

 

Emak Mayang berpikir sejenak. Mungkinkah tidak apa-apa jika ia memintanya pada Nyai Jebus? Bayang sendu anak gadisnya,  Mayang. Lewat begitu, saja. Tanpa pikir panjang ia segera mengutarakan keinginannya pada Nyai Jebus. 

 

"Mak? Emak?" Mayang baru kembali dari danau. Ia menyeka sedikit air mata yang tertinggal. Sisa-sisa menangisi hidupnya yang begitu payah. 

 

"Mayang! sini, Nak." Rasti menyahut dari dalam kamar. Anak gadisnya segera menghampiri. Alisnya bertaut, hidung besar kembang kempis mengendus bau tidak sedap. 

 

"Mak, kenapa kamarnya bau sekali? Sepertinya ada bangkai tikus," ujar Mayang, polos. 

 

Emak hanya tersenyum kecut. 

 

"Ini, Mak, punya kalung bagus untuk kamu. Duduk! Mak pakaikan."

 

Mayang menurut. Duduk di kasur lapuk milik emak. Kalung perak disertai gantelan berbentuk bintang dan titik kecil di tengah, menggantung manis di leher cokelat Mayang. 

 

"Bagus kalungnya, Mak. Kapan belin ini?"

 

"Ini milik emak, kenangan semasa, Ayahmu masih hidup, " ujar Rasti dengan senyum getir. 

 

Mayang tampak murung. Sedih sekali ia tidak tidak pernah bertemu ayah kandungnya. Sejak lahir ayahnya sudah meninggal. Akibat dibunuh oleh seseorang. Begitu kata emak. 

 

"Terima kasih, Mak. Mayang akan menjaga kalung ini dengan baik."

 

Desas desus tak sedap mulai memenuhi penjuru desa Taraje, baru saja seorang pemuda ditemukan mati mengenaskan di sebuah gubuk tua di ujung desa. Pemuda bernama Bisma yang terkenal karena ketampanan dan kedudukannya sebagai anak Pak Kades. Bisma ditemukan dalam keadaan tak bernyawa. Perutnya terbuka lebar menampakkan jeroan. Matanya membeliak seolah ketakutan karena melihat sesuatu. Selesai otopsi dilakukan, putra Pak Kades dipastikan meninggal tanpa hati. Hatinya hilang diambil si pembunuh. Seluruh desa menjadi geger. 

 

Mayang tampak lesu, ia merenggut. Sedikit sedih. Pasalnya perempuan ini baru saja menjalin hubungan dengan Bisma, sedang merasakan puncaknya jatuh cinta, kekasihnya mati dihari ketiga mereka berpacaran. Mengenaskan. 

 

Enggan larut lebih lama, Mayang meninggalkan pusara Bisma. Laki-laki bersiul nyaring kala gadis ini melwati mereka. Sesendu apapun wajah Mayang tetap tampak menawan di mata para lelaki. Lenggakan tubuhnya membuat mata para lelaki enggan beranjak. Mayang sudah berbeda. Sejak dua bulan lalu, perempuan yang sekarang berwajah bak artis luar negeri menjadi primadona laki-laki. Dikejar banyak pria, menjadi incaran lelaki berkelapa botak dan berperut buncit, tak kalah buncit dengan rekeningnya. 

 

"Bu, Mayang sedih, Mas Bisma pergi. Tapi, apa Mayang semakin cantik dan seksi, Bu?" Anak Rasti memutar tubuhnya dengan gemulai. Merasa puas dengan dia yang sekarang.

 

"Kamu semakin luar biasa,  Nak. Segeralah menikah, ya. Emak tidak sabar menimang cucu."

 

Mayang mengangguk sembari melangkah menuju kamar. Duduk di depan cermin rias, menyisir rambut lurus panjangnya. Memberi sedikit polesan lipstik merah menggoda pada bibir, maskara disapukan pada bulu mata, blush on, bedak, kemudian sedikit eyeliner pada sudut mata. Cantik dan menggoda. 

 

Tetiba semerbak bau tak sedap memenuhi kamarnya. 

 

"Bagus, Anakku. Kamu hebat dan kecantikan ini akan setimpal dengan kerja kerasmu." Seorang nenek tua berdiri di belakang Mayang. Tersenyum  menyeramkan. Mulut sobeknya perlahan berkomat-kamit, jemari tua bergerak menyentuh permukaan wajah gadis primadona lelaki. 

 

"Makin hari makin cantik, aja, Neng." Pemuda berparas manis menghampiri, Mayang. Di lengannya tertengger jam bermerk. 

 

"Mas bisa, saja." Mayang tersipu malu, bibirnya tertarik sudut-sudut membuat sebuah lengkungan manis. 

 

"Malam ini kita pergi, ya, Sayang. Mas akan memberikan semua yang kamu mau."

 

Perempuan yang kini menjadi kekasih pemuda di hadapannya hanya mengangguk. Lelaki ini pesonanya begitu kuat. Wajah tampan, dan terpenting juga sangat mapan. 

 

Gaun merah mini tergantung senada di tubuh seksi Mayang. Rambut lurusnya tergerai bebas. Pemandangan mampu memanjakan setiap mata laki-laki. Terlebih, Rio pujaan hatinya sejak dua minggu lalu.

 

 Mereka berdua tengah menikmati pengharum ruangan di kamar hotel yang mereka pesan. Debaran-debaran kencang tak terelakkan. Rio mencubu Mayang mesra. Keduanya tenggelam bagai sepasang kekasih dimabuk asmara. 

 

Angin mulai berembus kencang, menggerakan gorden kamar, jendelnya tak tertutup. Membuat bulu kuduk siapapun pasti langsung berdiri. Begitupun pria yang mencumbu Mayang. Tapi, nafsunya begitu kuat. Ia tak memerdulikan hal tersebut. Seketika seluruh sudut ruangan berbau busuk. Bola mata milik gadis primadona membeliak, bergerak-gerak lincah. Atas, bawah, kiri, kanan. Sampai manik hitam legam hilang. Tersisa bola mata berwarna merah darah. Tubuhnya mengejang. 

 

Rio menjauh. Ia bingung apa yang terjadi pada gadisnya. Pria ini mundur. Berdiri di sudut kasur. 

 

Grrrr

 

Mayang menggeram. Kuku-kukunya menjadi memanjang, berwarna hitam dan bau yang busuk. Helai rambut miliknya menjadi putih, kulit-kulit keriput menggantikan kulit mudanya. Sobekan dibibir tampak begitu jelas. 

 

Rio membulatkan pupil mata. Terkejut. Tubuh gemetar, bulir peluh perlahan menyusuri raut muka ketakutannya. Perlahan. Gadisnya merangkak sembari menatap tajam dan menyeringai. 

 

"Berikan aku hatimu, Sayang, hihihihi." Tawa menyeramkan menggema diseluruh penjuru kamar. Pria manis ini tak bisa bergerak. Kakinya tertanam pada lantai. 

 

Bugh

 

Mayang menyergap tubuh Rio sampai terjatuh. Lengan kekar lelaki berparas manis reflek menggenggam bahu Mayang-lebih tepatnya nenek tua menyeramkan- dan membanting ke sebelah kanan, perempuan tua menghantam lantai. Rio bergerak, kesadarannya kembali. Ia berdiri kemudian berlari menuju pintu. 

 

Cekikik nenek tua kembali terdengar, dia berjalan tertatih Terbungkuk-bungkuk. 

 

"Pe-pergi!" titah Rio. Pria ini mencari-cari kunci di saku sembari merasakan kepanikan begitu hebat

 

Mayang semakin mendekat. 

 

Tuhan, selamatkan aku. Rio berharap di dalam hati.Pacuan jantung semakin menjadi, ia berusah meraih apapun agar bisa dijadikan senjata melawan perempuan tua di hadapannya. Sebuah vas bunga kecil. 

 

Vas melayang menju tubuh sosok mengerikan, tidak berusaha mengelak. Kepala terhantam vas bunga. Seringainya semakin lebar. Darah mengucur dari bagian kepala, mata sebelah kanan menggelinding menyusuri lantai. 

 

Rio benar-benar merasa dirinya hendak gila. Perutnya mual. Kelopak yang kehilangan mata dibuka oleh kuku-kuku panjang nan hitam, belatung satu persatu menggeliat keluar. Lengkap sudah hal menjijikan terjadi. Rio muntah seketika. Nenek tua dengan cepat menghampiri muntahan Rio dilahapnya secara brutal. Tak berapa lama prempuan bermata belatung menatap pria muda di hadapannya. 

 

Sigap. Rio meraih payung di sudut kamar. Lengan kekarnya menodong nenek tua dengan payung. 

 

"Berhenti bermain-main anak muda!" pekik si nenek. 

Seketika payung terempas. Kesiur angin semakin kencang. Rio kesulitan melihat. Seolah ada badai dalam rungan. 

 

Nenek tua mengunci tubuh Rio. Kuku tajam miliknya tertancap kuat di leher pria berparas manis. Ia melepaskan kuku dari jeratan. Darah membasahi wajah keriputnya. Ia tergelak. Senang betul mandi darah. Rio mengap-mengap. Kehabisan banyak darah. Sekarart. 

 

Kuku tajam Nyai Jebus meyayat perut Rio. Rio sudah tak merasakan apa-apa lagi. Mati. Nenek tua menyayat dengan santai. Tangannya mengubek perut pria ini. Sampai mendapatkan segumpal daging berwarna merah. 

 

"Akhirnya aku makan hati lagi. Hihi." 

 

Ia melahap tanpa ragu. Digigit penuh kenikmatan,  menyesap setiap darah yang tersisa.  Tetiba ia menjadi Mayang kembali. Perempuan yang menjadi incaran para lelaki tengah menyantap hati kekasihnya. 

 

"Aku akan semakin cantik," ujar Mayang diakhiri tawa menyeramkan seperti nenek tua tadi. 

 

Selesai.

Enjoyed this article? Stay informed by joining our newsletter!

Comments
wilda khoerunnisa - Apr 20, 2020, 1:13 PM - Add Reply

Keren

You must be logged in to post a comment.

You must be logged in to post a comment.

Stori terkait
Jul 8, 2020, 1:15 PM - Annisa mahmudah
Jul 6, 2020, 10:20 PM - Chocho_Yucho
Jul 3, 2020, 6:34 PM - Tjahjono widarmanto
Jul 3, 2020, 6:26 PM - Nnaga
Jul 3, 2020, 1:07 PM - Kristina Dai Laba
Jul 2, 2020, 2:25 PM - Mei Elisabet Sibarani